
Armand tersenyum memandang wajah lelap di hadapannya. Tubuh mereka masih seperti bayi, hanya selimut tipis yang menutupi mereka.
''Ternyata rasanya seperti ini. Tak'kan ku lepaskan kau tiap malam, Renita,'' gumamnya.
Armand mengusap perut polos istrinya. Dia masuk ke dalam selimut dan mencoba bicara pada janinnya.
''Maafin papa, Sayang. Mama terlalu legit.''
''Isshh, bapak kenapa, sih? Gak biarin saya istirahat sebentar, capek tau, Pak. Pinggang kek mau patah,'' sungut Renita dengan suara khas bangun tidur.
''Tapi enak, 'kan?'' goda Armand.
''Apaan, sih? katanya bakal pelan taunya semangat gitu, gak cukup sekali,'' gerutunya. Dengan malas, Renita bangun dari tidurnya. Percuma tidur tapi tetap di ganggu, pikirnya.
Lihatlah mulut bebek itu karena gemas Armand langsung mengecupnya.
Renita menangkup kesal muka suaminya dengan telapak tangannya.
''Bapak kenapa jadi ganjen begini, sih? Mirip om-om kurang belaian.''
Armand melotot mendengarnya.
'Apa katanya? Om-om kurang belaian. Muka mulus seperti ini disamakan dengan hidung belang.'
''Apa? Gak terima. Terserah!'' sengaknya.
''Minggir, ihh.... Aku mau mandi lengket semua badanku.'' Renita menarik selimutnya dan terpampanglah, apa yang seharusnya tidak dia lihat.
''ARGGHHH! ITU KENAPA GAK DITUTUP?'' teriak Renita.
Dia menutupi wajahnya dengan selimut di tangannya.
''Tidak usah teriak, Renita. Kamu juga sudah melihat dan merasakannya.''
''Tapi ditutup dulu,'' kata Renita dari balik selimut.
Armand berdecak, ia lalu berdiri dan mengambil celana leggingnya di lemari.
''Sudah, buka sekarang!'' titah Armand.
Perlahan-lahan, Renita membuka selimutnya dan kembali berteriak.
''KENAPA YANG ATAS JUGA GAK DI TUTUP?''
Dia berganti menutup matanya.
''Renita, kita suami istri, mau telanj*ng sebagian atau keseluruhan itu lumrah. Tidak ada yang melaramg, kita sudah sah. Lagian, aku juga sudah melihat semua detail tubuhmu.''
Renita melemparkan bantal dan mengenai tubuh suaminya.
''MESUM!''
Armand menggendong tubuh istrinya yang masih terbalut selimut ke kamar mandi.
''Sudah, tidak usah teriak. Aku akan memandikanmu, katanya capek?''
''Awas modus!'' Renita mengalungkan tangannya ke leher suaminya.
''Tidak, paling cuma....'' Renita langsung membekap mulut suaminya.
''Jangan di teruskan! Turunkan aku sekarang.''
Armand mendudukkan tubuh istrinya di atas kloset yang tertutup. Dia mengisi bath up untuk mandi istrinya.
Renita melotot ketika melihat suaminya melepas satu-satunya penutup tubuhnya. Terpampanglah benda tumpul tapi tajam itu. Dia memalingkan muka karena malu.
''Bapak mau apa?''
__ADS_1
''Mandi,'' jawab Armand menyeringai.
''Ya- ya su-sudah bapak du-duluan. A-aku keluar dulu,'' ucap Renita gugup melihat tubuh seperti bayi pria di depannya.
Dia ingin berdiri tapi langsung di tahan oleh Armand.
''Ka-katanya mau ma-mandi, aku keluar dulu,'' ulangnya.
Dia masih memalingkan muka karena enggan melihat tubuh suaminya.
''Mandi bareng,'' bisik Armand, tangannya menuntun tangan istrinya untuk menyentuh miliknya.
Renita melotot merasakan benda itu sudah tegangan tinggi. Karena kesal, Renita memukulnya sedikit keras.
''Aduh! Kenapa di geplak?'' tanya Armand dengan kesal.
''Biar gak nakal,'' sewot Renita, ''Kalau begitu aku mandi duluan.'' Renita membelakangi suaminya lalu membuka selimut yang sedari tadi membalut tubuhnya.
Armand menelan ludah kasar, hanya melihat istrinya dari belakang saja sudah membuatnya tergoda.
Renita tak menyadari tindakannya itu telah membangunkan singa kelaparan. Dengan santai dia masuk ke dalam bath up dan berendam sambil memejamkan mata.
Dia mengira suaminya akan mengalah dan memilih keluar lebih dulu. Tapi, ternyata....
''Kita mandi bareng....''
Renita membuka matanya dan hanya bisa pasrah. Ketika, Armand kembali mengajaknya menikmati surga dunia.
...----------------...
Sepasang pengantin baru itu, berada di depan cermin dengan keadaan masih sama-sama menggunakan bathrobe.
Armand mengeringkan rambut istrinya dengan hairdryer di tangannya. Sedang Renita jangan ditanya? Mulut Daisy teman Minny rupanya, sudah berpindah padanya.
Waktu mandi yang seharusnya beberapa menit saja molor menjadi satu jam lebih. Hingga membuatnya kedinginan, tangannya sudah keriput-keriput.
''Itu mulutnya minta dicium lagi apa gimana? Kok manyun-manyun, gitu,'' kata Armand, tangannya masih luwes menyisir rambut sang istri.
Renita menatap sengit suaminya dari cermin. Tapi, sejurus kemudian ide jahil muncul di otaknya.
''Aku mau martabak, tapi buatan bapak.''
Armand menghentikan kegiatannya. Dia menatap istrinya juga melalui cermin.
''Aku tidak bisa masak, kita beli aja, ya. Mau beli berapapun aku turuti, itung-itung kencan,'' bujuk Armand.
''Gak! pokoknya aku mau buatan bapak.'' Renita merajuk seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan oleh ibunya. Bertambah manyunlah bibir itu.
Armand menggaruk kepala belakangnya. Dia bingung harus bagaimana. Pasti, Renita sedang mengidam saat ini.
''Bukan aku yang minta tapi adek.''
Renita mengkambing hitamkan anaknya yang masih dalam perut.
''Maafin mama ya, Dek,'' batin Renita.
Armand menghembuskan nafas.
''Baiklah....''
''Cepat ganti baju! Kita harus belanja bahan-bahannya dulu,'' titah Armand.
Renita langsung tersenyum sumringah.
'Yes, berhasil! Emang enak gue kerjain hihihi.' Dia bersorak dalam hati.
Ingin rasanya dia berjingkrak tapi di tahan, takut nanti ketahuan.
__ADS_1
...----------------...
Armand mulai berkutat di dapur rumahnya. Seumur-umur baru kali ini dia masak. Itupun demi ngidam istrinya.
Mata Armand fokus mengikuti step by step layar pipih di depannya. Dia mulai mencampur bahan-bahan sesuai petunjuk. Hingga akhirnya jadilah adonan yang sama persis seperti dalam video.
Sedangkan Renita memandangi laki-laki di depannya dengan bertumpu dagu di meja makan.
''Pokok harus sama persis hasilnya kayak yang di video itu, ya.'' Renita berlagak seperti majikan yang memerintah pembantunya.
''Hmmmm....''
Armand mulai mencetak adonan itu. Tapi ada yang aneh, kenapa dalam video itu bisa bolong-bolong? Sedangkan punya dia mulus seperti kulit yang kebanyakan skincare.
''Kenapa pas di cetak kok gak bolong? apa mesti di tusuk-tusuk biar bolong?'' gumam Armand tapi masih di dengar Renita.
Karena penasaran, wanita hamil itu mendekat dan melihatnya.
''Bapak buat apa, sih? Kok gak berlubang. Ini namanya apem tapi pake adonan martabak. Bapak niat gak, sih? Nuruti ngidam saya. Bapak gak merhatiin tutorialnya kali, asal-asalan nyampur bahannya.''
Armand berhasil di buat gemas dengan celotehan wanita ini. Mulutnya itu lho mirip Chef Juna versi cewek, ingin rasanya dia merempat mulut mungil itu.
''Sudah ku bilang, aku gak bisa masak, Renita. Kamu aja yang ngeyel, anak di dalam perut di bawa-bawa,'' kata Armand dengan kesal.
Efek masakan gagal membuat pria itu mudah tersulut emosi.
Biasanya, jika wanita hamil langsung berkaca-kaca terus nangis bombay saat di marahi.
Tapi tidak dengan ibu hamil satu ini. Bukan Renita namanya jika tidak nyolot.
''Yeee, kok malah nyalahin orang. Bapak yang gak bener-bener merhatiin tutorialnya. Aku gak mau makan ini, bapak saja yang makan. Bisa gak bisa harus habis, mubazir buang-buang makanan,'' ujar Renita yang tak mau disalahkan begitu saja.
Padahal tadi, rencananya setelah martabaknya jadi, dia akan meminta Armand untuk memakannya dengan alasan
'Aku hanya ngidam ingin melihat papanya adek membuat martabak bukan memakannya.'
Seolah alam mendukung kejahilannya. Tanpa susah payah hasilnya tak sesuai ekspektasi.
''Udah ah, aku mau keluar beli sendiri, bye-bye papanya dedek yang harus makan martabak gagal.''
Renita keluar membawa serta dompetnya. Tak lupa berdadah ria dan sempat-sempatnya, dia menjulurkan lidah sebelum menutup pintu.
Renita tak bisa lagi menahan tawanya setelah berada di depan rumah. Puas rasanya mengerjai bos nyebelin itu.
''Emang enak, siapa suruh buat aku kesel tadi, impas, 'kan?''
...----------------...
Hayo siapa yang pernah nyoba praktek tutorial tapi hasil gak sesuai ekspektasi trus ngamuk-ngamuk....
Me..☝☝ heheh..
ada yang samaan?
oke jangan lupa ya jejaknya.
LIKE,❤ , COMMENT..
VOTE, HADIAH..
angkat jempol nya bestie..
masak viewers hampir seribu yang ngelike seuprit..
Yah.. yah..😊😊
biar tambah semangat halunya.
__ADS_1