
Armand melangkah dengan angkuh menuju ruangan dimana Mita berada.
Armand menghentikan langkahnya di depan pintu. Juga memberi isyarat pada Devan untuk diam dan merekam suara di dalam ruangan itu.
'' Kau tak ingin menjenguk istrinya Armand Mit..Pura-pura berempati. Dengan begitu kau bisa menarik perhatian nya..'' Kata Seorang wanita.
'' Buat apa biar saja Dia mati. Kalau bisa anaknya juga mati sekalian. Jadi jika nanti aku jadi istrinya tak perlu repot ngurus anak sialan itu..''
Armand mengepalkan tangannya kuat. Sekuat tenaga Dia menahan amarahnya demi mendengar apa yang akan di ucapkan Mita selanjutnya.
'' Kau benar-benar gila Mita. Kau mau Bapak nya juga harus mau dengan anaknya. Ngomong-ngomong Kau tak menyesal merobohkan proyekmu sendiri. Hanya demi Seorang Armand kau rela kehilangan uang milyaran rupiah..''
'' Gak buat apa.. Jika Aku berhasil menikahinya aku bisa mendapat lebih dari itu..'' kata Mita dengan bangganya.
'' Apa kau yakin akan mendapatkan Armand seutuhnya..?'' tanya wanita itu lagi.
'' Yakin sangat yakin.. Karena Armand sudah berada di genggaman ku. Dia selalu datang jika aku meminta bertemu. Ya.. walaupun dengan alasan pekerjaan..''
'' Aku sudah memiliki rasa ini sejak kelas satu SMA. Aku memendamnya karena aku tahu Armand tidak menyukai wanita agresif. Sejak saat itu aku sudah mengklaim Armand milikku. Tapi sayang kita harus berpisah karena Dia harus menuruti keinginan orangtuanya kuliah di LN''.
'' Karena rasa ini membuat Aku menjadi jahat. Aku harus merebut suami dari istrinya. Merebut ayah dari Anak nya..''
'' Aku ingin mereka merasakan bagaimana rasanya tak mendapat kasih sayang seorang Ayah. Aku benci melihat orang lain bahagia..'' Geram Mita di susul tawa yang menggema dalam ruangan itu. Sedang wanita satunya hanya menggelengkan kepalanya.
'' Ternyata ini wujud mu yang asli. MUNAFIK...'' Sentak Armand.
Mita menghentikan tawanya. Terkejut melihat Armand di hadapan nya.
'' Ar.. se..jak kkk..kapan kau disini. ''
Armand diam dan menatap tajam wanita itu.
'' Kau.. Kau dengar semuanya Ar. itu itu tidak benar.. Kau salah paham Ar... Wanita ini Dia.. Dia menjebak ku..''
Bukan mengaku dan minta maaf. Mita justru melempar kesalahan nya pada temannya.
'' Dasar Ular.. Kau yang salah malah menyalahkan ku.. Ciiihh.. Wanita picik kau Mita..'' Wanita itu pergi meninggalkan ruangan itu dengan kemarahan nya.
'' aku kemari bukan untuk mendengar bualanmu. Aku kemari untuk memutus kerja sama antara kita. Karena Kau sudah melanggar poin-poin perjanjian. Dan Kau harus membayar ganti rugi sesuai yang tertera''. Tegas Armand.
'' Berikan semua bukti padanya. Kita segera pergi. Aku muak berada disini..''
Devan mengangguk dan menyerahkan semua berkas yang dia bawa. Kemudian segera menyusul Atasannya.
Mita membuka berkas dan amplop yang ada di depannya.
'' Kurang ajar.. siapa yang memata-matai ku.. ARRRGGGHHH...'' Teriak Mita.
Dia membanting semua ada di dekatnya. Mengamuk seperti orang gila yang kabur dari Rumah Sakit Jiwa.
'' Kau lihat saja Ar, jika Aku tidak bisa memiliki mu maka orang lain juga tidak.. bila perlu Kau juga harus lenyap Armand.. Hahahaha..'' Tawa Mita kembali menggema di ruangan itu.
...----------------...
__ADS_1
''Tumben pulang larut..''
'' besok gak usah tunggu aku pulang..''
......................
'' Mas Aku udah siapin sarapan... Kalo buru-buru sini aku suapin...'' Renita menyodorkan satu sendok penuh nasi beserta lauknya ke mulut Suaminya.
'' Gak usah aku sarapan sama Mita sambil bahas kerjaan..''
......................
'' Mas waktunya cek.. temenin ya..''
'' Aku gak bisa.. Kamu sendiri aja..'' Jawab Armand cuek. Tangan nya masih sibuk dengan layar lipat dan handphone menempel di telinganya.
......................
'' Pak Bu Reni nitip ini untuk Bapak..'' Doni menyodorkan Papper bag berisi bekal.
'' Buat Kamu saja . Saya sudah makan..''
......................
'' Mas adek kangen pengen di elus Papanya..'' Kata Renita dengan manja.
'' Gak usah manja Ren.. aku banyak kerjaan..''
......................
'' Kamu bawa pulang saja Aku ada acara. Nggak akan ke makan juga..''
'' Oh Oke..''
'' Mas...''
'' Mas..''
'' Mas..''
Armand memejam kan matanya saat bayangan menyesakkan itu melintas di ingatan nya.
Air mata mengalir deras di pipinya. Dia menyesal. Sangat menyesal.
'' Tambah kecepatan nya. Aku ingin segera menemani Istriku..'' Titah Armand.
'' Baik Pak..''
Sesampainya di ruang rawat Renita. Armand duduk disamping ranjang istrinya. Menggenggam erat tangan Renita dan menempelkan di pipinya. Di ciumnya berkali-kali tangan pucat itu.
'' Maafkan aku Ren.. Bangun lah.. Aku sudah mengurus wanita itu. Aku pastikan Dia tak akan mengganggu kita lagi...''
Matanya menajam dengan air mata masih membasahi pipi nya.
__ADS_1
'' Aku bodoh.. Bagaimana bisa aku tidak sadar jika dia berusaha memisahkan kita.. Aku bodoh Ren.. Tolong bangun.. maafkan aku.. Maki aku sepuasmu.. Hina aku.. Tampar Aku Ren.. Aku pantas mendapatkan itu..''
Amalia sudah menceritakan tentang Mita yang sering mengunjunginya juga selalu bertanya ini itu tentang rumah tangga Armand dan Renita.
'' Seminggu kamu tidur.. Apa Kamu gak ingin melihat Marvello.. Anak kita.. Dia lucu Ren.. Tangisnya kencang.. Dia butuh Ibunya...''
Armand terus mengajak Istrinya bicara. Itu Anjuran dokter untuk merangsang agar Renita segera sadar.
Renita sudah berhasil melewati masa kritisnya. Keadaannya juga semakin membaik. Tapi entah kenapa Dia masih belum mau membuka mata.
'' Maaf Pak bayi Anda menagis sedari tadi. Sudah di beri susu tapi masih tetap menangis..'' Seorang suster tiba-tiba masuk dengan wajah paniknya.
Armand menghapus air matanya. Dan segera beranjak dari duduknya.
Tanpa Dia tau Renita menggerakkan jarinya pelan.
...----------------...
Armand segera menggendong anaknya. Berusaha menenangkan bayinya yang tengah menagis histeris.
'' Sssst.. tenang ini Papa.. Kamu kenapa sayang..''
Hampir setengah jam Armand mencoba menenangkan tapi Marvello masih menangis histeris hingga wajahnya memerah.
'' Kalian apakan anakku..'' sentak Armand pada dua orang perawat disana.
'' Tidak.. Tidak Pak.. Tadi dia sedang tidur tiba-tiba histeris seperti itu..'' Jawab salah satu dari mereka.
'' Awas kalian jika sampai terjadi apa-apa dengan anakku..''
'' Ar.. Ar..'' Amalia masuk dengan wajah panik nya. '' Renita.. Renita..''
'' Ada apa ma..''
'' Renita.. ayoo.. Renita..'' Amalia menarik tangan Armand.
Armand ikut panik melihat ibunya seperti itu. Hingga tanpa sadar Dia turut membawa bayinya ikut serta.
Armand membeku melihat pemandangan di depannya.
'' Alhamdulillah nduk.. Kamu akhir nya sadar.. Ibu takut kamu gak bangun lagi..'' Asih masih menciumi seluruh wajah putri nya.
Mahmud juga ikut menangis melihat itu.
'' Alhamdulillah Ya Allah..''
Di ruangan itu juga ada Setiawan dan Amalia. Sepasang paruh baya itu mengucap syukur atas kesadaran menantunya.
Suasana haru biru itu terpecahkan oleh suara melengking bayi mungil dalam gendongan Armand.
Perlahan Armand mendekat dan menyerahkan bayi itu ke pangkuan Ibunya.
Renita tak dapat menahan air matanya. Bersyukur Dia masih di beri kesempatan melihat anaknya.
__ADS_1
'' Laki-laki Ren.. Aku memberi nya nama Marvello Setiawan ''.
Renita tak menghiraukan suara suaminya. Dia hanya terfokus memandangi makhluk mungil yang menangis histeris di pangkuannya.