My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Pindah...


__ADS_3

...Bocil minggir! Part ini untuk emak-emak bersuami.... ⚠⚠⚠🚼🚼❌❌...


...Aku gak tanggung jawab kalau otak kalian bakal traveling.....


Setelah mengantar Amanda dan suaminya ke bandara. Armand segera mengajak sang istri pindah ke rumahnya. Yang berbeda blok saja dari rumah orang tuanya.


Rumah minimalis berlantai dua dengan dominan cat berwarna putih. Halamannya juga tak telalu luas, ada bagasi yang hanya muat diisi satu mobil dan dua buah sepeda motor.


Armand menggandeng lembut tangan istrinya memasuki rumah. Wanita itu meneliti setiap sudut rumah, warna putih dan abu dipilih sebagai interior. Terkesan sangat manly, sederhana. Tapi tak menghilangkan kesan mewahnya.


''Kamu suka?'' tanya Armand.


Renita mengangguk dan tersenyum. ''Suka, nyaman banget.''


''Yuk, aku tunjukkan kamar kita,'' ajak Armand masih tak melepas tautan tangannya dengan sang istri menuju lantai dua.


Sama seperti lantai bawah, kamar Armand juga dominan dengan warna putih dan abu-abu.


''Kalau kamu tidak suka. Tinggal ganti saja sesuai warna kesukaanmu. Aku hanya ingin kamu merasa nyaman berada disini.''


''Nggak usah! Buat apa? buang-buang duit. Biarkan seperti ini saja. Mungkin, sepreinya nanti aku ganti sama yang lebih berwarna. Supaya ada kesan feminimnya. Penghuninya sekarang bukan hanya cowok tapi ada ceweknya juga.''


Renita menuju jendela lalu membuka tirainya.


Pemandangan yang menyejukkan mata, menyapa indra penglihatannya untuk pertama kali. Pohon-pohon tertanam berjajar teratur, rumput-rumput juga terpotong rapi. Ada sepaket meja dan kursi untuk bersantai yang di letakkan di pinggir danau buatan. Halaman belakang rumah ini, tampak lebih luas dari halaman depan.


''Bapak pinter banget ngatur tempatnya. nyaman di pandang mata,'' puji Renita, ''Jarang-jarang di kota besar bisa melihat hamparan hijau seperti ini.''


Renita menggeser kaca besar yang langsung terhubung dengan balkon kamar yang tak terlalu luas. Dia menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Armand memeluk istrinya dari belakang menaruh dagunya di kepala wanita itu.


''Syukurlah, kalau kamu suka dan nyaman disini.''


Armand melepas belitan tangannya dan membalik tubuh sang istri untuk menghadapnya.


''Ini akan menjadi rumah kita, surga kita bersama anak-anak kita kelak.''


''Aku mohon, apapun yang terjadi. Tolong jangan pernah berfikir untuk pergi! Jika ada yang mengganjal di hatimu katakan saja.''

__ADS_1


''Iya,'' jawab Renita dengan senyum manisnya.


Hening....


Hingga tiba-tiba....


CUP


Armand mengecup lama bibir istrinya. Perlahan-lahan, dia mulai meluma*nya. Ketika melihat Renita masih rileks, Armand memperdalam luma**nnya. Semakin lama semakin menuntut hingga menyulut api dalam dirinya.


Renita memejamkan mata merasai perlakuan lembut suaminya. Dia meremas kedua sisi kaos yang dipakai sang suami. Perlahan tapi pasti, dia mulai membalasnya dengan membuka sedikit mulutnya. Tentu saja, hal itu tak di sia-siakan oleh Armand. Dia langsung mengeksplor rongga mulut istrinya, lidah saling berbelit. Hingga mereka berhenti untuk menghirup pasokan udara di sekitarnya.


Armand menyatukan keningnya dengan kening istrinya. Tatapannya sudah mulai berbeda. ''Boleh aku memintanya sekarang, Ren?''


Renita masih ragu antara iya dan tidak. Dia juga sadar cepat atau lambat ini akan terjadi.


Tak dapat di pungkiri tubuhnya juga meminta lebih. Hanya melalui sebuah ci*man hasratnya sudah terpancing.


Renita mengangguk pelan.


''Apa kamu yakin? Jika masih ragu aku akan menunggu sampai kamu siap. Aku tidak akan memaksa,'' Armand bertanya untuk memastikan.


Reni menghirup nafas dalam. ''Aku siap! Cepat atau lambat ini akan terjadi. Sudah kewajiban ku untuk melayani suami,'' tegasnya


'Mungkin dengan ini traumaku akan hilang.'


Armand mengembangkan senyumnya, mendengar jawaban tegas dari sang istri


''Tap-tapi, a-aku takut sakit lagi,'' cicitnya.


''Aku akan pelan.''


Armand segera meraup bibir itu lagi, mel*matnya dengan rakus. Sebelum Renita berubah pikiran. Tangannya juga tak tinggal diam. Dia membuka kancing baju istrinya, meraba benda yang masih tertutup rapi.


Bibirnya berpindah menyusuri leher putih itu. Sedangkan tangannya masih tak ingin diam.


Saat mulut Armand sudah berada di bukit barisan miliknya. Renita menggigit bibir bawahnya, berusaha meredam suara mengerikan yang memaksa keluar dari mulutnya.

__ADS_1


Entah sejak kapan baju bagian atasnya sudah tertanggal semua.


''M-mashh, kitahh masih diluar.''


Suara itu terdengar begitu seksi di telinga Armand yang membuatnya semakin bersemangat.


Tanpa menjawab protes dari sang istri, Armand menggendong tubuh Renita seperti koala. Dia membawa istrinya masuk lalu mendudukkannya di sofa yang ada di kamar.


Dengan tak sabar, Armand membuka semua bajunya. Menyisakan segitiga bermuda yang menutupi asetnya.


Renita memalingkan muka, malu rasanya melihat benda itu lagi. Tidak tajam tapi mampu membuatnya susah jalan.


''Hei, hadap sini. Kenapa, malu? Kamu sudah pernah merasakannya,'' bisik Armand dengan menuntun tangan istrinya untuk menyentuh miliknya.


Renita melotot saat tangannya merasakan tonjolan dari balik kain itu.


''Kenapa keras begini?'' Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulutnya.


Tanpa sadar Renita meremasnya membuat si empu mengerang pelan.


''Aku sudah tidak tahan, Ren!'' geram Armand.


Dia melepas semua penutup bagian bawah istrinya.


Dan selanjutnya....


Terjadilah apa yang seharusnya terjadi, hehe....


...----------------...


Slow, slow..., aku juga grogi sendiri nulis part ini, sumpah! Takut juga iya, takut gak lulus review. Aturan NT ketat, Guys.


Kalau dirasa kurang hot jeletot, maafkanlah.... Karena aku juga belum pengalaman nulis adegan beginian.


Oke ritual wajibnya


like, ❀ , comment, vote and hadiah seikhlasnya saja.

__ADS_1


Babay..


__ADS_2