
''Ren, hari ini aku ada kunjungan proyek. Semalam, Devan sama Doni sudah sampai di kota ini. Nanti, mereka aku suruh kesini dulu buat jemput aku,'' kata Armand yang baru masuk kamar dengan handuk melilit pinggang. Tampak tetesan air membasahi tubuh kekarnya.
Renita meneguk ludahnya kasar, ketika melihat pemandangan yang begitu menggiurkan di pagi ini.
''Ren, kamu dengar aku apa tidak, sih?'' tanya Armand dengan kesal. Karena sedari tadi dia tak mendapat tanggapan dari istrinya
Armand menyeringai kala melihat sang istri tengah terpesona memandangi tubuh bagian atasnya yang tidak tertutup apapun.
''Kenapa, hem?'' Armand menjepit dagu wanitanya dengan telunjuk dan ibu jarinya.
''Nggak!''
Wanita itu segera memalingkan muka. Wajahnya sudah memerah karena menahan sesuatu yang telah bangkit dalam dirinya.
''Kau menginginkan ini, 'kan?'' Armand mengarahkan tangan istrinya menuju tonggak kebanggaannya.
''M-mm-mas,'' jawab Renita dengan gugup.
''Tatap aku, Renita,'' bisik Armand.
Perlahan, Renita menuruti keinginan suaminya. Saat tatapan mereka bertemu, Armand langsung menyerang bibir mungil istrinya.
Renita yang terkejut mendapat serangan dadakan itu, hanya bisa mematung. Dia memejamkan mata menikmati permainan lincah sang suami.
''Katakan jika kau ingin!'' Armand menyatukan dahi mereka, tatapan matanya tampak sayu.
Renita mengangguk pelan. Tanpa aba-aba, dia menyerang bibir suaminya. Dengan senang hati, Armand menerima serangan itu. Dia tersenyum disela permainannya.
Lama-kelamaan permainan mereka semakin menuntut. Sepasang suami-istri itu, sama-sama menginginkan lebih. Dan mereka memulai hari dengan mengarungi surga cinta yang mereka ciptakan.
...----------------...
''Mas-mas ini mau mencari siapa?'' tanya Rendi saat melihat dua orang pemuda tampan dengan setelan jas rapi tengah berdiri di teras rumahnya.
''Saya Doni, sekrtetrisya Pak Armand. Dan ini Devan, asistennya.'' Doni berinisiatif memperkenalkan diri karena Devan tak kunjung menjawab pertanyaan pemuda di depannya.
''Oalah, mari masuk. Mas Armand masih bersiap-siap, maklum habis jatah pagi,'' ucap Rendi setengah berbisik.
Bugh...
''Aww....'' Rendi mengusap kepala belakangnya yang terkena timpukan nampan. Siapa lagi pelakunya, jika bukan kakak tercinta.
''Lebay, gak sakit juga.''
''Kakak durjana,'' gumam Rendi dengan mengerucutkan bibirnya.
''Biar otakmu balik, Ren. Gak mikir aneh-aneh,'' kata Renita.
''Aneh-aneh apaan? Kenyataannya seperti itu, kok,'' sahut Rendi yang tidak mau disalahkan.
''Buktinya, Mas Armand mandi dua kali pagi ini. Itu rambut mbak juga basah. Apalagi, kalau bukan jatah pagi. Mentang-mentang Ello lagi diajak ayah jalan-jalan. Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan,'' cerocosnya lagi panjang lebar.
__ADS_1
''Sini, Ren. Mulutmu ku remas-remas biar jadi adonan. Dulu ibu ngidam apa, sih? Punya anak laki satu, cerewetnya ngalah-ngalahin perempuan,'' dumel Renita dengan gemasnya sembari tangannya merasa udara
''Terserah,'' sahut Rendy dengan kesewotannya.
Devan dan Doni hanya bisa mematung, melihat live debat kakak beradik di depannya.
''Devan, Doni masuk dulu. Ini diminum kopinya,'' tawar Renita dengan menyambut ramah bawahan suaminya.
''Terimakasih, Bu,'' jawab keduanya serentak.
Tak menunggu lama, orang yang mereka tunggu keluar juga dari sarangnya. Armand tampak rapi dengan setelan kemeja navy dengan celana bahannya. Aroma parfum menguar di seluruh ruangan itu.
''Inget anak istri di rumah.'' Renita berpesan kepada suaminya sebelum memasuki mobil.
''Iya, Sayangku.'' Armand mengusap pucuk kepala istrinya, tak lupa dia juga meninggalkan kecupan di dahi wanita itu.
''Hati-hati,'' teriak Renita saat mobil yang di tumpangi suaminya mulai meninggalkan halaman rumahnya.
Devan menekan klakson mobil yang di kendarainya sebagai tanda 'Ya'.
...----------------...
''Reni, Ren!'' Asih memanggil putrinya dengan kepanikan yang tergambar jelas di raut wajahnya.
''Ya, Bu.''
Mendengar suara panik ibunya, Renita segera menghampiri wanita paruh baya itu.
''Ayo, ikut ibu ke rumah Pakde Salim, Budemu ngamuk-ngamuk ke Nesa,'' kata Asih.
Renita mengerutkan dahinya. ''Ada apa sih, Bu? Jangan buat Reni bingung.''
''Ibu nggak tahu pasti. Ibu baru diberitahu Bi Siti barusan. Ayo, buruan kesana! Sebelum budemu kalap.'' Asih yang sudah terlanjur panik langsung menarik tangan putrinya.
''Tap-tapi, Vello gimana, Bu?''
''Rendy! Jaga Vello di rumah. Jangan keluyuran, ibu sama mbakmu ada urusan ke rumah Pakde Salim,'' teriak Asih.
''Iya, Bu...,'' sahut Rendi dari dalam rumah.
''Ayo, cepetan, Ren!''
Asih masih terus menarik tangan putrinya. Sedangkan, Renita hanya bisa pasrah. Dalam hatinya bertanya-tanya apa yang terjadi? Sampai ibunya sepanik ini. Sebegitu gentingnya, kah?
Sesampainya di depan rumah budenya, Renita bisa mendengar jelas teriakan budenya yang sedang memarahi putrinya habis-habisan. Bukan memarahi lebih tepatnya mengamuk, makian terdengar jelas di telinganya. Hingga tak berselang lama, terdengar bunyi nyaring benda yang di banting keras. Tanpa menunggu lama lagi, Renita dan ibunya segera memasuki rumah itu.
''Ya ampun, Mbak Ratna,'' pekik Asih.
Renita sendiri menutup mulutnya tidak percaya dengan pemandangan yang ada didepannya. Pecahan kaca berserakan dimana-mana.
Dilihatnya, sepupunya tengah meringkuk ketakutan di pojok ruangan.
__ADS_1
''Nesa.''
''Ren, to-tolong aku,'' kata Nesa dengan suara bergetar. Dia langsung memeluk erat tubuh Renita.
''Ada apa ini?'' tanya Renita.
''Dasar anak kurang ajar! Bisa-bisanya membuat malu bapak sama ibu. Pokoknya ibu tidak mau tahu, seret laki-laki itu kemari! Suruh dia melamar sekarang juga.''
''Tenang, Mbak. Istighfar yang banyak.'' Asih mengusap lembut kedua lengan kakak iparnya.
''Diam kamu! Kamu senang, 'kan sekarang? Anakku seperti ini,'' bentak Ratna.
''Tidak, tidak sama sekali. Mbak tenang dulu, selesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Ini tidak akan selesai kalau mbak marah-marah seperti ini. Kang Salim kemana?'' Asih celingukan mencari keberadaan kakak iparnya.
''Di kebun.''
Asih menuntun kakak iparnya duduk di sofa, tak lupa memberikan segelas air untuk menenangkan pikirannya.
''Cerita ke aku, Nes! Apa yang terjadi?'' desak Renita.
''Anak itu habis di grebek warga,'' jawab Ratna dengan nafas kembang kempis.
Emosinya kembali meningkat saat mengingat peristiwa tadi selepas suaminya berangkat bekerja.
''Benar itu, Nes?'' tanya Renita lagi.
Nesa mengangguk lemah.
''Dan lebih parahnya lagi dia sedang hamil anak laki-laki itu,'' ujar Ratna dengan nada lemahnya.
Baik Renita maupun Asih sama terkejutnya mendengar berita ini.
''Minta tanggungjawab ke dia, Nes.'' ucap Renita.
''Dia nggak mau tanggungjawab, dia belum siap katanya.'' Nesa semakin sesegukan mengingat kekasih yang sangat dicintainya mencampakkan dirinya begitu saja.
''Ya, gak bisa gitu dong. Mau enaknya aja dia, giliran gak enak kayak begini. Main lari gitu aja.'' Renita geram sendiri dengan kekasih sepupunya.
Dia teringat dirinya dulu, bagaimana bingungnya menanggung benih seorang diri.
''Dimana rumahnya? Biar ku labrak dia. Laki-laki modelan begitu nggak bisa di diemin,'' kata Renita berapi-api. Dia sudah beranjak dari tempatnya.
''Ren, duduk. Jangan macam-macam! Biar pakdemu yang mendatanginya sendiri,'' titah Asih putrinya.
''Tapi, Bu...,'' sanggah Renita.
''Duduk!'' titah Asih tegas.
''Kang Salim sudah tahu masalah ini, Mbak?'' tanya Asih pada kakak iparnya.
''Belum.''
__ADS_1