My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Agenda Pagi Hari.


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Armand dan Renita sibuk berkemas. Memasukkan segala keperluannya dan keperluan putranya ke dalam mobil, di bantu Mang Udin si sopir keluarga. Setelah memastikan semua sudah masuk dan tidak ada yang tertinggal, Renita berpamitan pada Bi Lastri Asisten rumah tangganya.


''Bi, aku tinggal dulu, ya. Jaga rumah baik-baik.''


''Iya, Mbak Reni. Duh, bakalan kangen sama si Aden gembul ini.'' Bi Lastri mencubit pelan pipi Marvello yang masih terlelap di gendongan ibunya.


''Mbak Reni, hati-hati. Nanti kalau sudah sampai, jangan lupa kabarin bibi,'' pesan Bi Lastri.


''Iya, nanti aku kabarin.'' Renita masuk ke dalam mobilnya.


''Da-da, Bibi....'' Renita melambaikan tangannya dari kaca jendela mobil.


Perlahan-lahan, roda mobil yang di kendarai Armand mulai meninggalkan pekarangan rumahnya. Pria itu, sengaja berkendara sendiri. Agar Mang Udin bisa menjadi teman Bi Lastri menjaga rumahnya.


Tujuan pertamanya, ke rumah orang tuanya untuk berpamitan.


''Mas, nanti kalau di omelin Mama. Kamu tanggung sendiri, ya. Salah sendiri semalam aku suruh pamitan, nggak mau,'' ujar Renita saat mereka sampai di depan gerbang rumah mertuanya.


''Iya,'' jawab Armand pelan dengan wajah masih di tekuk.


Dia kesal karena istrinya tetap bersikukuh menempuh jalur darat. Meski, berulang kali di bujuknya. Dan keberangkatan pagi buta seperti ini, juga atas permintaan wanita itu. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, dia tak tahu.


'Di kasih enak kok, minta yang tidak enak. Naik pesawat 'kan cepat, hanya tiga jam sudah sampai. Kalau ini, berjam-jam baru bisa sampai,' dumelnya dalam hati.


Laki-laki itu, membunyikan klakson lebih dari satu kali, agar satpam segera membukakan pintunya.


''Mas, ih. Anak masih tidur juga, malah di keras-kerasin,'' omelnya sembari menutup telinga putranya.


Armand mengabaikan omelan istrinya, dia menjalankan kembali kendaraannya saat pintu sudah terbuka.


''Pagi, Bi,'' sapa Renita ketika menginjakkan kaki di teras rumah mertuanya.


''Eh, Mbak Reni, tumben pagi-pagi sekali sudah kesini.'' Bibi tampak terkejut melihat kedatangan anak dan menantu dari majikannya, sepagi ini.


''Mama sama Papa sudah bangun, Bi?'' tanya Renita.


''Sudah, Mbak. Ibu lagi masak di dapur, Bapak lagi sama burung kesayangannya di teras belakang,'' jelas si Bibi.


''Ya sudah, aku masuk dulu ya, Bi.''


''Silahkan, Mbak.''


Renita menemui mertuanya yang tengah sibuk dengan peralatan tempurnya di dapur. Sedangkan, Armand memilih langsung ke teras belakang menemui papanya.


''Pagi, Ma,''


Sapaan Renita, mengejutkan wanita paruh baya itu.


''Eh, Reni, tumben pagi-pagi buta sudah kemari.'' Amalia mematikan kompornya, lalu membersihkan tangannya. Baru menghampiri menantu kesayangannya. ''Ada apa?''


''Aku mau pamit, Ma.''


Amalia mengerutkan keningnya. ''Mau kemana?''


''Mau mengunjungi Bapak sama Ibu,'' cicit Renita.


''Kok mendadak?'' Amalia sedikit meninggikan suaranya karena terkejut.

__ADS_1


''Ya, apalagi, jika bukan ulah anak Mama. Semalam aku di buat kelimpungan nyiapin segala keperluan kita sama punya Vello.'' Renita mengadu kepada Ibu mertuanya. ''Alasannya, mau ngasih aku kejutan,'' lanjutnya lagi.


''Dasar anak itu,'' geram Amalia.


''Tapi tenang, Ma. Aku langsung membalasnya,'' kata Renita, ''Aku minta naik mobil. Padahal dia sudah pesan tiket pesawat.'' Renita terkikik geli.


''Bagus! Mama mau menemui anak itu dulu.''


Amalia segera menuju teras belakang untuk menemui putranya. Tapi sebelumnya, dia meminta asisten rumah tangganya untuk meneruskan masakannya tadi.


''Kebiasaan kamu, Ar.'' Amalia menarik telinga putranya dengan gemas.


''Awwww, sakit, Ma.'' Armand mengaduh kesakitan sekaligus terkejut saat merasakan tarikan di telinganya.


''Biarin! Mama kesel sama kamu.''


Armand mengusap telinganya yang terasa panas sambil memanyunkan bibirnya.


''Sudah 'kan? Pamitnya. Kalau sudah kita berangkat sekarang,'' ajak Armand kepada istrinya.


''Sudah. Tapi kamu sudah pamitan ke Papa 'kan, Mas?''


Armand mengangguk saja.


...----------------...


''Kamu kalau nyetir hati-hati, Ar. Nanti kalau sudah sampai segera kabari Mama. Biar Mama tidak kepikiran, Paham?'' pesan Amalia kepada anak dan menantunya.


''Iya, Ma. Nanti pasti Reni kabarin.''


''Kalau Mama tidak berhenti, kapan kita berangkatnya? Siang dikit sudah macet lho, Ma,'' protes Armand.


Dia masih mempertahankan wajahnya yang di tekuk.


''Itu mukanya nggak usah di tekuk terus,'' sewot wanita paruh baya itu.


Renita hanya mengulum bibirnya menahan senyum.


''Ya sudah, Ma. Kita berangkat dulu. Benar kata Mas Armand, siang sedikit sudah macet. Takut Vello gak nyaman.'' Reni menyalami kedua mertuanya secara bergantian.


Amalia memeluk menantunya dan menyempatkan mencium cucunya yang masih anteng memejamkan matanya.


''Duh, Oma bakalan kangen sama si gembul. Sehat-sehat ya, Cucu Oma.''


Armand membunyikan klakson sebelum menjalankan mobilnya.


''Hati-hati,'' teriak Amalia ketika mobil putraya mulai meninggalkan pekarangan rumah.


Perjalanan yang di lalui sepasang suami-istri itu, ramai lancar. Marvello juga tampak tenang, malah terlihat riang dalam perjalanannya. Dia sudah di dudukkan car seat, yang memang di sediakan Armand untuknya.


''Vello anteng banget, sih. Mau ke rumah nenek ya.'' Renita mengajak anaknya berbicara karena sedari tadi suaminya hanya fokus mengemudi tanpa mengajaknya berbicara barang sedikitpun.


Bayi mbul itu membalas dengan memperlihatkan dua giginya, tangan dan kakinya di gerakkan dengan antusias.


''Meski bibirnya di majuin. Mama jadi gemas, deh,'' sindir Renita sambil melirik sekilas suaminya.


Armand berdehem keras.

__ADS_1


''Papamu kenapa, Dek?''


Lagi-lagi, Marvello memperlihatkan dua buah giginya, senyumnya begitu manis ke arah sang Ibu.


''Gak usah nyindir suami,'' sahut Armand dengan tampang datarnya.


''Pede banget papamu, Dek. Nggak ada yang nyindir juga, 'kan cuma bilang.'' Renita mengelak.


''Terserah kamu, Ren.''


''Ngambek lagi,''


''Gak,'' elak Armand.


''Gak salah maksudnya.''


''Ren!'' geram Armand.


''Apa?'' tantang Renita.


''Kamu.....''


'hehehehe....'


Armand memperhatikan putranya dari kaca spion. ''Ngetawain Mama sama Papa debat, kamu dek?''


'hehehe...' Marvello semakin riang dalam tawanya..


''Lihat, tuh! Anak kamu aja senang gitu. Masa bapaknye cemberut mulu. Nggak pegel apa itu bibir di buat manyun mulai dari rumah sampai perjalanan sejauh ini,'' ucap Renita.


''Aku minta naik mobil, bukan tanpa alasan, Mas. Aku mikirin kenyamanan Vello, dia itu selalu rewel tiap kali pesawat take-off. Biar perjalanan agak lama, asal si Vello nyaman,'' jelas Renita panjag lebar.


Armand menghela nafas pelan.


''Aku minta maaf,'' lirihnya, ''Aku tidak kepikiran sampai kesana.''


''Kalau capek, istirahat dulu.''


Armand memgangguk, ''Kita cari Rest Area, kita sarapan sekalian aku mau ngerokok.''


Renita mengangguk setuju.


Dut-dut-dut.....


Renita mengernyit saat mendengar suara mirip suara angin dari dalam tubuh.


''Kamu kentut, Mas?''


''Sembangan!'' sahut Armand tidak terima.


''Terus siapa?'' tanya Renita.


Keduanya menoleh ke arah kursi belakang. Bayi gembulnya tampak menggerak-gerakkan kakinya dengan tangan tangan masih asik memainkan mainannya.


''Hmmm, agenda pagi hari,'' celetuk Renita.


''Ya sudah kita berhenti di depan. Di sana ada Rest Area yang fasilitasnya lengkap."

__ADS_1


__ADS_2