My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Detektif ala Renita


__ADS_3

''Mas tau darimana? Kalau hubungan si Mita sama Om Aryan itu ayah dan anak.'' tanya Renita ketika mereka sudah berada di perjalanan pulang.


Jiwa emak-emak keponya mulai kambuh.


''Dari papa.'' jawab Armand singkat.


''Kok mas gak pernah cerita ke aku sih ?'' kesal wanita itu.


''Aku bukan kamu yang apa-apa di jadiin bahan gosip.'' sarkas Armand dengan wajah datarnya.


Renita mencebikkan bibirnya. Sudah lama dia tidak mendengar kata-kata sarkas dari mulut laki-laki di samping nya ini.


''Namanya juga cewek mas. Kalo laki-laki kan 'Adam', mulutnya ketutup. Jadi, laki-laki cenderung banyak diamnya. Beda sama perempuan 'Hawa', mulut nya terbuka. Jadi, wajar kalau cewek itu lebih banyak omong termasuk gosip.'' celoteh Renita panjang lebar.


Armand mengernyitkan alisnya, ''Kiasan darimana itu ?''


'Dasar wanita ajaib, selalu saja ada jawaban untuk berdebat. Nanti, kalau di sanggah tanduknya keluar.' batin Armand.


''Bukannya anak om Aryan itu cuma kak Andrew sama Wina doang ya ? Terus si Mita anak dari mana? Apa anak angkat ya ? Eh, tapi kan tadi Om Aryan juga menciumi jasadnya tante Linda. Apa mungkin dulu mereka pernah menikah ? Tapikan umurnya si Mita...''


''Sudahlah Ren, nggak usah kepo sama keluarga orang. Bukan urusan kita juga.'' Armand memotong ucapan istrinya.


Rasanya, jengah sendiri mendengar ocehan tak berfaedah dari wanita di sampingnya.


''Namanya juga penasaran mas. Aku kira tadi si Mita itu sugar baby nya lho.''


''Berarti si Wina tau ini. Aku harus hubungi dia. Bisa nggak bisa dia harus cerita.'' Renita membuka ponselnya untuk menghubungi sahabatnya itu.


''Ren, nggak semuanya itu harus di publikasikan. Mereka juga punya privasi. Udahlah, nggak usah terlalu kepo sama urusan keluarga mereka. Keluarga sendiri saja belum tentu benar. Memang kamu mau ? Kalau misalkan keluarga kita di jadikan konsumsi publik ?''


Renita terdiam sejenak, jika dipikir-pikir ada benarnya juga apa yang di katakan suaminya.


Tapi rasa penasarannya mengalahkan segalanya.


Jadi, Renita memutuskan untuk tetap menghubungi sahabat nya dengan dalih memberi kabar, jika ibu tirinya meninggal dunia.


'Otak cerdas Renita.' batinnya jumawa.


...----------------...


Win, ibu tirimu meninggal.


Wina membelalak kan matanya, saat membaca pesan dari Renita.


Bukan terkejut dengan berita itu. Tapi terkejut, Bagaimana sahabatnya itu bisa tau masalah ini ?


''Kenapa sayang ?'' David menghampiri istrinya yang tengah terpaku memegang handphone.


''Renita..''


''Kenapa dia ?'' tanya David bingung.


Wina menunjukkan pesan itu pada suaminya.


''Bagaimana dia bisa mengetahuinya ? Kamu nggak menceritakan kepada mereka tentang masa lalu kelam keluarga aku 'kan, mas?'' Wina menatap intens suaminya.

__ADS_1


''Sumpah ! aku nggak pernah menceritakan itu ke siapapun termasuk Dania.'' kata David bersungguh-sungguh.


Wina menghembuskan nafas, ''Baiklah aku percaya.''


Wina menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Malu rasanya, jika masa lalu kelam keluarganya harus di ketahui orang lain. Meskipun itu sahabat nya sendiri.


''Kamu tenang ya, seandainya mereka tahu masalah itu. Aku yakin mereka masih mau temenan sama kamu. Kalaupun, mereka meninggalkan mu. Aku yang akan selalu ada untukmu.'' David memeluk erat istrinya berusaha memberi ketenangan pada wanita itu.


''Sudah, jangan stress ! Kasihan dia.'' David mengelus perut rata istrinya.


Wina memang tengah mengandung saat ini. Tepat di usia satu bulan pernikahan nya, Wina dinyatakan hamil. Usia kandungannya baru berjalan dua minggu.


Wina mengangguk, benar kata suaminya. Sekarang bukan hanya dirinya saja yang harus di pikirkan. Tapi, makhluk kecil yang ada di perutnya juga.


''Habis ini aku mau berangkat ke rumah Mita sama Oma, kamu nggak usah ikut ya ? masih hamil muda soalnya. Pamali.'' kata David.


Karena ibu mertua dan kakak iparnya berangkat dari tempat kerja mereka.


''Iya, tapi anterin aku dulu ke tempat Renita. Aku mau tanya dia tau darimana masalah ini. Sebelum mulutnya itu kemana-mana.'' kesal Wina.


''Iya..''


...----------------...


''Kamu hati-hati di rumah. Ingat ! Marvello jangan ditinggal seperti tadi.'' Armand memberi peringatan keras pada istrinya.


''Aku mau ta'ziah dulu.'' lanjut pria itu.


''Iya bawel, pokok kamu juga jangan buat aku panik.''


''Udah sana berangkat.'' Renita mendorong tubuh suaminya. ''Kasihan mama sama papa nungguin. Doyan banget kena omel mama.''


''Aku doyannya kamu.'' gombal Armand sebelum keluar dari kamarnya.


Saat ini keduanya tengah berada di kediaman Setiawan. Sepulang dari rumah sakit tadi, Armand dan Renita berniat menyusul putranya. Ternyata, pas sampai disana Marvello sedang tidur. Jadilah, mereka terdampar sementara.


''Mas..'' geramnya tertahan.


Mungkin jika tidak melihat anaknya yang sedang tidur. Renita sudah mengeluarkan lengkingan emasnya.


drrrtt..drrrtt..


''Halo..''


Ren, gue ada di rumah loe. Kata bibi loe keluar. Dimana sekarang ?


''Gue ada di rumah mertua. Loe kesini aja, gue cuma sama Vello doang. Anaknya juga lagi tidur..''


''Nggak apa-apa 'kan gue kesana ?''


''Aman.. Blok 5 nomor 202. Nggak jauh dari rumah gue. Gue tunggu !''


''Oke.''


Tak menunggu lama, Wina sampai di tempat yang dituju. Kedatangannya sudah di sambut Renita di teras rumah.

__ADS_1


''Lumayan nyaman juga rumahnya..'' Wina memperhatikan interior rumah itu.


Seorang asisten rumah tangga datang membawakan minuman dan beberapa toples biskuit untuk tamunya.


''Silahkan Non..''


''Makasih ya bi..''


''Sama-sama Non, mari..'' Bibi pamit undur diri kebelakang.


'' Ren..''


''hmmm..''


''Loe tahu dari siapa masalah itu?'' Wina langsung to the poin. Bibirnya sudah gatal untuk membahas nya.


''Yang mana ?'' tanya Renita bingung.


''Pesan yang loe kirim tadi..'' Wina sudah gregetan sendirian di buatnya.


''Ooo itu, dari gue sendiri.''


''Kok bisa ?''


''Ya bisa dong, namanya juga detektif Renita.''


''Gue serius Ren..'' Wina memasang wajah memelas nya.


''Oke-oke jadi gini..''


Renita menceritakan tentang kejadian di alami suaminya tadi, tentang orang yang rela mengorbankan dirinya. Hingga kejadian yang terjadi di rumah sakit pun, tak luput dari nya.


''Asli gue kaget banget pas tau si Mita itu anaknya bokap loe. Gue kira tadi sugar baby nya.'' komentar Renita di akhir ceritanya.


''Loe juga kenapa sih nggak pernah cerita ke kita ?'' tanya Renita setengah sewot.


Wina menghembuskan nafas pelan, ''Gue malu.''


Wina mulai menceritakan masa lalu kelam keluarga nya. Di mulai dari ketahuan nya sang ayah sedang menikmati kebersamaan nya dengan istri simpanannya. Hingga, perubahan sikap Aryan terhadap dirinya dan kakaknya serta mamanya.


''Gue nggak tahu apa-apa Ren, apa masalah mereka? kadang gue bingung sendiri, apa salah gue dan abang gue ke bokap ? Sampai bokap segitu bencinya sama kita.''


''Apa dia menyesal ? Punya anak seperti kita. Kasih sayang yang selama ini gue anggap tulus. Ternyata, hanya bayangan semu.'' Wina terkekeh sinis.


''Gue malu bobrok nya keluarga gue di ketahui orang lain. Termasuk sahabat gue sendiri. Itu sebabnya gue lebih seneng nutupi identitas gue yang sebenarnya.''


Renita langsung memeluk erat sahabatnya. Dia tidak menyangka, di balik sifat bar-bar dan pemberani nya. Wina menyimpan lukanya sendiri.


''Loe nggak usah malu, ingat semboyan kita 'suka duka kita sama-sama'. Jadi, apapun masalahnya, loe bagi sama kita.'' Renita menghapus air mata di pipi Wina.


Wina mengangguk mengiyakan.


''Gue juga punya kabar ?'' kata Wina dengan suara sengau nya.


''Apa ?''

__ADS_1


''Gue tekdung..''


__ADS_2