My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Senapan yang Gagal


__ADS_3

''Kamu masih marah?" Armand memeluk istrinya dari belakang saat Renita tengah menikmati angin malam di balkon kamar.


''Tidak."


''Aku minta maaf," ucap Armand dengan mengeratkan dekapannya.


''Untuk?"


''Untuk kesalahan pahaman yang terjadi selama beberapa hari ini."


''Aku sudah memaafkanmu, Mas. Aku juga minta maaf karena aku tidak mau mendengarkan penjelasanmu terlebih dulu, padahal kamu sudah berusaha mati-matian." Renita berbalik menatap lekat wajah sang suami.


''Belakangan ini, memang banyak pikiran buruk yang memenuhi kepalaku. Aku takut kamu punya wanita lain sebab aku tak kunjung hamil untuk memenuhi keinginanmu. Pikiran jika aku benar-benar mandul selalu menghantuiku. Di tambah aku melihatmu melihat bersama Celline yang sedang menunggu di depan Polly kandungan waktu itu. Semakin membuat pikiranku tak karuan. Aku tidak siap jika harus berbagi, lebih baik aku mundur daripada—"


''Ssstt, jangan diteruskan! Aku tidak ingin mendengar ucapan itu dari mulutmu. Aku tidak akan bertindak sebodoh itu hanya demi keturunan. Aku tidak ingin menyia-nyiakan wanita yang bertahta di hatiku sejak lama. Aku merasa hidupku tidak lengkap tanpa ada kamu, Ren."


Jika biasanya, Renita akan mengatakan suaminya gombal tapi tidak untuk kali ini. Dia sangat terharu mendengar ucapan itu secara langsung dari mulut suaminya. Dia merasa wanita paling dicintai dan berharga untuk pria ini.


Tanpa banyak bicara, wanita itu langsung mendekap tubuh kekar itu dengan erat.


''I love you," ungkap Renita.


"I love you, more, My Wife," balas Armand dengan mengerat dekapannya.


Dia bersyukur, kesalahpahaman antara dia dan istrinya sudah terselesaikan tanpa ada campur tangan dari keluarga seperti biasa ketika mereka bertengkar hebat.


''Satpam kecilmu sudah tidur?" tanya Armand dengan memperhatikan sekitar takut putranya tiba-tiba muncul.


''Sudah, memang kenapa?" Renita mendongak menatap wajah sang suami.


''Aku takut tiba-tiba dia muncul, terus langsung gebukin aku lagi," kelakar Armand.


Renita hanya terkekeh kecil mendengarnya. ''Dia posesif mirip kamu."


''Ya dong, 'kan aku bapaknya. Tapi kalau terlalu posesif begitu aku yang susah."


''Kenapa?"


''Karena aku gak bisa dekat-dekat sama pegang-pegang istriku yang seksi ini," bisik Armand dengan menyentuh aset bagian atas milik Renita.


''Gak usah modus," sewot wanita itu dengan melepas dekapannya.


Dia segera menjauhkan diri sebelum singa jantan beraksi.


''Ayolah, Sayang ... Udah berapa hari si dia tidak bertemu kekasihnya," rengek Armand dengan melirik bagian bawahnya.


Renita melipat dalam-dalam bibirnya agar tawanya tidak pecah. Suami Kompeninya ini akan terus merengek jika keinginannya tidak segera dituruti.

__ADS_1


''Mau ya ... Senapanku pengen menembakkan pelurunya."


Dia menatap aneh suaminya dari mana pria ini menemukan istilah seperti itu.


''Gak usah seperti itu juga natapnya. Aku cuma mencari istilah yang pas untuk dia sesuai julukanmu padaku. Kompeni identik dengan senapan."


Renita benar-benar menganga dibuatnya. Apa kepala suaminya habis terbentur sesuatu, sehingga mengatakan hal se-absurd itu.


''Tidak panas," kata Renita saat meraba kening suaminya.


''Kenapa?"


''Kamu aneh."


Renita berlalu begitu saja meninggalkan suaminya, kemudian masuk ke dalam kamar.


''Aneh kenapa?" tanya Armand dengan menyusul istrinya.


''Ya gak biasanya, gitu lho ... Seorang Armand Setiawan berbicara se-nyeleneh itu. Aku pikir kepalamu habis terbentur sesuatu atau dahi kamu panas. Kamu sampai ngelindur seperti itu."


''Maksudmu aku sudah tidak waras, hem?" Armand berkacak pinggang dengan menaikkan kedua alisnya di hadapan wanita itu.


''Kamu ya yang bilang, bukan aku," sangkal Renita.


''Tapi maksudmu begitu, 'kan, Sayang," bisik Armand dengan mendekap istrinya dari belakang.


''Mas ..."


''Apa, Sayang," jawab Armand masih dengan posisi yang sama.


''Kamu ... Emmpphh," teriak Renita tertahan karena bibirnya sudah diserang oleh sang pemilik hati.


Armand tidak memberi ampun pada wanita itu, meskipun Renita memukuli dirinya. Dia tetap melanjutkan aksi serangannya. Gair** yang terpendam selama beberapa hari akan ia luapkan malam ini juga.


''Huh, Dasar Kompeni! Main serang aja, gak siap juga." Renita memukul pelan dada sang suami dengan nafas terengah-engah.


''Aku, 'kan sudah bilang? Dia rindu sama kekasihnya. Kalau kamu nolak ya aku bakalan maksa."


''Siapa yang nolak. Dia juga rindu."


Renita mengerlingkan sebelah matanya pada pria itu.


''Jadi, mari nikmati malam panjang kita." Wanita itu langsung melompat ke gendongan suaminya. Armand yang tidak siap pun hampir limbung ke belakang. Beruntung, dia bisa menahan bobot tubuh sang istri.


Keduanya, memulai kembali aksi saling menyerang. Decakan dari kedua memenuhi seluruh kamar itu. Semakin lama decakan mereka semakin menuntut.


Perlahan namun pasti, Armand membawa sang istri ke peraduan mereka untuk mengarungi nirwana. Mereka sudah siap untuk memadu kasih, menikmati surga dunia yang akan mereka ciptakan. Penampilan keduanya jauh dari kata rapi. Kabut asmara sudah menyelimuti mereka. Tatapan mata mereka sudah tampak berbeda.

__ADS_1


''Siap, Sayang?" tanya Armand dengan nada serak.


Renita mengangguk pasti. Pada saat Armand hendak memulai tiba-tiba....


"Ama, hiks-hiks...."


''Vello, nyariin." Renita segera mendorong tubuh kekar sang suami, lalu segera memakai asal pakaiannya sebelum putranya melihat keadaan mereka yang sangat tidak pantas di pertontonkan pada anak kecil.


Armand hanya bisa mengeram kesal. Seketika, kepalanya terasa pening karena tidak dapat menyalurkan hasrat pada istrinya.


"Ama...." Terdengar suara Vello semakin dekat.


"Mas, segera pakai pakaianmu."


"Gak! Aku begini aja." Armand segera berbaring, lalu menenggelamkan seluruh tubuhnya dengan selimut untuk menutupi keadaan tubuhnya yang tidak tertutup sehelai benang pun.


"Ama! Buka pintunya." Teriakan Vello menggema di malam sunyi itu.


Dia kesal karena sang ibu tak kunjung membukakan pintu untuknya.


''Iya, Sayang ... sebentar!" jawab Renita tak kalah berteriak.


Dia segera berjalan menuju pintu sebelum teriakan putranya semakin menjadi.


''Ada apa, Vel?''


''Eyo mau tidul cama Apa cama Ama."


Armand mendengar permintaan putranya.


''Tidur di kamar Vello aja. Yuk, mama temenin kayak tadi."


''NO! Eyo mau tidur baleng Ama Apa macak dak boyeh." Vello menyerobot masuk begitu saja, lalu langsung naik ke atas ranjang yang di tempati Armand.


''Apa, Eyo minta cimutnya. Hayus belbagi dak boyeh peyit. Nanti temannya cetan," protes mulut mungil itu ketika Armand tak kunjung membuka selimutnya.


''Apa! Apa!" Vello berteriak memanggil sang ayah yang tak bergerak sedikitpun dari tempatnya.


Karena merasa kesal, Armand bangun dari posisi tidurnya melupakan kondisi tubuhnya yang seperti bayi


''Gak usaha teriak-teriak, Vello. Papa dengar."


"Mas!" Renita melotot ke arah suaminya, namun Armand belum menyadari hal itu.


''Kok Apa kayak Eyo yang balu mandi."


Armand menegang seketika mendengar celotehan polos dari bibir putranya. Dia segera melirik tubuhnya sendiri.

__ADS_1


''Mati aku!"


__ADS_2