My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Hari pertama dan Pengganggunya


__ADS_3

Hari ini, hari pertama Renita kembali masuk kantor. Setelah sepuluh hari mangkir akibat kejadian menghebohkan waktu itu.


Kejadian terbongkarnya peristiwa naas yang berusaha di sembunyikan rapat-rapat oleh Renita.


Dia berangkat bersama suami sekaligus bos menyebalkannya. Entah, bagaimana reaksi orang-orang di kantor nanti. Setelah mengetahui keadaannya yang tengah berbadan dua ini. Dan juga status barunya sebagai menantu dari pemilik perusahaan.


Apapun itu, Renita memilih tak ambil pusing. Dia akan menerima dan mendengarkan apa yang akan orang-orang katakan, entah itu baik ataupun buruk.


Tinggal masukkan telinga kanan dan keluarkan ke telinga kiri alias bodo amat.


Begitulah prinsip wanita itu.


''Bahagianya pengantin baru tereret, tereret..., duduk bersanding di kursi mobil....''


Renita memutar matanya jengah. Kenapa di hari pertamanya masuk setelah sekian lama mangkir, harus satpam gila ini yang dia temui .


''Dulu siapa...? Yang bilang amit-amit, sekarang jadi..., istrinya si bos.'' Aryo masih menggoda menggunakan nada lagu pengantin baru.


''Berisik!'' sewotnya pada satpam muda itu,


''ini juga, kenapa berhenti disini segala? tinggal masuk aja lama amat.'' Renita menatap tajam suaminya.


''Permisi, Pak Bos, seperti biasa saya parkirkan.'' Aryo menunduk sopan pada Armand.


''Ayo, turun,'' ajak Armand.


Dia mengabaikan acara ngambek wanita disampingnya. Memilih langsung membuka pintu dan menyerahkan kuncinya pada Aryo.


''Bilang dari tadi, kenapa?'' sungut Renita dengan membanting pintu mobil.


BUGH!


Sangking kerasnya Aryo sampai mengelus dada.


''Mbak Reni, lama gak masuk tambah galak aja."


''Bodo!'' Renita berlalu dengan menghentakkan kakinya.


Renita masuk berdampingan dengan Armand. Baru sampai lobby keduanya sudah jadi pusat perhatian.


Jujur, Renita risih dengan itu semua. Pandangan mereka seolah mengatakan,


'kau melakukan kesalahan fatal Renita.'


Tapi wanita itu berusaha bersikap biasa saja. Anggap saja mereka semua batu, pikirnya.


Sesampainya di ruangannya, Renita menyandarkan tubuhnya di kursi. Dia menghembus nafas kasar kala netranya melirik setumpuk berkas di hadapannya.


''Ini gak di kerjain, apa gimana? Sampai numpuk begini,'' keluhnya.


''Pagi, Bu,'' sapa Doni saat baru memasuki ruangan.


''Gue belum setua itu, panggil gue mbak aja,'' kata Renita sambil meniti satu per satu berkas ditangannya.

__ADS_1


''Ini, apa gak pernah kamu kerjain? Kok sampek segunung begini,'' tanya Renita.


''Eeee, itu berkas-berkas perusahaan yang mau kerja sama dengan kita, Bu,'' jawab Doni dengan hati-hati.


''Kamu sudah susun jadwal si bos?'' tanya Renita lagi.


''Sudah.'' Doni menyerahkan tablet pada Renita.


''Ya udah, aku aja yang keruangan si bos. Kamu kerjakan itu semua. Sebelum si Kompeni ngomel.''


''Baik, Mbak....''


...----------------...


''Ren, sini aku mau bicara,'' kata Armand saat Renita selesai membacakan semua agendanya


''Apa?'' tanya Renita duduk di sebrang Armand.


''Jangan disitu tapi disini.'' Armand menunjuk pahanya.


''Gak usah ganjen, ingat tempat. Udah cepetan, mau ngomong apa?'' desak Renita.


Armand menarik pelan tangan istrinya, lalu mendudukkan di pangkuannya.


''Begini, 'kan enak.''


''Gimana kalo kamu resign?'' Armand memeluk Renita dari belakang, mengelus perutnya yang sudah sedikit menyembul.


''Alasannya?''


''Aku gak mau kamu kecapean. Kamu tau sendiri, 'kan? Sistem kerja aku. Apalagi, sebentar lagi aku akan menggantikan posisi papa.'' Armand berkata selembut mungkin agar istrinya tidak salah paham.


''Iya mirip kerja sama Londo. Waktunya istirahat gak boleh istirahat kalau belum selesai, makan kudu sama mantengin berkas sama komputer. Nanti salah-salah mouse-nya ikut kemakan,'' cerocos wanita hamil itu


Armand tertawa mendengar jawaban unik istrinya.


''Sampai hafal gitu.''


''Mau ya, nuruti permintaanku?'' tanya Armand dengan memohon.


''Terus, aku nanti ngapain di rumah? udah biasa kerja gak enak kalau suruh diem.''


''Lakukan apapun sesuka hatimu. Kamu juga boleh tiap hari datang ke kantor, mengantar makanan buat aku. Tugasmu hanya memanjakanku atas bawah.'' Armand menaikan turunkan alisnya.


Renita berfikir sejenak dan akhirnya mengiyakan.


''Oke, deh. Tapi aku mau ikut meeting sebentar lagi.''


''O-oke,'' jawab Armand gugup.


Renita memicingkan mata saa melihat reaksi suaminya.


'hmmm, sepertinya ada yang disembunyikan. Aku harus menyelidiki.'

__ADS_1


Insting ibu hamil.


...---------------...


Renita meniti seksama klien di hadapan nya. Seorang wanita cantik, seksi, penampilan menarik dan pintar. Begitu luwes menjelaskan poin-poin kerjasamanya. Penjelasannya simple dan mudah di mengerti.


Meeting kali ini membahas proyek pembangunan apartemen mewah di pusat kota.


Dari gelagatnya, Renita sudah tau bahwa wanita itu ada rasa dengan suaminya. Terlihat dari sikapnya yang berusaha mencari perhatian Armand, berusaha mendekati dengan berbagai alasan. Dan kelihatannya mereka juga saling mengenal.


Cukup aneh, biasanya Armand tak pernah sedekat itu dengan para kliennya. Terlebih, klien wanita.


Renita tersenyum sinis, kecurigaannya sepertinya tidak meleset.


Dia sudah curiga, ketika Armand memintanya resign secara mendadak. Ditambah sikap gugup Armand saat mengiyakan saat dia meminta akan mengikuti meeting kali ini.


'Oke, aku ikuti maumu, Bos,' batinnya menahan geram.


Meski begitu, Renita tetap profesional dalam pekerjaannya. Setelah melalui perdebatan yang cukup alot selama satu jam lebih. Akhirnya, meeting kali ini temu kata sepakat mengenai waktu pelaksanaan proyek.


''Baiklah, Armand sampai jumpa minggu depan.'' Wanita itu menjabat tangan Armand. Dan dibalas senyum ramah laki-laki itu.


'Benar-benar aneh, Armand tidak pernah tersenyum seramah itu dengan kliennya,' kqta Renita dalam hati yang sedari tadi memperhatikan dua orang di depannya.


Semakin kuat dugaan wanita itu, jika ada yang di sembunyikan darinya.


...----------------...


''Ren, kamu gak mau tanya, siapa wanita tadi?" tanya armand saat mereka berada dalam perjalanan pulang.


''Klien, 'kan,'' jawab Renita cuek.


''Dia temenku waktu SMA dulu. Temen dekat, bisa dibilang kita sahabat. Sampai akhirnya, kami terpisah karena aku melanjutkan kuliah di luar negeri. Dulu sewaktu lulus, aku berusaha mencari dia. Aku datangi alamat rumahnya yang lama, tapi kata tetangganya waktu itu dia pindah. Karena usaha orang tuanya bangkrut. Aku juga kehilangan kontaknya. Tapi akhirnya aku seneng kami bertemu lagi dan terlibat proyek yang sama.''


''Dia juga berhasil merintis kembali usaha keluarga yang sempat gulung tikar. Hebat'kan dia?''


Arman menceritakan nya dengan binar mata penuh kebahagiaan.


Itu yang di tangkap penglihatan Renita. Entah, kenapa hatinya serasa diremas, ketika mengingat tatapan penuh damba wanita itu pada suaminya.


Karena sejatinya, tak ada yang namanya murni 'persahabatan' antara laki-laki dan perempuan.


''Oh....'' Hanya itu tanggapan Renita. Rasanya, dia malas mendengar lebih tentang wanita itu.


...----------------...


Biarkan alurnya mengalir sejauh air mengalir ke lautan lepas. Eaaa..... (mode lebay on).


Semoga kalian gak bosen sama ceritaku ini..


Ok jangan lupa ritual wajibnya, goyang jempol, Bestie....


babay...

__ADS_1


__ADS_2