
Tanpa terasa seminggu sudah Renita menjalani hari-harinya tanpa ada pembantu dan mama mertuanya. Selama itu pula, Armand selalu siap sedia membantu sang istri mengasuh putra mereka yang sedang aktif-aktifnya, bahkan hampir setiap hari Armand membawa putranya ikut ke kantor jika sedang tidak ada pertemuan penting.
Renita sendiri menjalani hari-harinya sesuai perintah sang suami, tidak boleh terlalu capek. Ibu hamil itu, hanya memantau usaha rumahannya, sesekali memberi pengarahan pada para pegawainya
"Ren, hari ini aku ada pertemuan penting. Investor asing akan datang, jadi aku tidak bisa mengajak Vello ke kantor."
Renita terdiam sejenak, kemarin ada konfirmasi jika hari ini banyak pesanan yang memesan jasa cateringnya. Biasanya, jika seperti itu dia akan turun tangan langsung memantau para pegawainya. Jika ada Vello dia tidak akan bisa melakukannya hal itu. Tapi, dia juga tidak bisa mengikutkan putranya pada sang suami karena pertemuan itu akan memakan banyak waktu. Dan suaminya tidak akan bisa di ganggu.
"Iya, tidak apa-apa. Biar Vello di rumah bersama ku," putus Renita pada akhirnya.
"Sedang tidak banyak pesanan, 'kan?"
"Sebenarnya sih iya, tapi nanti mereka mau kesini." Renita memberitahukan kedatangan para sahabatnya.
"Kamu hati-hati di rumah." Armand berpesan sebelum pergi.
"Iya...."
____________
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, dan suasana tempat catering sangat memusingkan bagi Renita, belum lagi teriakan Vello yang terus memanggilnya ketika dia terlalu lama meninggalkan balita gembul itu. Mau tak mau, dia harus bolak-balik keluar masuk rumah.
"Ama!"
Terdengar lengking emas sang putra untuk kesekian kali karena Renita tak kunjung memenuhi panggilannya.
"Sebentar," jawab si ibu hamil tak kalah berteriak.
"Ini ya, semua di campur takarannya harus pas sesuai catatan yang tertera. Setelah buat untuk perusahaan ini, segera buat untuk acara seminar kampus. Acaranya pukul satu jadi kalau bisa sebelum makan siang harus segera diantar. Nanti, kalau ada apa-apa langsung ke rumah saja. Si bocil gak bisa di tinggal terlalu lama."
"Baik, Bu."
Renita berlalu dari tempat itu, kemudian segera menghampiri tempat putranya berada.
"Ada apa, Vel? Gak baik teriak-teriak begitu."
"Ainan, Ama." Jari mungil itu menunjuk sekeranjang penuh mainan yang berada di atas nakas.
__ADS_1
(mainan, Mama).
Tanpa banyak berkata, Renita segera mengambil keranjang tersebut, lalu meletakkan tepat di hadapan sang putra.
"Sudah, Vello yang anteng ya ... Itu ada banyak mobil-mobilan sama robotnya Vello. Mama mau ke depan dulu. jangan teriak-teriak lagi. Oke, Boy."
"Ote, Ama."
Marvello tampak anteng dengan para mainannya. Tempat yang dia tempati tak ubahnya seperti kapal pecah, banyak mainan berserakan di mana-mana, hingga tiba-tiba sang ibu memanggil memberitahukan jika om kesayangannya menelpon
Balita gembul itu meninggalkan mainan-mainannya begitu saja, memilih menghampiri ponsel, kemudian segera merebut benda itu dari tangan sang ibu.
"Ayo, Om Endi," sapa mulut mungilnya dengan riang dengan duduk di pangkuan ibunya.
(Hallo, Om Rendi)
"Hallo, keponakan Om. Makin gembul saja pipimu itu."
"Eyo, ateng." Hanya itu tanggapan dari mulut mungilnya.
(Vello ganteng).
"Apa...," jawabnya polos.
(Papa)
"Masih gantengan, Om Endi."
"No! Om eyek, ua aya apa," sahut mulut mungilnya tidak terima.
Renita yang mendengar itupun tak bisa lagi menahan tawanya.
"Dia bilang apa, Mbak?" tanya Rendi yang memang tidak terlalu memahami ucapan keponakannya.
"No! Om jelek, tua kayak papa." Renita menirukan ucapan putranya dengan intonasi yang lebih jelas.
Terlihat bibir pemuda itu langsung mencebik. "Iya, Om udah tua tapi tuaan papamu karena mau punya buntut dua."
__ADS_1
"Ren, kamu ajak omong dia dulu. Mbak ada urusan sebentar ke depan."
"Oke."
Obrolan antara keponakan dan paman itu masih berlanjut. Terlihat Vello asik berceloteh ria yang terkadang ucapannnya tidak di pahami oleh Rendi. Sehingga, mengharuskan pemuda itu mengulangi pertanyaannya.
"Apa sih, Vel? Om gak tau."
Marvello menggembungkan pipinya kesal karena perkataannya tak kunjung di pahami.
"Eyo ayah," ucapnya dengan tangan bersedekap dada.
(Vello marah)
"Terserah kamu lah, Vel."
_________________
Renita menghembuskan nafas kasar ketika melihat ruang bermain terlihat sangat kacau, terlihat mainan berserakan di mana-mana. Kepala yang semula sudah pening dengan masalah pekerjaan semakin bertambah pening melihat tempat itu. Mau tak mau, dengan menahan lelah dia membereskan semuanya.
Sayang seribu sayang, malang tak dapat di tolak, untung tak dapat di raih. Saat hendak meletakkan keranjang bawaannya di nakas, kakinya terpeleset sesuatu yang membuatnya terhuyung ke depan hingga perutnya terbentur sudut kayu dari nakas yang berada di depannya. Renita hanya bisa merintih kesakitan, darah mengalir deras dari pangkal pahanya. Mainan yang kembali berhamburan beserta keranjangnya tampak buram dari pandangannya. Sekuat tenaga dia berjalan ke arah pintu, meraih apapun yang berada di dekatnya untuk di jadikan pegangan.
"Tolong," rintihnya terdengar sangat lirih dengan menahan rasa sakit yang luar biasa.
Tampak darah menetes di sepanjang langkahnya.
"Tolong...." rintihnya lagi, namun nihil tidak ada yang mendengar.
Di dalam rumah tidak ada siapapun kecuali dirinya. Putranya sudah terlelap di kamar bawah. Pandangan wanita itu semakin buram, wajahnya semakin memucat. Tapi, dia berusaha mencapai pintu agar bisa segera mendapat bantuan. Rasa sakit pada area perutnya semakin menjadi.
Karena merasa khawatir dengan bayi yang ada di kandungnya, Renita berusaha mempertahankan kesadaran. Dia harus bisa mendapat bantuan, agar anaknya terselamatkan. Namun, naas sebelum mencapai pintu wanita itu sudah ambruk, dengan pandangan yang menggelap. Sayup-sayup telinganya masih mendengar seseorang meneriaki namanya.
"RENITA!"
...----------------...
Otak sinetron mode on, nikmati alurnya ya, Gengs.....
__ADS_1
Tunjukkan jempol mu....