
''Hallo, bu bos. Hallo, Marvell studio,'' Aryo menyapa Renita yang masuk gerbang kantor dengan mendorong stroller anaknya.
''Apa kamu bilang ?'' Renita melotot ke arah satpam satu ini.
''Galak amat, bu bos,''
''Sekali lagi loe manggil anak gue seperti itu. gue geplak kepala loe, Yo,'' Renita masih mengeluarkan mode bantengnya.
''Iya maaf, bu Renita. Ngomong-ngomong kok jalan kaki, bu. Sopirnya mana?'' tanya Aryo. Satpam satu itu, celingak-celinguk mencari keberadaan sopir Renita.
''Aku sengaja naik taksi, habis ini mau keluar sama Mas Armand,''
''Mau kemana, bu?''
''Kepo,'' kata Renita dengan melanjutkan langkahnya menuju lobby kantor. Takut anaknya tersengat panas matahari terlalu lama.
''Holla, papa,'' sapa Renita dengan menirukan suara anak kecil saat sampai di ruangan suaminya.
''Hai, Uh...anak papa makin montok aja ini,'' Armand menghampiri dan mengambil anaknya dari dalam stroller dan menciumi pipi gembulnya berkali-kali.
Di usianya yang sudah tujuh bulan, Marvello sudah mulai di beri MP-ASI oleh ibunya. Pergerakannya juga semakin lincah saja dalam gendongan ayahnya. Bayi mbul itu meronta minta turun, ketika melihat karpet yang ada di ruangan Armand.
''Ren, kamu kasih dia apa sih ? Kok jadi lincah gini,'' mau tak mau Armand menurunkan anaknya.
''Ya bubur bayi mas, Mas. Masa rendang,'' jawab Renita yang tengah menyiapkan tempat untuk anaknya agar lebih nyaman.
''Udah, Vello bisa guling-guling disini,'' bayi itu tersenyum ke arah mamanya hingga memperlihatkan gusinya yang belum ditumbuhi gigi.
''Seneng banget kalau udah liat karpet,'' Renita mencubit gemas pipi bulat itu.
''Mas,''
''hmmm,''
''Nggak lupa, 'kan ?''
''Apa ?''
''isshh.. Pikun! Nggak usah pura-pura lupa,'' ucap Renita dengan kesewotannya.
''Apa, Ren ?'' tanya Armand dengan mengulum senyumnya.
''Mas, kalau kamu nggak nepatin janjimu kemarin. Ancamanku masih berlaku. Aku pergi kerumah Ibu aja. Biarin kamu di omelin mama,'' Renita menyilangkan tangannya di hadapan suaminya.
''itu Mulutnya minta di bikin jontor, apa gimana? kok di maju-majuin gitu,'' Armand terus menggoda wanita yang menjadi istrinya ini.
Lama rasanya tidak mengerjai wanita ini.
''MAS!!" teriak Renita kesal.
"Gak usah teriak-teriak, Ren. Ada Vello, kasihan telinganya. Harus mendengar lengkingan emas ibunya," kata Armand tanpa rasa bersalah.
"Kamu ngerjain aku!"
Armand tak mampu lagi menahan tawanya.
__ADS_1
"Nyebelin banget sih," Renita memukul lengan suaminya berkali-kali untuk melampiaskan kekesalannya.
"Sudah, sudah. Ampun. Pukulan tangan mulus ini panas juga rasanya. Berangkat sekarang apa nanti?"
Renita menghentikan tindakannya.
''Sekarang! Ayoo..'' kata Renita dengan antusias.
''Marvello nya di gendong dulu, mau kamu tinggal di kantor, dianya?''
''Eh, iya,'' cengir Renita. Kemudian wanita itu meraih anaknya dan membawanya ke dalam gendongannya.
''Yuk,'' Renita keluar ruangan dengan menggandeng lengan suaminya.
Mereka segera berangkat menuju tempat yang di inginkan Renita.
...----------------...
Mobil yang di kendarai Armand memasuki kawasan yang bertuliskan,
'RUMAH SAKIT JIWA HARAPAN KASIH'.
Armand membukakan pintu mobil untuk istrinya dan menggandeng lengan nya masuk mereka tempat itu.
Beruntung, Marvello tertidur sewaktu di perjalanan tadi. Jika tidak, mungkin bayi mbul itu akan menangis melihat pasien-pasien yang ada disana.
''Dengan bapak Armand?'' Seorang berpakaian perawat menghampiri Armand.
''Iya,''
Armand dan Renita mengikuti suster itu, hingga mereka sampai di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar. Disana, mereka bisa melihat seorang wanita yang tengah termenung dengan tatapan kosongnya.
Penampilannya jauh dari kata rapi. Rambut berantakan, wajah pucat sedang terikat dan di tutupi sebuah kain putih di badannya.
''Kenapa dia di ikat seperti itu, Sus? Kasihan dia,'' tanya Renita.
''Jika dilepas, Ibu Mita selalu berusaha untuk bunuh diri, bu,'' jelas suster itu.
''Apa separah itu kondisinya, Sus ?''
''Iya, Bu.''
Renita menatap iba wanita di depannya. Kecantikan yang dulu dia gunakan untuk menggoda suaminya. Kini, hilang entah kemana.
Kemarahan yang ada dalam hatinya, menguap entah kemana.
''Apa dia bisa sembuh?'' ganti Armand yang bertanya.
''Melihat kondisinya yang seperti itu, sepertinya sulit, Pak.''
Armand menghela nafas, Mita adalah sahabat terbaik nya semasa sekolah. Dulu Mita gadis yang baik, ramah kepada siapapun. Tapi setelah perjumpaan nya sebagai klien waktu itu. Armand seperti tidak mengenal Mita. Wanita itu, berubah menjadi orang lain.
Armand mendengar banyak tentang Mita dari orang suruhan papanya. Apalagi saat dia mendengar sendiri pembicaraan Mita dengan temannya waktu itu. Armand semakin tak percaya, jika itu sahabat nya dulu.
'Waktu sudah mengubah banyak tentangmu, Mita,' batin Armand.
__ADS_1
''Sekarang, apa yang ingin kau lakukan, Ren ?'' tanya Armand tapi netranya masih fokus pada wanita di depannya.
''Tidak ada, aku hanya ingin melihat karma seorang wanita yang sudah berusaha merebut suamiku,''
''Sudah 'kan?''
Renita mengangguk, ''Sudah.''
'' Sekarang kita pulang! kasihan Marvello, jika terlalu lama berada disini,'' ajak Armand.
''Iya,''
...----------------...
''Senang kamu, sekarang?'' tanya Armand saat mereka berada di jalan pulang. Matanya fokus pada jalanan yang ada di depannya.
''Iya, terimakasih,'' Renita tersenyum ke arah suaminya.
Armand menaikkan alisnya, ''Buat apa ?''
''Sudah memenuhi permintaan aku.'' Renita berucap dengan manjanya. Ingin memeluk juga tidak bisa, ada Marvello dakam gendongan nya.
''Kamu memang ajaib, Ren,'' ucap Armand.
''Ajaib gimana?''
''Permintaan kok kerumah sakit jiwa. Minta itu perhiasan kek, baju mahal, liburan atau honeymoon gitu. Pantas buat seneng. Lah ini ?''
''Buat apa minta itu semua, tanpa di minta pun pasti di kasih,'' celetuk Renita. ''Iya, kan?''
''hmmmm''
''Ren,''
''Apa ?''
'' Apa yang kamu lihat tadi. Jangan dijadikan bahan gosip bareng teman-teman kamu itu,'' Armand memperingati istrinya.
''Iya nggak..''
''Iya apa nggak? Kok membingungkan gitu jawaban mu,'' Armand menoleh sekilas ke arah istrinya.
''NGGAK, PAPA..,''
...----------------...
Sekali lagi aku tekankan ya, semua part di novel ini murni kehaluan gabut ku aja teman-teman. Semua hanya fiktif belaka. Jangan samakan dunia halu dengan dunia nyata.
Jika ada part-part yang tidak sesuai, mohon maaf 🙏🙏
Oke jangan lupa dukungan nya.
Like,❤, comment, vote dan hadiahnya..
Babay..
__ADS_1