My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Kisah Devania 10: Lemparan Bola Api


__ADS_3

Sepasang anak manusia tengah menyusuri pusat perbelanjaan yang terletak di pusat kota. Keceriaan tertampak jelas dari raut keduanya, bahkan tak jarang canda tawa terdengar dari mulut mereka. Ada saja pembahasan yang mengundang tawa sepasang insan itu.


"Eh, Van. Kesana yuk," ajak Sandra dengan menunjuk area permainan.


"Kelihatannya asik. Lama gak main begituan, terakhir main sehabis wisuda," lanjutnya lagi.


"Boleh, aku juga pengen menjajal kemampuanku," sahut Devan dengan semangat.


Dengan santainya, Sandra menarik lengan pria itu seolah melupakan kenyataan jika dia sudah bertunangan yang sebentar lagi akan menikah.


"Gas lah, mumpung aku belum balik ke LN, kita puas-puaskan kebersamaan kita."


Devan hanya bisa pasrah menuruti keinginan wanita itu, namun langkahnya terhenti ketika netranya menangkap sosok yang dia kenal tengah berada di sebuah salon kecantikan


"San, kamu duluan saja. Aku ke toilet sebentar."


"Oke."


Setelah memastikan aman dari jangkauan sahabatnya, Devan segera memasuki salon itu, untuk memastikan jika dia tidak salah orang.


"Permisi, Pak. Ada yang bisa saya bantu," sambut seorang pegawai wanita.


"Tidak ada. Saya hanya ingin menjemput tunangan saya."


"Oh, baiklah. Anda bisa menunggumu dengan nyaman di sofa sebelah sana." Pegawai wanita itu menunjuk sebuah sofa yang terletak tak jauh dari tempat incarannya


Devan hanya mengangguk sekilas.


Pria itu terus memperhatikan secara intens, seorang gadis yang tengah mewarnai rambutnya. Gadis itu tidak menyadari sama sekali kehadiran Devan karena kepalanya sedang di garap oleh dua orang, sedangkan dia sendiri tengah sibuk dengan ponselnya.


"Untuk apa dia berada disini? Tidak biasanya ke tempat seperti ini."


Devan bisa melihat dengan jelas pantulan diri gadis itu pada cermin besar di depannya. Sangat jelas menunjukkan jika itu tunangannya, Dania.


"Kenapa gaya rambutnya seperti gaya rambut Sandra? Apa gaya rambut wanita seperti itu yang sedang trend saat ini?" Devan terus bermonolog tanpa mengalihkan perhatian barang sedetikpun dari gadis itu.


"Jika dilihat cantik juga." Tanpa disadari kedua sudut bibirnya tertarik saat melihat penampilan berbeda dari sekretarisnya.


"Sudah selesai," ucap seseorang yang menangani rambut Dania sedari tadi.


"Bagaimana ada yang kurang?" tanyanya.


"Memuaskan! Tidak salah Tante Mel merekomendasikan salon ini. Ternyata hasilnya memang top." Dania memberi dua jempol kearah orang itu.


"Nanti ku rekomendasikan ke teman-temanku yang lain. Pelayanannya memuaskan semua serba memuaskan dan aku puas."


"Terimakasih, Say. Aduh, ai seneng, deh. Salon ai mendapat rekomendasi dari banyak orang jadi terhura. Yu resmi jadi pelanggaran baru ai. Kapan-kapan kalau yu kesini lagi, ai bakal kasih diskon." si Pemilik Salon yang mendengar itupun langsung menimpali dengan gaya gemulainya.


"Bener ya, Madam. Besok-besok, gue bawa rombongan kasih kami semua diskon kalau perlu gratis," kelakar Dania.


"Hei, you. Di kasih ati minta jantung, usus sama ampela. Bakal gulung tikar, ai kalau begini caranya, uh." Perempuan jadi-jadian itupun pergi dengan gaya gemulainya disertai wajah sewotnya.

__ADS_1


"Elah, Madam gitu aja ngambek nanti kerutnya nambah."


Laki-laki yang disebut madam itupun menghentikan langkahnya, lalu melengos begitu saja sebelum pergi.


"Jangan kaget, dia gak beneran marah, kok. Gayanya aja memang seperti itu."


"Elah, biasa aja keles. Gue orangnya santai kok," sahut Dania.


Dia dan pegawai itu sama-sama tertawa.


Devan sempat terpaku melihat hal itu. Dania terlihat semakin cantik ketika tertawa.


"Kenapa aku baru sadar? Mungkinkah aku jatuh hati dengan gadis aneh itu?" pikirnya.


"Tidak mungkin. Dia bukan seleraku." Pria menyangkal keras dugaannya sendiri.


Drrrtt-drrrtt-drrrtt....


"Hallo."


"Devan, kamu kemana aja. Ke toilet sampai setengah jam lebih. Kamu ngapain aja, sih?" sahut Sandra di seberang sana dengan kekesalannya.


"Emmm, maaf, San. Toilet antri banget. Aku baru selesai, aku segera kesana."


Devan segera melangkah meninggalkan tempat itu, menuju tempat sahabatnya yang telah lama menunggu.


"Jangan lama-lama, aku hampir lumutan nungguin kamu," sungutnya.


"Udah ya, Cin. Gue cabut dulu, besok-besok gue kemari lagi. Ingat-ingat wajah gue." Dania berpesan pada si pemilik salon sebelum pergi.


"Ocelah, Cin. Kalau perlu yu bisa chat ai dulu. Yu save nomor ai, 'kan?"


"Iyess," balas Dania dengan gaya centilnya.


Mereka menyempatkan bercipika-cipiki ala emak-emak arisan sebelum berpisah.


"Hati-hati, bye...."


Dania membalas lambaian tangan itu sembari menuju pintu keluar.


"Mbak, tadi tunangannya kesini katanya mau jemput Mbak."


Dania mengerutkan keningnya bingung mendengar laporan seorang resepsionis itu. Pasalnya, dia tidak memberitahu siapapun jika hendak kesini.


"Yang ini, bukan?" Dania menunjukkan foto seorang pria pada wanita itu.


"Iya, ini orangnya." Wanita itu membenarkan.


"Terus sekarang dimana dia?" Dania celingak-celinguk mencari orang yang dimaksud. Tapi nihil, matanya tidak menangkap siapapun kecuali para pengunjung yang lumayan ramai.


"Sudah keluar sambil terima telpon tadi. Lumayan lama lho, Mbak. Hampir setengah jam."

__ADS_1


Lipatan di kening Dania semakin dalam. "Kenapa gue gak sadar kalau ada Devan disini," batinnya.


"Tadi seperti ke arah sana menuju area permainan," tutur Wanita itu.


"Oh, iya. Makasih infonya."


...----------------...


"Ayo, Van terus tembak! Sedikit lagi menang," teriak Sandra dengan girangnya.


Ini adalah permainan kesekian yang mereka mainkan. Devan tampak serius dengan benda mirip pistol yang diarahkan pada layar di depannya, hingga kemudian.....


"Yeay, hebat kamu, Van! Kemampuanmu masih sama seperti dulu," puji Sandra dengan binar penuh kekaguman.


"Sudah ya, San. Aku capek, agak malu juga main seperti ini. Kita bukan ABG lagi. Usia hampir kepala tiga."


"Oke, deh."


"Tapi aku masih ingin satu lagi," pinta Sandra dengan tatapan memohon.


"Apa lagi," jawab Devan setengah malas.


"Itu, aku ingin foto berdua sama kamu disana." Sandra menunjuk sebuah bilik kecil yang hanya di tutupi tirai berwarna biru.


"Nostalgia, Van."


"Ya sudah, ayo. Tapi cuma satu kali saja ya. Setelah itu pulang."


"Iya-iya."


Devan dan Sandra tampak memasuki bilik itu. Keduanya memulai beberapa pose yang menunjukkan keakraban mereka. Terlihat begitu intim, bahkan ada satu pose dimana Sandra berhasil menci*m pipi Devan, sedangkan pria itu tampak memejamkan mata dengan bibir melengkungkan senyum manis. Bagi siapapun yang melihat pasti menyangka jika mereka adalah sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara.


''Makasih, ya, Van. Udah buat aku bahagia di hari terakhirku disini karena besok aku sudah kembali ke negara tempatku bekerja. Masa cutiku sudah habis."


"Sama-sama. Kamu sahabat terbaikku, kita juga jarang bertemu. Jadi, gak ada salahnya aku memanfaatkan kesempatan untuk bersenang-senang denganmu," ucap Devan diiringi senyum manisnya.


"Ah, lope pokok sama sahabat gantengku satu ini."


Tanpa sungkan, Sandra memeluk mesra lengan Devan.


"Berhenti, Van. Bukannya itu tunanganmu, ya." Sandra menunjuk seseorang wanita tengah bercanda dengan seorang pria di salah food court yang ada di mall itu.


Melihat hal itu, Devan mengerasnya rahangnya dengan tangan terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Entah kenapa ada perasaan aneh yang merasuki tubuhnya seperti hawa panas yang sangat membakar hingga ke ubun-ubun.


"Siapa dia, Van? Gak mungkin, 'kan dia se-ling-kuh, kelihatannya dia seperti wanita baik-baik," ucapnya dengan menekankan kata 'selingkuh' sembari melirik pria disampingnya.


Salah satu sudut bibirnya terangkat, dia merasa bahagia melihat Devan seperti itu dengan tunangannya. Tentu saja, kesempatan ini tak'kan disia-siakan oleh Sandra. Dia akan terus melempar bola api kearah pasangannya itu, bila perlu sampai membakar mereka.


"Ya ampun, Van. Dia terlihat bahagia sekali dengan pria itu."


"Aku gak nyangka cewek sekalem dia, berani main di belakangmu."

__ADS_1


Devan tak memedulikan lagi ocehan sahabatnya. Dia memilih pergi begitu saja dengan amarah terpendam dalam dadanya.


__ADS_2