
Dania melangkahkan ringan memasuki gedung perkantoran tempatnya bekerja. Menyapa setiap orang yang dia temui, membalas sapaan mereka dengan senyum manisnya. Itulah sosok Dania, wanita ramah dan sopan kepada siapapun baik tua maupun muda.
Senyumnya memudar saat Indra penglihatannya menangkap sosok jangkung yang dia kenal sedang berada di depan pintu lobby, seakan tengah menunggu seseorang.
"Dania, akhirnya kau datang. aku menunggumu sejak tadi."
Wanita itu mengerutkan kening dengan berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benaknya. "Ada apa dengan pria ini? Kepalanya habis terbentur kah? Atau salah minum obat?" .
"Tumben." Hanya itu jawaban yang keluar dari mulutnya.
Pria itu meraba tengkuknya sendiri, bingung harus beralasan apa.
"Aku ingin mengajakmu keatas bersama."
"Tumben, sebentar lagi jam masuk kantor, saya duluan Pak Devan," ucap Dania sambil melirik arloji di pergelangan tangannya.
Tanpa menunggu jawaban dari pria itu, Dania melenggang pergi begitu saja menuju lift yang kebetulan sedang sepi.
"Dania, tunggu!"
Terlambat pintu lift sudah tertutup rapat. Devan hanya bisa menghela nafas pasrah. Dengan terpaksa, dia memakai lift karyawan yang saat itu sedang antri.
Dania menyapa setiap orang begitu sampai di lantai tempatnya bekerja. Namun, ada yang aneh dengan tatapan mereka. Mereka seolah sedang menghakimi gadis itu. Ada pula dari mereka yang terlihat saling berisik sambil melirik sinis kearahnya.
Dania mengabaikan itu semua. Dia meneruskan langkah menuju meja kerjanya, lalu mulai menyiapkan beberapa berkas yang harus di serahkan pada si Bos. Toh, dia juga tidak berbuat sesuatu yang merugikan mereka, pikirnya. Hingga tiba-tiba seorang wanita menghampiri dirinya.
"Dan, ada yang ingin gue tanyain."
"Apa?" sahut Dania tanpa mengalihkan perhatiannya.
__ADS_1
"Apa bener, loe sama Pak Devan ada main?"
"HAH!"
Sungguh, dia sangat terkejut mendengar itu, dari mana mereka tahu.
"Loe tau darimana? Jangan asal tuduh. Kabar burung di percaya." Dania menyangkal keras hal itu.
"Ada buktinya kok." Wanita itu menunjukkan layar ponsel yang tengah menayangkan pertengkarannya dengan Devan di taman siang itu.
"Da-dari mana kalian dapat ini?" Keringat dingin sudah membanjiri pelipisnya. Dania hanya bisa meremas jari-jarinya gugup.
"Ada salah satu karyawan yang gak sengaja lewat terus dia rekam. Habis itu di share di grup kantor," papar wanita itu.
"Melihat dari sikapmu yang gugup seperti itu sepertinya jawabannya iya," tebaknya dengan memicing tajam ke arah Dania.
"Memang g-gue sempat ada hubungan sama dia tapi...."
Semua orang yang ada disana menutup mulut tidak percaya mendengar pengakuan langsung dari mulut atasannya, tak terkecuali Dania.
"Tapi saya sudah memutus hubungan dengannya," ralat Dania.
''Kamu hanya sedang emosi sesaat."
Setelah mengatakan itu, Devan melenggang masuk begitu saja ke ruangannya.
Semua orang menatap aneh kearah gadis itu termasuk wanita yang berada di hadapannya hingga berhasil membuatnya risih.
''Sana kerja, kagak usah makan gaji buta," sentaknya, ''gue laporin Pak Bos tau rasa lu pada."
__ADS_1
Semua orang langsung memposisikan diri ke tempat masing-masing setelah mendengar ancaman gadis itu.
"Heran, deh. Kenapa pada suka makan bangkai manusia," gerutu Dania dengan melanjutkan kembali pekerjaan yang tertunda.
...----------------...
"Ini untukmu."
Waktu istirahat tiba, Devan menyerahkan sebuah tas bekal ke hadapan Dania.
''Apa ini?" tanya Dania tanpa mengalihkan pandangan dari layar di depannya.
"Bekal buatan ibu. Dia memintaku untuk memberikan ini padamu."
"Buat bapak saja. Saya tidak ingin gosip disini semakin berhembus kencang."
Devan segera mengedarkan pandangan di area sekitar, menatap tajam satu per satu karyawan yang sedari tadi memperhatikan dirinya.
''Ini dimakan. Setelah makan siang, ikut saya rapat diluar untuk menggantikan Pak Armand yang tidak masuk hari ini."
Tak ada jawaban apapun dari mulut gadis itu. Dia hanya menganggap ucapan Devan seperti angin berlalu.
Dania menghembuskan nafas kasar, kenapa saat dia ingin menyerah, Devan malah seperti ini. Kenapa tidak sejak dulu saat perasaannya masih menggebu-gebu. Kini, rasa itu telah hambar.
...----------------...
Udah segini dulu, lagi mampet. Rencananya, part ini mau aku up dari semalam tapi apalah daya mata tak bisa diajak kompromi alias ketiduran, hehe....
Yuk, ah. Sebar bunga sama kopi, hati kalian juga boleh.....
__ADS_1
Babay.....