
''Va, loe kenapa, sih?'' Wina mengejar Reva yang ingin ke kafetaria kantor.
''Iya, loe aneh tahu, nggak? Loe berubah semenjak dari acara Renita waktu itu,'' kata Dania yang juga ikut mengejar Reva.
Reva hanya melirik sekilas, kemudian melanjutkan langkahnya. Kedua sahabatnya masih setia mengekorinya sampai tiba di tempat tujuan.
''Va, ngomong, dong! Kami salah apa? Kalau loe diem terus, bagaimana kami tahu kesalahan kami?'' tanya Wina yang diangguki Dania.
Reva masih tak menghiraukan dua wanita itu. Dia malah asyik menikmati makanan yang dipesannya tadi.
''Gak asyik loe, Va. Ngambek nggak jelas.'' Dania merasa kesal
Reva menghela napas. ''Gue kesel sama kalian. Mana ada sahabat yang tega ninggalin sahabatnya sendirian di pinggir jalan, di hutan? Malam-malam lagi.''
''Ooo, itu penyebabnya.'' Dania manggut-manggut.
''Waktu itu perut gue tiba-tiba kram, Va. Kami panik banget, terutama mas David.'' Wina menjelaskan.
''Lagian, gue juga hubungi nomor loe berkali-kali, tapi nggak bisa.'' Dania jadi sewot.
''Ya, loe nggak usah nyolot gitu, dong!'' Reva meninggikan suaranya. Kekesalannya semakin menjadi setelah mendengar ucapan Dania.
''Nya, udah!'' Wina segera menghentikan keduanya.
''Ponsel gue mati,'' kata Reva dengan cueknya.
''Berarti gak semuanya salah kami, dong,'' kata Wina, ''salah loe juga.''
''Iya-iya, gue minta maaf. Habis gue kesel banget sama kalian.'' Reva memandang sahabatnya satu per satu.
''Terus, loe pulangnya naik apa?'' tanya Dania.
''Paling juga minta bantuan keluarganya Pak Armand. 'Kan mereka nginep di sana,'' tebak Wina.
''Mana ada? Gue pulang sama cowok yang mulutnya selevel bakso mercon level sepuluh.''
Wina menaikkan sebelah alisnya karena tidak tahu siapa yang dimaksud Reva.
''A-ha! Pasti pangeran loe, 'kan?'' Dania berteriak tiba-tiba.
Uhuk-uhuk!
ketiga wanita itu menoleh ke asal suara. Ternyata Doni berada tak jauh dari mereka. Bisa dipastikan pria itu mencuri dengar pembicaraan mereka sejak tadi.
''Loe kenapa?'' tanya Dania.
Doni masih sibuk dengan acara batuknya hingga wajahnya memerah.
__ADS_1
''Nih, minum-minum!'' Reva menyerahkan sebotol air mineral yang ada di depannya. Doni meneguknya hingga tandas.
''Loe pasti nguping!'' tuduh Dania
''Gimana nggak kedengaran? Suara kalian seperti toa masjid, terdengar ke mana-mana,'' sahut Doni.
''Loe cemburu, 'kan? Ngaku loe, Dono,'' kata Wina dengan senyum misteriusnya.
''Nggak,'' jawab pria itu cepat. Dia memalingkan wajahnya.
''Lagak lu, Don.'' Dania semakin gencar menggoda pria itu saat melihat wajahnya memerah.
''Kayak anak perawan sedang jatuh cinta.'' Setali tiga uang dengan Dania, Wina pun ikut mengompori.
Sedangkan Reva hanya menatap laki-laki di hadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Saat mata mereka bertemu, Reva segera memalingkan mukanya.
Sumber kesialannya waktu itu bermula dari laki-laki itu. Seandainya Doni tidak menolak ajakannya, pastilah dia tak 'kan tertimpa sial bertubi-tubi dalam sehari.
''Doni, loe gue end! Mulai saat ini, gue putuskan untuk berhenti mengejar loe. Bye!'' Reva segera beranjak dari sana, meninggalkan kedua sahabatnya yang masih setia menggoda pria itu.
''Kapan jadiannya?'' Doni menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.
...----------------...
Drt-drt-drt!
"Halo, Bun." Reva menjawab telepon dari bundanya.
Reva menghentikan langkahnya. ''Kok, bisa bun? Ayah habis makan apa? Kok segitu tinggi naiknya?'' tanya Reva tak kalah panik.
''Kamu pulang, ya. Ayah nanyain kamu terus,'' pinta bunda.
Reva memegang keningnya sendiri. Dia juga bingung. Dia tidak punya cukup uang untuk pulang sekarang, sedang menunggu gajian masih lama. Gajinya yang kemarin sudah di kirimkan ke orang tuanya. Sisanya untuk memenuhi kebutuhannya yang tidak sedikit selama di sini.
''Reva, masih dengar bunda, 'kan?'' suara bunda memecah lamunannya.
''Reva usahakan, Bun. Secepatnya Reva pulang,'' kata gadis itu.
''Ya, sudah. Segera kabari bunda, ya, Nak,''
''Iya, Bun.''
Setelah telepon ditutup, Reva segera menuju ruangan atasannya untuk meminta izin. Dia memutuskan untuk pulang hari itu juga. Kebetulan waktu pulang kantor hampir tiba.
''Va, loe kenapa?'' tanya Wina saat melihat Reva mengemasi barang-barang dengan tergesa-gesa.
''Gue mesti pulang hari ini. Ayah masuk rumah sakit. Dia nyariin gue mulu,'' jawab Reva di sela kepanikannya.
__ADS_1
''Win, gue pinjam uang dulu, boleh? Nanti gue ganti. Uang gue gak cukup buat balik,'' pinta Reva dengan tatapan memohon.
''Ya, elah, Va. Kayak sama siapa aja loe. Gue transfer ke rekening loe sekarang.'' Wina meraih handphone-nya, lalu melakukan transaksi.
Tak berapa lama, terdengar notifikasi di handphone Reva. Dia membelalakkan matanya melihat nominal yang masuk.
''Banyak banget, Win. Ini ....''
''Loe pakai aja, Va. Sekalian buat biaya berobat bokap loe,'' potong Wina.
Mata Reva berkaca-kaca. Tanpa aba-aba, dia langsung menghambur memeluk sahabatnya.
''Makasih. Meskipun loe kadang nyebelin, tapi loe baik banget sama gue.'' Reva menumpahkan air matanya di pelukan sahabatnya.
Wina menepuk-nepuk pelan punggung sang sahabat. Reva melerai pelukannya, lalu menghapus air mata. Dia kemudian pamit pada semua temannya yang ada di sana.
''Hati-hati, Va! Cepet kasih kabar kalau ada apa-apa!'' teriak Wina ketika Reva mulai menjauh. Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya saja.
Selama berada di lift hingga lobby, Reva masih sibuk dengan benda pipih di tangannya. Dia memesan tiket pesawat dan taksi online untuk pulang ke kontrakan. Belum lagi membalas pesan Dania yang bertanya mengenai kepulangannya secara mendadak itu.
Karena telalu sibuk, Reva menjadi tidak fokus pada jalan di depannya. Hingga tiba-tiba dia merasa jidatnya membentur sesuatu.
''Aduh!''
Reva baru sadar, jika yang di tabraknya itu tubuh seseorang. Dia mendongak pada tubuh yang menjulang tinggi di depannya. Seorang pria melotot ke arahnya.
''Kamu? Ngapain berhenti di tengah jalan? Ganggu jalan orang aja.'' Reva menjadi kesal.
''Kamu yang salah. Seenaknya kamu menyalahkan saya!'' bantah pria itu.
''Jelas-jelas situ yang menghalangi langkah gue. Masih nggak mau disalahin segala.'' Reva menggeser paksa tubuh kekar itu.
''Minggir! Gue buru-buru, Bambang,'' kata Reva saat tubuh itu tak bergerak sedikit pun dari tempatnya.
''Enak banget kamu, ya, ganti nama orang seenaknya.'' Pria itu tidak terima dengan panggilan yang disematkan untuknya.
''Terus apa, Paijo? Sudahlah nggak ada waktu buat ngurusin orang kayak loe. Gue buru-buru. Bye!''
''Hei, saya itu ....'' Pria itu meninju udara karena wanita yang pernah ditemuinya tempo lalu sudah menjauh dari jangkauannya. Berteriak pun percuma.
''Dasar gadis aneh!''
...----------------...
Siapakah dia?
Jawabannya ada di part selanjutnya, tetep pantengin ya, semoga kalian nggak bosen dengan ceritaku ini.
__ADS_1
Jangan lupa, LIKE, ❤ , COMMENT, VOTE & HADIAHNYA gengs..
Babay..