
Seorang pria memasuki memasuki sebuah gedung perkantoran dengan wajah kusutnya. Niatnya, kemari ingin bertemu Armand Setiawan, sahabatnya semasa kuliah di LN dulu. Malah bertemu dengan wanita yang berhasil membuat moodnya memburuk seketika, setelah bertemu dengannya.
Devario Adityawarman, biasa di panggil Rio oleh orang-orang terdekatnya. Dia merupakan sahabat dekat Armand yang menetap di LN. Karena laki-laki itu, mempunyai tanggungjawab memajukan cabang usaha keluarganya di sana. Baru beberapa minggu yang lalu dia pulang, untuk menghadiri undangan khusus dari Armand. Demi menghargai niat baik sang sahabat, sebisa mungkin dia menyempatkan hadir. Sekalian mengunjungi keluarganya yang ada di tanah air.
Rio mempunyai pengalaman buruk dengan wanita. Dia pernah memergoki tunangannya bergumul dengan laki-laki lain di depan matanya sendiri di apartemen yang dia beli khusus untuk tunangannya. Padahal waktu itu, pernikahan mereka tinggal menghitung hari.
Semenjak saat itu, sikap Rio berubah menjadi dingin terhadap wanita. Dia menganggap semua wanita yang mendekatinya hanya menginginkan uangnya saja.
Bullsh*t dengan yang namanya cinta. Apalagi cinta sejati, dia tidak percaya itu.
Itulah sebabnya, dia sangat membenci Reva, di tambah kesan pertama pertemuan mereka. Reva memandangnya penuh minat seperti para wanita yang pernah dia temui.
''Kenapa mukamu itu, Yo?'' tanya Armand ketika melihat wajah kusut sahabatnya.
''Habis bertemu gadis aneh,'' jawabnya dengan cuek.
Armand mengerutkan keningnya. ''Siapa?''
''Yang waktu itu, aku ceritakan ke kamu, Ar.'' Rio mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan itu.
''Gadis yang menangkap buket bunga pengantin bersamamu itu, bukan?'' tanya Armand memastikan.
''Nggak usah di perjelas juga, Ar,'' decak Rio.
Armand hanya terkekeh mendengarnya.
''Ruanganmu tidak ada kamar pribadi, Ar. Atau tempatnya yang tersembunyi?'' tanya Rio sembari memperhatikan detail ruang kerja sahabatnya.
''Memang tidak ada, aku tidak pernah tidur di kantor. Mau lembur selarut apapun, aku pasti pulang,'' kata Armand dengan mendudukkan diri di sampingnya.
''Sayang sekali, ruangan seluas ini tidak ada kamar pribadinya,'' gumam Rio yang masih terdengar di telinga Armand.
''Buat apa tidur kantor, jika yang di rumah sudah ada yang memberi kehangatan.'' Armand menaik turunkan kedua alisnya.
Rio merotasi bola matanya jengah. ''Orang yang sudah terjerumus terlalu dalam dengan yang namanya 'cinta'. Dia akan terlihat bodoh!''
''Kau hanya belum merasakannya, Yo. Bagaimana rasanya? saat tubuh letih, sampai di depan pintu ada yang menyambut dengan senyum manisnya. Memberikan perhatian ketika kita sedang lelah ataupun saat suntuk. Ada yang merawat ketika sakit. Dan yang terpenting ada yang melayani ketika kita sedang ingin..'' Armand menerawang membayangkan sang istri di rumah.
Rio hanya menggelengkan kepalanya saja. Dia tak'kan terpengaruh dengan iming-iming sahabatnya.
''Tidak semua wanita seperti Katty, Yo.'' Armand mencoba menasehati sahabatnya agar merubah pandangannya tentang perempuan, "Masih banyak wanita baik-baik di luar sana, yang bisa menerimamu tanpa memandang harta maupun tahta.''
__ADS_1
''Kau hanya perlu membuka hatimu kembali.'' Armand menepuk pundak laki-laki yang ada di sampingnya.
''Entahlah, nyatanya setiap wanita yang ku temui selalu sama, termasuk gadis aneh itu.'' Rio menghela nafas lelah.
'Kenapa teringat gadis itu lagi?' Rio bertanya pada dirinya sendiri.
''Sudah jangan melamun, terbayang-bayang 'kan?'' goda Armand, ''Tanpa kau sadari, kau sudah tertarik dengannya.''
''Tidak mungkin! Aku hanya kesal tiap kali mengingatnya,'' bantah Rio.
''Kau tidak bisa mengelak, Yo. Kemungkinan besar, dia jodoh yang Tuhan kirimkan untukmu. Ingat! Banyak pasangan yang akhirnya menikah hanya karena menangkap buket bunga pengantin. Mitos itu benar adanya, Yo.''
''Dan aku orang pertama yang akan mematahkan mitos itu,'' sergah Rio cepat.
"Lihat saja nanti.''
...----------------...
Reva berlari menyusuri lorong rumah sakit dengan airmata berderai yang membasahi pipi mulusnya.
Setengah jam yang lalu, tepatnya ketika dia masih berada di dalam pesawat. Bundanya mengirim pesan kepadanya, jika ayahnya kembali kritis. Reva baru membuka pesan itu, ketika sudah berada di bandara. Dia juga melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari sang Bunda.
Tanpa pikir panjang, Reva segera menghungi wanita yang telah melahirkannya itu, untuk menanyakan di rumah sakit mana sang ayah di rawat.
''Bun," panggil Reva ketika melihat ibunya terduduk cemas di bangku yang ada di depan sebuah ruangan. Nafasnya masih terengah-engah setelah berlarian tadi.
''Reva! Ya Allah, nak. Akhirnya, kamu datang," ucap Bunda penuh syukur. Wanita paruh baya itu, langsung memeluk putrinya dengan air mata berderai.
''Bagaimana kondisi ayah, Bun?'' Reva melerai pelukan ibunya. Sorot matanya memancarkan kekhawatiran yang begitu kentara.
''Siang tadi, pas bunda nelfon kamu. Ayah sudah baikan. Tapi tadi sore, tiba-tiba kondisinya drop lagi, Va. Sekarang masih ditangani dokter.''
Tak lama seorang dokter keluar.
''Bagaimana kondisi ayah saya, dok?'' tanya Reva.
''Kondisi pasien sudah stabil. Usahakan selalu buat pasien dalam pikiran tenang. Jangan membuatnya stres. Sepertinya, tingginya gula darah Pak Hendra karena terlalu banyak pikiran,'' tutur dokter pria itu.
''Apa saya boleh menengoknya, dok?''
''Silahkan, kalau begitu saya permisi,'' pamit dokter itu.
__ADS_1
Setelah kepergian dokter, Reva dan ibunya segera masuk ke ruang rawat ayahnya.
''Yah,'' panggil Reva pelan.
Hendra membuka matanya, bibir pucatnya tersenyum melihat kedatangan putri semata wayangnya.
Reva segera menghambur memeluk sang ayah, menumpahkan air matanya disana.
''ssstt, Anak ayah kok nangis," kata Hendra dengan suara lemahnya, "Ayah sudah tidak apa-apa."
"Nggak apa-apa tapi kok ada di rumah sakit," sungut Reva.
Hendra masih mempertahankan senyumnya, seolah menunjukkan, jika dia memang baik-baik saja.
"Ayah mikirin apa, sih? Kok sampai seperti ini. Reva khawatir sama ayah," tanya Reva dengan memanyunkan bibirnya.
"Aku 'kan udah bilang. Ayah nggak usah mikir aneh-aneh, apalagi bingung mau kerja apa. Kondisi tubuh ayah tidak sesehat dulu. Kebutuhan-kebutuhan ayah sama bunda juga udah aku kirim tiap bulannya," cerocos gadis itu.
Bunda dan ayahnya hanya tersenyum menanggapi celotehan anak gadisnya.
"Va, boleh ayah minta sesuatu?"
"Ayah minta apa? nanti Reva cariin. Pokoknya, ayah harus sembuh!" ucap Reva.
"Ayah minta, kamu segera menikah!" kata Hendra dengan tatapan penuh permohonan.
Reva terdiam mendengarnya, dia bingung sendiri harus menjawab apa. Beralih menoleh ke arah ibunya. Sang Bunda hanya mengangguk mengiyakan.
''Ayah, sudah malam. Sebaiknya ayah tidur, ya." Reva memilih mengalihkan pembicaraan.
Dia menyelimuti ayahnya hingga sebatas dada.
''Tapi, bagaimana dengan permintaan ayah, Va?''
Reva menghela nafas. ''Untuk membahas ini, tubuh ayah harus fit dulu. Makanya, ayah istirahat biar cepet sembuh. Oke, yah,'' alibi Reva. Padahal gadis itu, hanya ingin segera terbebas dari pembahasan ini.
''Baiklah.''
...----------------...
Jangan lupa, LIKE,❤ , COMMENT, VOTE & HADIAHNYA..
__ADS_1
Setangkai bunga atau secangkir kopi pun tak apa...
Babay..