My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Drama di Ruang Perawatan


__ADS_3

''Kamu!''


Baik Rio maupun Reva sama-sama terkejut.


''Ngapain, kamu disini?'' tanya Reva dengan nada sewotnya.


''Kenapa, juga? Selalu kamu yang kutemui,'' jawab Rio tak kalah sewot.


Reva memicing. ''Kamu ngikutin aku, 'kan? Ngaku kamu!" Reva menunjuk tepat di wajah Rio.


''Percaya diri sekali, Anda.''


''Kalau tidak! Kenapa dimana-mana selalu ketemu kamu, hah!'' Reva sudah berkacak pinggang di hadapan laki-laki itu.


Rio menggaruk kepalanya yang tidak gatal, situasi macam apa yang dia hadapi saat ini.


''Bener 'kan? Kamu ngikutin aku. Ngaku kamu!'' Reva tetap ngeyel dengan sangkaannya.


''Tidak! Siapa yang ngikutin kamu? Kurang kerjaan,'' elak Rio


''Lalu, kenapa kamu ada disini?'' tanya Reva dengan mata melototkan matanya.


''Aku diajak temanku.''


Kedua orang itu, terus berdebat tanpa menghiraukan orang-orang yang heran melihatnya.


''Mas, kayaknya mereka pernah bertemu, deh.'' Renita berbisik pada suaminya.


''Nggak mungkin, Ren. Rio itu orangnya dingin sama cewek. Semenjak, dia dihianati tunangannya dulu,'' jawab Armand tak kalah berbisik.


''Terus, kenapa? Kalau baru bertemu, mereka malah bertengkar kayak kucing sama tikus, gitu.'' Renita sesekali melirik sejoli yang tengah berdebat itu, ''Mirip aku sama kamu dulu,'' lanjutnya.


''Entah.'' Armand mengedikkan bahunya saja.


''Jadi cowok kok, mulutnya setara bakso mercon level sepuluh. Pedesnya nggak ilang-ilang,'' cibir Reva dengan menyilangkan tangannya.


''Lha, kamu? Jadi cewek kok gatel amat. Lihat yang bening dikit, langsung ijo matanya.''


Mereka saling berbalas cibiran yang entah, sampai kapan akan berakhir.


Reva melotot mendengar hinaan pria itu.


''Heh, kepercayaan dirimu ketinggian, Bung! Muka butek mirip comberan, gitu. Di bilang bening.'' Reva berlagak seolah-olah ingin muntah.


Armand sekuat tenaga menahan tawanya agar tidak meledak, mendengar itu. Baru kali ini, ada seorang wanita yang berani menghina sahabatnya sampai segitunya.


''Dasar gadis aneh.'' sebal Rio.


''Situ yang aneh!'' Reva menyolot perkataan Rio.


Armand memaku mendengar ucapan sahabatnya. 'Gadis aneh? Seperti pernah dengar.'


'Habis bertemu gadis aneh.'

__ADS_1


'Gadis yang menangkap buket bunga pengantin bersamamu itu, 'kan?'


"Berarti...."


"Astaga!" pekik Armand dengan memegang dahinya sendiri.


Semua yang ada di ruangan itu menoleh kearah papa muda itu. Tak terkecuali sepasang makhluk berbeda gender yang sedaritadi berdebat tak tentu arah. Mereka mengernyit bingung saat mendengar suara lantang pria itu.


"Kenapa kamu, mas?" tanya sang istri yang ada disampingnya.


"Kesalahan teknis," ucap Armand singkat.


Semakin bertambahlah kebingungan mereka semua.


Rio memicing tajam ke arah Armand, dia mulai paham dengan apa yang dia hadapi saat ini. Situasi ini bermula dari sahabatnya sendiri.


''Ini ulahmu, 'kan, Ar?''


Armand menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


''Diam berarti 'iya'. Kau sengaja merencanakan semua ini?'' tuntut Rio.


Tatapannya semakin menajam yang siap menguliti musuhnya.


''Dan kau....'' Rio menunjuk Renita, ''Kau pasti ikut campur?''


''A-aku...'' Tiba-tiba lidah wanita itu menjadi kelu saat ingin menjelaskan semuanya.


''A-aku di-di-paksa sss-sama dia.'' Renita menunjuk suaminya sendiri.


Rio hanya mengangguk saja.


''Ya ampun, Renita.'' Reva menghela nafas, ''Jadi, yang loe maksud acara malam itu, ini?''


Renita mengangguk dengan tampang polosnya. ''Habis gue kasihan sama loe, Va. Jadi, gue mau aja pas Mas Armand minta bantuan untuk rencananya.''


''Rencana menjodohkan gue sama ini makhluk satu, gitu maksudnya?'' Reva menunjuk pria disampingnya.


Lagi-lagi Renita mengangguk.


Reva berdecak sebal, ingin marah tapi kasihan melihat tampang menyedihkan dari sahabatnya ini. Bagaimanapun juga, dia rela jauh-jauh datang kemari, untuk menjenguk ayahnya yang sedang sakit. Meskipun, itu hanya sebuah kedok.


''Sebentar, sebentar. Ini sebenarnya ada apa, sih?'' Bunda buka suara setelah menjadi penonton dan pendengar sedari tadi.


''Iya, ayah juga bingung?'' sahut Ayah Reva dari tempat berbaringnya.


Pada akhirnya, Renita menceritakan semua rencana suaminya beserta kebohongannya kemarin.


''Reni, minta maaf ya, Bun. Kalau bunda mau marah. Silahkan! Renita siap kok, menerima amukan bunda dengan senang hati, ikhlas seikhlas-ikhlasnya,'' ucap Renita pasrah.


Di luar dugaan, ternyata apa yang ditakutkan Renita tidaklah terjadi. Bunda dan ayah Reva justru terbahak-bahak mendengarnya.


''Kalian ini....'' Bunda menghapus setitik air mata di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa.

__ADS_1


''Sudahlah lupakan, Ren. Jadi, ini lanjut nggak acara perjodohannya?'' tanya Bunda.


''Lanjut, Bun. Lanjut!'' jawab Armand dengan semangat enam sembilan.


''Ih, mas.'' Renita mencubit gemas perut suaminya. Dia sudah malu setengah mati, suaminya malah membuatnya bertambah malu.


''Nggak, Bun. Reva menolak keras! Lebih baik Reva melajang seumur hidup daripada harus hidup sama si mulut mercon ini,'' tolak Reva mentah-mentah.


''Kamu pikir saya mau sama kamu? Mimpi!'' Rio melakukan hal yang sama.


''Reva,'' panggil ayahnya dengan tatapan sendunya.


Reva memejamkan matanya, dia tidak ingin ayahnya menjadi stres. Reva mendekati pria paruh baya itu, menggenggam tangan keriputnya dengan lembut. ''Maafin Reva, Yah,'' lirihnya


''Ayolah, Yo. Sampai kapan kau akan seperti ini? Kamu nggak kasihan sama mami? Dia sedih melihatmu terus-menerus terpuruk sejak peristiwa itu,'' bujuk Armand.


Pria bermata sipit itu, tak bergeming dari tempatnya.


''Yang di katakan Armand betul, Yo.'' muncul seorang wanita paruh baya dari balik pintu.


''Mami!''


Rio menatap tajam sahabatnya, aura permusuhan sangat kentara dari tatapannya.


Armand menggerakkan kedua tangannya seolah mengatakan 'bukan aku pelakunya'.


''Perkenalkan Pak, Bu. Saya Marina, ibu dari Rio. Saya sangat medukung rencana sahabat anak saya, yang tidak lain adalah Armand.'' Mami memperkenalkan dirinya kepada orang tua Reva.


Ayah dan Bunda menatap takjub wanita di hadapannya. Meski penampilannya tampak sederhana tapi mereka yakin yang di pakainya dari ujung kaki sampai ke ujung kepala tidaklah murah. Pasti, jika di jumlah totalnya bisa untuk membeli sepeda motor keluaran terbaru.


Entah kenapa? Pasangan paruh baya itu, merasa minder untuk melanjutkan perjodohan ini.


''Saya kemari, ingin melamar Reva, putri ibu dan bapak, untuk putra saya Devario. Apa bapak sama ibu setuju?''


''Tapi, mi....'' protes Rio.


''Diam! Ini urusan orang tua.'' Marina melotot pada putranya.


Rio mendengus kesal, mau tak mau dia menuruti perintah ibunya.


''Bagaimana, Pak, Bu?'' tanya Marina sekali lagi karena tak kunjung mendapat jawaban dari lawan bicaranya.


''Kami serahkan semua pada putri kami, Bu.'' jawaban paling bijak dari ayah Reva.


''Bagaimana, Reva?'' Marina beralih pada wanita muda di dekatnya.


Reva terdiam, bingung tidak tahu harus menjawab apa. Dia menatap kedua orang tuanya secara bergantian untuk meminta pendapat.


''Tapi, Bu. Kami hanya orang biasa. Apa pantas anak saya bersanding dengan anak ibu?'' tanya Bunda.


Marina tersenyum menanggapinya. ''Asal ibu tahu, saya dulu juga sama seperti ibu. Bagi saya, tidak masalah dari kalangan manapun. Asal, Reva bisa menerima dan membahagiakan putra saya. Ibu tenang saja, saya bukan tipe ibu mertua yang ada di sinetron-sinetron itu,'' kelakar Marina untuk mengurangi ketengangan.


''Jadi, bagaimana di terima 'kan, lamaran saya?'' lanjut wanita paruh baya itu.

__ADS_1


Reva masih diam membisu, karena dia memang benar-benar tidak tahu haus menjawab apa.


''Baiklah, diam berarti 'iya'.''


__ADS_2