
''Ada yang ingin kalian jelaskan?" tanya David dengan nada dinginnya.
''Tidak!'' jawab Dania datar.
"Saya akan menjelaskan semuanya." Devan menyela cepat pembicaraan mereka.
Ketiga orang itu kini berada di ruang tamu rumah Dania. David yang memang sudah menunggu kedatangan adiknya, segera mengajak dua orang itu berbicara serius ketika Devan dan Dania sampai di rumahnya.
"Jelaskan sekarang!" titah David.
''Tunggu! Si Biang Kerok itu ngadu apa aja ke abang." Dania menatap marah kakaknya.
"Tidak bilang apa-apa."
''Kalau tidak ada, kenapa tiba-tiba abang minta bertemu sama kita. Pakai cara maksa lagi.''
''Jelaskan sekarang!''
Bukannya menjawab, David malah mengalihkan topik kepada Devan.
''Bang—"
Mulut Dania terbungkam saat mendapat tatapan tajam dari kakaknya. Wanita itu hanya menghela nafas pasrah. Mungkin memang sudah waktunya, pikirnya.
Devan pun mulai menjelaskan yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Dania, tanpa ada yang di tutupi sedikitpun. Dia juga menjelaskan alasan dirinya meminta Dania untuk melakukan sebuah sandiwara ini demi ibunya yang mempunyai riwayat penyakit kronis.
''Semua itu saya lakukan karena Dania duluan yang memulai.''
Dania menganga tidak percaya, mendengar penjelasan terakhir dari pria di sampingnya. Sungguh, pria ini berhasil memantik sepercik api dalam hatinya. Ingin rasanya dia melahap pria itu hidup-hidup, detik ini juga.
David memejamkan mata dan menghela nafas berkali-kali untuk menetralisir emosi yang bangkit dalam dada.
''Sekarang, apa keputusan kalian?'' tanya David dengan nada rendahnya.
"Aku ingin mengakhiri."
"Saya ingin melanjutkan."
David menatap pasangan muda itu bergantian.
"Tapi saya menolak keras, Pak Devan!"
"Demi ibuku, Dania." Devan menatap wanita itu penuh permohonan.
Dania hanya terkekeh sinis. Dia tidak menyangka jika lelaki ini begitu egois.
__ADS_1
"Saya memang mencintai bapak tapi saya juga tidak ingin terlihat bodoh dan di bodohi."
"Saya akan berusaha mencintai kamu."
Wanita itu tampak menggigit bibir bawahnya, perkataan itu sedikit menggoyahkan niatnya.
"Saya mohon kita lanjutkan hubungan ini. Saya serius, Dania. Saya janji akan berusaha membalas perasaanmu." Devan menggenggam lembut jemari gadis itu.
Ehem!
Sontak, Devan segera melepas genggamannya setelah mendengar deheman keras pria di depannya.
"Tidak! Keputusan saya sudah bulat. Bapak bisa mencari gadis lain."
Devan terlihat sangat gusar. Tidak tahu lagi, bagaimana cara membujuk wanita ini.
"Sebenarnya, aku juga tidak rela, kau mempersunting adikku demi ibumu bukan dari hatimu sendiri. Tapi, setelah mendengar kondisi ibumu. Aku jadi teringat mendiang kedua orang tuaku. Aku tau bagaimana rasanya kehilangan orang yang paling berharga dalam hidup terlebih orang tua. Jadi, aku putuskan...."
"Aku memberimu kesempatan kedua." David mengakhiri ucapannya.
"Bang...," sanggah Dania tidak terima.
"Dengan syarat, kau mau membuktikan ucapanmu tadi."
Menghiraukan protes dari adiknya, David memilih melanjutkan ucapannya.
"Saya sanggup," jawab Devan dengan tegas.
"Ku tunggu buktinya."
"Abang selalu egois." Dania berteriak marah, lalu berlari ke kamarnya dengan membanting pintu.
Kedua pria itu hanya menghela nafas melihat tingkah kekanakan Dania.
"Selamat berjuang."
____________
"Nya, ini gue. Buka dong," rengek Wina dengan mengetuk pintu kamar sahabat sekaligus adik iparnya.
"Udah jam sembilan, loe belum makan malam. Buka dulu, gue bawa makanan. Mas David pesan makanan kesukaan loe, Nya."
"Gue gak mempan di sogok," teriak Dania dari dalam.
David dan Wina hanya bisa menahan tawa.
__ADS_1
"Adikmu itu," bisik Wina pada suaminya.
"Adikmu juga," balas David tak kalah berbisik.
"Nya, loe gak kasihan sama gue. Gue tau loe sedih tapi jangan ke gue juga dong. Gue 'kan gak tau apa-apa. Marahnya ke Mas David aja," kata Wina dengan melirik suaminya.
David yang mendengar itupun langsung merem** gemas pingg*ng sang istri.
"Nak*l ya."
Mendengar suara kunci di putar, David segera pergi tempat itu. Jangan sampai adiknya tau dirinya juga berada di sana.
Dania menunjukkan wajah cemberut dengan rambut awut-awutan bak singa jantan yang tidak pernah di sisir.
"Apa?" tanyanya dengan nada sewot.
Wina hanya menunjukkan deretan giginya. "Gue bawain makanan buat loe. Marah boleh tapi perut juga mesti diisi. Galau juga butuh tenaga kali, Nya."
"Masuk!"
Dania membuka lebar pintu kamarnya untuk mempersilahkan sahabatnya masuk.
"Loe bisa cerita ke gue," kata Wina di sela-sela sang sahabat menikmati makanannya.
Dania menghentikan kunyahannya, lalu meletakkan sendok yang semula dia pegang.
"Gue cuma kesel sama Abang."
"Apa selama ini gue kurang nurut sama dia. Apa gue di anggap robot yang mesti nurutin semua keinginannya. Gue juga punya perasaan. Gue juga ingin ngelakuin semua yang gue mau tanpa harus ada segala macam peraturan abang yang tidak masuk akal yang terkesan mengekang. Gue capek, Win, hiks-hiks." Air mata Dania meluncur bebas tanpa bisa di cegah.
Wina segera memeluk sahabat sekaligus iparnya itu. Dia menggeleng pelan saat melihat suaminya ingin memasuki kamar adiknya.
Dania semakin sesegukan di pelukan sahabatnya, seakan semua sesak dan segala unek-unek dia keluarkan melalui air mata itu.
"Udah, loe makan dulu, nanti sakit."
Wina melerai dekapannya, lalu menghapus lelehan kristal bening di pipi mulus itu.
"Kalau ada masalah cerita ke gue, Nya. Jangan di pendam sendiri. Karena loe gak sendirian, loe masih punya sahabat yang selalu ada buat loe."
Dania hanya mendengarkan tanpa berniat menanggapi.
"Besok lagi, kalau ada masalah atau apa loe bisa cerita ke gue. Kita kenal bukan setahun dua tahun, melainkan lebih dari itu. Masa loe gak hafal seluk beluk gue, loe masih ragu sama gue?"
Wina hanya bisa menghela nafas saat tak mendapat tanggapan berarti dari wanita ini.
__ADS_1
"Ya sudah, gue keluar dulu. Si Winda lagi tidur takut ke bangun gak ada orang. Itu di makan sampai habis. Ingat, galau juga butuh tenaga."
"Sepertinya, aku harus bicara sama Mas David."