My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Drama di Ruang Perawatan pt.2


__ADS_3

''Baiklah, diam berarti 'iya','' tegas Marina.


Reva melotot mendengar keputusan sepihak itu. Rio juga nampak tidak setuju dengan keputusan ibunya. Ingin protes tapi pelototan tajam dari wanita yang melahirkannya membuat nya urung.


''Tap-tapi, Nyo-nyonya....''


''Eits, jangan panggil nyonya, panggil mami. Karena kamu sudah menjadi calon menantuku,'' ralat Marina.


''Tapi, saya dan dia belum mengenal dengan baik.'' Reva mencoba bernegosiasi. Barangkali ini bisa di batalkan.


''Itu bukan alasan, Reva.''


''Mi, nggak bisa gitu, dong!'' protes Rio.


''Ini namanya penipuan! Kalian menipuku. Akan ku tuntut kalian!'' Rio mengancam sahabat beserta istrinya.


'Mana ada, orang di penjara gegara rencana perjodohan? Sarap, nih cowok,' batin Renita memandang aneh sahabat suaminya.


Bukannya takut, Armand malah ingin tertawa mendengarnya.


''Kau habis yang berapa juta, Yo? Sampai bawa-bawa hukum segala,'' kata Armand, ''Justru, kau kemari tak kehilangan uangmu sepeserpun.''


Rio semakin kesal mendengar jawaban sahabat durjananya.


''Sudah, Yo. Nggak usah mengada-ada. Disini mami ikut andil, kalau kamu mau melaporkan mereka. Otomatis mami juga ikut terseret. Kamu mau memenjarakan mami? Durhaka kamu!" Marina menjadi kesal sendiri.


''Heran, deh. Biasanya anak kalau disuruh kawin senang bukan main. Ini malah kebalikannya,'' gerutu Marina


''Pokok aku tidak mau!'' Rio masih bersikeras dengan penolakannya.


'Gue sumpahin jadi bucinnya Reva, Loe.'' Renita membatin sebal pria di depannya.


''Lagaknya nolak-nolak, nanti tau rasanya kawin ketagihan lu,'' dumel ibu satu anak itu.


"Berarti ini batal, Nyonya?'' tanya Reva dengan polosnya.


''No, no! Di sini keputusan mutlak ada di tangan mami. Setuju atapun tidak, perkara ini akan berlanjut.''


''Bu Marina, jangan terlalu memaksakan kehendak. Itu tidak akan baik untuk putra putri kita. Kelak yang menjalani biduk rumah tangga juga anak-anak kita, bukan kita. Biarlah mereka memutuskan sendiri," nasehat Ayah Reva.


''Benar, Bu. Reva putri saya satu-satunya, saya hanya ingin yang terbaik untuknya. Bukan soal harta, melainkan kebahagiaannya yang kami utamakan,'' lanjut Bunda.

__ADS_1


Marina terdiam mendengar penuturan pasangan paruh baya itu. Setelah di pikir-pikir, apa yang mereka ucapkan ada benarnya. Tapi, jika tidak di paksa begini, putranya akan sulit lepas dari keterpurukannya


''Baiklah.'' Marina menghembuskan nafas pasrah.


''Rio, maafkan mami, jika mami terlalu memaksamu. Sebagai seorang ibu, mami sedih melihat putranya terus terpuruk seperti ini. Mami ingin kamu sadar bahwa tidak semua wanita seperti mantanmu yang tidak tahu diri itu. Masih banyak wanita baik-baik yang bisa menerimamu apa adanya. Mami tidak akan memaksamu lagi, maafkan mami. Mami harap kamu bisa segera menemukan seseorang yang bisa membuatmu bahagia,'' tutur Marina panjang lebar dengan air mata berderai di pipinya.


''Reva, mami minta maaf telah memaksamu untuk menerima putra mami. Semoga kamu bisa menemukan kebahagiaanmu juga," Marina menggenggam tangan wanita muda di sampingnya. Setelah itu, wanita paruh baya itu berbalik keluar dari ruangan, ''Permisi.''


''Mami, tunggu!'' panggil Rio.


Marina mengurungkan niatnya untuk membuka pintu.


''Rio...., Rio mau menerima perjodohan ini, demi mami." Rio memejamkan matanya sejenak. Inilah kelemahannya, Dia paling tidak bisa melihat ibunya menangis, ''Asal mami jangan sedih lagi, mami nggak boleh nangis lagi,'' pinta Rio.


Marina tersenyum cerah. Dia segera berbalik lalu memeluk erat putranya.


''Kau serius, Rio? Kamu nggak nge-prank mami, 'kan?'' tanya mami dengan melerai pelukannya.


''Aku serius, asal mami nggak nangis lagi. Pastikan ini air mata terakhir mami,'' tegas Rio.


''Ya, mami janji. Terimakasih sudah mau menuruti keinginan mami.'' Marina kembali memeluk erat putranya.


Wanita paruh baya itu, mengerlingkan sebelah matanya ke arah Armand yang membelakangi putranya. Mengisyaratkan, jika taktiknya berhasil. Armand membalas mengacungkan dua jempolnya kepada ibu dari sahabatnya.


''Jadi, ini kelanjutannya, bagaimana?'' tanya Reva yang masih belum memahami situasi.


Renita menepuk keningnya pelan, lihatlah kelemotan otak sahabatnya.


''Perjodohan kalian berlanjut, Reva,'' geram Bunda.


''APA!'' pekik Reva, ''Gue...., gue jadi di sandingin sama si mulut bakso mercon level sepuluh ini.'' Reva menunjuk mereka arah Rio.


Sedangkan, Rio hanya menanggapi dengan wajah tanpa ekspresinya.


''OMG! Bisa mati berdiri gue,'' keluhnya frustasi.


'Lebay loe,'' sahut Renita, ''Bilang aja loe seneng. Mata loe, 'kan suka ijo kalau lihat yang bening-bening kek dia.'' Renita menunjuk Rio dengan dagunya.


''Kalau loe nggak mau, gue dengan senang hati menerimanya,'' lanjut wanita itu.


''Ren,'' geram Armand. Mukanya sudah merah padam menahan kekesalannya.

__ADS_1


''hehehe, canda My Husband," cengir Renita.


Kedua orang tua Reva tak henti-hentinya mengucap syukur. Meski mereka tahu, jika keduanya menerima perjodohan ini karena terpaksa. Tapi mereka yakin, suatu saat cinta itu akan tumbuh di hati mereka masing-masing.


''Akhirnya, keinginan ayah akan terwujud, Bun.'' Ayah Reva berucap penuh syukur.


''Iya, Yah.''


''Sebentar, mami mau memberi sesuatu buat Reva.'' Marina segera menelpon seseorang untuk membawakan barang bawaannya kemari.


''Apa lagi, mi,'' ucap Rio jengah.


''Nanti kamu juga tahu,'' sahut Marina.


Tak lama terdengar suara pintu di ketuk, Armand membukakannya. Mata pria itu, melotot melihat berberapa orang membawakan barang yang begitu banyak di tangannya. Dia tak menyangka Marina akan bertindak secepat ini.


''Si-si-silahakan masuk.''


''Ini dia, sudah datang,'' sambut Marina dengan senyum cerahnya, ''Kalian tata serapi mungkin disana,'' titah Marina pada orang-orang itu.


Semua yang ada disana hanya bisa menganga melihat berbagai macam barang seserahan lamaran yang di pastikan berharga fantastis. Mulai dari sepaket gaun beserta sepatunya berwarna senada, satu set perhiasan mewah, juga beberapa macam kue dari toko kue ternama dan berbagai barang lainnya lagi.


''Mami, mempersiapkan ini semua?'' tanya Rio yang masih tak percaya.


Marina mengangguk antusias. ''Mami, seneng banget, Yo. Saat tau anak mami satu-satunya akan menikah. Makanya, mami mempersiapkan semua ini tanpa sepengetahuanmu.''


''Astaga, mami.''


''Ini-ini, se-semua bu-buat saya?'' tanya Reva terbata-bata.


Reva, benar-benar tidak menyangka akan mendapat kejutan seperti ini. Perasaan tadi malam tak mimpi apa-apa, tidak bisa tidur malah karena terlalu pusing memikirkan permintaan Ayah. Tau-tau besoknya mendapat lamaran dadakan seperti ini, pikir Reva.


''Baik Pak, Bu. Mari kita tentukan tanggal pernikahan putra putri kita?''


Lagi-lagi, Marina mengejutkan semua orang yang ada disana.


''Secepat itu, Bu?'' tanya Ayah.


''Hal baik harus di segerakan, bukan begitu, Bu?'' Marina bertanya kepada Bunda.


Bunda mengangguk saja, karena dia sendiri masih sangat terkejut sampai tidak bisa berkata-kata.

__ADS_1


''Sebelum putra saya berubah pikiran.''


__ADS_2