
''Kamu harus segera menikahi Renita, Ar.. Keburu kandungannya semakin besar..'' Ibu Ratu sudah memulai petuahnya di pagi hari saat mereka sedang menikmati sarapannya.
''Kasian, Cucu Mama. Pas lahir nanti statusnya masih belum jelas. Mama gak mau, cucu mama di cap anak haram. Paham kamu!''
Armand hanya mengangguk sambil meneruskan makannya.
''Kapan kamu menemui orang tua Renita, Ar?'' tanya Setiawan.
''Pagi ini aku akan berangkat. Untuk sementara, pekerjaanku akan di handle Devan sama Doni..''
Amalia menghentikan suapannya lalu menoleh pada putra nya.
''Kenapa gak bilang, Mama? Mama belum ada persiapan, Armand,'' hardik wanita paruh baya itu.
''Aduh, Mama belum beli ini itu. Kamu kira printilan buat lamaran gak banyak? Mesti pesen dulu. Dan tidak bisa harus sehari jadi..'' Amalia sudah heboh sendiri.
''Kamu selalu seperti itu, Ar.. Mengambil keputusan seenak jidat, tidak diskusi dulu sama orang tua, tidak melihat orang tua sudah ada persiapan apa belum? Yang baik itu, di bicarakan dulu sama mama sama papa. Tidak bisa sepihak begitu saja,'' omel Amalia.
''Masa mau ketemu calon besan bawa tangan kosong.'' Amalia menggerutu kesal.
Armand memutar bola matanya jengah. Selalu seperti ini, jika sudah berurusan dengan Ibunya
''Papa handle itu istri papa, aku mau berangkat.'' Armand menyelesaikan sarapannya, kemudian pergi begitu saja.
''Awas calon mantu mama kamu apa-apain, Ar. Ingat! belum halal,'' teriak Amalia memberi peringatan.
'Papa juga, anak seperti itu di diamkan saja. Ditegur , di marahin apa gimana gitu..'
Armand masih mendengar suara mamanya yang entah kapan akan selesai.
...----------------...
Di rumahnya, Renita baru selesai mengemasi barang-barangnya ke dalam koper. Wanita itu menghela nafas. Jujur, dia masih belum siap sekaligus takut. Dia belum siap menerima kemarahan ayahnya, mengingat Sang Ayah sosok yang tegas dan religius.
Berkali-kali, dia menarik nafas dan menghembuskannya pelan, mencoba untuk menenangkan dirinya.
''Sudah siap?'' Suara Armand mengagetkan dirinya. Laki-laki itu memeluknya dari belakang secara tiba-tiba.
''Bapak apaan, sih? Belum muhrim, jangan pegang-pegang!'' Renita mencoba melepas belitan tangan kekar itu
''Biarkan seperti ini dulu.'' Armand mengerat kan pelukannya, ''Aku hanya ingin memberimu ketenangan. Jangan takut! Kita akan menghadapinya sama-sama..''
Renita mengangguk patuh. Dia juga merasa tenang setelah menghirup aroma tubuh ini.
''Sudah siap?''
Renita mengangguk lagi
''Ya sudah, kita berangkat sekarang.'' Armand menggandeng lembut tangan Renita. Sedang tangan satunya menarik koper wanita itu, menuju ke mobilnya.
...----------------...
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Mereka memilih jalur darat menuju kampung halaman Renita, atas permintaan si bumil sendiri. Katanya bisa lebih menikmati perjalanan dan bisa berhenti, jika sedang menginginkan sesuatu. Armand hanya bisa menurutinya, asal Renita merasa nyaman saja.
''Kamu tidur saja kalau ngantuk,'' Armand melirik sekilas sekretarisnya yang sedari tadi tak berhenti menguap.
''Memang bapak tahu jalannya?''
''Ada GPS tinggal lihat ponsel." Armand menunjuk benda pipih di depannya dengan dagu.
''Oke, deh. Aku tidur dulu, nanti kalau di daerah sana ketemu penjual rujak cingur, bangunin aku ya, Pak. Lagi pengen banget soalnya.''
''Hmmm...''
Renita menurunkan sandaran kursinya dan mulai memejamkan mata.
__ADS_1
Semantara Armand, masih fokus pada jalanan di depannya. Dengan telaten pula, dia menuruti keinginan si bumil yang ingin berhenti. Setiap melihat sesuatu yang menarik di matanya.
Alhasil, perjalanan yang seharusnya di tempuh selama tujuh jam, bertambah molor menjadi sepuluh jam.
Renita meremas kedua tangannya. Raut wajah yang sedari tadi ceria. Kini berubah menjadi tegang, keringat dingin membasahi tangannya. Saat mobil yang di tumpanginya sudah melewati tugu yang bertuliskan nama desanya. Itu artinya, beberapa meter lagi dia akan sampai di rumah.
''Tenangkan dirimu! Nanti aku yang akan menjelaskan semuanya di depan orang tuamu..''
Renita mengangguk mengiyakan.
''Yang mana rumahmu?'' tanya Armand.
''Itu sebelah Mushola, Pak.'' Renita menunjuk rumah bercat kuning yang berada disamping mushola.
Mobil Armand berhenti tepat di halaman rumah Renita. Tampak seorang wanita paruh baya berdaster keluar menengok siapa yang datang.
Renita semakin gugup, saat melihat ibunya celingak-celinguk di teras rumah mencoba melihat siapa tamunya.
Renita menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan. Setelah di rasa tenang, Renita memasang senyum cerianya dan membuka pintu.
''IBU!''
Renita langsung menghambur memeluk wanita yang telah melahirkannya.
''Ya Allah, Reni!'' pekik ibunya terkejut melihat kedatangan putrinya.
''Pak, Renita mulih. Pak.. Bapak!'' Asih berteriak memanggil suaminya
(Pak, Renita pulang..)
''Opo tho, Bu? Bengok-bengok ning ngarepan omah, ora kepenak di rungu tonggo..''
Seorang laki-laki paruh baya keluar dengan setelan koko dan sarungnya. Tampaknya, akan menunaikan ibadah karena kedatangan Renita bertepatan dengan waktu ashar.
''Ya Allah, Nduk. Mulih kok ora kabar-kabar?'' Pria itu tak kalah terkejut saat melihat putrinya tengah di peluk sang istri.
(Ya Allah, Nak, pulang kok tidak memberi kabar).
''Eh, sopo iki? Ganteng tenan, calon mantuku, ya,'' sapa Asih dengan ramahnya.
(Eh, siapa ini? Ganteng sekali...)
Armand tersenyum tipis lalu menyalami kedua orang tua Renita dengan ta'zim.
''Armand, Bu, Pak..''
''Wes,ayo mlebu dhisik. Kesel 'kan? Istirahat sek ning njero,'' ajak Asih pada putrinya dan tamunya.
(Sudah, ayo, masuk dulu. Capek 'kan? Istirahat dulu di dalam..)
''Ya, wes. Bapak sholat dhisik, wes Adzan,'' pamit Mahmud, Ayah Renita.
(Ya, sudah. Bapak sholat dulu, sudah adzan ).
''Iya Pak..'' Armand mengangguk sopan.
Setelah suaminya berangkat ke mushola. Asih mengajak Renita dan Armand masuk kedalam rumah dengan Renita terus menempeli dirinya.
''Wes, Ren! Opo ora isin? Wes gerang kok sek manja ning ibu. Ning ngarep calon mantu pisan,'' protes Asih.
(Sudah, Ren! Apa nggak malu? Sudah besar kok masih manja sama ibu, di depan calon mantu pula)
''Bene wes, Bu. Kangen kok.'' Renita tak menghiraukan protes dari ibunya. Dia semakin manja pada wanita yang telah melahirkannya ini.
(Biarin lah, bu! Kangen kok..)
__ADS_1
'''Huh, tuman! Njawab ae lek di omongi.''
Asih mengeplak pelan lengan putrinya.
(Huh, kebiasaan! Jawab saja kalau di bilangin)
Armand tersenyum melihat interaksi ibu dan anak itu. Dia seperti melihat sisi lain dari seorang Renita.
...----------------...
Malam harinya, setelah sholat magrib. Semua berkumpul di ruang tamu. Mahmud juga sudah membuat laporan pada ketua RT setempat bahwa dia kedatangan tamu dari kota, agar tidak menimbulkan fitnah.
''Rendy nang ngendi tho, Bu? Kok ora ketoro ket mau..''
(Rendy kemana sih, Bu? Dari tadi kok tidak kelihatan).
''Paling marine yo mulih, Nduk. Mesti seneng iki ketemu musuh bebuyutan,'' kelakar Asih.
(Paling sebentar lagi ya pulang, Nak. Pasti senang ini ketemu musuh bebuyutannya)
''Nak Armand, engko ojo kaget, yo? Lek weruh kelakuan Renita karo adike sing persis kucing karo tikus,'' celetuk Mahmud.
( Nak Armand, nanti jangan kaget ya? Kalau melihat kelakuan Renita sama adiknya yang mirip kucing sama tikus ).
''Sama saja, Pak. Saya sama adik saya juga begitu di rumah..''
Armand memang paham dengan bahasa Jawa karena ibunya juga berasal dari Jawa. Hanya saja, Dia tidak bisa mengucapkannya.
Perbincangan mereka berlangsung dengan hangat. Ada saja celetukan kedua orang tua Renita yang memancing gelak tawa. Hingga pada akhirnya, Armand memulai pembicaraan seriusnya.
Armand berdehem untuk menetralisir rasa gugupnya.
''Pak, sebelumnya saya minta maaf. Saya ingin menyampaikan sesuatu..''
Mahmud terdiam, dia mulai mendengarkan apa yang akan di katakan pemuda di depannya.
''Bapak boleh pukul saya atau melakukan apapun kepada saya. Saya akan menerimanya dan saya tidak akan menuntut Bapak.. Asal setelah itu, bapak bersedia memberikan restu kepada saya..''
Renita sudah tegang sedari tadi, suasana yang semula hangat menjadi mencekam.
Dia menggenggam tangan ibunya untuk mencari ketenangan.
''Saya menghamili anak bapak..''
...----------------...
Jeng, jengg tegang gak, sih?
kalau gak tegang bacanya sambil nonton Badarawuhi aja, ya... hehehe..
Maaf kalau bahasa jawanya seperti itu. Aku cuma menyesuaikan bahasa Jawa di daerah tempat tinggalku
Dukung yuk, like ❤ comment..
Jariku keriting, lho, ngetik part ini..
Tinggalkan jempol kalian. GRATIS tinggal teken.
Vote seikhlasnya aja, monggo kerso..
kalian sudah bersedia mampir saja aku udah senang..
Semoga terhibur dengan karya semrawut ini..
babay...
__ADS_1