
Andrew bersenandung kecil sembari menyisir rambut di depan kaca. Tak jauh darinya, sebuket bunga mawar merah dan kotak beludru merah berisikan cincin emas putih dengan hiasan berlian kecil. Malam ini, dia berencana melamar Dania secara pribadi di rumahnya. Entah kenapa, membayangkan wajah Dania berbunga-bunga menerima pemberiannya mampu membuat pria itu bahagia.
''Loe mau kemana, Kak?" tanya Wina dengan bersandar pada pintu kamar kakaknya.
"Kepo." Andrew masih merapikan sedikit penampilannya dan....
''Perfect. Waktunya berangkat."
Pria itu mengambil kunci mobil, tak lupa membawa serta hadiah yang sudah ia persiapkan. Melenggang begitu saja melewati sang adik yang memandang dengan sejuta rasa penasarannya.
"Loe mau nyekar pake bawa bunga segala," kata Wina dengan mengekor di belakang kakaknya.
"Sembarangan! Penampilan rapi begini di bilang mau nyekar. Masa iya mau ketemu dedemit separipurna ini."
"Kali aja. Emang loe mau kemana, sih?"
"Ketemu Dania. Aku mau langsung melamarnya. Kan dia udah gak ada hubungan apapun dengan cowok brengs*k itu."
"Apa? Gak, loe gak boleh ngelakuin itu.'' Wina merentangkan kedua tangan untuk menghadang jalan Andrew.
''Kenapa?''
''Udah ah, minggir. Nanti kemalaman Dania keburu tidur.''
Andrew melanjutkan langkahnya tanpa memedulikan sang adik terus saja berteriak memanggil dirinya.
''Kak! Batu loe. Dibilangin jangan malah ngeyel."
"Apa sih, Win? Teriak-teriak begitu. Gak malu apa sama anakmu. Kelakuan masih kayak bocah,'' tegur Melissa dengan menggendong cucunya. Dibelakangnya ada Aryan ikut bersama sang istri.
''Si kakak batunya kumat," sahut Wina dengan kesal.
''Kenapa?" tanya Melissa.
''Dia mau melamar Dania pake bawa bunga dan cincin segala. Udah aku larang tapi dia tetap ngeyel, Ma."
''Biarkan saja, dia melakukan apa yang dia suka. Kamu kayak gak hafal sama tabiat kakakmu. Jika sudah menginginkan sesuatu. Bagaimanapun caranya, dia harus mendapatkan."
"Tapi, Ma, masalahnya Dania sama Devan memperbaiki hubungan mereka kembali. Tadi Dania nelpon tanya Mas David sudah pulang dari luar kota apa belum. Soalnya, dia mau kesini mau membicarakan tanggal pernikahan mereka yang sempat tertunda.''
''Kenapa juga sih mesti Dania yang jadi incaran? Padahal banyak cewek yang mendekatinya. Tinggal comot satu aja kok repot," gerutu Wina.
Melissa menatap suaminya, sedangkan yang ditatap mengedikkan bahu acuh.
"Biarkan saja. Nanti kalau ditolak biar tau rasa." Aryan bersuara setelah sedari tadi hanya menjadi pendengar.
...----------------...
''Permisi, paket!" teriak seseorang dari luar.
Dania yang tengah menonton acara misteri pun di buat bingung.
"Paket apa malam-malam begini? Perasaan gue gak belanja apa-apa," gumamnya.
__ADS_1
"Permisi, Paket!''
"Paketnya, Mbak. Dari seseorang yang spesial."
Awalnya, wanita itu berniat mengabaikan tapi lama-kelamaan suara itu sangat mengganggu malam tenangnya. Dania yang penasaran mencoba mengintip di balik tirai. Dilihatnya, seorang pria berjaket kulit mengenakan topi hingga menutupi sebagian wajahnya.
''Kurir kok misterius gitu, jangan-jangan modus penipuan."
Dania kembali mengabaikannya tapi semakin diabaikan suaranya semakin menjadi. Karena kesal, dia memutuskan untuk menghampiri pria itu.
"Anda kurang kerjaan apa gimana? Malam-malam mengganggu ketenangan orang." Dania berkacak pinggang pada orang yang membelakanginya.
''Kalau mau menipu, Anda salah sasaran.''
Pria itu tampak melepas topi yang melekat di kepalanya.
''Lagian saya tidak membeli apapun...."
Dania membekap mulutnya tidak percaya ketika mengetahui siapa yang yang berdiri di hadapannya.
''Kak Andrew."
"Ap-apa maksudnya ini?" tanya Dania ketika pemuda itu menyerahkan sebuket besar mawar merah, di sela-sela bunga itu juga ada sebuah kotak kecil berwarna merah.
''Will you marry me?''
''Aku kok ngeri,'' kata Dania dengan meraba tengkuknya sendiri.
''Kak Andrew gak kemasukan setan, 'kan? Ini Malam Jum'at lho, mana pakai bawa bunga segala lagi."
''Kak Andrew!'
Pekikan Dania seketika menyadarkan pria itu dari lamunannya.
''Fix, Kak Andrew kesurupan. Aku ngomong panjang lebar. Dia cuma bengong."
''Sembarangan!''
''Udahlah! Hilang moodku ngajak romantis-romantisan." Andrew nyelonong masuk melewati Dania yang masih mematung di depan gerbang.
''Lah, kok ngambek," beo wanita itu.
...----------------...
''Nggak bisa, Kak. Maaf....'' Dania melepas paksa tangan yang berada di genggaman Andrew.
''Kenapa?'' tanya Andrew dengan sorot penuh kekecewaan.
''Aku memutuskan memperbaiki kembali hubunganku bersamanya."
Andrew memejamkan mata mendengar semua itu. Kenapa harapannya hanya sekedar harapan. Dia ingin semua menjadi kenyataan.
Kenyataan ini seolah menampar keras dirinya, jika Dania memang tak'kan pernah bisa dia gapai.
__ADS_1
''Kak, diluar sana masih banyak wanita yang lebih baik dari aku. Yang bisa menerima kakak, apa adanya. Aku mohon dengan sangat, tolong lupakan aku."
''Berikan cincin ini pada wanita yang akan menjadi pendampingmu kelak, bukan aku."
Dania meletakkan kotak beludru itu ke tangan Andrew, kemudian menutup lembut jemari tangan itu.
''Jika suatu saat kakak menemukan wanita itu. Tolong, jangan pernah sia-siakan sayangi dia sepenuh hati. Pokok kakak harus bisa move-on."
Andrew hanya mengangguk pasrah enggan memberi komentar apapun.
''Aku pulang. Segera tutup pintu, baik-baik di rumah," pesannya sebelum pergi.
''Iya....''
...----------------...
Andrew melangkah gontai memasuki rumahnya, mengabaikan tatapan aneh keluarga yang tengah berkumpul di ruang tengah. Dia segera memeluk manja sang ibu yang duduk sendirian di sofa.
''Kenapa, Kak?'' tanya Melissa penuh kelembutan.
Tak ada suara yang keluar dari bibirnya. Pria itu malah merebahkan tubuhnya dipangkuan sang ibu, lalu memeluk erat perutnya. Air mata meluncur bebas tanpa bisa di cegah.
''Dari sikapnya udah ke tebak sih, Ma. Kalau dia ditolak sama Dania. Tapi yang bikin heran, kenapa galaunya ngalahin ABG patah hati. Di tolak kok nangis. Cemen loe, Kak." celetuk Dania panjang-lebar.
Melissa melotot kearah putri bungsunya, mengisyaratkan agar Wina menutup mulutnya. Karena tak pantas berbicara seperti itu kepada kakaknya sendiri.
''Sudahlah, Drew. Suatu saat kamu akan bertemu dengan seseorang yang terbaik. Jodoh ada di tangan Tuhan. Yang baik menurut kita belum tentu baik menurut-Nya," kata Melissa dengan mengusap lembut sirap hitam putranya.
''Yakinlah, Tuhan akan menggantikan kekecewaanmu dengan berkali-kali lipat kebahagiaan."
''Jadi laki-laki harus gentleman, And. Bagi papa itu sudah hal biasa urusan tolak-tolakan begini. Tapi papa gak pernah tuh sampai nangis seperti kamu. Kalau papa dulu, papa akan menggaet beberapa wanita, lalu membawanya ke hadapan wanita yang nolak papa. Biar dia tau, kalau papa bisa mendapat banyak wanita yang seperti dia, bahkan lebih."
''Kamu memang dari dulu sudah terkenal pemain, Pa. Untung, anak-anak tidak ada yang nurun bapaknya.'' Melissa berkomentar dengan ketus.
''Iya, sangking banyaknya sampai punya simpanan bertahun-tahun." Oma menimpali.
Wanita tua itu selalu kesal setiap mengingat kebohongan putranya beberapa puluh tahun yang lalu.
''Sudahlah, Bu. Tidak baik membicarakan orang yang sudah meninggal." Melissa segera menengahi pembicaraan mereka sebelum terjadi perdebatan tak berujung pada akhirnya.
''Dan satu lagi, Mas. Jangan mengajarkan yang bukan-bukan pada putraku. Paham!''
''Aku gak ikut campur, ah.... Mau nyusul Winda bobok," kata Wina sambil berlalu dari sana.
"Aku ke kamar dulu." Andrew pun ikut meyusul adiknya.
...----------------...
Nyambung gak sih? Nyambung ya....
Tak bosan-bosan aku ingatkan ritual wajibnya, Gengs.
Like, favorite, komentarnya. Karena komentar dari kalian sangat berarti buatku dan cerita ini untuk kedepannya. Tapi, ingat kritik dan saran yang membangun ya....
__ADS_1
Sampai jumpa di part selanjutnya....
Babay....