
Dania mondar-mandir tidak jelas di kamarnya, kuku-kuku panjang tak berdosa menjadi pelampiasan giginya untuk menghilangkan rasa gelisah tak berkesudahan. Peristiwa beberapa hari belakangan yang ia lihat sangat mengganggu pikirannya. Tawa Devan, senyumnya, keceriaannya bersama wanita itu terus berkelebat dalam ingatannya.
"Apa aku harus seperti Sandra, ya? Biar Pak Devan tertarik denganku."
Dania berdiri di depan cermin kamarnya, meraba wajahnya sendiri, kemudian beralih ke rambutnya.
"Pantas dia gak tertarik sama gue. Orang gak pernah dandan gini, sedangkan wanita itu riasannya seperti artis Korea. Gak kayak gue, dandan ala kadarnya," gumamnya dengan terus memperhatikan pantulan dirinya di depan cermin.
Sejurus kemudian, sebuah ide cemerlang melintas dalam otaknya. Dia segera meraih ponsel, lalu membuka tutorial ber-make-up dari sebuah aplikasi. Dania begitu fokus memperhatikan seorang konten kreator mengaplikasikan semua alat riasnya. Tak lupa, dia juga memberitahukan fungsinya.
"Kenapa ribet begini? Belum nyoba aja udah pusing. Mana banyak banget lagi. Itu kenapa juga pakai lipstik sampai dua warna, pemborosan."
"Eh, tapi hasilnya bagus juga. Jadi pengen coba,'' ucapnya untuk mengakhiri sesi komentarnya.
Tanpa berfikir panjang, Dania segera mencari produk-produk seperti yang ada di video, di sebuah platform jual-beli online.
Setelah selesai membuat pesanan, wanita itu kembali berdiri di depan cermin riasnya. Memundurkan sedikit tubuhnya agak kebelakang hingga terpampang pantulan seluruh tubuhnya.
"Wanita itu modis, berarti gue juga harus seperti itu."
Dia segera membongkar seluruh isi lemarinya, kemudian mengeluarkan seluruh pakaian kerja yang dia punya.
"Hemm, gue kok bingung. Gue harus bisa me-mix and match, biar terlihat cantik dan menawan,'' ujarnya dengan gaya lebay.
"Oke, gue bakal tampil beda besok. Dari segi pakaian dulu, segi riasan menyusul. Pak Devan lihat penampilanku besok. Kau akan terpesona."
...----------------...
Keesokan paginya....
Dania berjalan agak pelan akibat high heels yang dipakainya. Berulang kali dia berusaha menyeimbangkan tubuhnya karena hampir terjatuh. Bukannya tidak terbiasa, hanya saja sepatu yang dia pakai, kakinya terlalu kecil juga terlalu tinggi. Tidak seperti yang biasa dia gunakan, belum lagi rok span yang terlalu sempit. Sungguh ini benar-benar menyiksa.
Mengingat, biasanya wanita itu memakai celana bahan panjang dengan atasan berwarna senada. Kini, dia terpaksa memakai pakaian seperti itu.
"Heran gue sama itu cewek. Gak ribet ya, gue aja berusaha keras berpenampilan kek gini. Tapi demi cinta aku rela," ucap Dania di sela langkah kakinya memasuki lobby.
"Wow, ada yang beda."
Dania merotasi bola matanya, kenapa satpam jomblo ini yang selalu berkomentar, disaat semua orang terlihat abai dengan penampilannya.
"Aryo lagi, Aryo lagi," keluh Dania.
"Ada misi apa, nih? Sampai berdandan seperti ini," ucapnya sembari memindai penampilan Dania dari atas hingga bawah.
"Loe bisa gak, sih, cuek gitu kayak yang lain. Kagak usah kebanyakan cincong. Gue kok berharap si Wina ada disini, ya."
Aryo menelan ludah kelat. Diantara Renita cs, hanya Wina yang tidak berani dia ganggu. Wanita itu terlalu menakutkan untuk disebut wanita.
__ADS_1
"Hehe, maaf. Gak lagi, gak lagi. Silahkan masuk, Mbak Dania," cengirnya.
"Gue gibeng loe," seru Dania sebelum meninggalkan tempat itu.
"Galak amat."
Dania berlalu dengan langkah pelan hingga beberapa menit kemudian, dia sudah berada di depan lift.
"Aduh, kaki gue kok perih, ya."
Dania mengurungkan niatnya ingin mengecek kondisi kakinya ketika melihat sang pria pujaan juga berada di posisi tak jauh darinya.
"Pagi, Pak Devan," sapa Dania dengan nada di buat sehalus mungkin.
"Pagi."
Seperti biasa cuek, datar, minim ekspresi mirip papan kayu berjalan.
Dania mencoba merapikan rambut panjangnya yang sengaja digerai, berharap pria di depannya ini akan meliriknya. Tapi nihil, Devan sama sekali tak memperhatikan justru sibuk dengan ponsel.
Ting!
Pintu lift terbuka, Devan segera memasukinya, kemudian disusul Dania. Karena kurang menjaga keseimbangan tubuhya, salah satu kaki Dania terkilir sendiri dan jatuh menimpa tubuh bagian depan dari atasannya.
Devan yang tidak siap pun nyaris menjatuhkan benda pipih di tangannya, sedangkan tangan yang lain reflek menangkup pinggang gadis itu.
"Apa kamu tidak bisa hati-hati?" tanya Devan dengan raut datar.
"Maaf, Pak."
Wanita itu hendak menegakkan kembali tubuhnya tapi Devan segera mengeratkan dekapan tangannya yang ada di pinggang gadis itu.
"Kenapa, Pak?" tanya Dania dengan tatapan bingung.
Pria itu hanya menatap intens kearahnya. Dania menggerakkan matanya gelisah kesana-kemari untuk menghindari tatapan mata tajam itu. Sungguh, ia sangat tidak nyaman dengan posisi ini.
"P-pak, ki-kita sedang di lift-''
"Siapa yang bilang ini di kantin?''
Dania menggelengkan kepalanya cepat.
"Takut ada yang melihat," cicitnya.
"Hanya ada kita berdua."
"Kamu sengaja, 'kan?''
__ADS_1
Dania memberanikan diri menatap mata itu.
"Maksud, Bapak?''
"Kamu sengaja menubrukkan tubuhmu kepada saya."
"Tidak! Saya memang terkilir karena sepatu saya." Dania berusaha melepaskan diri dari pria itu tapi dekapan tangan Devan semakin kuat.
"Lepas, Pak," pintanya dengan nada pelan.
"Tidak akan! sebelum kamu mengakuinya."
"Tidak, Pak. Saya tidak sengaja. Saya minta maaf."
Devan semakin mengeratkan dekapannya hingga membuat Dania harus menahan nafasnya akibat jarak yang semakin dekat. Aroma mint tercium jelas di indra penciumannya.
"Pak, sebentar lagi lift akan terbuka."
"Biarkan memang sudah waktunya," sahut Devan dengan santainya.
"Nanti ada yang melihat kita seperti ini rahasia kita akan terbongkar."
"Memang kenapa?''
Dania terkesiap mendengar jawaban pria itu.
"Mungkinkah?'' batinnya.
"Apa bapak siap untuk itu?"
"Sangat siap!" jawabnya dengan tegas.
Ada binar kebahagiaan dari sorot mata gadis itu.
"Dengan begitu, semua akan semakin sempurna."
Bagaikan diajak terbang setinggi mungkin, lalu dihempaskan kasar ke dasar bumi paling dalam.
Itulah yang dirasakan Dania, senyum yang semula terkembang perlahan memudar dengan sendirinya. Ada kekecewaan mendalam dari pancaran matanya. Dia hanya bisa tersenyum kecut.
Dia mendorong kuat tubuh kekar itu, lalu segera menjauhkan tubuhnya sejauh mungkin dari jangkauan Devan.
"Kau kenapa, Dania?"
Dania hanya diam seribu bahasa, enggan menjawab sepatah katapun. Dia benar-benar kecewa dengan sikap pria itu.
Ting!
__ADS_1
Pintu lift terbuka.
Tanpa memedulikan rasa perih pada kakinya, Dania melangkah dengan tergesa mendahului sang atasan. Dia tidak peduli jika dianggap tidak sopan dengan atasan.