
Pagi-pagi sekali, Amalia sudah stay di rumah anaknya. Hari ini ada jadwal untuk fitting baju resepsi dan yang paling antusias di sini bukanlah sang bintang utama. Melainkan, Ibu Ratu satu ini.
''Renita !!'' teriak Amalia dari teras kediaman Armand.
Armand berdecak, pagi tenangnya di buat pusing dengan kedatangan mamanya yang super rempong itu.
''Mama, kenapa sih pagi-pagi sudah disini? Suami mama nggak di urusin? Pagi-pagi kok keluyuran,'' Armand menghadang mamanya di depan pintu.
''Kamu nggak suka mama kesini? Mau jadi durhaka kamu sama mama?'' sahut Amalia sepaket dengan tatapan super julid nya.
''Mama, sudah dari tadi ma ?'' tanya Renita dibalik punggung suaminya.
''Mas, geser sedikit kenapa? kayak punya badan kecil aja,'' dumel Ibu satu anak itu.
''Pap..pap..brrrr'' Marvello memukuli punggung kekar yang ada di hadapannya.
''Tuh, di protes sama anak kamu. Badan segede beruang malang depan pintu,'' Renita melirik Vello yang ada di gendongannya.
''Hallo cucu Oma!! Pagi-pagi sudah ganteng,'' sapa Amalia dengan riangnya.
Marvello menggerakkan tangan dan kakinya antusias seolah ingin berlari ke arah Omanya.
''Ar, minggir. Mama mau gendong cucu mama,'' seru Amalia pada putranya yang tak bergerak sedikitpun dari tempatnya.
''Ya ampun mas,'' Renita mencubit pinggang kanan suaminya.
''Awwsshh.., sakit, Ren. Tega kamu!'' sungut Armand. Laki-laki itu akhirnya geser juga dari tempatnya.
''Gak sopan! Ada orang tua bukannya disuruh masuk malah dihadang depan pintu,'' gerutu Renita.
''Terus, Ren. Marahin aja anak satu ini. Pagi-pagi udah bikin kesel. Orang tua datang bukan disambut malah di omelin gak jelas,'' Amalia mengompori dengan cucu yang sudah ada di gendongannya.
Suara lengkingan bayi mbul itu turut meramaikan suasana pagi itu.
''Vello, kok gak berpihak ke papa ?'' Armand memandang anaknya dengan wajah di buat memelas.
Tawa bayi mbul itu semakin kencang saat melihat wajah ayahnya yang teraniaya. Mungkin dia mengira, Armand sedang mengajaknya bermain.
''Sudahlah, Mas. Gak usah drama pagi-pagi,'' tegur Renita. ''Oh ya, mama sudah sarapan belum? Kalau belum ayo, aku temani makan ma,'' ajak Renita pada mertuanya.
__ADS_1
''Mama sudah sarapan kok. Kamu cepetan siap-siap gih. Soalnya jadwalnya jam delapan,'' titah Amalia pada menantunya.
''Iya, ma,'' Renita menuruti titah mertuanya dan masuk ke dalam rumah.
''Kamu juga, Armand! Kenapa masih diam disini ?'' Amalia ganti memerintah putranya.
''Iya-iya...,'' dengan malas laki-laki itu menuruti perintah mamanya.
...----------------...
''Hallo jeng,'' Amalia ber cipika-cipiki pada seorang wanita seusianya.
''Hai, jeng,'' sambut wanita itu tak kalah ramahnya. ''Aduh, semangat ya? Datangnya sampai awal gini. Yuk, duduk dulu jeng,'' wanita itu mempersilakan tamunya untuk duduk.
''Kenalin, ini mantu ku dan ini cucuku,'' dengan antusias Amalia mengenalkan menantu beserta cucunya.
Renita mengangguk sopan dengan senyumnya. Sedangkan Armand dengan wajah datarnya.
''Oh Hai. Panggil saja tante Riana,'' wanita itu memperkenalkan diri. ''ini mau langsung apa ngobrol dulu?''
''Langsung saja, jeng. Nyambil ngobrol gitu,'' sahut Amalia.
Renita mengikuti pegawai butik, untuk mencoba gaun pesanan mertuanya.
Renita memang pasrah sepenuhnya kepada ibu mertuanya. Selain, tidak tahu masalah beginian. Dia juga malas mengurus segala printilan acara ini. Belum lagi Marvello yang masih membutuhkan perhatian penuh darinya.
''Ini mbak,'' pegawai butik itu menyerah sebuah gaun kepadanya. ''Mari saya bantu,''
Renita mengangguk.
Gaun off shoulder yang berpotongan lurus berwarna putih dengan tambahan ekor pendek membalut sempurna tubuh ramping itu.
''Bagaimana, mbak?'' tanya pegawai itu pada Renita.
''Enak, nyaman,'' jawab Renita singkat.
''Mari, kita tunjukkan pada Bu Riana. Nanti kalau ada kurang pasnya mbak tinggal bilang aja. Jadi, segera kita perbaiki,'' tutur pegawai itu dengan keramahannya.
Lagi-lagi Renita hanya mengangguk.
__ADS_1
''Ma, mas,'' cicit Renita.
''Ya ampun cantiknya mantu ku,'' Amalia mendekati Renita dan disusul dengan Riana.
''Bagaimana ada yang nggak nyaman?'' tanya Riana.
''Nyaman kok tan. Aku suka, nggak terlalu wah tapi bagus,'' jawab Renita.
''Ya, sudah kita ganti ke gaun selanjutnya,'' kata Riana.
''Ada lagi tan ?'' tanya Renita
''Iya cuma dua kok,'' jawab Riana.
Gaun kedua, berwarna nude memiliki detail gaun di area belakang dengan deep V di bagian punggung, juga terlihat sangat pas di tubuh Renita. Terlebih penambahan pita yang menjuntai ke bawah, membuat penampilan nya semakin manis saja.
Amalia berdecak kagum dengan gaun yang dia pilih untuk menantunya.
''Wah, pilihanku memang tidak pernah salah. Selalu sempurna,'' ucap Amalia dengan bangganya.
''ck, Mama kenapa milih baju yang terbuka gitu?'' Armand mengeluarkan pendapat nya setelah sedari tadi hanya menjadi penyimak mereka.
''Terbuka apanya? memang modelnya seperti ini, Armand!''
''Sudah kamu jangan protes. Awas minta ganti baju buat Renita. Mama sleding kamu! Acara sudah mepet juga,'' Amalia melotot ke arah putranya.
''Jangan heran ya, Ren. Ibu sama anak itu memang begitu,'' kata Riana pada Renita.
''Sudah biasa tan,''
''Oh ya, jeng. Baju buat Armand nggak di coba dulu?'' tanya Riana.
''Nggak usah, tan. Ukuranku masih sama,'' Armand menjawab dengan nada juteknya.
Suasana hatinya memburuk, ketika melihat baju-baju yang di pakai istrinya. Armand akui, Renita memang cantik, sangat cantik malah memakai semua gaun itu. Yang menjadi masalah, dia tidak rela tubuh istrinya di nikmati banyak orang. Hanya dia yang boleh, titik.
Butik yang di pilih Amalia memang butik langganan keluarganya sedari dulu. Jadi, si pemilik sudah hafal betul bagaiamana selera pelanggan nya satu ini. Sederhana tapi terlihat mewah.
''Oke, baiklah,'' kata Riana.
__ADS_1