My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Kisah Devania 21: Kondisi Sekar


__ADS_3

Seminggu sudah Devan dan Dania resmi menjadi pasangan suami istri. Selama itu pula pasangan pengantin baru itu tinggal seatap di kediaman Dania. Dan hari ini, mereka berencana pindah ke rumah orang tua Devan atas desakan Sekar. Wanita paruh baya itu, beralasan merasa kesepian tinggal sendiri.


Seandainya di suruh memilih, Devan lebih senang tinggal di kota karena jarak tempuh ke tempat kerjanya lebih dekat. Tapi, dia juga tidak bisa menolak keinginan sang ibu. Di tambah lagi, kesehatan Sekar semakin hari semakin menurun akibat penyakit yang di derita. Dania sendiri merasa tidak keberatan atas permintaan ibu mertuanya.


''Semua sudah siap barang-barangnya tinggal di masukin ke mobil," kata Dania dengan menyeret dua koper besar miliknya dan sang suami.


''Sudah ku bilang. Biarkan saja di kamar, nanti aku yang bawa. Kepala batu banget sih kamu," gerutu Devan.


Bukannya kesal ataupun marah, Wanita itu malah senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Baginya, gerutuan itu merupakan salah satu bukti kasih sayang Devan terhadap dirinya.


''Kenapa kamu senyum-senyum gak jelas?" tanya Devan sembari memasukkan barang-barang ke bagasi mobil.


''Semakin hari bapak semakin tampan." Dania terus menatap intens wajah suaminya.


Entah kenapa, penampilan Devan semakin menawan saat mengenakan pakaian santai seperti ini.


''Pagi-pagi gak usah gombal. Aku gak terpengaruh," sahutnya dengan wajah minim ekspresi.


''Aku gak gombal. Ini kenyataan, Pak," sangkal Dania.


Devan menghentikan kegiatannya, lalu berganti menatap intens wanita itu.


''Kenapa ngeliat aku sampai segitunya? I know, this morning I look very beautiful," ucap wanita itu dengan kepercayaan dirinya.


"Sudah berapa kali saya peringatkan. Jangan memanggilku 'bapak'. Sekarang, aku telah menjadi suamimu, Dania ... Bukan atasanmu," geram Devan dengan merapatkan giginya.


Dania hanya menunjukkan deretan giginya menanggapi itu.

__ADS_1


"Kebiasaan."


''Sudahlah, ayo berangkat sebelum siang. Aku tidak mau kena macet di jalan," kata Devan.


''Let's go!"


...----------------...


Setelah menempuh perjalanan hampir satu setengah jam. Akhirnya, Devan dan Dania sampai di kediaman Sekar.


Wanita paruh baya itu, berada di atas rumah dengan syal membelit lehernya. Sepertinya, dia memang sangat menanti kedatangan anak-menantunya. Tanpa menunggu sang suami, Dania segera turun, lalu berhambur memeluk ibu mertuanya.


''Ibu kok terlihat pucat. Apa ibu sakit? Bilang ke Nia mana yang sakit," kata Dania setelah melerai dekapannya.


''Ibu tidak apa-apa, hanya sedikit pusing. Ibu senang, akhirnya kalian mau menuruti permintaan ibu." Sekar berusaha menampilkan senyum terbaiknya di sela bibirnya yang tampak putih pucat.


''Ibu sudah makan? Sudah minum obat?"


Sekar tampak menggeleng pelan.


''Ibu duduk saja disini. Biar aku siapkan." Wanita itu segera menuju dapur.


Tak berapa lama, Dia kembali dengan nampan berisi makanan untuk ibu mertuanya, lalu dengan telaten menyuapinya.


''Mestinya ibu bilang kalau ibu sedang sakit. Tau gitu, kita berangkat dari kemarin selepas pulang kantor," ujar Dania di sela kegiatannya.


Baik Devan maupun Dania memang sepakat tidak mengambil jatah cuti. Keesokan hari setelah akad, keduanya sudah masuk seperti biasa hanya status saja yang berbeda. Rekan kantor juga tidak banyak tahu mengenai status baru mereka. Hanya si bos dan orang-orang terdekat saja.

__ADS_1


''Ibu hanya masuk angin, Dania. Setelah dibuat baring pasti enakan lagi."


''Dimana ibu meletakkan obat? Biar aku ambilkan," tanya Dania setelah selesai menyuapi wanita paruh baya itu.


''Di kamar ibu, itu di ujung sana ruangannya," ucap Sekar dengan menunjuk sebuah bilik.


Wanita itu segera menuju tempat yang di tunjuk ibu mertuanya.


''Ibu sakit?'' Devan menyentuh pelan pundak wanita yang telah melahirkannya.


Pria itu baru selesai, menaruh barang bawaannya ke dalam kamar.


''Hanya masuk angin." Wanita itu mengulang perkataannya diiringi senyum terbaiknya. Dia tidak ingin putra kesayangannya khawatir akan kondisinya.


''Mungkin ibu bisa mengelabui Dania, tapi tidak denganku. Ibu pasti tidak meminum obat secara teratur," cecar Devan dengan mata memicing tajam.


''Ibu tidak apa-apa. Ibu sudah bosan dengan berbagai macam obat yang ibu konsumsi, tapi tetap tak menunjukkan hasil yang signifikan. Biarlah ibu menikmati hidup ibu yang mungkin tidak lama lagi. Lagipula, ibu sudah tenang tanpa ada ibu kau sudah ada mengurus."


Pria itu langsung mendekap erat tubuh ringkih itu dari belakang. Sungguh, dia tidak akan sanggup bila harus kehilangan sang ibu, wanita yang paling berharga dalam hidupnya.


''Aku yakin ibu akan sembuh," lirihnya.


Sekar hanya mengusap pelan tangan kekar putranya.


Tanpa mereka sadari, Dania mendengar itu semua di balik sebuah dinding dengan beberapa botol obat di tangannya.


''Separah itukah penyakit ibu?"

__ADS_1


__ADS_2