My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Kisah Devania 20: Akhirnya....


__ADS_3

Dania menatap tak percaya bangunan di depannya. Ucapan Devan yang ia kira hanya spontanitas ternyata serius. Pria itu benar-benar mengajaknya menikah di kantor catatan sipil, tanpa pesta atau apalah itu. Hanya dihadiri keluarga itupun hanya sebagian kecil, tidak secara keseluruhan.


''Uangmu itu apa sudah habis, Van? Malu-maluin padahal ibu masih sanggup menyiapkan pesta meriah untuk pernikahanmu."


Dania mendengar gerutuan seseorang yang ada di belakangnya.


''Kamu itu anak ibu satu-satunya. Apa kata orang nanti. Pasti setelah ini, akan ada gosip kalau ibu itu orang yang pelit, mampu buat pesta malah anaknya menikah kelewat sederhana. Bukan sederhana tapi sangat menyedihkan."


''Ibu tidak usah memikirkan omongan orang. Yang mesti ibu pikirkan sekarang adalah kesehatan ibu sendiri." Devan menyela cepat ucapan ibunya.


"Sebaiknya kita segera masuk karena setelah ini ada yang ingin menikah juga."


''Terserah!" Wanita bersanggul itu berjalan mendahului anak dan calon menantunya.


Dania tersentak saat sebuah tangan kekar menggenggam tangannya. Dia hanya bisa menatap genggaman tangan itu, masih tidak percaya Devan akan melakukan hal ini kepadanya.


Kini, kedua mempelai duduk bersisihan di depan penghulu. Sekar memasangkan kerudung pengantin pada keduanya. Para saksi dan tamu undangan yang tidak lebih dari sepuluh orang pun juga sudah hadir di tempat. Penghulu menegaskan genggaman tangan Devan saat selesai mengucap kalimat ijabnya. Yang disambut kalimat qobul dengan sangat lantang dan satu tarikan nafas dari bibir Devan. Sungguh, Dania hanya bisa menahan nafasnya, takut jika pria di sampingnya harus mengulang.


''Bagaimana saksi?" tanya Pria berseragam hitam dengan peci berwarna senada pada saksi yang hadir.


''SAH!"


"SAH!"

__ADS_1


"SAH!"


Kalimat itu menggema memenuhi ruangan itu. Tanpa bisa di cegah, air mata Dania lolos begitu saja. Dia teringat akan kedua orang tuanya. Seandainya mereka masih disini, pastilah akan bahagia menyaksikan putri kesayangan mereka menikah dengan orang yang di cintai.


''Ayah, ibu ... Doakan pernikahan ini menjadi pernikahan sekali seumur hidup untuk Nia. Hanya maut yang bisa memisahkan kita," lirihnya dalam hati.


Dania sedikit tersentak saat merasa tangan kekar menyentuh pipinya. Dilihatnya, Devan tengah menghapus sisa air mata yang ada disana.


''Kamu kenapa? Apa kamu tidak bahagia dengan pernikahannya ini? Apa kamu merasa tertekan karena perbuatanku tempo hari?"


Dania menggeleng cepat. "Tidak! Aku hanya teringat ayah ibuku. Pernikahanku adalah salah satu mimpi mereka yang tak terwujud."


Lagi dan lagi, kristal bening itu mengalir tanpa bisa dicegah. Dania segera mengusapnya, malu jika banyak orang yang akan mengetahui dirinya menangis. Nanti, disangka dia tidak bahagia dengan pernikahan ini.


Devan langsung memasangkan cincin di jari manis istrinya, lalu bergantian dengan Dania. Yang langsung mengecup punggung tangan pria yang telah menjadi suaminya. Dania memejamkan mata saat merasakan kecup*n basah mendarat di keningnya. Dia bisa merasakan kasih sayang yang begitu besar lewat cium*n itu.


Wanita itu langsung memeluk erat wanita yang sudah menjadi menantunya.


''Bagaimana aku tidak menuruti keinginan ibu? Karena ibulah, aku bisa merasakan kembali kasih sayang seorang ibu yang lama tidak aku rasakan. Aku bisa melihat ibuku sendiri dalam diri ibu. Aku akan berusaha menjadi menantu yang tidak mengecewakanmu. Tegur aku bila aku salah, Bu," balas Dania dengan mata berkaca-kaca.


''Pasti, Nak, pasti. Ibu juga tidak selamanya selalu benar. Ingatkan ibu jika ibu keterlaluan atau perkataan ibu yang menyakiti kamu. Kita saling mengingatkan."


Kedua pengantin itu beralih kepada David. Sang kakak yang melihat itupun langsung memeluk erat adiknya, menumpahkan semua tangisnya disana.

__ADS_1


''Malu-maluin, cowok kok nangis," cibir Dania dengan air mata yang mengalir ke pipinya.


"Abang bahagia."


Hanya itu yang mampu David ucapkan, kemudian segera menghapus air matanya.


''Ingat! Kamu harus bisa dewasa. Jangan seperti anak kecil lagi! Selalu bicarakan segala hal dengan suamimu. Tanggung jawab abang sudah berpindah pada suamimu. Kau harus nurut perintahnya selama itu baik. Paham!"


''Siap, Bos!"


''Tolong jaga adikku dengan baik. Bersabarlah menghadapi sikapnya. Jika kau sudah bosan, tolong kembalikan dia kepadaku. Jangan pernah sakiti dia! Karena dia harta berharga yang ku punya setelah kepergian orang tuaku." David berpesan pada pemuda yang telah menjadi adik iparnya.


''Saya akan menjaganya dengan segenap jiwa raga saya, bahkan dengan nyawa saya sendiri. Dan satu lagi, saya tidak akan melepaskan Dania sampai kapanpun juga." Devan mempertegas kalimat terakhirnya.


''Aku percaya padamu," kata David dengan menepuk keras punggung kekar itu.


...****************...


Akhirnya, sah juga.....


FYI, kisah Devania sebentar lagi memasuki part akhir. Setelah itu.... Kita kembali ke kisah Renita sama Armand. Ada sedikit konflik mungkin agak berat ya, untuk mereka. Konflik menjelang end.


Kenapa ku End-kan? Aku mau fokus garap si Maura, dia ngambek di cuekin mulu.... hehe...

__ADS_1


Jangan lupa mampir juga ke rumahnya Maura ya....


Babay....


__ADS_2