My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Pembalasan Dimulai..


__ADS_3

''Bapak pulang aja, deh. Saya tidak apa-apa disini, sudah mendingan juga. Bapak malam ini tidur di rumah aja, besok 'kan bapak mau nikah? Gak lucu calon pengantin kesiangan.''


Getir yang Renita rasakan di hatinya. Jujur, dia sakit mengatakan itu. Tapi mau bagaimana lagi? Dia juga tidak bisa meminta Armand membatalkannya. Mengingat Armand juga ayah dari bayi yang di kandung Monita.


''Saya akan menemani kamu disini.''


Seperti biasa datar seperti triplek. Terkesan tak menghiraukan Renita, justru sibuk dengan ponsel di tangannya.


Matanya memicing tajam. 'Pasti lagi chat sama Nyi Blorong.'


''Kamu tidur saja, ini sudah malam. Gak baik wanita hamil tidur malam-malam,'' tegur Armand tapi matanya masih asik dengan benda pipih di tangannya.


''Gak ngantuk! Saya akan tidur kalau Bapak pulang.'' Renita bersikukuh.


''Saya akan disini titik,'' tegas Armand.


''Ya, sudah kalau Bapak gak mau pulang, biar aku aja yang pulang. Aku udah baikan lagian juga aku bosen disini''. Renita turun dari ranjang pesakitannya, mengambil tas di laci. Lalu berjalan keluar tanpa mengganti baju pasiennya.


''Kamu mau kemana, Renita?''


''Renita!''


Tak menghiraukan Armand yang terus memanggilnya. Renita terus melangkah dan menghilang di balik pintu.


Armand berdecak, kenapa sifat ajaib wanita itu kambuh di waktu yang tidak tepat?


Memasukkan handphone ke kantong celana, segera mmengejarnya sebelum jauh.


''Dikira gue gak bisa pulang sendiri apa? Dikira gue gak mampu bayar taksi apa? Dadi wong kok karepe dewe, egois..'' Renita terus menggerutu di sepanjang lorong rumah sakit.


( jadi orang kok seenaknya sendiri egois..)


''Oke, dek kita hidup berdua aja, kamu sama bunda. Gak usah peduliin bapakmu itu."


Renita mengelus perutnya seolah bicara dengan anaknya.


Tak menunggu lama ojek yang sempat dipesannya sudah datang.


''Antar ke alamat ini ya, Bang. Ati-ati kagak usah ngebut bawa orang hamil,'' pesan Renita.


''Siap, Mbak! Ngomong-ngomong mbaknya kabur dari rumah sakit ya.'' Suara si kang ojek terdengar samar karena sedang berkendara.


''Gak! Tapi kabur dari masalah kalau bisa, lari dari kenyataan,'' sewot Renita.

__ADS_1


''Udah, deh Bang. Gak usah cerewet. Buruan! dingin gue, udah malem juga.''


''Lah, kata mbaknya suruh ati-ati.''


''Ya, tapi nggak seperti siput juga kali. Gak gue beri rating loe,'' sewot wanita hamil itu.


'' iya-iya,'' pasrah Kang Ojek.


'Sungguh penumpang super judes,' batinnya.


Di sisi lain, Armand tengah kebingungan mencari keberadaan Renita. Dia kehilangan jejak wanita itu, disebabkan tadi harus membayar sisa tagihan rumah sakit terlebih dulu.


Bertanya kesana kemari pada orang yang dia temui. Hingga, sekuriti memberitahukan jika orang yang dicarinya sudah pergi naik ojek.


''Terima kasih, Pak..''


Armand segera mengambil mobilnya untuk menyusul Renita.


' Renita..Renita.., kamu selalu berhasil membuat saya khawatir..'


Benar dugaannya, Renita pulang ke kontrakan nya. Terlihat dari luar lampu rumah menyala. Armand segera turun dan masuk begitu saja.


''Ren, ya Allah.., aku pusing mencari kamu! kamu malah asik-asik makan sambil nonton televisi begini,'' keluh Armand dengan kekesalannya. ''Ini, apa lagi yang kamu makan? Gak sehat, buang!'' Rasa khawatir yang berlebihan membuat Armand menjadi emosi.


''Ren, kamu dengar saya gak, sih?'' geram Armand


Renita masih asik dengan mie di tangannya.


Kesal diabaikan sedari tadi, Armand merebut mie di tangan wanita itu lalu membuangnya keluar.


''Bapak kenapa, sih? ganggu aja. Gak tau apa orang lagi laper,'' kesal Renita.


''Saya masih sanggup membelikanmu makanan yang sehat. Bukan racun seperti itu,'' kata Armand berapi-api.


''Bapak yang racun di hidup saya. Sudah sana, Bapak keluar!'' Renita mendorong tubuh Armand keluar.


''Dan satu lagi, saya gak butuh pemberian dari Bapak, apapun itu.. Saya masih mampu beli sendiri. Asal bapak tau, yang bapak buang itu bagian dari ngidam saya.''


BRUKK..


Renita membanting pintu di hadapan Armand.


'Bapak mending pulang.. Saya tidak mau di salahkan, jika terjadi apa-apa sama pernikahan bapak besok'

__ADS_1


kata Renita dari balik pintu.


Armand ingin menjelaskan semuanya. Tapi, terganggu dengan dering ponsel di sakunya.


'Hallo, iya. Pokoknya kejutannya besok dilakukan senatural mungkin. paham!'


Hanya itu yang bisa Renita dengar.Sungguh hatinya hancur, masa depannya hancur, harga dirinya hancur, hidup nya hancur. Dan ini semua karena Armand Setiawan.


Renita menagis meratapi nasibnya. Inilah, Renita. Dia akan menangis ketika dia sendirian. Tapi, dia akan menunjukkan senyum cerianya saat bersama orang-orang sekitarnya.


''Bodoh kamu, Ren! Jika masih mau percaya laki-laki egois itu.'' Renita memaki dirinya sendiri


...----------------...


''Pokoknya saya tidak mau tahu. Kau harus datang tepat waktu.'' Armand masih melanjutkan telfonnya di mobil.


'Tenang saja, aku sudah memesan kamar di hotel tempat pernikahanmu besok,' sahut pria di seberang sana.


''Ini harus berhasil!''


'Tenang aku sudah bawa semua buktinya, jika memang itu anakku. Tak'kan ku biarkan anakku di miliki orang lain. Aku sudah lama menginginkan nya.'


Dan telepon pun berakhir. Armand menghela nafas, berharap rencananya berhasil.


Setelah dari rumah Monita malam itu. Armand langsung menghubungi nomor yang di blokir oleh Monita. Dan ternyata itu adalah nomor milik kekasih Monita sekaligus ayah biologis bayi yang di kandungnya, Ramon.


Dia mengira, Ramon tidak mau bertanggung jawab. Tapi dugaannya salah, justru laki-laki itu menginginkan anak itu.


Armand menceritakan semua yang di lakukan Monita padanya. Semuanya tanpa terkecuali. Tentu saja, Ramon geram mendengar itu. Mereka memutuskan untuk bekerjasama..


'Tunggu kejutan mu besok jalan*. Pembalasanku lebih kejam dari yang kau perbuat padaku..'


...----------------...


Yu dukung...


Jempol mana jempol? Minta jempol doang gratis, tinggal tekan.


VOTE seikhlasnya aja..


Maaf ya, jika alurnya agak ruwet..


Babay..

__ADS_1


__ADS_2