
"Kamu sedang apa disini? sampai lupa waktu balik ke kantor," tanya Devan saat Dania sudah duduk tenang di dalam mobil.
"Di paksa dia, Pak," jawab Dania sambil memasang sabuk pengamannya.
"Siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan si Biang Kerok."
Devan manggut-manggut saja, kemudian menyalakan mesin mobilnya. Mereka harus segera tiba di perusahaan tempat pertemuan mereka karena waktu semaki mepet.
"Saya bawakan tasmu, ada di belakang," kata Devan tanpa mengalihkan perhatiannya dari kemudi.
Dania segera menolehkan kepalanya ke arah belakang, dan benar saja semua keperluannya berada disana. Bukan hanya tas, melainkan semua berkas pentingnya juga ada disana.
"Bapak kok perhatian banget, sih," ucap Dania mendramatisir.
Devan hanya menanggapi dengan deheman kerasnya.
"Saya melakukan ini agar kamu tidak mempermalukan saya. Itu ada sisa makanan di mulutmu." Pria itu beralasan.
Sontak, gadis itu segera meraba area mulutnya untuk memastikan. Merasa tidak puas, dia meraih tasnya, lalu mencari cermin kecil yang biasa dia bawa.
"Gak ada apa-apanya," gumamnya.
"Bapak ngibulin saya, ya." Dania berteriak kesal.
Devan hanya melipat bibirnya agar tawanya tidak pecah, sungguh ada hiburan tersendiri bisa menggoda gadis itu.
"Kalau mau ketawa, ketawa aja, Pak. Gak usah ditahan," sindir Dania.
"Ehem! Tidak," sahut Devan dengan datarnya.
Dania mencebikkan bibirnya. "Sok jual mahal, Pak."
"Rapikan penampilanmu, kita sudah sampai," titah Devan.
"Iya...."
Rapat yang berjalan selama dua jam, akhirnya selesai juga. Tampak Armand berjabat tangan dengan pemilik perusahaan tanda kedua belah pihak menyetuji poin-poin penting yang tertera.
"Semoga kerja sama kita di beri kelancaran hingga akhir, Pak Armand," ucap seorang pria yang tengah menjabat tangannya.
"Iya, Pak Gavin. Semoga perusahaan Anda puas dengan jasa perusahaan kami," sahut Armand.
"Kalau begitu kami pamit, permisi."
Armand keluar diikuti ketiga orang dibelakangnya. Yang tidak lain, si asisten, sekretaris pribadinya dan sekretaris asistennya.
"Katanya tadi izin, kenapa kamu berada disini, Dania?" tanya Armand saat mereka sudah berada di dalam lift.
Devan yang tidak paham pun, segera menoleh kearah gadis yang berada di sampingnya. Dia meminta penjelasan pada gadis itu melalui tatapan matanya.
"Saya hanya ingin profesional, Pak," jawab Dania sekenanya.
"Siapa yang mengizinkan saya ke bapak?"
"Andrew Winata, katanya tadi kalian ada acara penting. Saya pikir acara keluarga, jadi saya izinkan," sahut Armand dengan mengutak-atik benda pipihnya.
"Bukan, Pak."
__ADS_1
Pembicaraan mereka terhenti karena pintu lift terbuka, mereka segera keluar untuk menuju ke kendaraan masing-masing.
"Kamu ada hubungan apa sama dia?" tanya Armand saat mereka berada di depan lobby, tengah menunggu Devan dan Doni mengambil kendaraannya.
"Tidak ada dan tidak ingin terlibat hubungan apapun dengannya, Pak," jawab Dania datar.
Malas rasanya, jika harus membahas Andrew.
"Kenapa?"
"Karena dia kakak dari kakak ipar saya."
"Lantas, apa masalahnya? Kalian sama-sama orang lain, 'kan?"
"Bapak kenapa jadi tukang kepo begini, sih? Semenjak istri Anda isi lagi," kesal Dania.
Moodnya langsung memburuk setiap kali mengingat pria itu.
"Saya gak tertarik sama sekali dengannya, Pak. Saya sukanya sama asisten bapak." Dania membungkam mulutnya rapat-rapat saat menyadari dia keceplosan.
Armand hanya terkekeh kecil, kemudian masuk ke dalam mobil karena Doni sudah sampai dihadapannya.
"Kalau sama dia selamat berjuang, Dania." Armand melongokkan kepalanya di jendela mobil.
"Heran, deh. Itu orang kenapa makin kesini makin nyebelin. Semenjak jadi suaminya Renita," gerutu Dania.
TIN!
Dania terlonjak, kala mendengar bunyi klakson yang begitu memekakkan telinga.
"Astaga, Untung jantung gue sehat," gumamnya.
Dania segera menuruti perintah atasannya, sebelum pria itu mengeluarkan semburan apinya.
________
Devan dan Dania tidak langsung pulang. Mereka memilih singgah terlebih dulu di sebuah angkringan untuk mengisi perut, sembari menikmati suasana syahdu petang itu.
"Kamu ada hubungan apa, dengan pria yang kau sebut Biang Kerok itu?" Devan membuka pembicaraannya setelah sedari tadi mendiamkan gadis itu.
Dania menggelengkan kepala. "Tidak ada."
"Kalau tidak ada, kenapa dia sampai mengzinkanmu pada Pak Armand segala." Devan menghujamkan tatapan tajam kearah Dania.
"Tidak ada, Pak. Lagian saya juga tidak tertarik menjalin hubungan apapun dengannya," ucap Dania dengan mulut tak berhenti mengunyah pesanannya.
"Jangan coba-coba membohongiku, Dania," geram Devan
"Astaga, Pak. Saya gak bohong. Bapak kenapa, sih? Biasanya juga gak kayak gini. Mau saya jalan atau keluar dengan laki-laki manapun bapak cuek-cuek aja." Dania menatap curiga pria di depannya.
"Jangan bilang bapak cemburu," sambungnya dengan memicingkan mata.
"Ti-tidak!" Devan menyangkal keras sangkaan gadis itu.
"Kalau tidak, kenapa bapak kelihatan tidak suka seperti itu?"
"Ngaco kamu."
Devan memilih mengalihkan perhatiannya dengan meminum jus yang dia pesan.
__ADS_1
"Oh, ya. Weekend besok ibu akan datang ke rumahmu," ucap Devan tiba-tiba.
Uhuk-huk!
Dania tersedak sambal yang tengah dia makan, hingga matanya memerah akibat panasnya cabai yang masuk ke tenggorokannya.
"Makanya, pelan-pelan. Nih, minum dulu." Devan menyodorkan minumannya, karena panik Dania segera meminumnya tanpa peduli itu milik siapa.
"Gara-gara bapak, saya tersedak gini." Dia terus meminum jus itu untuk menetralisir rasa pedas yang masih tersisa.
"Kok salah saya?" Devan merasa tidak terima.
"Iyalah, orang bapak mengejutkan saya dengan berita itu."
Ada sedikit kekesalan di hati gadis itu.
Sejurus kemudian raut kesalnya berubah murung saat mengingat berita yang disampaikan Devan tadi.
"Pak," panggil Dania pelan.
"Hmmm.''
"Bagaimana kalau kita akhiri saja sandiwara ini?"
Devan langsung menatap tajam gadis di depannya.
"Maksudmu?!"
"Saya tidak tega, kalau terus-menerus membohongi Ibu Sekar," lirihnya dengan menundukkan kepala.
Jujur, dia takut mendapat tatapan intimidasi seperti itu.
"Apa kamu tega menghancurkan kebahagiaan ibu saya?"
Seketika, Dania mendongak mendengar hal itu.
"Ibu saya sangat bahagia mendapat menantu seperti kamu. Jika kita jujur sekarang, Dia akan semakin terluka. Apa itu yang kamu inginkan?" Devan mencecar Dania dengan berbagai pertanyaannya.
"Kamu pikir, saya nyaman dengan semua ini? Tidak, Dania! Saya juga ingin mengakhiri ini. Tapi, ketika saya mendengar betapa antusiasnya ibu sehabis membelikan ini itu, segala macam keperluan untuk melamarmu. Saya mengurungkan niat itu. Hampir setiap malam ibu menanyakanmu, bagaimana Dania hari ini, Sehat calon menantu ibu, sudah makan apa belum calon menantu ibu dan masih banyak lagi pertanyaannya tentang dirimu. Apa kamu tega mengakui bahwa ini hanya sandiwara. Pasti ibu akan mengira kita mempermainkanya, Dania," papar Devan panjang lebar menjelaskan pada gadis itu.
Terdengar helaan nafas frustasi dari bibirnya.
Dania hanya bisa menggigit bibir bawahnya tidak tau harus menjawab apa.
"Makanya, kita jalani saja sesuai saran saya malam itu," pungkas Devan.
"Tapi, Pak. Segala sesuatu yang di awali kebohongan tidak akan berakhir baik," ucap Dania.
"Hanya kita berdua yang mengetahui semua ini. Saya yakin semua akan baik-baik saja."
Dania hanya menatap nanar pria dihadapannya.
"Tak bisakah dia, membuka sedikit celah hatinya? Agar aku bisa masuk. Tak adakah, sepercik rasa untukku?" batin Dania merana.
"Baiklah, kita jalani saja. Biar waktu yang menentukan, bagaimana akhir sandiwara ini," kata Dania dengan pasrah.
...****************...
Masih dengan Devan dan Dania. Untuk kisah mereka mungkin agak panjang. Soalnya, aku buat spesial pake telor hehe....
__ADS_1
Semoga tidak bosan ya....