
''Mbak Reva, ada yang nyari.'' Seorang OB menghampiri Reva yang ingin ke kafetaria kantor untuk mengisi perut
''Siapa?'' tanya Reva.
''Nggak tahu mbak.'' si OB mengedikkan bahunya saja.
''Laki apa perempuan?''
''Laki-laki, Mbak. Guanteng polll,'' ucap OB itu dengan antusias.
Kerutan di dahinya semakin dalam.
''Aku saja yang laki-laki terpesona dengan ketampanannya,'' lanjut si OB
''Sarap loe!'' Reva beralih haluan untuk menemui orang itu, ''Dia menunggu dimana?''
''Di lobby, Mbak.''
Reva mengangguk, bergegas menuju tempat yang di tunjukkan.
''Maaf, anda siapa?'' Reva bertanya pada seorang pria yang membelakanginya.
''Apa anda yang bernama Reva?'' tanya Pria itu balik.
Reva mengangguk mengiyakan.
''Saya Ronald, asisten pribadi Tuan Devario, saya....''
''Sebentar-sebentar, Tuan Devario itu siapa?'' potong Reva, ''Saya tidak mengenal pria yang anda sebutkan. Sepertinya anda salah orang.''
Ronald mengernyit bingung.
'Apa benar wanita ini calon istri tuan? Lantas, kenapa dia tidak mengenal calon suaminya sendiri?' berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benaknya.
''Saya kemari ingin menyerahkan titipan dari Nyonya Marina.''
Tak ingin ambil pusing, Ronald menyerahkan papper bag yang ada di tangannya.
''Ooo, kau asisten si Rio mulut bakso mercon level sepuluh itu. Jadi, namanya Devario. Kenapa nggak Scoopy aja, biar lebih kalem orangnya,'' kata Reva yang baru paham dengan orang yang di maksud.
Ronald ingin menyemburkan tawanya mendengar ucapan gadis di depannya. 'Sepertinya, pilihan Nyonya tidaklah salah,' batin Ronald.
''Apa ini?'' Reva mengangkat sedikit tas yang ada di tangannya.
''Itu makan siang dari Nyonya untuk Anda.''
Reva membulatkan mulutnya. ''Kenapa kau yang mengantar kemari? Tuanmu itu kemana?'' tanya Reva dengan sinis.
''Tuan sedang sibuk, makanya beliau menyuruh saya,'' ujar Ronald.
__ADS_1
''Alasan! Bilang saja malas bertemu denganku,'' gerutu Reva yang masih terdengar di telinga Ronald.
Pria itu hanya terkekeh pelan.
''Ya sudah, terimakasih makan siangnya. Kau boleh pergi,'' titah Reva berlagak seperti seorang atasan.
''Jangan lupa sampaikan terimakasihku pada mami,'' pesan Reva.
''Baik. Saya permisi.'' Ronald menunduk hormat sebelum berlalu dari hadapan Reva.
''Lumayan dapat makan siang gratis.''
...----------------...
Jam pulang kantor yang dinanti-nanti pun tiba. Reva berjalan bersisihan dengan kedua sahabatnya. Ketiga wanita itu, tampak saling lempar candaan, sesekali tawa dari mulut mereka terdengar di telinga para karyawan lain.
''Eh, Va. Itu seperti pangeran loe, deh,'' tunjuk Dania pada seorang pria yang bersandar pada pintu mobilnya.
Reva menghentikan langkahnya, dia mengikuti arah yang ditunjuk Dania.
''Bener itu dia. Ngapain dia dimari?'' gumam Reva.
''GILA! GANTENG BANGET. SUAMI GUE AJA KALAH,'' pekik Wina.
Wanita hamil itu, begitu terpesona dengan ketampanan pria bermata sipit itu.
''Ingat perut. Kagak usah ganjen,'' sewot Reva.
Tak mempedulikan kedua sahabatnya, Reva segera menghampiri calon suaminya.
''Mau apa kemari?'' Reva menyilangkan tangannya di dada, menunjukkan sisi angkuhnya.
''Di suruh mami buat jemput kamu,'' jawabnya datar.
''Ooo, disuruh mami. Kalau misal, mami nyuruh kamu bunuh aku. Bakalan kamu turuti gitu?'' tanya Reva dengan sinisnya.
''Bisa jadi. Karena bagi saya kehilangan satu wanita sepertimu tidak ada untung ruginya,'' ucap Rio dengan santainya, seolah membunuh wanita ini seperti membunuh semut yang menggigit kulit.
Reva menganga tak percaya, mendengar jawabannya. ''Sebegitu bencinya kau terhadap wanita?''
''Sudahlah, tidak usah membahas hal yang tidak mungkin. Saya harap, kali ini kamu mau menghargai usaha saya. Tidak seperti tadi pagi.'' Rio bergegas masuk ke mobilnya, kemudian mesinnya.
''Ayo, masuk!'' ajaknya.
''Kalau saya tetap tidak mau, bagaimana?'' Reva tak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Wanita itu malah terlihat menantang pria yang akan menjadi calon imamnya.
''Cepatlah! wanita gatal. Jangan memancing emosiku,'' geram Rio.
Reva melotot di buatnya. ''Enak saja! gue punya nama, bukan wanita gatal. Dasar mulut mercon, anak mami!'' umpat Reva dengan suara lantangnya.
__ADS_1
Sontak saja, hal itu berhasil menarik orang-orang di sekitar. Karena posisi mereka berada di depan lobby yang sedang ramai-ramainya.
''Loe, yakin itu calonnya si Reva?'' bisik Wina pada adik iparnya, matanya masih tertuju pada sepasang sejoli yang tengah adu mulut tak jauh dari tempatnya berdiri.
''Seribu persen yakin! Gue ingat betul muka itu cowok. Mata sipitnya khas banget,'' jawab Dania tak kalah berbisik.
''Kebiasaan, ada orang bertengkar bukannya di lerai malah di tonton sambil gosip,'' sambar Doni yang ada di belakang mereka.
''Loe diem, Dono! Tidak usah ikut campur. Urusan perempuan ini,'' solot Wina.
''Kurang kerjaan banget, ikut urusan bisik-bisik tetangga kalian berdua.'' Doni melenggang pergi meninggalkan tempat itu bersama Devan yang sedari tadi bersamanya.
''Bilang aja loe cemburu, Don!'' teriak Dania.
Kembali lagi pada pertengkaran sepasang sejoli yang entah kapan akan berakhir.
''Cepat, Reva! Mami ingin bertemu kamu,'' kata Rio dengan mengetatkan rahangnya.
Reva tak menanggapi, justru dia semakin menunjukkan keangkuhannya.
''Reva!'' geramnya lagi.
Menghadapi wanita satu ini harus mempunyai stok kesabaran lebih. Benar yang di katakan maminya tempo lalu, jika Reva wanita berbeda. Tidak sama dengan wanita-wanita yang pernah dekat dengannya. Entah kenapa? Rio merasa tertantang untuk menaklukkannya.
''Masa meminta sesuatu begitu caranya?'' Reva hanya melirik sekilas, dalam hatinya tersenyum puas bisa mengerjai pria ini.
Rio menghembuskan nafas,mengeluarkannya secara perlahan demi meredam emosi dalam dadanya.
''Oke, Reva, mami ingin bertemu denganmu. Dia meminta kita menghadap berdua. Ayo masuk, Sayang.'' Rio berkata selembut mungkin, berharap wanita ini bisa luluh.
Reva menjadi salah tingkah sendiri mendengar panggilan sayang itu, dia memalingkan mukanya untuk menutupi rasa malunya. Tanpa mengucap sepatah katapun, Reva segera masuk mobil lalu mendudukkan dirinya di kursi samping calon suaminya.
Tak lama kemudian, mobil itu bergerak perlahan meninggalkan pelataran kantor menuju tempat tujuannya.
''Win, kok gue seperti menyaksikan anak kecil bertengkar, ya?'' tatapan Dania masih tertuju pada mobil yang sudah menghilang di balik gerbang.
''Sama, baru berantem sudah akur lagi. Gue gak bisa bayangin, malam pertama mereka nanti seperti apa?''
''HAH!''
...----------------...
Ada yang masih setia menunggu cerita recehku, ini? Jika ada, ku ucapkan banyak-banyak terimakasih kepada kalian.
Mohon dukung untuk Like, Vote, Comment juga Favoritnya.
Komentar-komentar dari kalian, sedikit banyak bisa menambah semangatku untuk menulis.
Sampai jumpa di part selanjutnya...
__ADS_1
Babay...