My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Memulai Rencana


__ADS_3

Weekend yang di tunggu, akhirnya tiba. Keluarga kecil Armand sedang dalam perjalanan menuju ke tempat tinggal Rio, untuk menjemput pemuda itu.


Marvello juga tampak antusias di pangkuan ibunya. Bayi mbul itu, meminta berdiri dengan tubuh di sangga tangan mamanya. Mata bulatnya fokus memandangi jalanan yang di lalui oleh kendaraan Ayah-nya. Sesekali mulut mungilnya menyunggingkan senyum ketika melihat sesuatu yang menarik baginya.


''Dek, udah ya? Tangan mama pegel,'' kata Renita.


Wanita itu, mencoba mendudukkan tubuh anaknya, tapi tubuh gembul itu memaku tak ingin menuruti kehendak ibunya.


''Duduk, dek. Badan kamu makin hari makin montok tau gak?''


Armand terkekeh mendengar gerutuan wanita di sampingnya ini.


''Nggak usah ketawa!'' Renita melirik sinis sang suami.


''Habis kamu lucu, ngeluh mulu. Perasaan dulu pas hamil dia nggak kayak gitu,'' ucap Armand dengan mata fokus pada jalanan di depannya.


Setengah jam perjalanan, mobil yang mereka kendarai memasuki sebuah gedung menjulang tinggi, yang tidak lain tidak bukan kawasan apartemen hunian Rio.


Tampak juga, pemuda itu sudah stay di depan lobby sedang memainkan ponselnya.


''Temenmu mana, Mas?'' Renita celingak-celinguk memperhatikan kawasan sekitar.


''Tuh,'' tunjuk Armand dengan dagunya pada pemuda di depannya.


''Ganteng banget,'' gumam Renita dengan mata berbinar tapi masih terdengar di pendengaran suaminya. Wanita itu, memandang kagum pemuda berpenampilan casual itu.


''Ini mah, Lee Dong Wook versi lokal. Jangankan Reva, aku aja mau sama dia.''


Renita tidak sadar, jika ucapannya berhasil memantik api cemburu pria di sampingnya.


'ehemmm....' Armand berdehem keras untuk menyadarkan istrinya.


Satu kali dua kali tidak berhasil, Renita masih sibuk dengan kekagumannya. Geregetan, Armand menutup kedua mata istrinya dengan tangan kekarnya.


''isshh, apa sih, Mas? Ganggu aja,'' sungutnya. Dia berusaha menyingkirkan tangan itu dari pandangannya.


''Jaga mata, ingat! Di sampingmu ini suamimu, Renita,'' geram Armand.


''Gak bisa banget lihat orang seneng. Lagi memandangi pahatan terindah Tuhan juga,'' kesal wanita itu.


Armand melotot di buatnya.


''Cuci mata pagi hari,'' lanjutnya lagi.


tuk..tuk..tuk..


Ketukan kaca di sebelah Renita, mengalihkan perdebatan sepasang suami-istri itu.


''Kamu pindah! Biar dia duduk disini,'' titah Armand.

__ADS_1


Senyum merekah terkembang di bibir wanita itu. Tangannya sudah ingin membuka pintu mobil, tapi lagi-lagi Armand menahannya.


''Mau apa kamu?'' tanya Armand dengan melebarkan kedua matanya.


''Keluarlah, katanya di suruh keluar,'' jawab Renita dengan polosnya.


''Nggak ada keluar-keluar.'' Armand mengambil alih anaknya yang ada pangkuan istrinya.


''Lewat sini saja,'' tunjuk Armand ke sela kursi bagian depan mobilnya.


''ck, Nggak enak, Mas. Enakan dari luar,'' rengek wanita itu.


Ketukan kaca semakin keras, menandakan si pengetuk mulai kesal.


''Cepetan! Renita sayang,'' paksa Armand depan merapatkan giginya.


Mau tak mau Renita menuruti keinginan suaminya ini dengan bibir yang sudah maju ke depan. Mungkin, jika bisa di ukur sudah ada lima sentian.


Setelah menempatkan dirinya senyaman mungkin. Barulah, Marvello di serahkan kembali kepada ibunya.


''Kayak bola ya, dek. Oper sana oper sini,'' celetuk Renita.


''Ingat! Jaga mata. Ada suami, nggak usah ganjen.'' Armand memperingati istrinya.


Renita hanya melirik sekilas lalu memalingkan mukanya ke arah luar.


Armand membuka kunci mobilnya, masuklah pria bermata sipit itu.


Rio hanya menanggapi dengan anggukan kepala saja tanpa senyum komplit dengan wajah dinginnya.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju Bandara untuk menuju ke kota tujuan.


...----------------...


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya mereka sampai di kota, di mana Armand akan memulai aksinya. Mereka menuju tempat tujuan menggunakan mobil yang sudah di persiapkan si pemilik rencana sebelumnya.


Setengah jam berkendara, mereka sampai di rumah sakit tempat Ayah Reva di rawat. Ketiga orang itu, segera menuju ruangan yang sudah di beritahukan Bunda sebelumnya. Saat sampai di depan ruangan, Renita berinisiatif membuka pintu terlebih dulu.


''Assalamu'alaikum.'' Renita melongokkan kepalanya dengan menggendong bayi mbul yang tengah tertidur.


''Walaikumsalam. Eh, Reni sudah datang,'' sambut Bunda dengan senyum ramahnya, ''Ya ampun pipinya. Bunda jadi pengen ngunyel-nguyel, sayang tidur.''


Tak berapa lama, masuklah dua pria tampan seumuran dengan ketampanan versi mereka masing-masing. Armand tampan versi lokal, satunya versi Chinese, pria tampan berkulit putih dengan mata sipitnya, menyapa pasangan paruh baya itu dengan kesopanannya.


''Hai, om, tante. Saya suami Renita.'' Armand memperkenalkan dirinya.


''Gantengnya suamimu, Ren,'' puji Bunda, ''Jangan panggil tante. Panggil aja Bunda seperti Reni. Kalau tante biasanya 'kan banyak duitnya. Lah, Bunda? Duit saja pas-pasan kurang pantas kalau di panggil seperti itu,'' kelakar wanita paruh baya itu di selingi tawanya.


''Kalau kamu suaminya Reni. Berarti dia calon mantu Bunda 'kan, Ren? Iya 'kan?'' tuntut Bunda. Tangannya menunjuk pemuda yang berada di samping Armand.

__ADS_1


Renita hanya bisa diam, bingung mau jawab apa.


''Saya....'' Rio ingin menjelaskan tapi dia kalah cepat dengan Bunda.


''Aduh gantengnya, pintar Reva nyari calon. Iya 'kan, yah?'' Bunda meminta persetujuan suaminya.


''Iya, ganteng. Anaknya juga sopan,'' sahut Ayah


''Saya, bukan....''


''Sudah nggak usah takut. Ayah sama Bunda merestui hubungan kalian, kok," sela Bunda, ''Meskipun, kamu hanya seorang TKI, yang penting tanggung jawab.''


Rio semakin tidak mengerti dengan situasi ini. Dia bertanya melalui tatapannya pada sahabatnya.


Armand hanya mengedikkan bahunya acuh. Padahal, sebenarnya dia mati-matian menahan tawanya.


''Maaf, Pak, Bu, saya bukan....''


''Ya ampun, ponakan montoknya aunty, sudah datang.'' lengkingan suara Reva, mengalihkan perhatian semua orang yang ada di ruangan itu.


Rio menghela nafas, kenapa selalu ada yang menyela ucapannya?


Reva langsung menghambur ke arah sahabatnya, dengan gemas dia menciumi pipi bulat itu berkali-kali. Hingga, Marvello sedikit terusik. Bayi mbul itu, mengeliat berkali-kali dalam gendongan ibunya.


''Udah, Va. Kebiasaan!'' Renita menghentikan aksi sahabatnya. Jika di biarkan terus-menerus, bisa-bisa anaknya bangun dan rewel.


''Habis gemes banget gue. Kangen sama dia, loe juga jarang mereka kantor.'' Reva belum menyadari, jika ada orang asing di antara mereka.


Rio memperhatikan gadis di depannya dengan intens. Gadis yang sangat tidak asing baginya.


Seperti pernah melihatnya tapi di mana? Pria itu, tampak berfikir keras.


''Va,'' panggil Bunda dengan menyenggol keras lengan putrinya.


''Apa, sih, Bun? Reva nggak ganggu tidurnya Vello, kok. Aku cuma gemas sama dia,'' sahut Reva yang mengira, jika bundanya memperingatkan untuk tidak mengganggu tidur bayi itu.


''Va,'' panggil Bunda lagi. Kali ini sedikit keras.


''Oke, udah. Lihat tanganku terlepas dari dia 'kan?'' Reva mengangkat kedua tangannya. Lalu berbalik dan duduk di dekat ayahnya.


''Reva,'' geram Bunda karena sedari tadi putrinya itu tidak faham dengan kodenya.


''Iya, Bunda,'' ucap Reva.


''Lihat! Pacarmu ada disini. Kamu cuekin, gitu aja,'' kesal Bunda.


''Hah!'' Reva belum paham maksud ibunya.


''Hah heh hah heh. Tuh lihat siapa yang yang datang,'' tunjuk bunda dengan dagunya pada pemuda yang ada di belakangnya.

__ADS_1


Reva mengikuti arahan ibunya. Disaat bersamaan juga, Rio mengingat siapa wanita itu.


"Kamu!''


__ADS_2