
Tiga hari sudah Renita di rawat di rumah sakit. Pendarahan nya sudah berhenti, kandungan nya juga semakin kuat. Hanya saja, tubuhnya masih lemas. Jadi, belum diperbolehkan pulang.
Selama dirawat, Renita tak pernah kesepian. Meski jauh dari orang tuanya. Ada cs-nya yang selalu ada, juga Amanda yang setiap hari datang bersama putri kecilnya saat semuanya sedang bekerja. Kadangkala bersama suaminya, jika tidak sibuk.
Amalia sendiri jarang datang tapi selalu menyempatkan menjenguk wanita yang sedang mengandung cucunya itu, walau hanya sebentar. Di tengah kesibukannya mempersiapkan acara pernikahan putranya beberapa hari ke depan.
Kini, Armand juga sudah merekrut dua orang pria untuk di jadikan asisten serta sekretaris untuk menggantikan Renita sementara waktu. Laki-laki itu, memilih sekretaris laki-laki karena masih trauma dengan peristiwa naas itu.
Bagaimanapun juga, dia tak ingin Renita terlalu lelah demi kebaikan wanita itu, juga calon buah hatinya.
Setiap malam, Armand selalu menemani Renita di rumah sakit. Armand selalu menyempatkan memenuhi ngidam si bumil di tengah kesibukannya.
Seperti saat ini, Renita minta rujak serut yang sama seperti waktu itu.
Mata wanita itu, berbinar melihat tentengan plastik yang di bawa Armand. Dia langsung merebutnya dan memakan langsung dari plastiknya.
''Pelan-pelan, gak ada yang minta. Aku beli lebih buat kamu,'' tegur Armand.
Renita hanya mengangguk sambil memakan rujak itu dengan lahap seolah seperti makan nasi.
''Enak banget, aku mau lagi,'' ujar Renita dengan merebut plastik yang ada di tangan Armand.
Laki-laki itu langsung menjauhkan plastik di tangannya untuk mencegah Renita yang ingin mengambil lagi.
''Kenapa? Katanya buat aku semua..'' Renita cemberut dengan mata berkaca-kaca.
''Sudah makan nasi belum ?'' tanya Armand penuh kelembutan.
Renita menggeleng.
Armand meraih nampan yang berisi makanan lalu menyuapinya.
''Aku tadi gak nafsu lihat ini. Tapi setelah di suapin sama bapak, kok jadi pengen nambah. Eh, tapi nggak, deh. Kasian rujakku kalau aku kekenyangan,'' kata Renita dengan manjanya.
Armand tersenyum menanggapinya.
''Setelah ini, minum obat dulu, baru makan rujak lagi,'' kata Armand sambil menyuapkan suapan terakhirnya.
Renita merasa sangat dicintai oleh pria ini. Tapi setelah mengingat kenyataan, jika Armand akan menikah beberapa hari lagi senyumnya kembali pudar.
__ADS_1
Tapi dia tak ingin ambil pusing itu, yang terpenting sekarang dia sehat dulu. Kesehatannya dan janinnya saat ini yang menjadi prioritas nya.
Renita memutuskan mempertahankan janin ini setelah bertemu putri kecil Amanda. Dia membayangkan menggendong, bercanda, bermain dengan anaknya. Belum lagi pipinya yang bulat serasa ingin menggigitnya saja, sungguh tak sabar melihat betapa menggemaskannya dia.
Ngomong-ngomong, Renita sudah dekat dengan Amanda, sedekat dengan cs-nya. Begitu juga, trio heboh mereka juga se-frekuensi dengan ibu muda itu. Amanda selalu nyambung dengan pembahasan mereka.
Mungkin, karena memang usia nya lebih muda dari mereka semua.
Amanda juga nyaman bergaul dengan Renita cs. Dia seperti menemukan teman baru yang se-frekuensi dengannya.
'' Renita, I am coming,'' teriak reva.
''Haish, bisa gak, sih? Gak teriak-teriak. Kuping gue pengang,'' protes Wina yang ada di dekatnya.
''Ex-calon kakak ipar, ex-calon adek datang, yuhuu!'' seru Dania.
Sungguh, rasanya Armand ingin menyumpal mulut ketiga gadis itu, mereka selalu membuat kegaduhan di manapun mereka berada. Jika bukan demi wanita di hadapannya, sudah dia eksekusi mereka semua.
''Eh, Pak Armand disini juga?'' tanya Reva.
''Saya harus kembali, jaga Renita. Ingat! saya memberi kelonggaran pada kalian untuk menjaganya. Saya anggap ini sebagai lembur kalian,'' tegas Armand dengan tatapan intimidasinya.
...----------------...
''Ren, loe tahu gak, sih? Kalau Pak Armand jadi nikah sama Nyi Blorong itu, gue kira do'i bakal batalin. Eh, ternyata....'' Reva menggantungkan ucapannya.
''Ho'oh, kita udah lihat tadi orangnya. iihh, amit-amit na'udzubillah.'' Wina mengetuk pelapisnya dengan meja bergantian.
''Gue aja sebagai cewek malu liat penampilannya. Itu lho, bajunya, bukitnya kek mau tumpahh kemana-mana. Mana perutnya melendung gitu, pake baju ketat amat..'' Dania bergidik ngeri mengingat itu.
''Eh, tapi gue curiga, deh. Masa hamil tiga bulan segede itu? Prediksi gue lebih, itu. Yakin seribu persen!'' tebak Dania.
''Dimana kalian melihatnya?'' tanya Renita
''Tadi di lobby pas kita mau kesini. Ngamuk-ngamuk persis orang gila. Pake acara ngancem Amel resepsionis segala lagi. Katanya, dia bakal pecat semua orang yang mencegahnya masuk,'' papar Dania panjang lebar.
''Gue udah gedek banget tadi. Tangan gue udah gatel pengen gampar itu orang. Dandanan kek badut mampang gitu aja, belagu,'' kesal Wina.
Bohong, jika Renita tidak sakit hati, mendengar semua itu. Apalagi, nasibnya sekarang masih abu-abu. Tapi, Renita tetap berusaha menampilkan senyum termanis nya. Menunjukkan pada sahabat-sahabatnya dia masih baik-baik saja.
__ADS_1
Kadang, dia juga bingung dengan sikap Armand. Yang seolah menunjukkan, jika dia sangat mencintai nya. Perlakuannya selalu lembut, perhatian padanya dan calon baby yang di kandungnya.
Tapi, kenapa Armand masih ingin menikahi Monita? Padahal dia sudah tegas menolak tak ingin dimadu.
Bolehkah, aku egois Ingin memilikinya seutuhnya?
''Woy, Ren! bengong aja lu," seru Reva.
''Eh, ngg-nggak kok, gengs." Renita gelagapan sendiri setelah ketahuan melamun.
''Kalian mau bantuin gue, gak?" celetuk wanita hamil itu tiba-tiba.
''Apa, Ren? Kita selalu ada buatmu,'' kata Wina, diangguki yang lainnya.
''Kalian pasti dateng 'kan, ke nikahan si Kompeni?'' Renita menatap ketiga sahabatnya satu per satu.
Ketiganya mengangguk..
''Tolong, live streaming on sosmed, dong. Pas akadnya," pinta renita dengan wajah memelas.
''Waduhh, berat ini. Soalnya , undangan kita 'kan pas resepsi. Waktunya terpisah, Ren," kata Wina.
Mereka semua tampak berfikir.
''AHA! GUE ADA IDE,'' teriakan Reva berhasil membuat ketiga wanita di dekatnya terkejut,
''Gimana kalau kita minta bantuan si new cogan, kacungnya Kompeni?".
Renita mengerutkan alisnya tak mengerti.
''Aduh, Va. Loe kalau gak jago ngomong Inggris, gak usah sok Inggris. Yang ada pusing gue,'' keluhnya.
''Itu lhoo, asisten sama sekretaris barunya si bos 'kan cowok semua,'' jelas Dania.
''Emang mereka mau?'' tanya Renita ragu
''Jangan panggil Reva, kalau gini aja gak berhasil,'' sombongnya.
''Awas gagal!''
__ADS_1