My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Ancaman Andrew


__ADS_3

"Gimana ya, Nia. Winda juga panas tinggi. Kemarin habis imunisasi. Dia rewel terus ini. Abang gak tega ninggalin dia.''


''Gini aja, abang pesankan makanan sama obat dulu. Nanti, kalau Winda udah tidak rewel lagi, abang segera kesana.''


Andrew yang tidak sengaja mendengar itupun menghentikan langkahnya. Dia berhenti di depan kamar adiknya untuk mengetahui apa yang terjadi dengan gadis yang dia suka.


''Dania kenapa, Mas?'' tanya Wina


''Dania gak enak badan, lagi flu parah dia,'' kata David sambil terus menimang-nimang bayinya.


''Ya udah, Mas David kesana aja. Kasihan dia sendirian,'' ucap Wina.


''Nanti saja, aku gak tenang ninggalin Winda kayak gini. Kalau dia sudah gak rewel aku kesana. Aku akan pesankan makanan sama obat buat dia.''


''Gak usah pesan. Mama masak banyak, stock obat juga masih ada di rumah. Nanti Mama suruh sopir untuk mengantar kesana,'' kata Melissa yang juga berada di dalam.


''Biar aku aja, Ma.'' Andrew tiba-tiba masuk mengagetkan semua yang ada di kamar itu.


Melissa memicing kearah putranya.


''Mumpung aku gak terlalu sibuk, Ma.'' Andrew beralibi untuk menghindari tatapan ibunya.


Wina hanya mencebik mendengar alasan kakaknya karena dia tahu itu hanya modus.


''Aku takut merepotkan Kak Andrew.'' David menolak halus tawaran kakak iparnya.


''Tidak apa-apa. Biar aku saja yang mengantar kesana,'' timpal Andrew setengah memaksa, ''nanti kalau supir yang kesana, takutnya mama atau oma mau keluar mendadak akan repot juga. Iya, 'kan?'' pria itu meminta persetujuan semuanya.


Melissa mengangguk menyetujui. Setelah dipikir-pikir, perkataan Andrew ada benarnya juga, mengingat jarak rumah Dania sangatlah jauh.


''Ya sudah, mama siapkan dulu.''


''Yess!'' Andrew bersorak riang setelah kepergian Melissa.


Akhirnya, setelah sekian minggu. Dia akan melihat gadis pujaannya lagi.


''Modus loe, Kak,'' celetuk Dania dengan kesewotannya.


''Ssstt, jangan merusak mood baikku.''


Andrew memejamkan matanya, membayangkan wajah manis Dania.


''Modus gimana maksudnya?'' tanya David yang masih belum memahami maksud istrinya.


''Ya, modus. Modal dusta, Mas. Mengantar makanan ke sana hanya jadi alasan buat ketemu Dania,'' jelas Wina.


''Lha memang kenapa?''


''Mas David kesayangan, masa gak curiga sama dedengkot satu ini. Dia itu naksir sama adikmu,'' jawab Wina dengan mengetatkan giginya.


''Benar itu, Kak?''

__ADS_1


Andrew mengangguk polos disertai cengirannya. Dia meraba tengkuknya sendiri karena malu sudah ketahuan.


''Astaga....''


David benar-benar terkejut mengetahui kenyataan ini.


''Bagaimana bisa?''


''Tidak ada yang tahu, di mana kita akan melabuhkan hati,'' ungkap Andrew dengan pandangan menerawang jauh ke depan.


Senyumnya memudar, kala teringat sebuah kenyataan, jika Dania sudah memiliki tambatan hati.


''Kenapa loe, Kak? Sebentar senyum sebentar murung. Kesambet loe,'' ucap Wina saat memperhatikan perubahan drastis raut kakaknya.


''Dia sudah punya gandengan,'' lirih Andrew dengan tertunduk lesu.


David mengerutkan heningnya. ''Siapa?''


Andrew mengedikkan bahunya saja.


''Dia gak pernah bilang apa-apa ke aku. Tidak mungkin Dania pacaran diam-diam di belakang ku. Atau mungkin ke kamu, Yang?'' David beralih pada istrinya.


''Enggak, Mas.'' Wina menyangkal keras.


''Kak Andrew mengada-ada kali. Dia aja gak pernah cerita kalau lagi dekat sama cowok. Apalagi ini, pacaran.''


''Astaga, sumpah! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kalau Dania menggandeng mesra laki-laki itu, bahkan dia mengenalkan ke aku, mama juga oma. Kalian bisa tanya ke mereka.'' Pria itu berusaha meyakinkan mereka.


''Andrew, sudah siap.''


''Cepat antarkan kesana! Sudah siang ini. Kasihan dia belum makan,'' teriak Melissa lagi.


''Iya, Ma,'' balas Andrew tak kalah berteriak.


...----------------...


Sepanjang perjalanan menuju rumah Dania, Andrew bersenandung riang mengikuti alunan lagu yang dia putar di mobilnya. Senyumnya terkembang saat melirik papper bag berisi kotak makanan untuk gadis itu.


''Semoga usahaku ini membuahkan hasil,'' gumamnya.


Akhirnya, setelah menempuh waktu hampir empat puluh lima menit, Andrew sampai juga di rumah gadis pujaannya. Dia sengaja memarkirkan mobilnya di luar gerbang. Senyumnya semakin terkembang saat melihat pintu rumah terbuka lebar, seolah menyambut kedatangannya.


Dia segera mempercepat langkahnya, namun saat sampai di depan pintu. Andrew harus menyaksikan pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat. Dania tengah di peluk mesra oleh pria yang bersamanya malam itu. Wanita itu juga memandangnya penuh damba, terpancar jelas dari sorot matanya.


Andrew hanya bisa mengepalkan tangannya kuat. Ingin rasanya dia marah saat itu juga, menghajar pria itu, lalu berteriak mengatakan Dania miliknya, hanya miliknya. Tapi dia juga sadar, dia bukan siapa-siapa gadis itu. Andrew memilih kembali ke mobilnya dengan menyimpan bara api dalam hatinya.


''Arrrggghh!''


Andrew melampiaskan kekesalan pada setir mobilnya. Amarah kembali memuncak saat mengingat yang ia lihat tadi. Sejurus kemudian, dia mengingat sesuatu.


''David belum mengetahui hal ini. Aku bisa memanfaatkannya,'' gumam Andrew.

__ADS_1


Senyum merekah kembali terlukis di bibirnya. Dia melangkah pasti masuk rumah itu. Di kepalanya tersusun beberapa rencana yang akan ia jadikan untuk menjerat Dania.


''Ehem!''


Deheman keras berhasil mengalihkan perhatian dua sejoli yang tengah bercanda ria di meja makan.


''Kak Andrew,'' lirih Dania.


''Aku membawakan makanan serta obat untukmu,'' ucap Andrew dengan meletakkan sesuatu yang ia bawa sedari tadi.


Dengan santainya, dia mendaratkan bobot tubuhnya ke sofa, duduk menyilangkan kaki seolah-olah dia sang pemilik rumah.


''Baiklah, Dania. Saya harus kembali ke kantor. Lekas sembuh agar kau bisa segera masuk kerja,'' pamit Devan.


Dania hanya mengangguk saja, meski dia masih ingin Devan berada disini untuk menemaninya. Dia mengurungkan niatnya mengingat Devan juga mempunyai tanggung jawab pekerjaan. Terlebih, si bos juga tidak masuk hari ini.


''Kak Andrew juga bisa pulang. Terimakasih untuk makanan sama obatnya,'' kata Dania.


Dia tidak ingin berduaan dengan pria ini. Dia tidak ingin memberi harapan palsu padanya.


''Tidak sopan sekali, baru juga tiba sudah diusir,'' sahut Andrew dengan santainya.


''Aku juga ingin berlama-lama seperti pria tadi.''


''Terserah, Kakak saja. Aku mau istirahat,'' kata Dania sembari menuju ke kamarnya.


''Apa kau tak memiliki rasa sedikitpun kepadaku, Nia.''


Dania menghela nafas. Dia menghentikan langkahnya, kemudian menatap tajam pria itu.


''Aku ingin bersamamu,'' ucap Andrew dengan wajah sendunya.


''Sebaiknya kakak mencari wanita lain saja. Aku tidak memiliki rasa apapun pada kakak. Jikalau pun itu terjadi, pasti akan menjadi sebuah hubungan yang rumit.'' Dania mencoba berbicara dari hati ke hati pada pria itu.


''Karena aku kakak kandung Wina?''


Dania mengangguk pelan.


Andrew menghela nafas.


''Tapi kamu dan aku orang lain, Dania.''


''Tetap saja suatu saat akan rumit, Kak Andrew.'' Dania tetap bersikukuh dengan pendapatnya.


''Sudahlah, aku ingin istirahat. Jangan buat kepalaku tambah pening dengan perdebatan ini.''


''Aku akan melaporkan pada David, kalau kau habis berduaan dengan seorang pria di rumahmu,'' ancam Andrew.


''Maksudnya?'' Dia mengurungkan niatnya kembali ke kamar.


''Aku tau, kau diam-diam menjalin hubungan dengan pria itu.''

__ADS_1


Dania memutar bola matanya malas. ''Terserah.''


Andrew mengeram kesal, gadis itu tak terpengaruh sedikitpun dengan ancamannya. Pria itu memilih pulang ke rumah untuk memikirkan cara lain agar Dania bisa jatuh ke dalam pelukannya.


__ADS_2