My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Kehebohan Pagi Hari


__ADS_3

''Hai, gengs. Gue punya berita bagus buat kalian,'' sapa Renita.


Pagi-pagi, ibu muda itu sudah melakukan panggilan video pada kedua cs-nya yang tak lain Wina dan Dania.


''Apa, Ren?'' jawab mereka serempak.


''Tapi sebelumya coba tebak gue dimana?'' Renita mengarahkan ponselnya ke tempat sekelilingnya.


''Widiih, loe dimana, tuh? Bagus banget tempatnya?'' tanya Dania.


''Eh, ponakan gembul gue, mana? Loe ajak 'kan?'' serobot Wina.


''Gue ajaklah. Mana mau suami gue jauhan sama anaknya? Tuh, lihat.'' Renita mengganti kamera belakang lalu mengarahkan pada suaminya yang tengah tertidur di sebelah Marvello.


''Yang pasti gue dimari, lagi menjalankan rencana. Itung-itung bulan madu juga,'' sambungnya yang sudah mengarahkan kamera ponselnya ke wajahnya.


''Rencana apa?'' tanya Wina yang diangguki Dania.


''Kepo ya,'' goda Renita, ''Sayang loe berdua kagak dimari. Gue yakin, loe berdua bakalan heboh. Kalau menyaksikan drama di ruang perawatan rumah sakit,'' papar Renita dengan lebaynya.


''Reni, cepetan kasih tau kenapa?'' pekik Wina gemas.


''Tau, nih, penasaran gue," sahut Dania.


"Heh, kalian berdua, jangan berisik! Ganggu orang tidur aja," tegur seorang pria yang bisa di pastikan ada di samping pasangan saudara ipar itu.


Renita menahan tawanya yang hampir pecah mendengar teguran itu.


"Nggak usah ketawa loe," sewot Wina.


''Kasih tau gak? Gue banting hape, nih!" ancam Wina.


''Hape gue!'' celetukan spontan keluar dari mulut Dania.


''Oke-oke, gue kasih tau daripada nanti ada korban tak berdosa,'' kata Renita dengan menahan tawanya.


''Reva di jodohin sama sahabat suami gue.''


''APA!'' pekik mereka serempak.


''sumpah demi apa? Loe nggak bercanda 'kan, Ren?'' tanya Dania memastikan.


Renita mengangguk pasti. ''Buat apa gue bercanda, Nya? Serius gue.''

__ADS_1


''Langsung lamaran hari itu juga,'' lanjut Renita.


Kedua kakak beradik ipar itu terperangah mendengarnya. Bagi mereka ini sebuah kabar yang mengejutkan.


''Kok, loe nggak ngajak-ngajak kita, sih!'' kesal Wina.


''orang itu rencana suami gue,'' elaknya tak mau disalahkan.


''Wah, parah loe berdua, kagak kabar-kabar. Ini juga si Reva ngilang gitu aja. Setelah curhat malam itu.'' Dania menggerutu kesal sekaligus tidak terima.


''Ya, gara-gara malam itu, suami gue punya rencana itu,'' ucap Renita.


''Ren,'' panggil Armand pelan.


Renita yang masih sibuk dengan kedua sahabatnya tak mendengar panggilan suaminya. Dia memanggil istrinya sekali lagi tapi hasilnya tetap sama, sia-sia. Ketiga wanita itu malah semakin heboh saja.


''Terus-terus gimana kelanjutannya, Ren. Berhasil nggak rencananya,'' tanya Wina dengan antusias.


''Jangan sepotong-sepotong kayak tadi!'' serobot Dania sebelum Renita menjawab.


''Oke-oke, aku nggak mau buat bumil penasaran. Takutnya dia lagi ngidam,'' kata Renita.


''Jadi begini....''


Tanpa mereka tahu, ada seorang pria yang tengah kesal dengan kekesalan yang memuncak karena panggilannya tak di hiraukan sedari tadi.


''Loe tau nggak, Ren. Kapan si Reva balik?'' tanya Dania, ''Mulut gue udah gatel pengen godain itu anak.''


''Tau, besok bareng gue. Bareng tunangan dadakannya juga. Dia balik mau ngerjain kerjaan dia yang keteteran, laptopnya ketinggalan. Sekalian mau ngajuin cuti buat nikahannya dia.''


''Gila! Gercep banget,'' celetuk Wina.


''Calon mertuanya dia yang gercep.''


''Mertua idaman,'' gumam Dania tapi masih terdengar di telinga sahabatnya.


''Adik ipar loe mupeng tuh, Win.''


''Masih kecil kata abangnya dia. Belum boleh pacaran.'' kata Wina sembari menahan tawanya.


Dania sudah menunjukkan muka keruhnya. Dia selalu kesal, jika teringat peringatan abangnya.


''Tau tuh, super over protective. Gue udah dua puluh lima tahun, masih di bilang kecil. Terus besarnya gue kapan?"

__ADS_1


''Nanti, kalau loe udah kepala tiga, Nya,'' celetuk Renita.


''iidih, perawan tua dong gue,'' jawab Dania cepat.


Sedang Wina sudah terbahak sedari tadi. Dia akui suaminya itu memang super protective pada adiknya. Terlebih lagi terhadap dirinya yang tengah berbadan dua begini.


''Suami loe, tuh.'' Dania melirik kesal kakak iparnya.


''Hey, yang sopan sama kakak ipar,'' kelakar Wina.


''Yang akur ya, kalian,'' Renita berpesan seolah dia orang tua mereka.


''Siap, Bu,'' jawab mereka serempak.


Tak lama ketiga wanita itu tertawa bersama-sama, menertawakan kekonyolan mereka.


''Ngomong-ngomong, loe tahu tanggal nikahannya si Reva?'' tanya Dania.


''Tau dong,'' jawab Renita jumawa.


''Kapan, Ren?''


''Tanggal....'' ucapannya terhenti karena ada tangan kekar yang meraba perutnya.


''Astaga, Mas!'' Renita memukul lengan suaminya dengan kesal, ''Bikin kaget orang aja.''


''Waduh, pawangnya Reni bangun. Ya udah, Ren lanjut nanti aja, bye.'' Dania mematikan sambungan panggilannya sepihak.


''Eh, gengs. tung.....'' belum sempat menyelesaikan ucapannya, layar ponselnya sudah gelap saja.


''Kamu sih, Mas,'' Renita berkata kesal pada pria yang tertidur di pangkuannya.


''Apa, Sayang,'' kata Armand dengan memejamkan matanya.


''Suka banget ganggu kesenangan orang,'' sungutnya.


''Kesenangan apa? Heboh pagi-pagi, sampai ganggu orang tidur. Untung Vello nggak kebangun mendengar kehebohan kalian.''


Renita tak menjawab, wanita itu hanya menyilangkan kedua tangannya di dada.


''Gitu aja ngambek, sarapan bibir enak kali ya? Pagi-pagi, manis-manis kenyal.'' Armand mengerlingkan sebelah matanya.


Renita memutar bola matanya jengah. ''Main aja sendiri. Solo karir, aku mah ogah.''

__ADS_1


__ADS_2