My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Kisah Devania 22: Sisi Lain Devan


__ADS_3

Dania meneliti ruangan yang baru dia masuki. Beberapa foto yang terpajang di dinding menyambut kedatangannya. Foto dengan berbagai pose, mulai dari pose sendiri dengan memegang sebuah piala dengan senyum lebar, foto dua orang dengan menggunakan helm full face di dalam sebuah mobil balap hingga foto bersama tim yang berkisar sepuluh orang. Beberapa Thropy kejuaraan dan piagam perhargaan juga tersusun rapi di sudut ruangan.


Wanita itu masih mengamati seluruh isi kamar itu, hingga dia tidak menyadari seseorang masuk, lalu memeluk perutnya dari arah belakang.


"Pak Devan," seru Dania yang tidak bisa menutupi keterkejutannya.


"Kenapa?" tanyanya dengan nada pelan.


"Bikin kaget aja."


"Ini semua punya bapak?" tanya Dania dengan menunjuk deretan piala yang berada di depannya.


Devan menganguk pelan menanggapinya.


"Pantes, waktu itu mahir banget. Ternyata, mantan driver balap reli," gumamnya pelan, namun masih terdengar di telinga Devan.


"Memang kenapa?"


"Gak apa-apa. Tau gitu aku gak usah jantungan, orang udah mahir. Jangan-jangan jalanan itu...."


"Pernah aku buat lintasan balap beberapa kali." Devan memotong cepat ucapan sang istri.


"Astaga." Dania menanganga tidak percaya mendengar kenyataan itu.


"Kamu jahil banget, sih," gerutu wanita itu dengan memajukan bibirnya beberapa senti.


"Kalau gak gitu kamu akan terus mengabaikanku, Dania. Dan aku paling tidak tahan diperlakukan seperti itu."


Dania mencebik mendengar ucapan suaminya.


"Hello.... Pak Suami yang terhormat. Apa kabar dengan saya yang dulu kamu cuekin lebih lama dari itu? Kamu abaikan, bahkan terang-terangan mengatakan tidak tertarik segala," batin gadis itu dengan kesal.


"Terus, kenapa sekarang pindah haluan jadi orang kantoran?"


"Atas permintaan ibu. Dia tidak ingin aku celaka, seperti temanku yang meregang nyawa saat balapan akibat salah perhitungan." Devan menuntun istrinya untuk duduk di tepi ranj*ng.


"Ouch, so sweet.... Anak yang berbakti." Dania mendramatisir ucapannya.


"Balap Reli hanya sekedar hobby. Aku berusaha menyalurkan hobiku agar bisa menjadi keuntungan. Permintaan ibu adalah prioritasku. Makanya, ketika dia memintaku untuk berhenti dari duniaku, aku iyakan saja. Dia satu-satunya keluarga yang aku miliki."


"Dan rumah ini juga termasuk dari hasil hobiku itu."


Kekaguman Dania terhadap suaminya semakin bertambah setelah mendengar kenyataan baru itu. Devan bukan hanya pekerja keras tapi juga penyayang. Hanya saja, tertutupi oleh sikap dinginnya sedingin gunung es.


"Apa ibu sudah tidur?" tanya Dania.

__ADS_1


Tadi setelah memberikan obat kepada ibu mertuanya, Dania berpamitan ingin istirahat. Sekar menunjukkan kamar Devan yang terletak tak jauh dari kamarnya.


"Sudah."


"Pak," panggil Dania pelan.


"Sudah berapa kali ku bilang, aku suamimu bukan atasanmu," balas pria itu dengan ketus.


"Ya maaf, kebiasaan. Terus panggil apa, dong?"


"Terserah."


"Honey, mau?"


"Gak."


Dania mengerutkan kening. "Kenapa?"


"Terlalu lebay."


"Ya udah deh, Sayang...."


"Gak mau, mirip ABG labil."


"Terserah."


"Kalau terserah, berarti harus nurut ku panggil apapun. Gak boleh protes."


"Hmmm...."


Sejenak terjadi keheningan diantara mereka. Pandangan mereka saling mengunci satu sama lain. Perlahan namun pasti, Devan mendekatkan wajahnya dengan wajah sang istri. Entah kenapa bib*r itu terlihat lebih mengg*da dari biasanya.


"Bapak m-mau ap...." Ucapannya terhenti saat telunjuk kekar itu menempel pada bib*r mungilnya.


"Ssstt, boleh aku meminta hakku?" tanya Devan berbisik tepat di depan wajah istrinya, bahkan nafas hangat itu menerpa permukaan kulit Dania.


Wanita itu mematung di tempat. Tak dapat di pungkiri jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Hawa panas menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Apa kau siap?" tanya Devan lagi, karena tak kunjung mendapat jawaban dari wanita di depannya.


"Aku takut," cicit Dania.


"Aku akan pelan."


Dengan segenap keberanian yang ia kumpulkan. Akhirnya, wanita itu mengangguk tanda menyetujui keinginan sang suami. Dia sadar, cepat atau lambat hal itu pasti akan terjadi.

__ADS_1


Devan semakin mengikis jarak diantara mereka. Pada saat bib*r keduanya akan menyatu tiba-tiba....


PRANK!


Sepasang pengantin baru itu sama-sama terhenyak mendengar suara kencang dari ruangan sebelah, tepatnya kamar yang di tempati Sekar.


"IBU!"


...----------------...


Di kamar Sekar....


Sekar yang baru memejamkan mata beberapa menit yang lalu, kembali terbangun saat merasakan dada di bagian kiri terasa nyeri hingga membuatnya kesulitan bernafas. Sekuat tenaga, dia berusaha untuk bangun, lalu tangannya berusaha menggapai sebotol obat yang terletak pada nakas di sisi tempat tidurnya.


Rasa nyeri yang tak tertahankan membuat tubuhnya lemas, hingga dia kesulitan untuk menggapai tempat itu. Alhasil, bukan obat yang di dapat, justru tangannya menjatuhkan gelas yang berisi air putih yang memang disediakan untuknya. Beberapa saat setelahnya, dia pun ikut tak sadarkan diri dengan tubuh tengkurap dengan tangan menggelantung di lantai.


...----------------...


''Ibu!" teriak Devan


"Ya ampun, Ibu." Dania segera menghampiri wanita paruh baya itu, lalu membalikkan tubuhnya dan membawa ke pangkuannya.


Devan dan Dania yang mendengar suara ribut di ruang sebelah, bergegas menghampiri. Dan betapa terkejutnya mereka, melihat Sekar yang tak sadarkan diri seperti itu.


''Minyak angin ibu, di mana minyak angin ibu." Devan menggeledah seluruh laci yang berada di nakas itu dengan tangan bergetar, kepanikan tergambar jelas di wajahnya.


Dania menghentikan pergerakan tangan sang suami yang tidak beraturan. Wanita itu menggeleng pelan saat suaminya menatap lekat kearahnya.


''Apa maksud isyarat mu itu?"


Lagi-lagi, Dania menggeleng. Devan langsung memeriksa keadaan ibunya, tangannya terasa dingin. Tidak ada denyut nadi saat dia menekan tangan lemas itu, bahkan dia tidak merasakan terpaan nafas sang ibu. Pada saat, dia mengarahkan tangannya ke hidung wanita paruh baya itu.


''Tidak mungkin, ini tidak mungkin. Baru beberapa menit yang lalu aku berbicara sama ibu. Belum ada satu jam, Dania," teriak Devan dengan air mata mengenang di pelupuk matanya.


''Ibu bangun!" Devan mengguncang keras tubuh lemas itu, berharap sang ibu hanya pingsan.


Matanya menangkap minyak angin yang biasa di gunakan Sekar tergelatak disisi bantal. Dengan segera, pria itu meraihnya, kemudian memberi sebanyak mungkin di area hidung wanita paruh baya itu. Tapi nihil, semua usahanya sia-sia. Sekar masih tak menunjukkan reaksi apapun.


''Sudah, jangan seperti itu, tidak baik. Ibu sudah tidak sakit lagi."


Ucapan Dania berhasil menyadarkan pria itu. Devan terduduk lemas di depan sang ibu yang sudah tak bernyawa di pangkuan sang istri. Air mata yang sedari tadi mengenang, kini mengalir deras tanpa bisa di cegah. Pria itu tergugu dengan menunduk dalam. Dia masih tidak percaya jika ibunya telah pergi untuk selamanya.


''Ikhlaskan ibu. Dia sudah tenang," ucap Dania dengan mengusap lembut punggung kekar suaminya.


Dia paham betul, apa yang dirasakan suaminya. Bukan hal mudah menerima kenyataan, kehilangan seseorang yang sangat berharga dalam hidup kita, terlebih orang tua.

__ADS_1


__ADS_2