
"Terimakasih, sudah mempercayai perusahaan kami. Sekali lagi, saya minta maaf atas ketidakhadiran atasan kami, Bapak Armand Setiawan. Beliau sedang ada kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan," kata Devan dengan sopan dan lugas pada klien di depannya.
Mereka berjabat tangan tanda pertemuan telah selesai dan temu kata sepakat.
"Tidak apa-apa, saya bisa maklum. Saya cukup tertarik dengan berbagai penawaran yang Anda tunjukkan. Banyak kolega saya yang merekomendasikan jasa perusahaan ini. Semoga, kerjasama kita diberi kelancaran, hingga proyek ini selesai," balas pria paruh baya itu.
"Kalau begitu, saya permisi dulu. Masih ada urusan yang harus saya selesaikan." Pria paruh baya itu undur diri diikuti dua orang bawahannya.
Devan menghela nafas, akhirnya usai sudah pekerjaannya hari ini.
"Kamu pulang dengan siapa?" tanya Devan pada wanita disampingnya.
Dania yang masih membereskan beberapa berkas di meja pun mendongak.
"Sendiri, Pak. Mungkin naik taksi," jawabnya sembari melanjutkan kembali pekerjaannya.
"Saya akan mengantarmu."
Dania mengedipkan matanya. Barangkali, dia salah dengar.
"Bapak bilang apa tadi?" Dania bertanya untuk memastikan.
"Saya akan mengantarmu. Apa ucapan saya kurang jelas? Atau memang telingamu yang bermasalah," kata Devan dengan tampang datarnya.
"Bisa tidak, bapak itu kalau ngomong gak usah pakai menghina segala," sungut Dania dengan mengerucutkan bibirnya.
"Saya menghina kamu, bagaimana?" Devan menaikkannya kedua alisnya.
"Tadi pagi bapak mengatai saya tidak waras, sekarang bapak mengatakan telinga saya bermasalah. Secara tidak langsung bapak mengatai saya tuli." Bibir wanita itu semakin maju saja.
"Jika kenyataannya seperti itu, gak usah marah," sahut Devan dengan entengnya.
Dania menganga mendengarnya.
"Pria ini, diam-diam mulutnya menyimpan bara api, yang sanggup membakar emosi orang. Dasar es balok, papan berjalan! Belum pernah coba sepatu rasa ayam goreng. Untung cinta, sabar Dania," batin Dania berceloteh ria.
"Saya tahu, kamu mengumpati saya. Tapi, jangan berkas juga yang menjadi pelampiasan. Itu berkas penting."
Ucapan Devan, berhasil menyadarkan Dania dari kekesalannya. Matanya beralih ke tangan yang tengah meremat kertas, hingga tak berbentuk. Dia menepuk keningnya sendiri atas kecerobohan dirinya.
Devan hanya mampu menahan tawa. "Dasar wanita aneh."
"Sudahlah, biarkan kertas itu, saya masih punya salinannya. Ayo, kita pulang. Hari mulai gelap," ajak Devan.
Suasana dalam mobil hanya ada keheningan. Devan fokus pada kemudinya, dan Dania memilih memperhatikan jalanan yang mereka lalui. Tidak ada dari mereka yang berniat membuka pembicaraan. Dania sendiri bingung harus bertanya apa kepada Devan. Dia tidak sedekat itu, hanya sebatas mengagumi dalam diam, menyimpan rapat-rapat perasaanya.
"Rumahmu daerah mana?" tanya Devan.
Dania mengalihkan perhatiannya pada pria di sampingnya.
"Untuk apa, bapak tanya-tanya rumah saya? Bapak mau mampir ke rumah saya. Abang saya galak lho, Pak," kata Dania dengan kepercayaan dirinya.
"Untuk mengantarmu. Memangnya kamu mau saya turunkan di pinggir jalan?"
Dania melipat kedua bibirnya, sepertinya dia salah bicara.
"Ya-ya, gak maulah! Gak berperasaan banget, nurunin cewek di pinggir jalan, sendirian lagi," protesnya.
"Makanya, saya tanya rumah kamu daerah mana, Dania. Saya juga tidak setega itu membiarkan wanita sendirian di pinggir jalan. Apalagi keadan gelap begini," kata Devan dengan kekesalannya.
"Perumahan Melati. No. 33."
__ADS_1
Setelah itu, kembali hening. Hingga suara handphone Dania, memecah keheningan diantara mereka.
"Hallo, Bang."
"Ini gue...,"sahut Wina.
"Ada apa?" tanya Dania.
Dia sudah hafal, jika kakak iparnya sudah menelpon itu tandanya dia ingin titip sesuatu kepadanya.
"Popok si Winda sudah habis. Tadi abang loe lupa beli. Sebagai adik ipar dan aunty yang baik, beliin, ya...," kata Wina diakhiri suara cengengesan.
"Sekalian antar kemari," lanjutnya.
"Laki loe kemana, sih? Minta laki loe aja yang beliin. Gue masih kerja, belum pulang," sewot Dania.
Dia sangat malas jika harus kesana. Bukan karena apa, dia hanya tidak ingin berjumpa dengan Andrew. Semakin hari pria itu, semakin menunjukkan perasaannya terhadap dirinya. Bahkan, pria matang itu selalu mencari celah untuk mendekatinya.
Setelah melahirkan, Wina diminta Oma dan ibunya untuk tinggal bersama mereka. David pun tidak keberatan. Dia malah sangat mendukung keputusan itu. Karena dia tidak lagi khawatir saat dan istri, ia tinggal bekerja. Belum lagi, jika harus lembur.
"Elah, Nya, gak usah bohong. Selembur-lemburnya loe, gak sampai tengah malam. Gue juga udah telpon orang kantor tadi." sergah Wina.
Dania menghela nafas, mau tidak mau dia harus menuruti perintah Nyonya David itu. Jika tidak, bisa dipastikan. Abangnya akan menceramahi dirinya dengan ceramah panjang, sepanjang jalan kenangan bersama mantan terindah, alias tidak akan berhenti. Dengan terpaksa pula, dia harus ke rumah itu.
Tapi, sejurus kemudian bohlam lampu bersinar di dekat kepalanya.
''Iya, Oke. Gue beliin. Loe jadi kakak ipar kagak usah nyerocos mulu. Pusing gue dengernya,'' ucap Dania dengan nada malasnya.
''Gitu, dong. Mamacih, Onty,'' balas Wina dengan menirukan suara anak kecil.
Dan sambungan pun terputus.
''Iya, tunjukkan saja alamatnya,'' jawab Devan datar.
''Kediaman Aryan Winata, bapak pasti tau.''
''Hmmm....''
''Gitu amat jawabnya kek gak ikhlas." Dania menggerutu.
...----------------...
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, tibalah Dania di kediaman kakak iparnya.
Wanita itu turun dengan membawa dua kantong besar belanjaan pesanan Wina. Pasalnya, bukan hanya diapers yang dia minta, tapi sederet kebutuhan pribadi kakak iparnya juga kebutuhan keponakannya.
''Dasar ipar gak ada akhlak, dikira gue pembantu apa?'' Dania terus saja menggerutu, mengumpati sahabat sekaligus iparnya itu.
Dia benar-benar kesal, Wina seperti mengerjainya menggunakan jurus aji mumpung.
"Saya bantu.'' Devan meraih satu plastik besar berisi tiga buah bungkus diapers berukuran jumbo.
"Terimakasih."
Dania dan Devan memasuki rumah dengan langkah beriringan. Sesampainya di ruang tamu, dia langsung di sambut oleh Oma dan Melissa.
''Malam, Oma, Tante Mel,'' sapa Dania.
''Eh, Dania. Kesini kok gak bilang-bilang. Kan bisa dijemput Andrew atau David." Melissa menghampiri dan menyambut ramah adik menantunya.
Mendengar suara ibunya menyebut nama gadis yang dia suka, Andrew langsung keluar dari tempatnya.
__ADS_1
''Hai, Dania....''
Melihat kedatangan pria yang dia hindari, Dania segera merangkul lengan pria di sampingnya. Devan yang tak siap pun merasa terkejut, hanya bisa mematung.
''Hallo, Kak And." Dania membalas sapaan pria itu dengan senyum manisnya.
''Siapa dia?'' tanya Andrew.
Dia menyorot tak suka pria yang dirangkul mesra oleh Dania.
''Pacar baruku,'' sahut Dania.
Devan ingin membantah tapi kakinya keburu diinjak oleh gadis itu.
''Iya, 'kan, Sayang,'' ucap Dania dengan penuh penekanan. Tangannya semakin erat merangkul lengan kekar itu.
Devan hanya bisa mengangguk sembari menahan ngilu di kakinya. Bagaimana tidak? Dania memakai high heels, bagian lancipnya mengenai tepat jempol kakinya.
"Oh, ya Tante Mel. Ini semua pesanan Wina. Aku letakkan disini aja, ya. Aku mau langsung pamit," ujar Dania.
"Loh, gak diajak duduk dulu pacarnya. Sekalian dibuatkan minum," kata Melissa.
''Enggak usah, Tan. Udah malam. Besok pagi kan ada pertemuan penting. Iya,'kan, Sayang?"
Lagi-lagi, Devan mengangguk. Ikuti saja sandiwara gadis ini, pikirnya.
''Ya sudah kalau begitu. Hati-hati di jalan. Makasih lho, ya. Sudah mau direpotkan," ucap Melissa.
''Iya, Enggak apa-apa. Permisi....''
...----------------...
"Pak,'' panggil Dania pelan.
Kini, mereka sudah berada di depan rumah Dania.
''Hmmm.''
''Saya minta maaf." Dania meremat jari jemarinya.
''Untuk?''
''Untuk yang tadi. Saya.... Saya terpaksa,'' lirih Dania dengan menundukkan kepalanya.
''It's, Okey, no problem,'' sahut Devan.
Dania menghela nafas lega.
''Tapi tidak gratis,'' bisik Devan tepat di telinga Dania.
Wanita itu menegang seketika.
''Maksud, Bapak?''
''Kamu harus mendapat hukuman atas tindakanmu tadi.'' Devan menyilangkan tangannya di dada.
''Hukuman?'' beo Dania.
''Ya, masih saya pikirkan. Sekarang kamu masuk dan tidur. Besok pagi ada pertemuan pertemuan penting,'' tutur Devan menyeringai.
Wanita itu, menelan ludahnya kelat.
__ADS_1