My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Berharap itu Salah


__ADS_3

Renita terbangun ketika mendengar suara rintihan di sisinya. Dilihatnya tubuh sang putra nampak menggigil dengan bibir pucat kering.


''Ya ampun, Vel. Badanmu panas banget," ucapnya saat menyentuh pipi dan dahi anaknya.


"Haduh, gimana ini? Mana papamu lagi di luar kota," gumamnya dengan panik.


Renita segera meraih ponsel yang berada tak jauh darinya. Dia berniat menghubungi sang suami, namun urung saat melihat jam pada ponselnya masih menunjukkan pukul enam pagi.


''Pasti masih tidur. Semalam 'kan dia pulang larut. Nanti saja lah...."


Wanita itu beralih menghubungi dokter keluarga, lalu memintanya datang ke rumah untuk memeriksa putranya. Namun sayang, dokter sedang ada urusan keluarga di luar kota.


''Sebaiknya, Nyonya bawa saja ke rumah sakit. Saya akan menghubungi teman saya. Jadi, nyonya tidak perlu antri nanti." Si dokter memberi saran.


Renita hanya mengiyakan.


''Teman saya akan standby pukul delapan pagi. Nanti, Nyonya masuk saja. Saya mendaftarkan atas nama Anda."


''Baik, Dok. Terima kasih ya ... Maaf sudah merepotkan."


Panggilan pun berakhir.


''Ama," panggil Marcello dengan nada lemahnya.


''Iya, Sayang." Renita berkata tepat di dekat telinga putranya.


"Papa...."


''Papa masih kerja, besok baru pulang," ucap Renita penuh kelembutan.


''Eyo mau apa, cekayang," pintanya dengan manja.


''Mama telpon kan saja ya.... Papa jauh." Wanita itu berusaha memberi pengertian pada putranya.


''Mau...."


Renita segera menghubungi sang suami, sudah deringan ke sekian, namun belum ada tanda-tanda akan mendapat respon dari pria di sebrang sana.


''Kamu kemana, sih, Mas? Gak tau apa anakmu nyariin. Gak biasanya kamu tidur ngebo," dumel wanita itu dengan ponsel menempel di telinga.


''Papa, Ma...," rengek Vello lagi.


Karena merasa usahanya sia-sia, dia meletakkan kembali benda pipihnya berganti mengurus putranya.


"Papa gak bisa dihubungi, Sayang. Papa sedang sibuk mencari uang yang banyak buat beli mainan sama es krim buat Vello. Jadi, kita gak boleh ganggu papa ya, Sayang."


Balita itu mengangguk dengan wajah pucatnya. Meskipun kekecewaan terpancar jelas dari binar matanya.


''Sekarang kita siap-siap cari obat. Biar besok pas papa pulang Vello sudah sembuh. Mau ya..."

__ADS_1


Marvello hanya mengangguk lemah. Renita segera memakaikan pakaian tebal pada tubuh putranya, lalu menggendongnya keluar untuk bersiap-siap menuju rumah sakit.


...----------------...


"Ma, itu papa." Vello menunjuk seorang pria yang tengah mengantri di depan ruangan dokter kandungan di sampingnya ada seorang wanita berperut buncit.


Kini, pasangan ibu dan anak itu sedang mengantri pengambilan obat di Apotek Rumah Sakit.


''Vello salah lihat, papa lagi diluar kota, Sayang," balas Renita tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


Dia tengah berbalas chat dengan para sahabatnya yang menanyakan keberadaannya.


''Dak, Ama. Eyo dak cayah. Itu apa, Ma." Balita itu masih bersikukuh dengan pendiriannya.


Karena merasa penasaran, Renita mengikuti arah telunjuk putranya. Dia menajamkan penglihatan berharap apa yang dia lihat juga salah. Dari gestur pria itu memang sangat mirip dengan suaminya tapi untuk apa dia berada disini, bukannya dia sedang perjalanan bisnis, batinnya bertanya-tanya.


Untuk memastikan, dia segera memencet nomor sang suami. Renita tak mengalihkan pandangan barang sedetikpun dari pria itu, dikala dia menunggu panggilannya diangkat.


''Hallo."


''Kamu di mana, Mas?" tanya wanita itu dengan menahan geram.


''Aku baru bangun tidur, Sayang. Kenapa?"


''Jangan bohong kamu! Disekitarmu sangat berisik. Di mana kamu, Mas?" Renita terus mencecar suaminya dengan tatapan penuh amarah.


''Iya. Aku melihat jelas jika itu kamu, penglihatanku masih normal."


''Kamu di mana, Ren?" tanya pria di seberang sana dengan nada gusar.


''Bukan urusanmu. Siapa dia yang bersamamu?"


''Aku sendirian, tidak bersama siapa-siapa," sangkal Armand.


''Yuk, Mas. Kita dipanggil."


''Siapa wanita yang bersamamu? Aku mendengar jelas suaranya." Mata wanita itu sudah memanas. Dia belum percaya dengan apa yang dilihatnya.


''Aku-aku ... Bisa jelaskan. Jangan salah paham dulu."


''Tidak perlu apa yang kulihat sudah sangat jelas."


''Mas, sudah dong telponnya. Sudah dipanggil dokter." Terdengar jelas nada kesal seorang wanita di seberang sana.


''Maaf jika aku mengganggu waktumu dengan wanitamu." Renita mematikan panggilan itu secara sepihak.


Dia berharap jika itu semua hanyalah sebuah kesalahan. Dia masih melihat dengan jelas pria yang di telponnya tadi masih mencari-cari keberadaannya, namun tak berapa lama tangan pria itu ditarik oleh wanita yang bersamanya memasuki sebuah ruangan.


"Anak Marvello." Suara seorang petugas membuyarkan lamunannya. Dia bergegas menuju tempat itu untuk menebus obat sang anak.

__ADS_1


Renita merenung sendiri di balkon kamarnya. Kejadian di rumah sakit tadi masih terekam jelas dalam ingatannya. Sepenuhnya, dia masih belum mempercayai itu semua. Banyak pertanyaan yang bersarang dalam benaknya dan hanya Armand yang bisa menjawab.


''Ama mayah ya cama Eyo?"


Renita segera menghapus sisa air mata ketika mendengar suara anaknya.


''Tidak, Sayang. Buat apa mama marah sama anak mama yang ganteng ini."


"Dali tadi ama diam. Eyo akut ama mayah," ucapnya dengan merangsek ke dekapan sang ibu.


''Tidak, Sayang." Renita mendekap erat tubuh mungil itu.


Air mata kembali mengalir dengan deras. Dia menciumi puncak kepala anaknya berkali-kali.


''Vello tidur ya, biar obatnya bisa bekerja. Nanti main lagi," kata wanita itu dengan menahan tangis.


''Iya, Ama...."


Tanpa menunggu lama, balita itu terlelap dalam pelukan hangat sang ibu. Setelah memastikan jika anaknya benar-benar pulas, Renita membawa Marvello ke kamarnya. Tak lupa pula, memasang selimut hingga sebatas dada.


''Ren, kita perlu bicara." Armand menghadang istrinya yang baru keluar dari kamar buah hatinya.


''Katanya pulang besok, kenapa sekarang sudah sampai rumah? Bukannya kamu sedang ada di luar kota," ucapnya dengan sinis.


''Ren, aku bisa jelaskan."


''Tidak ada yang perlu dijelaskan. Semua sudah sangat jelas."


''Apa yang kamu lihat tidak sesuai dengan kenyataan yang ada, Ren." Armand terlihat sangat frustasi.


''Apapun kenyataannya, aku tidak peduli. Yang jelas aku sangat kecewa karena kamu telah membohongiku, Mas."


''Minggir, badanmu yang besar itu menghalangiku." Renita mendorong kasar tubuh suaminya agar menjauh.


Dia berlalu begitu saja, tanpa memedulikan Armand yang berteriak terus memanggilnya.


''Tidak usah teriak-teriak, anakmu baru tidur setelah minum obat.''


''Vello, kenapa?''


Renita membalikkan tubuh, kemudian menatap tajam suaminya. ''Untuk apa kamu tanya-tanya tentang keadaan Vello. Bukannya kamu tidak peduli."


''Ren, aku sudah berusaha untuk mengajakmu bicara baik-baik, tapi kenapa tanggapanmu selalu sinis seperti itu? Apa aku salah, aku menanyakan keadaan anakku?" Hilang sudah kesabaran pria itu.


''Gak usah sok peduli kamu, Mas. Kemana aja kamu saat anakmu merengek mencari ayahnya. Berkali-kali, aku menelponmu tapi tidak sekalipun kamu angkat. Ooo, aku tahu, kamu pasti masih sibuk dengan wanitamu, 'kan?"


"Renita," geram Armand.


''Sebaiknya, kamu gak usah pulang, Mas. Kalau cuma mau ngajak ribut." Renita membanting keras pintu kamar di hadapan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2