My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Si Tukang Debat


__ADS_3

''Eh, udah rame aja. Kapan datang, Ren?'' tanya Dania yang baru memasuki ruangan.


''Setengah jam lalu. Darimana aja, sih? Gue dateng lu gak ada,'' tanya Renita.


Wanita itu masih memangku bayi mungil dan duduk di samping suaminya.


Sedangkan, Marvello ganti diajak David, karena bayi gembul itu ingin meraih bayi merah yang di pangku ibunya.


''Ini ceritanya tukeran anak apa gimana, sih?'' tanya Dania yang melihat pemandangan aneh di depannya.


''Iya, sementara,'' jawab Wina.


''Si Vello gemes sama si baby, pengen ngremet mulu. Sama abangmu langsung diambil,'' timpal Renita.


''Dia cemburu,'' ucap Armand dengan tampang datarnya.


''Kirain bapaknya,'' ucap Renita dengan entengnya.


Armand hanya menanggapi dengan deheman saja.


Di ruangan itu tersisa Oma dan Andrew saja. Sedangkan orang tua Wina berpamitan pulang, tak lama setelah kedatangan Renita. Karena Aryan mengeluh Vertigo-nya kambuh. Pria paruh baya itu, ingin istirahat sebentar di rumah. Nanti, jika sudah baikan dia akan kembali lagi.


''Kalian ini lucu, ya,'' Oma berkomentar, menunjuk ke arah Armand dan Renita.


''Lucu gimana, Oma?'' tanya Renita dengan kening berkerut.


''Oma perhatikan kalian seperti bukan suami-istri, selalu debat tak kenal tempat. Amalia sering cerita tentang kalian, lho. Awalnya, oma gak percaya tapi pas lihat sendiri didepan mata ternyata benar,'' tutur Oma.


''Tapi seru, justru ini yang membuat hubungan awet,'' lanjut Oma lagi.


Armand hanya tersenyum masam. Kenapa hal seperti ini mesti diumbar? Dan lebih parahnya, yang mengumbar ibunya sendiri.


''Awas, Oma. Nanti, ada yang mukanya keruh lagi,'' kata Renita dengan gaya berbisik.


Padahal, ucapannya bisa di dengar oleh semua orang yang ada di sana.


''Siapa?'' tanya Oma.


''Tuh.''


Renita menunjuk pria disampingnya.


''Kamu ada-ada saja.'' Oma menggelengkan kepala.


''Nggak mengada-ada, Oma. Kenyataan.''


''Ren,'' geram Armand.


''Lihat sendiri, 'kan, Oma?''


''Mereka emang tukang debat Oma. Dulu waktu Renita masih jadi sekretarisnya Pak Armand, malah lebih parah. Pokok semboyan Renita, tiada hari tanpa debat.'' Wina menyahut dari ranjang pasiennya. Dia masih asik mengajak bermain Marvello.


Ucapan Wina diangguki mantap oleh Renita. Wanita itu membenarkan ucapan sahabatnya, karena memang seperti itu kenyataannya.

__ADS_1


''Benar itu, Ren?'' tanya Armand.


''Iya.''


''Astaga...,'' keluh pria itu.


''Kalau gak di debat makin menjadi, Oma. Kerja sama dia kek kerja sama Kompeni. Gak boleh istirahat. Dikira kita ini robot apa gimana?'' adu Renita.


''Kalau kata Mbak Rima dulu, bagaikan menonton Live Mata Najwa,'' sambung wanita itu.


''Sudah, Ren,'' lirih Armand.


''Iya-iya....''


''Nya, gue perhatiin Kak Andrew ngeliatin loe mulu, deh,'' bisik Renita.


''Emang, gue juga gak nyaman, Ren. Makanya, tadi gue keluar menghindar,'' balas Dania tak kalah berbisik.


''Jangan-jangan dia suka sama loe?'' tebak Renita.


''Ih, ogah.'' Dania bergidik ngeri.


''Kayak gak ada laki-laki lain di dunia ini, masa gue jadi kakak iparnya si Wina, sih, Ren.'' Dania meminta pendapat wanita di sampingnya.


''Lagian gue udah punya cem-ceman di kantor,'' lanjut Dania lagi.


''Siapa? Loe main rahasia sama gue. Gak asik loe, Nya.'' Ibu satu anak itu sudah merajuk seperti anak kecil.


Bukannya, menjawab Dania malah senyum-senyum sendiri seperti orang gila.


Renita menyenggol keras lengan sahabat jomblonya itu, karena terlanjur kesal tak kunjung mendapat respon sedari tadi.


''Apa, sih, Reni? Ganggu orang aja,'' kesal Dania karena lamunan indahnya terganggu.


''Siapa?''


''Devan, hihihi,'' jawab Dania dengan terkikik geli.


''APA?!''


Oeekkk....


Bayi mungil yang ada di pangkuan Renita langsung menangis, ketika mendengar suara lantangnya.


''Eh, kaget ya, Sayang. Maafin tante ya....'' Renita langsung berdiri untuk menenangkan bayi mungil itu. Dia menimang kesana kemari agar si baby mau tenang.


''Cup-cup-cup.....''


Oeeekk.....


Bukannya tenang si baby semakin histeris saja.


''Sini, mungkin dia haus lagi.'' David mendekati mantan kekasihnya, lalu mengambil alih anaknya.

__ADS_1


''Suara loe beneran mirip gledek, Ren. Ponakan gue sampai nangis gitu,'' celetuk Dania.


''Gara-garanya dari loe,'' sahut Renita tak mau disalahkan.


''Vello ganti sama mama, dedeknya mau mimi.'' Renita meraih putranya yang ada di ranjang pasien Wina.


Kemudian, dia kembali ke tempat duduknya semula.


''Loe gak salah, Nya?'' Renita melanjutkan sesi introgasinya.


Dania mengangguk mantap, tak ada keraguan dari sorot matanya.


''Kok bisa?''


Wanita itu masih belum percaya. Bagaimana mungkin? Sahabatnya ini bisa tertarik dengan laki-laki yang sifatnya sebelas duabelas dengan suaminya. Datar, dingin, cuek mirip papan berjalan.


''Bisalah, sekarang gue jadi sekretarisnya dia.''


''Hah! Kok gue gak tahu.''


''Lah, emang suami loe gak pernah cerita?'' tanya Dania.


''Nggak pernah, sama sekali.''


Renita melirik sang suami yang malah asik dengan handphone di tangannya.


''Mas,'' panggil Renita.


''Hmmm....''


''Jangan pura-pura gak denger,'' sewotnya.


''Apa semua harus aku laporkan ke kamu, Ren?'' tanya Armand dengan tampang datarnya.


''Harus! Apalagi ini tentang mereka.'' Renita menunjuk kedua sahabatnya.


''Lalu, kamu jadikan bahan gosip, begitu,'' sarkas Armand, ''aku gak habis pikir sama kamu. Kenapa suka sekali mengurusi urusan orang? Coba kalau itu kamu, apa kamu gak marah?!'' Pria itu mengoceh panjang lebar.


Armand sudah terlalu kesal dengan istrinya. Hingga, dia tak sadar di mana dia menumpahkan kekesalannya.


Renita berhasil dibuat bungkam oleh sang suami. Sepertinya, mode singanya sedang kambuh.


''Kita pulang!'' ajak Armand, ''Devan mau ke rumah, ada masalah dengan pekerjaannya.''


Armand melenggang keluar begitu saja tanpa berpamitan kepada orang-orang yang ada di ruangan itu.


''Do'i kenapa?'' tanya Dania yang sejak tadi memperhatikan drama rumah tangga pasangan itu.


Renita hanya menggeleng saja, dia sendiri juga bingung kenapa suaminya marah-marah tidak jelas seperti itu.


''Ya udah, Oma. Aku pamit ya, sebelum si singa ngamuk lagi.'' Renita menyalami tangan Oma.


Tak lupa, dia juga berpamitan pada semua yang ada di sana serta meminta maaf atas tingkah Armand.

__ADS_1


''Ren, tunggu! Gue ikut.''


Dania segera mengejar sahabatnya yang hampir menghilang di balik pintu. Mengabaikan David yang sadari tadi menatap tajam ke arahnya.


__ADS_2