
''Sudah semuanya 'kan, Ren?'' tanya Armand dengan memangku Marvello.
''Sudah! yuk pulang sekarang. Nanti keburu telat kamunya mas,'' Renita berjalan mendahului suaminya dengan menenteng tas berisi perlengkapan anaknya.
''Eh eh, ini mau kemana pagi-pagi udah rapi ?'' Amalia menghadang anak dan menantunya di bawah tangga.
''Ya pulang ma, aku mesti kerja. Kemarin sudah nggak masuk juga,'' jawab Armand.
''Kalian nggak boleh pulang dulu. Dan kamu Ar, tidak usah masuk kerja. Ada yang mau mama bicarakan sama kalian. Penting !'' kata Amalia tak bisa di bantah.
''Apalagi sih ma ? Mama mau bagi-bagi warisan buat kita ?''
PLAKKK.. geplakan keras mendarat di lengan kekar putranya.
''Sembarangan ! Kamu doa in mama sama papa cepet mati gitu !'' Amalia melotot ke arah putranya.
''Lah tadi katanya penting. Biasanya yang penting itu soal warisan.''
''Mas..'' Renita memperingati suaminya dengan tatapan tak bersahabat nya.
''Sudah turuti aja kenapa sih ? Seneng banget bikin mama kesel. Nggak masuk seminggu pun, nggak akan membuat kamu jatuh miskin.'' sewot wanita itu.
''Nah, betul itu. Mantu mama memang the best selalu ada di pihak mama. Nanti setelah sarapan kita bicarakan.'' puji Amalia.
''Sekarang kita sarapan. Cucu mama biar di ajak bibi dulu.''
''Iya..'' jawab Armand setengah malas.
__ADS_1
...----------------...
''Jadi, apa yang mau mama bicarakan?'' tanya Armand. Mereka semua sudah berkumpul di ruang keluarga. Setiawan juga turut serta atas paksaan sang istri.
''Mama berencana mengadakan resepsi buat kalian.'' Amalia menyorot anak dan menantunya bergantian.
''Sebenarnya mama sudah lama ingin menyampaikan ini. Tapi, ada saja halangannya. Dan mama rasa ini waktu yang tepat. Bagaimana menurut kalian ?'' tanya Amalia.
''emm.. Misal nggak usah resepsi, bagaimana ma?'' tanya Renita hati-hati.
''Ya harus dong, mama udah bosen jawab pertanyaan teman-teman mama. 'kapan si Armand ngadain resepsi, jeng?. 'Istrinya Armand mesti di kenalkan ke publik lho, jeng.' bla bla bla.., dikira mama nggak mampu apa mengadakan resepsi buat anak mama.'' jawab Amalia dengan wajah kesalnya.
''Belum lagi saudara-saudara di pihak mama sama papa. Mereka semua protes, kenapa menikahkan Armand kok nggak kabar-kabar. 'Makan enak di makan sendiri,' masih banyak lagi sindiran mereka. Capek mama dengernya,'' lanjut wanita paruh baya itu.
Renita meringis sendiri mendengar jawaban mama mertuanya.
''Mama juga sudah mulai mempersiapkan semuanya. Mulai dari baju, WO, catering dan berbagai perintilannya. Semua hampir seratus persen. Armand mana mikir masalah beginian ?'' celoteh Ibu Ratu yang di akhiri cibiran.
''Lha yang akan resepsi ini mama atau kalian, hah? Bagaimanapun juga kalian harus tau. Karena bintang utamanya kalian.'' Amalia menyolot.
''Terserahlah ma, aku terima beres saja.'' jawab Armand pasrah.
Percuma, melawan Ibu Ratu tidak akan menang, pikir pria itu. Sedangkan Renita meskipun kurang setuju, dia juga tidak bisa membantah. Mau tak mau ikut menyetujuinya.
Setiawan memilih menjadi pendengar setia saja sembari bermain bersama cucunya. Takutnya salah bicara, bisa kena sembur Ibu Ratu.
''Nah, gitu dong.'' Amalia tersenyum puas.
__ADS_1
...----------------...
''Mas...''
''Hmmm...'' jawab Armand dengan memejamkan mata.
Mereka sudah kembali ke rumahnya. Setelah pembicaraan mengenai resepsi selesai. Armand langsung mengajak pulang anak istrinya.
Kini, sepasang suami-istri itu sedang berada di kamar mereka. Memanfaatkan me-time berdua selagi si baby tidur siang.
''Menurutmu resepsi itu penting nggak sih?'' tanya Renita.
Bukan tanpa alasan dia menanyakan hal ini. Wanita itu terus kepikiran. Kenapa mendadak sekali ?
Dia belum memberi kabar pada orang tuanya.
''Penting, karena semua orang akan tahu. Kamu milikku,'' Armand memiringkan tubuhnya menghadap istrinya.
''isshh.. Bukan itu, kalau aku ngabari bapak sama Ibu. Pasti mereka kepikiran buat bantu biaya gitu. Melihat acaranya dadakan gini, pasti mereka belum ada persiapan,'' Renita berujar sendu.
''Sudah nggak usah dipikirkan itu. Semua aku yang tanggung. Aku udah transfer ke rekening mama buat biaya resepsi ini. Uang mama juga sudah aku ganti. Acara ini murni dari kantong aku sendiri. Jadi, baik orang tua aku ataupun orang tuamu tidak ikut andil soal biaya.''
Setidaknya, jawaban suaminy bisa membuatnya bernafas lega. Dia sudah punya alasan pada orang tuanya nanti. Jika kedua orang tuanya bersikukuh ingin membantu.
...----------------...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian gengs..
__ADS_1
Like, ❤ , comment, hadiah dan vote...
Babay..