My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Sakit Membawa Berkah


__ADS_3

Di sebuah kamar....


Hatchi! Hatchi! Hatchi!


Slurrp....


Dania dengan wajah pucat dan hidung memerah terus saja bersin-bersin dengan tubuh menggigil. Suhu tubuhnya juga terasa panas. Matahari sudah memancarkan sinarnya dengan terik tapi gadis muda itu masih betah bergelung dengan selimutnya.


Tangannya meraba sekitar nakas guna mencari benda pipihnya. Setelah ketemu dia segera menghubungi si abang kesayangan, David.


''Hallo, Bang.... Hatchi! Hachi! Hatchi!" kata Dania saat panggilannya terhubung.


''kenapa kamu, Dania?'' tanya David dengan cemas.


''Aku gak enak badan, Bang. Abang kesini ya..., sluurrpp,'' pinta Dania dengan suara sengau.


''Kamu sudah makan apa belum?''


''Belumlah. Boro-boro masak bangun aja enggak kuat. Badanku lemes, Bang,''' ucap Dania dengan manja.


Sudah menjadi kebiasaan. Di saat sakit, kemanjaan Dania akan kambuh berkali-kali lipat.


''Gimana ya, Nia. Winda juga panas tinggi. Kemarin habis imunisasi. Dia rewel terus ini. Abang gak tega ninggalin dia.'' Kegusaran terdengar jelas dari pria satu anak itu.


Dania juga bisa mendengar suara rengekan keponakannya.


''Gini aja, abang pesankan makanan sama obat dulu. Nanti, kalau Winda udah tidak rewel lagi, abang segera kesana.'' David memberi saran.


''Ya udah, deh. Terserah abang,'' jawab Dania lesu.


Dia menghela nafas pasrah setelah panggilannya terputus.


Semenjak David tinggal di rumah mertuanya, Dania sering merasa kesepian. Rumah yang memang sudah sepi bertambah sepi karena di tinggal satu penghuninya.


Ingatannya menerawang pada saat kedua orang tuanya masih hidup. Dulu rumah ini selalu diramaikan dengan ceramah dan petuah panjang lebar ibunya, pertengkaran dengan si abang, hingga berakhir dengan pembelaan dari ayahnya. Tanpa terasa airmata Dania meluncur bebas ke pipi mulusnya.


''Ayah, ibu.... Dania rindu.'' Dia memeluk erat figura kecil yang selalu terpajang di nakas sebelah tempat tidur.


''Coba kalian masih ada. Nia gak akan kesepian seperti ini. Semenjak kalian pergi, abang jadi lebih pendiam. Dia lebih posesif ke Nia sampai Nia merasa gak nyaman. Nia rindu omelan ibu pagi hari, Nia rindu suara ayah yang selalu membela Nia.''


Gadis itu semakin tergugu saat semua kenangan indah bersama orang tuanya melintas dalam ingatannya.


Ting-tong, ting-tong....


Dania menghapus kasar airmatanya, ketika bel rumahnya berbunyi. Gadis itu menerka-nerka siapa kira-kira yang datang sepagi ini.

__ADS_1


''Apa mungkin Bang David? Gak mungkin dia sudah bilang gak bisa kesini. Apa mungkin pesanan abang tadi, kok cepet sekali?'' gumamnya.


Karena rasa penasaran, Dania melangkah perlahan menuju pintu. Dia merapatkan resleting jaket serta syal yang sedari tadi menggantung di lehernya.


Ceklek...


''Siapa?'' tanya Dania begitu membuka pintu.


''Pak Devan,'' lirih Dania tidak bisa menutupi keterkejutannya saat melihat atasannya berdiri di hadapannya.


''Kamu sakit?'' tanya Devan dengan memegang kening Dania.


''Eh, iya, Pak,'' jawab Dania dengan kikuk.


''Bapak ada perlu apa kemari?'' Dania bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.


Tak dapat di pungkiri, dia merasa gugup mendapat perlakuan kecil seperti itu. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, padahal sebelumnya dia tidak pernah seperti ini dengan lawan jenis.


''Oh, iya, mari silahkan masuk, Pak.'' Dania membuka lebar pintu rumahnya.


"Kamu tinggal sendiri, Dania?' tanya Devan ketika sudah mendudukkan dirinya pada kursi ruang tamu.


''Iya, Pak. Sebenarnya sama abang dan kakak ipar saya. Berhubung kakak ipar saya baru melahirkan, jadi dia sementara tinggal di rumah orang tuanya, abang saya juga ikut,'' papar Dania.


''Orang tuamu?''


''Maaf, saya tidak tau,'' sesal Devan.


''Tidak apa-apa. Bapak mau minum apa?''


''Tidak usah repot-repot, saya kemari ingin meminta berkas yang saya berikan ke kamu kemarin. Apa sudah selesai?''


''Sudah, Pak. Sebentar saya ambilkan dulu.'' Dania berdiri dari tempat duduknya hendak menuju kamar.


Baru beberapa langkah, tiba-tiba dia merasa kepalanya terasa sangat pening, sekeliling terasa berputar hingga tubuhnya nyaris tumbang. Beruntung, dengan sigap Devan segera menahannya.


''Kamu tidak apa-apa?''


Sejenak tatapan mereka saling terkunci. Dania menelan ludahnya kelat. Aroma parfum pria ini tercium jelas di indra penciumannya. Dan itu membuatnya nyaman. Devan telihat lebih tampan saat dilihat dari jarak sedekat ini.


''Dania, kamu tidak apa-apa, 'kan?'' Suara Devan berhasil menyadarkan Dania dari rasa kagumnya.


''Eh, iya, Pak. Saya tidak apa-apa. Maaf,'' ucap Dania karena merasa tidak enak. Dia segera menegakkan tubuhnya kembali.


''Kau sudah makan?''

__ADS_1


Dania menggeleng pelan.


''Ini sudah siang, perutmu harus diisi supaya kamu punya tenaga.''


''Ada bahan makanan di kulkas?'' tanya Devan lagi.


''Ada, Pak.''


''Biar saya buatkan makanan untukmu.''


''Ti-tidak usah, Pak. Abang saya sudah memesan makanan mungkin sebentar lagi sampai,'' kata Dania menolak halus tawaran pemuda itu.


''Kelamaan. Bisa-bisa kamu kena lambung. Apalagi, kondisimu lemah seperti ini. Sudah tidak ada penolakan. Saya akan memasak untukmu,'' tegas Devan dengan sorot tajamnya.


''Baiklah.'' Dania hanya mengangguk pasrah.


Devan segera melepas jasnya, lalu menggulungnya hingga ke siku. Dia mulai membongkar isi kulkas. Dengan cekatan pula, pria itu memotong-motong sayuran, gerakannya begitu lihai. Membuat Dania semakin terpesona dengan pria ini. Rasa kagumnya bertambah berkali-kali lipat. Menurutnya, Devan adalah paket komplit.


''Mimpi apa gue semalam? Pagi harinya di masakin sama pujaan hati. Ini definisi sakit membawa berkah,'' batin Dania.


''Pak,'' panggil Dania.


''Hmmm....''


''Bapak gak kembali ke kantor? Nanti di marahin Pak Armand.''


''Bos tidak masuk, hari ini juga tidak ada agenda pertemuan penting. Hanya memeriksa beberapa berkas saja. Bisa di kerjakan di rumah,'' sahut Devan sembari menuangkan masakannya ke dalam wadah.


''Tapi, pekerjaan bapak tertunda gara-gara saya,'' ucap Dania merasa tidak enak.


''Tidak apa-apa. Hitung-hitung saya sekalian refresing. Cukup pusing berkutat dengan berkas dan laptop,'' kata Devan dengan senyum manisnya.


''Sumpah demi apa? Pak Devan tersenyum ke gue. Manis banget...,'' ucap Dania dalam hati


''Dania, hei.'' Devan menggerakkan tangannya di depan wajah gadis itu.


Karena tidak mendapat respon, Devan menyentuh pelan tangannya hingga membuat Dania terkejut.


''Eh, apa, Pak?''


''Dimakan, bukan bengong.''


''Iya, Pak.''


Sungguh, dia sangat malu karena ketahuan mengagumi pria itu.

__ADS_1


Devan menggelengkan kepalanya, melihat semua tingkah gadis di depannya.


''Gadis aneh....''


__ADS_2