
''Ada apa, Ren ? Lo ngajak kumpul mendadak gini. Marvello mana ? Gue kangen sama pipi bakpau nya dia,'' Reva memberondong Renita dengan berbagai pertanyaan nya.
''Iya tumben,'' sahut Dania.
''Disita mama mertua. Nih,'' Renita menyerahkan tiga buah undangan pada ketiga sahabatnya.
Renita sengaja mengajak ketiga sahabatnya bertemu di sebuah cafe. Kebetulan Armand juga sedang ada pertemuan disana. Jadi, sekalian berangkat bersama sang suami.
''Loe mau kawin lagi, Ren ? Pak Armand gimana ?'' ganti Wina yang bersuara. Setelah sedari tadi asik menikmati makanan nya.
''Ya gak gimana-gimana, dia tetep suami gue,'' jawab Renita.
''Loe poliandri, Ren ?'' tanya Reva.
''Sembarangan!'' Renita menimpuk pelan kepala Reva dengan satu undangan di depannya. ''Dibaca duluan bener-bener baru komentar,'' sungut ibu satu anak itu.
''Tau nih loe berdua, jelas-jelas nama yang tertera 'Renita and Armand', bikin orang salah paham aja,'' Dania menimpali.
Matanya melirik ke arah Armand yang sedang serius membahas sesuatu dengan rekannya.
Reva dan Wina hanya memberikan cengiran nya.
''Canda mama Renita, gitu aja ngambek,'' Reva mencubit pipi Renita.
''Loe mau ngadain resepsi, kok mendadak?'' tanya Dania setelah membaca undangan itu.
''Ya nggak mendadak, ini persiapannya dari tiga minggu yang lalu. Ibu mertua gue yang maksa. Kalian tau sendiri 'kan, Gimana ibu mertua gue ?'' Renita menatap satu per satu ketiga cs-nya.
Ketiganya mengangguk.
''Meski cerewet gitu, tapi dia banget,'' kata Renita.
''Iya lhoo, gue jadi pengen punya mertua seperti nyonya Amalia,'' ucap Reva.
''Apaan mertua segala. Loe sama si Dono aja masih jalan di tempat,'' sahut Wina.
Reva berdecak, ''Selalu Wina yang berhasil buat mood gue ancur. Udah gak usah bahas dia. Serasa jadi cewek gatel gua ngejar-ngejar dia.''
''Tapi nanti Aku ke acara resepsi loe sama siapa ? masa sendirian sih, gak asik banget gak punya gandengan,'' Reva memasang wajah memelasnya.
''Gak usah lebay deh Va, gue jomblo tapi gak ngenes kayak loe,'' sahut Dania.
''Ini bumil perasaan makan mulu dari tadi,'' Dania beralih mengomentari Wina yang asik menikmati makanan nya.
''Heh, gue bunting juga gegara abang loe Nya. Tiap malem gak biarin gue tidur nyenyak. Mana minta nambah mulu lagi. Jadinya gini 'kan ? bawaannya pengen makan mulu,'' Wina tidak sadar ucapannya membuat semua orang menoleh ke arah mereka. Secara suara Wina sudah seperti toa masjid, terdengar kemana-mana.
''Wina, suara loe kecilin napa ? Kita jadi pusat perhatian ini. Asli malu gue,'' bisik Reva.
Dania pun sama malunya. Berbeda dengan Renita yang santai menanggapinya. Ibu satu anak itu malah asik dengan makanannya.
''Bodo amat, penting suami sendiri,'' sahut Wina masih dengan nada yang sama.
drrrtt.. drrrtt... drrtt..
__ADS_1
" Bentar nyokap nelpon,''
Wina segera mengangkat pangilan mamanya.
''Hola, mama,''
................
''Oke mama tenang ya, tarik nafas dulu. Bicara pelan-pelan. Papa kenapa ?'' Wina berusaha menenangkan ibunya yang sedang panik disebrang sana.
Ketiga wanita di dekatnya saling menatap satu sama lain, mereka saling memberi isyarat lewat tatapan mata, seolah bertanya 'ada apa?'.
Tapi mereka sama-sama mengedikkan bahu tanda tak mengerti.
''APA!! KOK BISA ?''
Keterkejutan Wina membuat ketiga temannya semakin bingung saja.
''Oke-oke, aku kesana sekarang,'' Wina menutup telponnya.
''Gengs gue cabut dulu. Bokap masuk rumah sakit,'' Wina membereskan barang-barangnya dengan tergesa. Kepanikan tergambar jelas di wajah nya.
''Kok bisa, kenapa ?'' tanya Renita.
''Di tusuk Mita di bagian perutnya,'' tanpa sadar Wina telah membuka celah ke kepoan untuk kedua sahabat nya yang lain.
Sangking paniknya juga, Wina kesusahan memasukkan handphone nya kedalam tas nya.
''Astaga...,'' Renita membekap mulutnya tak percaya
''Tenang dulu, minum dulu,'' Renita menyodorkan minumnya yang masih utuh ke hadapan Wina.
''Loe bawa mobil gak?'' tanya Renita.
Wina terdiam di tempat. Baru ingat, jika dia di antar David tadi. Dan sekarang David sedang ada pertemuan penting menggantikan Aryan.
''Ya udah loe tenang, gue panggil suami gue dulu. Kelihatan nya dia udah beres sama urusannya. Setelah itu kita anter ke rumah sakit,'' Renita bergegas menghampiri suaminya.
Tak berapa lama, wanita itu kembali ke tempat semula bersama Armand.
''Yuk Win, kita berangkat. Jangan panik! Kasian dedeknya,'' Renita berusaha menenangkan sahabatnya.
Wina mengangguk. Dia berjalan dengan di gandeng Renita.
''Kalian berdua nggak ikut?'' tanya Armand pada kedua gadis di depannya.
''Ti-tidak pak,'' jawab Dania sopan.
Meskipun sudah menjadi suami dari sahabat nya. Tapi Dania tetap sungkan jika harus berhadapan dengan bosnya.
''Iya, kita disini aja, Pak,'' Reva menimpali.
''Ya sudah, saya duluan.''
__ADS_1
''Nya, loe ngerasa nggak ? Ada yang disembunyikan sama mereka,'' tanya Reva selepas kepergian mereka.
''Banget. Apa ya kira-kira? Siapa juga si Mita itu?'' Dania menerka-nerka. ''Kita ketinggalan berita kayaknya Va,''
''Yup bener banget,'' Reva menyeruput minuman nya.
Tak lama setelahnya keduanya saling pandang satu sama lain.
''Loe tau 'kan apa yang gue pikirin ?'
Reva mengangguk, ''Kita mesti cari tahu!''
...----------------...
Sesampainya di rumah sakit, Wina segera berlari menuju tempat yang sebelumnya sudah di beritahu mamanya. Karena kepanikannya, Wina sampai lupa dengan keadaanya yang tengah hamil muda.
''Win, hati-hati!'' Renita berteriak memperingati. ''Aduh ini anak bar-bar nggak inget sikon. Nggak mikir apa sama anak dalam perutnya,'' gerutunya.
''Mirip sama yang omong,'' ujar laki-laki disamping nya. Yang tak lain suaminya sendiri. ''Sangking paniknya anak sampai di tinggal.''
Renita menatap tajam suaminya kemudian melengos meninggalkan suaminya.
''Ren, kok di tinggal. Ren!" teriak Armand memanggil istrinya.
Tapi istrinya justru mempercepat langkahnya. Tak menghiraukan dirinya yang terus memanggilnya.
''ck, Gitu aja ngambek,'' gerutu Armand.
''Ma,'' Wina memanggil mamanya yang duduk gelisah di depan ruang IGD di temani kakak nya. Disana juga ada bibi yang tadi hampir menjadi korban Mita.
''Win,'' Melissa langsung memeluk erat putrinya.
''Gimana sama papa ?''
''Masih ditangani sama dokter,'' Melissa menumpahkan air matanya di pelukan putrinya. Biar bagaimanapun juga, Aryan suaminya, laki-laki yang bertahta dalam hatinya.
''Bagaimana kejadiannya kok sampai seperti ini?'' tanya Armand yang juga berada di sana.
Bibi pun menceritakan semua kejadiannya mulai awal hingga akhir, tanpa ada yang di kurang maupun di tambah.
''Jadi, dia mengira yang di lukai itu suami saya, bi?'' Renita membekap mulutnya tak percaya.
''Wanita itu, sekarang ada di mana, bi ?'' tanya Renita dengan menahan amarahnya.
''Sudah, Ren jangan marah-marah disini,'' bisik Armand di telinga istrinya.
''Sudah di bawa ke rumah sakit jiwa, Non,'' jawab Bibi.
''Kamu ada masalah apa sih mas, sama si hama itu ? Sampai dia terobsesi gitu sama kamu,'' Renita sudah tidak bisa lagi menahan kekesalannya.
''Sudah, kita pulang saja ya,'' Armand menarik tangan istrinya menjauh dari sana. Sebelum di tegur keamanan rumah sakit karena membuat kegaduhan. Lebih baik dia segera mengajak istrinya pulang.
''Tan, semuanya.. Saya permisi dulu ya, sebelum banteng betina keluar tanduknya. Mari.,'' pamit Armand sembari menarik paksa istrinya.
__ADS_1
''Kamu belum jawab aku mas! Aku curiga dulu kamu bukan cuma sahabat 'kan sama si Hama itu. Ngaku kamu!''