My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Aku Suka Caramu, Renita


__ADS_3

''Bu, Pak, Renita pamit, ya. Maaf kalau kedatangan Reni, membuat ibu sama bapak malu,'' lirih Renita sembari memeluk erat ibunya.


Pasalnya, bukan hanya Armand dan Renita saja yang mendengar omongan di dapur semalam. Tapi kedua orang tuanya juga.


Maka dari itu, Renita menyetujui kemauan suaminya untuk kembali ke kota secepatnya. Agar tidak membuat orang tuanya lebih malu lagi.


''Tidak, Nduk. Ibu sama bapak ndak malu. Ibu malah berharap kamu masih disini beberapa hari lagi. Ibu sama bapak masih kangen.'' ucap Asih dengan meneteskan airmatanya. Biasanya, putrinya akan menghabiskan waktu dua mingguan berada di rumah. Lha, ini hanya dua hari saja.


''Maaf ya, Bu. Reni gak bisa. Reni juga masih ada tanggungan kerjaan. Mas Armand juga tidak bisa lama-lama ninggalin kantor.'' Renita memberi pengertian kepada ibunya.


Dengan berat hati, kedua orang tua Renita, mengizinkan anaknya kembali ke kota.


''Man, bapak titip dia, ya. Yang sabar menghadapi Reni. Anaknya memang seperti itu, maunya sendiri susah diatur,'' pesan Bapak sebelum mereka masuk ke dalam mobil.


''Insya Allah, Pak. Saya juga sudah terbiasa dengan wataknya,'' kata Armand dengan melirik permpuan di sampingnya.


''Kalau kamu bosan bersamanya, tolong jangan sakiti dia! Kembalikan dia pada bapak. Saya lebih rela anak saya di pulangkan daripada harus melihatnya menangis.''


''Saya tidak akan melepas Renita sampai kapanpun, Pak,'' jawab Armand dengan tegas.


Mahmud tersenyum tipis. Kini dia sudah benar-benar yakin melepas putrinya bersama laki-laki ini.


''Kami pulang dulu, Pak.'' Armand menyalami kedua mertuanya bergantian, begitu juga dengan Reni. Bahkan, ibunya enggan melepas pelukannya pada putrinya karena masih berat untuk ditinggalkan.


''Assalamu'alaikum,'' kata Reni sebelum masuk ke mobil.


Mobil perlahan melaju meninggalkan pelataran rumah Reni.


...----------------...


Perjalanan pulang kali ini lebih cepat dari kemarin. Karena tidak ada drama-drama Renita minta ini itu. Wanita hamil itu lebih banyak tidur, mungkin karena kelelahan.


Renita membuka matanya saat sudah hampir sampai. Matanya memindai jalanan sekitarnya, ini bukan jalan menuju kontrakannya.


''Ini bukan jalan menuju kontrakan, Pak?''


''Memang, ini jalan menuju rumah mama sama papa.'' Arman masih mengemudi dengan tenang


Tak lama mereka memasuki komplek perumahan elite.


''Bapak tinggal disini?'' tanya Renita lagi. Matanya masih terfokus pada bangunan megah dikanan kirinya.


''Bukan, tapi orangtua saya.''


''Ck, sama saja,'' gerutu Renita.


''Tidak, Renita, saya juga punya rumah tapi bukan disini. Kita kesini dulu atas permintaan mama, hanya menginap semalam. Besok baru ke rumah kita,'' jelas Armand.


Renita langsung menoleh pada suaminya. ''Apa rumah kita?'' beonya. Agaknya otak wanita itu masih belum sinkron.


''Iya, milikku juga milikmu. Jadinya milik kita.''


Mobil Armand berhenti tepat di sebuah rumah mewah dengan halaman tak terlalu luas. Halamannya tampak di tumbuhi rumput-rumput sintetis yang tertata rapi juga tanaman hijau yang menyegarkan mata.


Di teras rumah, sudah ada Amalia yang menyambut kedatangan menantunya.

__ADS_1


Renita meremat jari-jarinya, kegugupan tiba-tiba melanda. Bayangan mertua galak yang selalu menyiksa menantu memenuhi kepalanya.


Meski sudah sering kali bertemu dengan Amalia. Entah kenapa? Ada rasa takut timbul dalam hatinya


''Tidak usah takut, Mama orangnya baik. Kemarin juga ngobrol sama kamu, 'kan? Mama justru senang dapat mantu seperti kamu.'' Armand berusaha menenangkan wanita di sampingnya


Dia turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk istrinya. Menggandeng lembut tangannya menemui ibunya.


''Lama banget, sih? Pacaran bisa di kamar,'' sungut Amalia pada putranya.


''Capek, Ren?'' Amalia merangkul menantunya, lalu membawanya masuk ke dalam rumah.


''Cucu mama rewel gak tadi?'' Tangan Amalia mengelus perut menantunya.


''Nggak, Ma, anteng malah. Gak kayak waktu berangkat kemarin minta ini itu bawaannya,'' jawab Renita.


''Itu barang-barangnya di bawa ke dalam, Ar! Punya Reni juga. Jangan disuruh bawa sendiri,'' titah Amalia dengan kecerewetannya.


''Iya....''


''Akhirnya, aku punya kakak ipar.'' Amanda menyambut ramah kakak iparnya sembari menggendong putrinya yang gembul.


''Hallo, Sayang, yang habis jalan-jalan ke rumah aunty.'' Renita menyapa Cleo balita berumur satu tahun itu.


Tampak Cleo mengulurkan kedua tangannya tanda meminta gendong wanita itu.


''Apa gendong? Sini....''


''Jangan ya? Sama uncle saja, kasihan dedeknya di perut aunty. Nanti ketiban badan gembul Cleo,'' serobot Armand.


''Huaaa...., ti..ti..., huaaa....''


Bayi gembul itu meronta-ronta di gendongan Armand.


''Ih, Kak. Biarin, kenapa, sih? Sudah tahu Cleo kalau nangis susah diemnya. Biarkan dia kenal sama auntynya,'' kesal Manda pada kakaknya.


''Sudah sini.'' Renita langsung merebut Cleo dar gendongan suaminya.


Dan benar saja, balita itu langsung terdiam bahkan tertawa bersamanya.


''Tuh, lihat! Dia mau kenal sama aunty barunya. Bosen sama uncle mulu.''


''Uluh, pinter banget, sih? Cleo sudah mamam belum?'' tanya Renita saat memangku bayi gembul itu di sofa.


''Mamam, mamam,'' ucapnya sambil menatap lekat wajah Renita. Tangannya sudah mencari sumber kehidupannya di dada wanita itu.


''Eh, Aunty gak punya, Sayang. Yang punya mommy. Kalau minta ke aunty nanti pawangnya marah,'' kelakar Amanda sembari melirik kakaknya.


Semua tertawa melihat wajah kesal Armand.


''Ya, sudah. Kalian masuk dulu, istirahat. Papa masih lama pulangnya. Ada pertemuan di luar,'' titah Amalia


Keduanya mengangguk, Armand menggandeng tangan istrinya menuju kamarnya yang berada di lantai atas.


Sesampainya di kamar, laki-laki itu langsung memeluk erat istrinya dari belakang.

__ADS_1


''Ishhh, bikin kaget aja.'' Renita memukul pelan lengan kekar itu.


''Kenapa?'' tanya Armand dengan suara serak, bibirnya sudah tak bisa diam menyusuri rahang dan leher istrinya, menghirup aromanya kuat-kuat.


Renita meremang saat merasa nafas hangat menerpa kulitnya. Dia menggigit bibir bawahnya saat armand menyesap kuat leher putihnya.


''M-ma-mas, kita istirahat,'' kata Renita dengan gugup.


''Aku sudah tidak tahan.'' Suara Armand sudah serak, pandangannya sudah berkabut. Tangannya juga tak mau diam, menjelajah kemana-mana. Membuat istrinya perlahan meloloskan desa***nya.


Armand membalik tubuh wanitanya, mel**a* bibir yang selalu membantah. C**man yang semula lembut kian menuntut hingga membuat Renita kewalahan mengimbanginya.


Dia mencubit kuat perut suaminya saat hampir kehabisan nafas.


''Awwsshh, kenapa di cubit?'' ringis Armand, perutnya terasa panas akibat perbuatan jari lentik itu


''Biarin! Aku kewalahan mengimbanginya.'' Renita langsung merebahkan tubuhnya ke atas kasur.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Armand segera merangkak naik lalu berbaring memeluk istrinya dari belakang.


Renita benar-benar dibuat kesal oleh suaminya. Niatnya ingin merehatkan pinggang yang terasa pegal malah direcoki tingkah usil pria itu.


''Ren, boleh ya? Dari semalam aku menahannya,'' rengek pria itu dengan menyurukkan wajahnya di punggung wanita itu.


Renita menggigit bibir bawahnya, bukan dia tak mau melayani suaminya. Tapi bayangan peristiwa itu hadir kembali dalam pikirannya.


Keringat dingin mulai membanjiri pelipisnya.


Tubuhnya tiba-tiba gemetar dan Armand merasakannya.


''Hei, kamu kenapa?'' tanya Armand dengan lembut. Dia membalikkan tubuh istrinya dan mengusap lembut keringatnya.


''Sa-sa-sakit....'' Mata wanita itu bergerak gelisah kesana kemari.


Seketika Armand sadar, jika istrinya masih trauma akan peristiwa naas itu. Dia segera mendekap tubuh yang bergetar itu.


''Sssst, tenang aku tidak memaksa kalau belum siap. Maafkan aku yang tiba-tiba nyerang kamu.'' Armand mempererat pelukannya, mengusap lembut punggung istrinya agar tenang.


Perlahan, nafas Renita semakin teratur. Menandakan wanita itu sudah terbuai dalam mimpinya


Armand tersenyum memandangi wajah lelap itu. ''Sifat ajaibmu ini yang membuatku jatuh hati, Renita. Kamu selalu punya cara tersendiri untuk mengatasi masalahmu dan itu unik, aku suka.''


...----------------...


Jangan lupa like, ❤ , comment..


Biar tahu kalau ada yang gak sreg..


Tapi, jangan pedes-pedes ya. Hati aku lembut soalnya, mudah rapuh..


Eeaaa.. lebay kan..


Oke, pokok kalau mau kritik atau kasih saran monggo ya.. Kalau ada yang kurang baik, aku usahakan untuk memperbaiki.


Vote sama hadiah seikhlasnya saja..

__ADS_1


Babay...


__ADS_2