My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Kisah Devania 13: Kejujuran Membawa Petaka


__ADS_3

Dania berdiri di sebuah rumah sederhana, yang beberapa waktu lalu ia datangi bersama Devan. Dia sudah memantapkan hati untuk mengakhiri semuanya. Tak peduli, Devan akan setuju ataupun tidak.


Dania menghirup nafas beberapa kali sebelum mengetuk pintu.


"Assalamu'alaikum...."


"Bu, assalamu'alaikum." Dania mengetuk pintu beberapa kali hingga terdengar sahutan dari dalam.


"Walaikumsalam."


Terdengar gagang kunci di putar, kemudian pintu terbuka sempurna.


"Ya ampun, mantu ibu. Pasti sudah di beritahu Devan ya untuk melihat kebaya pengantin," sambut Sekar dengan riangnya.


Kebahagiaan terpancar jelas di matanya.


"Mana anak itu? Kemarin sudah membuat ibu menunggu lama. Biar ibu getok kepalanya. Orang tua kok kacangin." Sekar celingak-celinguk mencari keberadaan putranya


"Aku sendiri, Bu."


"Apa? Dasar anak itu. Selalu pekerjaan yang di nomor satukan," geram Sekar, "ya, sudah masuk dulu. Ibu buatkan minum, sekalian mau ibu mau menelpon Devan. Bisa gak bisa harus kesini sekarang. Perempuan kok di suruh bepergian jauh sendirian." Sekar menggerutu sembari menuju dapur.


"Jangan hubungi-'' Ucapan Dania terpotong karena Sekar sudah berlalu jauh darinya.


" Ya sudahlah. Lebih baik laki-laki itu tau kalau aku kemari berniat mengakhiri," gumamnya pelan.


Tak berselang lama, Sekar membawa secangkir teh beserta se-toples kue kering.


"Ibu sudah menelpon Devan. Dia sedang dalam perjalanan, mungkin sebentar lagi akan sampai."


''Oh, iya, ibu ambilkan kebayanya. Semoga kamu suka ya, Nia."


"B-bu, saya ingin-''


Dania menghela nafas. Lagi-lagi, ucapannya terhenti karena Sekar sudah berlalu memasuki sebuah kamar.


Melihat betapa antusiasnya ibu Devan dalam mempersiapkan acara pernikahannya, membuat Dania semakin mantap untuk mengutarakan niatnya. Dia tidak bisa membohongi wanita baik itu lebih dalam lagi. Dia tidak setega itu.


"Dania, ini kamu coba dulu. Ibu membawa beberapa model, pilih sesuai seleramu. Ibu sengaja membawa warna putih semua karena ini memang di khususkan untuk akad." Sekar menyodorkan beberapa helai baju ke tangan calon menantunya.


"Bu, sebelumnya saya minta maaf."

__ADS_1


"Kamu salah apa? Masalah kemarin? Sudah tidak apa-apa, ibu paham kesibukan kalian." Sekar menyela cepat ucapan Dania.


"Saya ingin membicarakan sesuatu yang serius dengan ibu." Dania menggenggam lembut tangan wanita paruh baya itu.


Sekar yang merasa demikian pun menghentikan kegiatannya. Dia menatap lekat calon menantunya.


''Apa yang ingin kau utarakan, Nia. Ibu akan mendengarkan dengan baik. Katakan saja, keluarkan semua unek-unekmu.''


''Sebelumnya saya minta maaf. Mungkin ini akan sangat menyakiti ibu, tapi Dania benar-benar tidak bisa berlarut-larut dalam posisi ini. Saya mohon, maafkan saya." Dania menunduk air matanya sudah tidak bisa di kendalikan lagi.


''Saya akan membongkar mengenai hubungan saya dan Pak Devan yang sesungguhnya."


Kening Sekar berkerut dalam. Dia belum memahami semua ini.


"Sebenarnya, kedatangan saya kemari bukan untuk melihat kebaya, melainkan ingin mengakhiri hubungan ini dan-"


"Ada apa, Dania? Apa Devan melakukan kesalahan fatal. Katakan pada ibu, nanti ibu marahi dia." Sekar benar-benar tidak bisa menutupi keterkejutannya.


Dia tidak bisa menerima pembatalan ini begitu saja. Persiapan hampir seratus persen, undangan sudah di sebar.


''Tidak, Bu. Bukan itu." Dania mengelak keras.


Sekar menutup mulutnya tidak percaya, bagaimana bisa, dia di bohongi putranya sendiri dan bodohnya lagi. Dia tidak sadar sama sekali.


"Saya memiliki perasaan pada Pak Devan tapi tidak dengan dia. Pak Devan sama sekali tidak tertarik dengan saya. Dia lebih bahagia ketika bersama wanita lain, bukan dengan saya." Dania melanjutkan perkataannya tanpa tahu jika Sekar sudah mulai memegangi area dadanya.


"Saya minta maaf, Bu. Saya benar-benar minta maaf. Saya tidak sanggup untuk membohongi ibu lebih dalam lagi."


"Hah-hah-hah, to-tolong sa- sakit.''


Dania mendongak, betapa terkejutnya ia saat melihatnya Sekar tengah kesakitan dengan memegang dadanya.


"Ibu, ibu kenapa? Kita ke rumah sakit saya pesankan taksi dulu. Ibu bertahan ya." Dania berkata dengan panik.


Satu tangannya di gunakan untuk merangkul pundak Sekar, sedangkan satu lagi berkutat dengan benda pipihnya.


Tubuh dalam rangkulannya semakin lama semakin melemah, hingga tiba-tiba Sekar tak sadarkan diri di pelukan calon menantunya.


"Ibu, bangun. Sadar, Bu." Dania mengguncang keras pipi ibu Devan.


Wanita itu semakin panik saat mengetahui denyut nadinya semakin lemah

__ADS_1


"Ibu harus bertahan."


"IBU!''


Devan berteriak histeris ketika melihat ibunya tak sadarkan diri di pelukan wanita yang masih menjadi tunangannya.


"KAMU APAKAN IBUKU, HAH! SAMPAI DIA SEPERTI INI."


Dania beringsut mendengar sentakan Devan. Dia tidak menyangka, kejujurannya akan membawa petaka seperti ini.


"Aku tidak berbuat apa-apa. Aku hanya jujur mengenai hubungan kita," cicit Dania.


"B*D*H!"


Devan langsung mengangkat ibunya untuk di bawa ke rumah sakit. Dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi sesuatu dengan wanita paling berharga dalam hidupnya.


...----------------...


Devan bergerak resah di depan ruang ICU dimana ibunya mendapat penanganan. Laki-laki itu, sebentar duduk sebentar berdiri. Sesekali juga mengintip ke dalam, meskipun sia-sia tak dapat melihat apa.


Dania duduk tak jauh dari tempatnya berada. Wanita itu tak kalah gelisah, dirinya lah penyebab ibu Devan seperti ini. Seandainya Ia tau, Sekar memiliki riwayat penyakit jantung. Pasti, dia akan berpikir seribu kali untuk mengutarakan ini.


"Jika sampai terjadi apa-apa dengan ibuku. Aku tidak akan pernah memaafkan mu," geram Devan penuh penekanan.


"Aku tidak tahu. Seandainya aku tahu, aku tidak akan melakukan ini. Salah bapak juga tidak memberitahu saya sejak awal," sanggah Dania yang tidak ingin di salahkan begitu saja.


''Kamu-''


"Keluarga Ibu Sekar." Suara seorang dokter memutus perdebatan dua manusia itu.


''Saya putranya, bagaimana ibu saya? Dia tidak apa-apa, 'kan? Dia baik-baik saja, 'kan?" cecar Devan.


''Tekanan darahnya cukup tinggi dan itu tidak baik bagi penderita jantung. Saya harap, Anda bisa mengontrol emosi beliau, jangan sampai Ibu Sekar mengalami stres. Beruntung, segera di bawa kemari. Telat sedikit saja bisa berakibat fatal. Kondisinya sekarang sudah stabil."


''Baik, Dok. Apa saya bisa menemuinya?"


"Bisa setelah dipindah ke ruang perawatan. Mari saya permisi...."


Dania menghela nafas lega mendengarnya.


"Urusan kita belum selesai," ucap Devan sebelum meninggalkan tempat itu untuk mengurus administrasi ibunya.

__ADS_1


__ADS_2