My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Aku Tidak Akan Mengecewakanmu


__ADS_3

"Apa? Gak untuk yang satu itu aku gak siap." Renita menolak keras, "Vello masih kecil, masa mau di adek-in lagi?''


"Ren, aku pengen punya anak perempuan,'' kata Armand dengan wajah memelas.


''Mau ya, hamil lagi?''


''Aku gak siap!" Renita masih mempertahankan keputusannya.


''Iya kalau keluarnya perempuan, kalau cowok lagi?''


''Berarti harus coba lagi sampai dapat,'' sahut Armand dengan entengnya.


Renita menganga tidak percaya mendengar itu


''Enak bener kalau ngomong,'' kesalnya dalam hati.


''Kamu kira aku pabrik anak, Mas,'' teriak Renita memukul keras lengan suaminya.


Armand hanya mendesis kesakitan.


''Mau ya....'' Armand menyurukkan wajahnya di perut sang istri. Mendekap erat pinggang ramping itu.


''Nanti aku buat kesebelasan,'' kata Armand dengan menyembunyikan senyum jahilnya.


Renita menghembuskan nafas kasar.


''Pikirkan Marvello, bukan aku gak mau. Aku takut Vello kekurangan kasih sayang. Dia jadi gak ke urus. Dia masih terlalu kecil untuk memiliki adik.''


''Temanku banyak yang seperti itu, anak masih umur setahun punya anak lagi. Kata mereka biar sekalian capeknya.''


''Mas, ngurus anak itu gak mudah. Iya, kamu gak pernah lihat, gimana riwehnya aku. Karena kamu jarang di rumah, berangkat pagi, pulang petang kadang tengah malam. Cuma weekend full di rumah, itupun kalau gak ada pertemuan atau acara lain." Renita mencoba memberi pengertian kepada suaminya.


''Jalani saja dulu. Jangan terlalu memaksa. Nanti kalau udah rejekinya, pasti dapat lagi,'' ucap wanita itu dengan mengusap surai halus suaminya.


Armand hanya mengangguk sembari memejamkan matanya.


''Jadi?'' tanya Renita


''Jadi apa?''


''Aku boleh menuruskan usahaku 'kan, Mas Armand Sayang,'' ucap Renita dengan nada di buat selembut mungkin.


''Hmmm....''


''Yang jelas, Mas. Boleh apa enggak?''


''Iya....''


''Aarrggh..... Terimakasih suamiku,'' seru Renita.


...----------------...

__ADS_1


Keesokan paginya, Renita sudah sibuk di dapur berkutat dengan peralatan membuat kuenya. Suara khas pengaduk adonan terdengar memenuhi dapur.


Dia sengaja bangun lebih pagi dari biasanya untuk mempersiapkan semua pesanan tiga orang costumer-nya, mumpung kedua pengganggunya masih terbuai dengan alam mimpi.


''Hallo, Bu Dewi, ada yang bisa saya bantu?''


Renita berbicara dengan salah satu pelanggannya. Ponsel dia jepit diantara telinga dengan pundaknya. Satu tangannya sibuk memegang wadah berisi adonan, sedangkan, tangan yang lain memegang mixer.


''Saya mau pesan kue untuk acara pengajian, Mbak Reni. Tolong di kemas sekalian untuk seratus orang.''


Terdengar suara wanita dari seberang sana. Dia juga menyebutkan beberapa macam kue yang di pesan


''Acaranya kapan, Bu?'' tanya Renita.


''Besok malam. Mbak Reni bisa, 'kan?''


"Sebentar ya, Bu. saya cek catatan dulu."


Renita menghentikan kegiatannya, lalu membuka buku kecil yang ia jadikan untuk mencatat pesanan para pelanggannya.


''Bagaimana, Mbak Reni?''


''Hanya seratus kemas 'kan, Bu?'' tanya Renita memastikan.


''Iya.''


''Bisa, Bu, bisa.''


''Syukurlah, Terima kasih, Mbak.''


Sambungan pun terputus.


''Renita," teriak Armand dari lantai atas


''Ren, baju aku belum kamu siapkan. Itu Vello juga bangun nyariin kamu,'' teriaknya lagi.


Renita menghela nafas. Baru saja, dia melanjutkan pekerjaannya. Si bayi besar sudah berteriak memanggil-manggil namanya.


''Bi, tolong lanjutkan ngadon ini sebentar ya. Bibi sudah selesai masak'kan?'' Renita bertanya pada bibi yang kebetulan berada di dekatnya.


''Sudah, Mbak. Sudah bibi siapkan juga, tinggal bersih-bersih. Mbak Reni ke atas saja dulu, sebelum tuan marah,'' kata Bi Lastri dengan mengambil alih pekerjaan majikannya.


''Iya, sebentar ya, Bi.''


Renita bergegas ke lantai atas, menghampiri suaminya.


''Bisa gak, sih? Gak usah teriak-teriak,'' gerutu wanita itu ketika sampai di hadapan Armand.


''Kalau aku bisik-bisik, mana dengar kamu.''


''Haish, ngeles aja kayak bajaj.''

__ADS_1


Renita segera menuju lemari pakaian, menyiapkan pakaian untuk suaminya. Dia meletakkan setelan kemeja beserta celana bahan di kasur. Tak lupa, jas dengan warna senada dengan dasinya.


''Ini udah, aku mau ngecek Vello dulu. Lanjut buatin kamu kopi.''


Armand mengangguk, sebelum masuk ke kamar mandi.


...----------------...


''Gimana pekerjaan kamu?'' tanya Armand saat berada di meja makan.


Dia mulai menyeruput kopi panas buatan istrinya.


''Menyenangkan,'' jawab Renita dengan antusias.


''Aku membolehkan ini, asal kamu tidak melupakan kewajibanmu lho, Ren.'' Armand mengingatkan lagi syarat yang ia ajukan.


''Iya-iya, Mas. Aku belum pikun. Gak usah di ingetin terus kayak gitu,'' sahut Renita dengan kesal..


''Bisa jadi karena kamu terlalu happy sama kegiatan barumu. Kamu lupa sama kewajiban. Manusia tidak ada yang tau,'' kata Armand sembari menyuapkan sarapannya.


''Aku bukan kamu, yang selalu lupa segalanya kalau sudah bekerja.''


Armand tidak membantah ataupun menyanggah karena memang itulah kenyataannya.


Mereka menikmati sarapan dengan hening. Sesekali terdengar celotehan si kecil Vello, yang berlari kesana-kemari karena memang balita itu sedang senang-senangnya bisa berjalan.


''Yuk, Sayang, antar papa ke depan. Papa mau berangkat.'' Renita mengajak putranya.


Begitulah kegiatan rutin mereka setiap pagi. Renita selalu menyempatkan diri untuk mengantar sang suami hingga ke teras rumah.


''Semampunya saja, jangan terlalu di forsir tenagamu. Jaga kesehatan, Ren,'' pesan Armand sebelum masuk kedalam mobilnya.


''Seandainya kamu terlalu lelah, berhenti saja. Aku masih sanggup memenuhi semua kebutuhan dan keinginanmu. Uangku tidak akan habis tujuh turunan,'' ucap Armand dengan bangganya.


''Iya, Pak Bos.''


"Dan untuk jagoan papa, jangan nakal ya, Sayang. Main yang pintar sama bibi atau sama mamang,'' kata Armand pada balita yang ada di gendongan sang istri.


"Tos dulu." Armand mensejajarkan telapak tangannya tepat di muka Marvello.


Bayi gembul itu menyambut riang ajakan sang ayah di iringi lengkingan cerianya.


"Salim dulu dong sama papa, Sayang." Renita mengajarkan anaknya mencium punggung tangan suaminya, lalu berganti dirinya.


"Hati-hati.''


"Mas."


Renita mencekal pergelangan tangan suaminya.


"Aku tahu, kamu masih setengah hati memberikan ku izin. Maafin aku yang terlalu keras kepala ini. Aku janji aku tidak akan mengecewakanmu," kata Renita dengan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Armand tersenyum tipis mendengarnya. Dia mengusap sayang puncak kepala istrinya. Tak lupa, dia juga mengecup lama kening itu.


"Sudah tidak apa-apa. Aku berangkat."


__ADS_2