My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Obrolan Berdua


__ADS_3

Formasi makan malam keluarga Setiawan kali ini bertambah satu orang, yaitu Renita.


Suasana penuh kehangatan dan canda tawa tercipta.


''Pa, besok aku akan kembali. Proyek Albert disini udah selesai,'' ucap Amanda secara tiba-tiba.


Semua yang ada disana menatap ke arah ibu satu anak itu.


''Sebenarnya sudah selesai dari dua hari yang lalu. Tapi, Amanda ngotot ingin melihat Kak Armand menikah,'' sela Albert.


''Dan aku hanya bisa menurutinya. But, its okey no problem, asal Mommy happy,'' lanjutnya lagi.


''So sweet banget, sih, kalian,'' kata Renita.


''Ck, cuma gitu aja aku juga bisa.'' Armand berdecak tak suka.


''Mama sebenarnya masih ingin berlama-lama sama cucu cantik mama. Tapi, mau bagaimana lagi? Kau juga punya tanggungan disana, Al.'' Amalia menghela nafas, ada ketidakrelaan dalam nada bicaranya. Wajahnya mendadak sendu.


''Mama tenang saja, sebentar lagi juga dapat cucu. Lebih dekat malah.'' Amanda mencoba menghibur ibunya, matanya melirik kearah kakak iparnya.


''Besok aku juga langsung pindah ke rumahku.'' Armand menimpali.


''Ini kenapa? Semua mendadak mau ninggalin mama, sih. Mama kesepian,'' sahut Amalia dengan kesalnya.


''Astaga, Mama, cuma beda blok saja, Ma. Jalan kaki juga sampai,'' keluh Armand.


Dia menghela nafas frustasi.


''Biarlah, Ma, anak-anak sudah punya kehidupan masing-masing. Kita tinggal menikmati hari tua, berdua. Sebentar lagi, papa juga akan banyak di rumah. Kantor akan papa serahkan sepenuhnya kepada Armand,'' ujar Setiawan untuk menenangkan istrinya.


''Dan kamu harus siap, Ar!" Setiawan beralih menatap putranya, ''Papa percaya dengan kemampuanmu. Kapan kamu akan masuk lagi?''


''Lusa...,'' jawab Armand singkat.


Setiawan mengangguk, mereka melanjutkan makan dengan hening. Ditemani dentingan sendok dan garpu.


...----------------...


Armand dan Renita sudah berada di kamar lebih dulu. Badan Armand masih pegal-pegal karena berkendara jauh pulang pergi tanpa ada yang menggantikan.


Sebenarnya, Renita masih ingin bercengkrama bersama adik ipar dan ibu mertuanya tadi. Tapi, Armand memaksa minta ditemani di kamar.


''Bapak kumat lagi, deh,'' sungut renita.


''Kumat kenapa?'' tanya Armand. Laki-laki itu, menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang dengan memejamkan mata.


''Kalau mau istirahat, ya istirahat saja. Aku masih mau ngobrol sama Manda sama mama. Lagian, masih sore juga, udah minta ngamar,'' omel wanita itu panjang lebar sembari berkacak pinggang disisi suaminya.


''Aku belum ngantuk, tadi udah banyak tidur. Lagian siapa suruh? Diminta tidur tangannya malah grepein aku. Ya, rasain sendirilah sekarang capeknya,'' lanjutnya lagi.

__ADS_1


'Sabar, Renita lagi kambuh,' batin Armand.


Armand menarik tangan istrinya hingga terduduk di pangkuannya lalu mendekapnya erat. Dia menyandarkan kepalanya di dada istrinya.


Tubuh Renita menegang dengan tindakan spontan suaminya, bola matanya mulai bergerak gelisah. Tindakan ini mengingatkanya, saat Armand menariknya secara paksa waktu itu Dia merasa dejavu, cuma bedanya sekarang dia berada di kamar pria ini.


Dan Armand merasakan itu.


''Hei, tenang. Aku tak'kan macam-macam hanya ingin seperti ini,'' bisik Armand lembut.


''Rileks, Sayang. Aku tidak dalam pengaruh obat seperti waktu itu. Jangan takut! Aku akan menjadi doktermu.''


Renita mengernyit mendengar penuturan suaminya. ''Dokter apa?''


Tubuhnya sudah mulai tenang, tidak setegang tadi.


''Dokter yang akan menyembuhkan traumamu.'' Armand menangkup wajah istrinya, lalu menyatukan keningnya dengan kening sang istri.


Nafas hangat pria itu menerpa wajah Renita,


ada desiran aneh dalam darahnya. Netranya fokus pada bibir suaminya. Entah kenapa? Bibir itu begitu menggodanya. Bagaimana, jika dia merasakannya?


Renita segera menjauhkan wajahnya. Dia menggeleng berusaha menyingkirkan pikiran nakal yang bersarang dalam pikirannya.


''Kamu kenapa?'' tanya Armand yang sedari tadi memperhatikan tingkah istrinya.


''Ng-nggak, nggak apa-apa,'' jawab Renita gugup. Dia berusaha menguasai dirinya.


''Suka banget geplak-geplak orang,'' sahut Armand menirukan gaya istrinya.


''Tangan ini begitu halus tapi sangat kuat.'' Armand meraih punggung tangan sang istri lalu mengecupnya.


Mendapat perlakuan kecil seperti ini saja, berhasil membuat Renita salah tingkah.


''Bapak belajar ini, darimana, sih? Gak pantes tau gak,'' ucap Renita yang berusaha menutupi kegugupannya.


''Itu kenyataan, Sayang. Apa kamu ingat? Sepuluh jari tangan ini, pernah menciptakan ukiran indah di punggungku yang meninggalkan rasa perih selama berhari-hari.''


Bukan menjawab pertanyaan wanita di depannya, Armand justru mengalihkan pembicaraan kearah lain.


''Mulut ini juga berhasil membentuk ukiran di bahuku. Apa aku seganas itu?'' tanya Armand dengan mengusap bibir bawah sang istri dengan ibu jarinya.


Renita mencebik mendengarnya.


''Sakit yang bapak rasain gak seberapa. Punyaku malah bengkak gara-gara punya bapak. Dibuat jalan normal aja susah, sakitnya bukan main, sakit minta ampun. Tapi, waktu itu aku tahan supaya orang-orang kantor gak curiga.''


''Gini-gini, aku gak mau jadi trending hot di kantor. Nanti aku dikira sekretaris gatel. Gak taunya bosnya yang kurang asem,'' sahut Renita dengan bibir mengerucut lucu. Membuat Armand gemas sendiri ingin segera menyerangnya.


''Tapi semua orang sudah tahu, Renita. Kalau aku yang memaksa kamu,'' kata Armand

__ADS_1


''Hah! Kok bisa? gak mungkin, 'kan? Kalau mereka pada ember. Yang tau peristiwa ini cuma trio heboh sama bapak, doang.'' Renita benar-benar terkejut mendengar kenyataan ini.


''Waktu kamu mau menggugurkan dia.'' Armand mengelus perut Renita, ''Teman kamu datang ke aku dan langsung menampar mukaku. Cukup besar juga nyalinya, berani menampar bos di depan umum, di lobby lagi,'' kata Armand dengan wajah keruhnya.


''Hahaha, siapa?''


Renita tak bisa menahan tawanya saat membayangkan bos nyebelinnya ditampar di depan para karyawannya. Jika saat itu dia berada disana, mungkin dirinya yang akan bertepuk tangan paling keras.


''Yang rambut pendek itu,'' ucap Armand masih dengan wajah keruhnya.


''Wina, hahahaha...'' Bertambah terbahaklah dirinya saat menyebut nama salah satu sahabatnya.


''Akhirnya, dia bisa membalaskan dendamnya ke bapak. Asal bapak tau, dia yang paling dendam. Sewaktu tahu, bapak mau menikahi Nyi Blorong itu. Kalau tidak aku tahan, mungkin bapak sudah habis di tangannya.'' Renita menyusut air mata yang keluar di ujung matanya.


''Diantara kami, hanya Wina yang paling bar-bar dan berani. Dia tidak memandang siapapun, kalau sudah kesal apalagi marah, bakal abis sama dia.''


''Seneng banget, 'kan? Tertawa diatas penderitaan suami,'' sindir Armand dengan wajah bersungut-sungut.


''Setelah hari itu, banyak orang kantor bergosip kalau aku bos cabul. Bos yang tidak betanggungjawab. Dan masih banyak omongan pedas tentang aku.''


''Lalu, bapak tanggapin mereka?'' tanya Renita penasaran.


''Tidak! Untuk apa? kurang kerjaan. Masih banyak hal penting yang mesti saya urus. Terutama kesehatan kamu dan janin didalam sini.'' Armand kembali mengusap-usap perut istrinya.


''Gak heran, sih, bapak, 'kan mirip triplek berjalan, cueknya minta ampun.'' Renita menyedekapkan tangannya di dada.


''Tapi, biasanya bos akan memecat karyawannya yang berbicara tentang keburukannya. Apalagi, ini terang-terangan bergosip yang bukan-bukan tentang bapak. Kok bapak tidak melakukan itu, sih?''


''Menurutku itu sebuah kebodohan, mencari karyawan yang berpotensi seperti mereka itu susah. Yang ada malah merugikan perusahaan. Aku membiarkan mereka berbicara sesuka hati mereka. Memang, kenyataannya seperti itu. Asal mereka tidak menghina kamu karena posisimu tidak salah.''


Renita terharu mendengar kalimat terakhir suaminya. Segitu cintanya, kah? pria ini terhadap dirinya


Tanpa aba-aba, Renita langsung menubruk tubuh suaminya.


Armand yang tidak siap hampir terjengkang kebelakang. Beruntung dia bisa menahan bobot tubuh istrinya.


''Yuk tidur, sudah malam,'' ajak Armand


''Masa, sih?'' Renita mendongak melihat wajah suaminya.


''Sudah jam sembilan. Ibu hamil tidak baik tidur malam-malam.'' Armand menunjukkan jam di ponsel.


Mereka tertawa bersama karena asik bercerita ini itu tak terasa hari sudah malam.


...----------------...


Jangan lupa dukung ya, like, ❤, comment.


Vote & hadiah seikhlasnya.

__ADS_1


Babay....


__ADS_2