My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Sialnya Reva


__ADS_3

''Buat kamu saja.'' seorang pria memberikan buket bunga ke tangan Reva lalu pergi begitu saja.


Reva mematung menerimanya.


''Ehem.. Pangeran berkuda sudah datang,'' ledek Dania.


Reva langsung menatap tajam sahabatnya.


''Sebentar lagi ada yang nyusul, nih.'' Dania terus meledek wanita di sampingnya.


''Pangeran berkuda, prettt. Nih, gue kasih buat loe dengan ikhlas!'' Reva meletakkan kasar benda itu ke tangan sahabatnya lalu pergi begitu saja dengan kekesalannya.


''Kenapa mesti dia, sih ? Kayak nggak ada laki-laki lain aja,'' gerutu Reva di sepanjang langkah kakinya.


Dia menghentakkan kakinya kesal saat mengingat peristiwa setengah jam lalu...


Reva berada di stand makanan dan minuman. Matanya serasa di segarkan dengan berbagai dessert yang berjejer rapi, begitu menggiurkan lidah. Karena kalap, Reva mengisi piringnya dengan beberapa makanan yang di inginkannya. Setelah itu, dia beralih ke stand minuman yang tak jauh darinya. Saat ingin mengambil minuman yang dia inginkan, tanpa sengaja ada seseorang juga menginginkan minuman itu. Kulit mereka saling bersentuhan.


Reva terpesona dengan ketampanannya.


Seorang pria bermata sipit, berkulit putih berdiri tepat di sampingnya. Aroma parfumnya, mampu menggetarkan indra penciumannya. Begitu menenangkan, sepertinya wangi parfum ini akan menjadi wangi favoritnya mulai saat ini.


"Hai,'' sapa Reva dengan senyum manisnya.


Wanita ini, memang selalu oleng ketika melihat sesuatu yang bening.


Pria itu, hanya diam dengan wajah datarnya.


Jangankan membalas, berdehem saja tidak. Reva menjadi kikuk sendiri karena sapaannya tak berbalas sama sekali.


''ini, buat kamu. Aku cari yang lain saja.'' Reva menyodorkan gelas yang di pilihnya tadi pada pria di hadapannya.


''Buat kamu saja ! Aku tidak terbiasa menyentuh bekas orang lain,'' kata pria itu dengan dinginnya.


Reva menganga tak percaya.


''Tapi ini masih utuh. Aku belum meminumnya sama sekali,'' kata Reva meyakinkannya.


''Tanpa kau beritahu pun aku sudah tau, jika minuman itu masih utuh. Tapi bekas tanganmu ada di gelas itu,'' sewot pria itu.


''Apa ?''


'Sombong sekali dia,' batin Reva.


''Bukan bekas tanganku aja. Ini juga bekas tangan para pelayan yang menyiapkan semua ini tadi. Bisa jadi, ini juga bekas tangan banyak orang,'' kesal Reva.


'' Saya alergi sama bekas wanita gatal seperti kamu,'' kata pria itu dengan pedasnya.


''Siapa ? Aku?'' Reva menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


''hmmm..''


''Memang kamu kenal aku ? Kok sudah menjudge seperti itu.'' Reva memicing tajam ke arahnya. Agaknya, wanita itu mulai terpancing emosinya.


''Terlihat dari caramu memandangku,'' sahut pria itu dengan entengnya.


''Percaya diri sekali anda.'' Reva menyangkalnya, meski kenyataannya memang benar dia mengagumi pria ini. Tapi kekagumannya sirna setelah mendengar kata pedas dari mulut sexynya.


"Mending gue jomblo seumur hidup daripada harus sama dia. Bisa mati berdiri gue," Reva menendang bangku kayu di depannya untuk melampiaskan kekesalannya.


''aww...ssshh," ringisnya ketika merasakan ngilu pada jempol kakinya


''Rusak deh, sepatu mahal gue.'' Reva memandang sedih ujung sepatunya yang lecet.


''Ini semua gara-gara itu cowok! Coba dia nggak muncul di hadapan gue. Gue nggak perlu terpesona segala sama dia. Gue nggak perlu uring-uringan gini sampai sepatu mahal gue lecet. Mana mulutnya pedes banget lagi. Sekali ngomong langsung nancep di hati.'' Reva bebrbicara sendiri seperti pasien yang kabur dari Rumah Sakit Jiwa .


Tanpa dia sadari, seorang pria mengawasinya sedari tadi dengan senyum tipisnya.


...----------------...


''Va, loe darimana aja, sih ? Dicariin dari tadi juga,'' tanya Dania sekembalinya Reva ke tempat acara.


''Habis semedi menenangkan diri.''


''Kita mau pulang, udah malem. Loe pulang kapan?'' tanya Wina.


''Ya bareng kalian lah, 'kan gue berangkatnya bareng kalian!'' moodnya benar-benar buruk kali ini.


''Kalian duluan aja, deh. Gue mau ke toilet dulu, kebelet soalnya,'' cengir Reva dengan menujukkan gigi putihnya.


''Iya, lama gue tinggal!'' ancam Wina


''Lagian dari tadi kemana aja, sih. Nggak ke toilet sekalian,'' dumel Dania tapi sudah tak tedengar Reva karena dia sudah berlari menjauh dari mereka.


...----------------...


''Yah, pakai antri segala lagi,'' keluh Reva ketika melihat begitu banyaknya orang yang berada di luar toilet.


Mau tidak mau Reva juga ikut mengantri dengan menahan kantung kemihnya agar tidak sampai bocor.


'Kan nggak lucu, dandanan cetar maksimal. Masa ngompol di depan umum lagi. Bisa hancur harga dirinya.


''Mbak, itu yang disebelah kenapa ?'' tanya Reva pada orang di depannya.


''Rusak mbak, air krannya nggak mau keluar.''


Reva manggut-manggut menanggapinya. 'Gedungnya bagus, sih. Tapi percuma juga kalau fasilitasnya nggak memadai,' kritik Reva dalam hati.


Akhirnya, setelah sekian lama menunggu, Reva selesai juga dengan urusannya. Wanita itu, segera menuju parkiran untuk menyusul teman-temannya.

__ADS_1


''Loh, mobil mas David kemana?'' Reva mencari-cari mobil David di seluruh parkiran tapi tidak menemukannya.


''Masa, gue di tinggal. Terus gue pulang naik apa?'' Reva masih mengelilingi parkiran dan semua tempat yang bisa di lalui mobil. Hingga luar gerbang pun tak luput dari jangkauannya.


''Sial! Handphone pake mati segala lagi, ******!'' Reva memaki ponsel yang ada di tangannya.


Wanita itu, duduk mengenaskan di pinggir jalan mirip gelandangan. Karena terlalu bingung, dia tidak bisa berfikir jernih untuk mencari bantuan. Padahal bisa saja dia masuk ke dalam gedung meminta bantuan pada keluarga Armand untuk mengantarnya pulang.


Matanya sudah berkaca-kaca, dia ingin menangis saja. Malam semakin larut, sendirian di pinggir jalan.


'Sial banget nasib gue hari ini. Datang ke acara sendirian, di cuekin si Doni, ketemu cowok gila yang mulutnya setara bakso mercon level 10...'


TIIINNN.. Bunyi klakson panjang menyentak lamunannya.


''****** ! Lo mau bikin gue jantungan?'' Reva memaki mobil yang berhenti tepat di dahapannya.


''Loe...'' kekesalannya semakin bertambah ketika melihat si pengemudi mobil itu.


''Naik !'' titahnya


''Ogah!'' Reva menolak mentah-mentah tawaran itu.


''Terserah, saya tidak memaksa. Perlu kamu tahu, disini angker. Wanita berbaju putih berambut panjang sering berkeliaran disini. Ya, kalau kamu mau bertemu dengannya. Silahkan!''


Ucapan pria itu, berhasil membuat bulu kuduknya berdiri. Tapi, Reva masih mempertahankan kegengsiannya.


Malulah, masa udah nolak mentah-mentah. Luluh gitu aja cuma karena takut, pikirnya.


''Beneran tidak mau. Tanda-tanda wanita itu akan lewat banyak suara burung hantu di sekitaran sini.'' Pria itu, masih melakukan aksinya.


Dan benar saja, tak berapa lama Reva mendengar suara burung hantu saling bersahutan. Yang berhasil membuatnya semakin merinding.


Lokasinya memang berada di pinggir hutan yang di penuhi pepohonan rimbun.


''Ku beri penawaran satu kali lagi, mau ikut apa tidak ?''


Reva masih diam di tempatnya


''Ya sudah, bye,'' kata pria itu dengan menghidupkan kembali mesin mobilnya.


''Oke-oke gue ikut.'' Reva segera masuk kedalam mobil pria itu. ''Tapi inget gue TERPAKSA!''


...----------------...


Biar lebih dapet feel-nya. Bayangin aja lokasinya sekitaran Alas Gumitir ya. Bagi yang pernah ke Banyuwangi atau ke Bali pasti melewati tempat itu.


Agak ke timur sedikit, ada Gumitir rest area. Bayangkan saja itu gedung buat acara pernikahannya, semacam penginapan gitu.


Jangan lupa jempolnya di goyang bestie..

__ADS_1


LIKE,❤, COMMENT, VOTE & HADIAHNYA..


Babay..


__ADS_2