
Akhirnya, serangkaian acara yang melelahkan selesai juga. Menyisakan lelah bagi mereka yang terlibat di dalamnya.
Renita, menyempatkan diri untuk mengisi perutnya terlebih dahulu. Sebelum menemui putranya. Wanita itu, sudah menahan laparnya sedari tadi.
Sedang Armand, memilih berbincang-bincang dengan koleganya yang masih berada di sana. Dalam gedung itu, memang masih menyisakan beberapa orang kenalan Armand dan Setiawan. Sisanya kerabat-kerabat pemilik acara.
''Mbak Ren,'' Rendy menghampiri kakaknya dengan membawa Marvello dalam gendongannya.
''Ello merengek terus dari tadi. Nggak mau minum susu dari botolnya.''
Renita menghentikan makannya, memilih meraih anaknya lalu mebawanya dalam dekapannya
''uluh.. Kacian anak mama. Ngambek ya, di cuekin dari tadi.''
Hanya rengekan yang keluar dari mulut mungil itu, matanya memerah seperti habis menangis.
''Sampai merah gitu matanya,'' kata Renita sembari menghapus sisa air mata di pipi Marvello.
''Mi-mi hiks..hiks,'' isakan kecil keluar dari mulut mungilnya. ''Mi-mi...''
''Iya, mimi, habis itu tidur ya, sayang,'' kata Renita dengan mengusap lembut punggung anaknya.
''Mas,'' panggil Renita.
Armand yang merasa terpanggil pun menoleh. Dia meminta izin sebentar pada koleganya.
''Ada apa ?'' tanya Armand setelah berada di hadapan istrinya.
''Dia ngantuk, minta mimi. Aku mau ganti baju dulu. Baju ini 'kan nggak bisa buat menyusui,'' ucap Renita.
Armand melepas jas yang di pakainya lalu memberikan kepada istrinya. ''Kamu pakai ini.''
Renita mencebikkan bibirnya, dia sudah paham dengan maksud suaminya.
''Dasar posesif!'' tapi tak urung dia juga menerimanya.
Renita memakai jas suaminya setelah Marvello berpindah ke tangan papanya.
''Nanti cari aku disana.'' Armand menunjuk tempat duduknya tadi.
''Iya.'' Renita berlalu untuk berganti baju.
...----------------...
Armand dan Renita memasuki kamar yang telah dipersiapkan. Membawa serta Marvello yang sudah rewel.
Renita segera membaringkan tubuhnya di tempat tidur, memiringkan badannya untuk menyusui anaknya dengan posisi tiduran. Marvello melahap rakus sumber nutrisinya. Tak menunggu lama mata mungil itu mulai meredup.
__ADS_1
''Lucu banget, sih. Matanya merem tapi tangannya masih kemana-mana,'' kata Armand yang berbaring di sebelah putranya. Dia mencium gemas pipi bulat itu.
''Mas, udah ihh, anak tidur di ganggu mulu. Aku capek pengen tidur juga,'' sungut Renita.
''Tugasmu belum selesai, sayang.'' Armand menaik turunkan alisnya.
''Lagakmu, Mas. Kayak pengantin baru aja. Kemarin malam 'kan udah, sampai pagi malah.'' Bibirnya mengerucut lucu.
''Beda, sayang.''
''Beda apanya? Ujung-ujungnya juga gitu,'' sergah Renita.
''Mau kemana ?'' tanya Renita saat melihat suaminya beranjak dari tempatnya.
''Mau ngerokok di balkon. Seharian gak merokok mulut aku kecut rasanya.''
Renita hanya mengangguk saja, dia lanjut menyusui anaknya.
...----------------...
Setelah memastikan anaknya benar-benar terlelap. Dengan hati-hati, Renita melepas sumber nutrisi anaknya. Perlahan bangkit dari tempat tidur, tak lupa menyelimuti dan memasang penghalang di sisi kanan kiri Marvello.
Wanita itu, berjalan mengendap-endap mengintip suaminya dari balik gorden.
'Dia masih merokok, saatnya kejutan,' batin Renita.
Beberapa menit kemudian, Renita sudah selesai dengan ritual mandinya. Dia memakai baju yang diberikan ibunya sore tadi. Renita sendiri tak menyangka ibunya memberikan baju laknat itu.
Awalnya, dia menolak tapi atas paksaan ibu dan mama mertuanya. Akhirnya dia menyetujui dan berinisiatif memberi kejutan pada sang suami.
Renita memoles wajahnya semenarik mungkin, tak lupa menyemprotkan parfum di area leher dan area tersembunyi lainnya. Dia akan memberikan yang spesial untuk sang suami malam ini.
Renita keluar dari kamar mandi hanya dengan bathrobe untuk menutupi yang di pakainya.
''Mas,'' panggil Renita dengan nada lembutnya.
Armand mengernyit saat mendengar panggilan istrinya yang berbeda dari biasanya.
''Mas.'' Renita langsung duduk di pangkuan sang suami lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher Armand.
''Kamu kenapa?'' tanya Armand.
''Nggak mandi ?'' Renita menampilkan senyum semanis mungkin.
''Kamu cacingan ?'' Armand bertanya balik pada istrinya.
Renita melotot mendengarnya, bukan seperti ini ekspektasinya. Niat menggoda malah di kata cacingan.
__ADS_1
''Haiiisshh.. Gak peka banget, sih,'' sungut Renita.
Armand dengan santainya menghirup rokoknya dalam-dalam kemudian mengepulkan asapnya bebas ke udara.
Renita semakin kesal melihat respon suaminya. Dia beranjak masuk ingin ganti baju yang lebih layak.
''Kamu kenapa, Ren ?'' tanya Armand yang bingung melihat perubahan drastis istrinya.
''Bodo amat!'' kesal Renita.
''Ren, kok tiba-tiba marah?'' Armand mematikan rokok di tangannya lalu menyusul istrinya.
''Ren.'' Armand menelan ludah kelat saat melihat pakaian yang melekat di tubuh istrinya.
Hasr**nya tiba-tiba naik ke ubun-ubun melihat keseksian tubuh yang terpampang nyata di depannya.
''Apa ?'' sewotnya. Wanita itu belum menyadari, jika suaminya tengah menahan sesuatu di bawah sana.
''Ren,'' kata Armand dengan suara beratnya.
Tanpa aba-aba dia langsung menyergap tubuh istrinya.
''Emmm..,'' Renita terkejut mendapat serangan dadakan ini.
Keduanya saling bertaut, Armand menuntun istrinya menuju balkon untuk melanjutkan aksinya. Dia tak ingin mengganggu tidur anaknya.
''Ini yang buat kamu marah?'' Armand menyatukan kening mereka.
Renita mengangguk dengan memanyunkan bibirnya.
''Kenapa gak bilang ?''
''Kalau bilang namanya bukan kejutan ,'' jawab Renita masih dengan kekesalannya.
''Siapa yang memberi ini?''
''Ibu.''
''Kamu seksih,'' bisik Armand kemudian meniup pelan telinga istrinya.
Renita merinding di buatnya, darahnya berdesir mendengar bisikan itu.
Tangan pria itu sudah tidak bisa diam, menyusuri apapun yang bisa di raihnya. Renita menikmati sentuhan itu, sesekali dia melenguh.
Armand kembali menyerang bibir istrinya dengan hasr*t yang sudah berkobar. Dia selalu tidak tahan dengan tubuh ini.
Semaksimal mungkin Renita memberikan kemampuan terbaik yang di milikinya untuk sang suami. Dia berusaha semaksimal mungkin mengimbangi permainan itu. Dan terjadilah apa yang semestinya terjadi. Dinginnya malam tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk mengarungi surga dunia.
__ADS_1