
"Renita, yuhuu..... Mama coming...." teriakan Amalia menggema di ruang tamu kediaman putranya.
Pagi-pagi sekali, wanita baya yang menolak tua itu sudah membuat heboh rumah anak-menantunya. Beruntung si pemilik rumah tidak ada di tempat. Jika ada mungkin Armand sudah mengeluarkan keluh kesahnya akan suara emas sang ibu.
"Silahkan masuk, Nyonya." Bi Lastri datang tergopoh-gopoh menyambut kedatangan orang tua majikannya.
"Kok sepi, di mana para manusianya, Bi?" Amalia celingak-celinguk mengamati kondisi sekitar.
"Mbak Reni sama Tuan lagi-lagi jalan pagi, Nyonya. Mungkin, mereka sedang berkeliling kompleks. Kalau Aden kecil masih belum bangun," lapar Bi Lastri.
"Nyonya mau minum apa?"
"Tidak usah, Bi. Saya sudah nge-teh di rumah. Oh, ya Vello tidur di mana?"
"Tadi sama Tuan sempat dipindah ke kamar bawah, Nyonya."
Amalia mengangguk.
"Ya sudah, bibi lanjutkan pekerjaan saja. Biar saya yang jaga Vello."
"Baik, Nya. Permisi...."
Setelah kepergian Bi Lastri, Amalia memasuki kamar yang ditunjuk tadi. Ternyata, cucu ganteng kesayangannya sudah terbangun dengan memainkan mainan yang memang disediakan Armand di sebelahnya.
"Hallo, cucu oma sudah bangun."
"Oma atik," pekik Vello riang ketika melihat siapa yang datang.
(Oma Cantik).
Balita gembul itu langsung merentangkan tangannya untuk meminta gendong.
"Kamu ngompol gak, Vel?" tanya Amalia dengan meraba bagian bawah cucunya.
Tercetak tonjolan besar disana yang menandakan diapers balita itu telah penuh.
"Berapa kilo ini?"
"Ima iyo," jawabnya dengan polos, menirukan ucapan sang ayah setiap kali menanyakan hal yang sama. Mata bulat itu berkedip beberapa kali yang terlihat semakin imut di mata Amalia.
(Lima kilo)
"Uhh, beratnya.... Oma gantikan mau? Nanti merah-merah lho sininya, sakit. Vello mau sakit?"
"NO!" jeritnya kuat.
"Makanya, Oma Cantik gantikan ya?"
Marvello mengangguk dengan antusias. Tanpa menunggu lama, Amalia segera membawa cucunya ke kamar untuk membersihkan tubuh bagian bawahnya. Tak lupa, dia juga membuang diapers sisa ke tempat yang sudah di sediakan.
"Gantengnya cucuku, tapi sayang kok gak mau mandi."
Tak ada tanggapan apapun dari balita gembul itu. Dia malah asik dengan mainan robot di tangannya.
"Ama...," ucapnya tiba-tiba.
"Vello cari mama?"
__ADS_1
Kepalanya mengangguk lucu yang membuat Amalia semakin gemas.
"Yuk, kita tunggu mama di luar sambil main bola."
"Ayo!" Marvello berseru riang langsung melompat ke gendongan omanya.
Amalia yang tidak siap pun sedikit terkejut, namun masih bisa menahan bobot tubuh gembulnya.
"Untung sama oma, Vel. Kalau opamu mungkin sudah kambuh encoknya."
___________________
Renita dan Armand memasuki pelataran rumahnya dengan bergandengan mesra. Keduanya sudah seperti sejoli yang tengah di landa asmara. Renita tampak bergelayut manja di lengan suaminya, sesekali canda tawa terdengar dari mulut keduanya.
"Suara anakmu, Mas. Kedengeran sampai gerbang," celetuk Renita ketika mendengar suara lengkingan putranya.
"Eh, iya. Kok tumben gak nangis. Biasanya kalau cuma sama Bi Lastri doang nangis."
"Hemm, pantes." Ayah satu anak itu mencebik ketika melihat siapa yang bermain bersama putranya.
"Pasti ada sesuatu kalau mama pagi-pagi sudah disini."
"Paling mau pamit," sahut Armand dengan santai.
Renita langsung mengalihkan pandangannya kearah sang suami.
"Kemana?"
Belum sempat mendapat jawaban. Amalia sudah memanggil.
"Itu mama."
"Aik, Ama."
(Naik, Mama).
"Gendong?" tanya Renita memastikan.
Balita itu mengangguk antusias.
"Gendong papa saja. Nanti adek di perut mama kempes ketimpa badan gembulmu," ucap Armand seraya mengangkat tubuh putranya.
"Uh, beratnya kamu. Sudah besar ya...."
"Mama udah lama?" Renita menyapa ibu mertuanya dengan mendudukkan diri di samping wanita paruh baya itu.
"Lumayan, tapi gak lama amat."
"Oh, ya, mama kesini mau pamitan sama kalian," sambung Amalia.
"Sudah ku duga," timpal Armand lirih.
Kening wanita hamil itu berkerut semakin dalam tanda ia belum memahami keadaan.
"Mama mau kemana?"
"Mama mau ke LN jenguk Amanda. Kasihan dia sedari melahirkan sampai anaknya berusia hampir empat bulan belum ke jenguk. Gegara kesehatan papa yang gak memungkinkan bepergian jauh."
__ADS_1
"Pengen ikut," rengek ibu hamil itu dengan mata berkaca-kaca.
"Enggak bisa, Ren. Kandunganmu mendekati HPL, gak baik berpergian sana sini, apalagi ini bepergian jauh memakan waktu berjam-jam di pesawat. Mama gak mau terjadi apa-apa sama kalian." Amalia menasehati menantunya sepelan mungkin agar tidak menyinggung menantunya, mengingat perasaan ibu hamil sangatlah sensitif.
"Nanti kalau baby udah besar dan bisa bepergian jauh, kita kesana sekalian bulan madu ke LN," ucap Armand berusaha menenangkan sang istri.
Renita hanya mengangguk lemah.
"Mama gak lama kok, Ren. Sebelum princes lahir, mama sudah kembali. Mama gak mau melewatkan kehadirannya."
"Beneran, Ma?" tanya Renita dengan antusias.
Kesedihan yang sempat tergambar di wajahnya sirna entah kemana.
"Iya," balas Amalia dengan senyum teduhnya.
"Kapan berangkat, Ma?" tanya Renita.
"Nanti siang."
"Aku ikut nganter ya, Ma. Biar Mas Armand yang jadi sopir. Sekalian aku mau healing."
"Iya," sahut Armand.
"Nanti, Vello mau ikut lihat kapal terbang?" Armand beralih pada putranya.
"Apang bang? Mau, Eyo mau," ucapnya antusias dengan bibir mengerucut lucu.
(Kapal terbang? Mau, Vello mau)
"Oke, tapi sekarang kita mandi dulu," teriak Armand dengan membawa serta tubuh putranya masuk ke dalam rumah.
Jeritan mulut mungil itu menghilang di balik pintu.
Tingkah ayah dan anak itu tak luput dari perhatian dua wanita beda usia yang sedari tadi memperhatikannya.
"Kamu jangan terlalu capek, Ren. Ingat, ada yang harus kamu jaga." Amalia berpesan pada menantunya.
Entah mengapa tiba-tiba ada perasaan resah tanpa alasan menyusup dalam hatinya. Tapi, Amalia segera menghempaskan pikiran itu.
"Kamu harus hati-hati, lho, Ren." Amalia berpesan lagi dengan menatap serius menantunya.
"Iya, Ma. Mama kenapa, sih?"
"Enggak, enggak apa-apa. Sudah, jangan di pikirkan!"
Meski merasa aneh, Renita hanya mengangguk menanggapi.
...----------------...
Oke, kita masuk ke konfliknya pemilik rumah alias Renita sama Armand. Otak sinetron gue mode on (sambil tersenyum jahat). Semoga kalian gak bosen ya mantengin cerita receh ini.
Sumbangannya, Bestie. Gak banyak bunga sama hati, kopi juga boleh, deng....
Like, ❤ sama favorit jangan lupa....
Banyak maunya ya aku...
__ADS_1
Babay....