
"Apa kalian yakin dengan keputusan ini? Terutama kamu, Nia." David menatap penuh intimidasi dua manusia di depannya.
''Seratus persen yakin, Bang," jawab Dania mantap.
''Pikirkan lagi matang-matang. Abang tidak ingin peristiwa memalukan kemarin terulang kembali." David berkata penuh penekanan.
Dia paham betul adiknya ini masih sangat labil. Dania hanya besar badannya tapi tidak dengan pikirannya.
Semalam, dia mendapat kabar dari sang istri kalau adiknya meminta bertemu untuk membicarakan masalah serius. Dengan mengesampingkan rasa lelah bahkan belum cukup istirahat, David menyambangi rumah yang di tempati adiknya. Kebetulan kedatangannya hampir bersamaan dengan kedatangan Devan. Jadi, tak butuh waktu lama bagi mereka untuk mengutarakan maksudnya. Berharap masalah ini segera terselesaikan.
''Kedepannya pasti ada masalah yang lebih berat dari kemarin. Sebelum terlanjur melangkah, abang sarankan kau memikirkannya lagi, Dania."
''Dua malam penuh aku tidak bisa tidur memikirkan masalah ini, Bang. Apa masih kurang?" sahut Dania kesal.
"Aku sudah memantapkan hatiku, abang tenang saja."
''Baik abang pegang ucapanmu. Setelah ini, abang tidak mau lagi mendengar pembatalan sepihak darimu. Abang cukup malu di depan rekan bisnis abang, gara-gara perbuatanmu itu," tegas David.
Dania menelan ludah kasar. Dia berusaha meneguhkan tekad, apapun yang terjadi ke depannya, dia akan berusaha hadapi sendiri.
''Sekarang, aku bertanya padamu, Van. Apa kau siap menghadapi segala tingkah kekanakan adikku?"
''Sangat siap," tegas Devan.
''Meskipun kau melakukan ini demi ibumu. Aku harap kau bisa menjaga adikku sepenuh hati. Jangan pernah sekali-kali menyakiti hatinya apalagi fisiknya. Karena aku tidak akan pernah mengampunimu. Aku akan mencarimu bahkan ke lubang semut sekalipun," ujar David dengan tatapan penuh intimidasi.
''Ada yang perlu diralat dari ucapan Anda. Saya memilih Dania dari lubuk hati saya yang paling dalam. Memang pada awalnya, saya melakukan demi ibu tapi semakin sering saya bersama dan mengenalnya lebih jauh. Rasa itu tumbuh dengan sendirinya. Hingga saya tak bisa mengendalikan diri saya ketika dia terus-menerus menolak saya. Hati saya selalu panas setiap kali membayangkan Dania bersanding dengan pria lain. Saya tidak akan pernah rela. Dania harus menjadi milik saya," tutur Devan panjang lebar dengan tatapan lurus ke depan.
David tersenyum tipis mendengar pengakuannya. Dia sangat yakin untuk melepas adiknya bersama pria ini. Sedangkan, Dania menatap tak percaya. Berulang kali, dia meyakinkan jika ini bukanlah mimpi tapi ini nyata. Devan telah membalas perasaannya. Ada banyak kupu-kupu yang menggelitik perutnya hingga dia tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum.
__ADS_1
Tanpa aba-aba, Dania langsung menghambur memeluk pria pujaannya. Mengabaikan tatapan si abang yang seolah hendak mengoy*knya hidup-hidup.
Devan yang tidak siap pun hampir limbung ke belakang. Beruntung, dia bisa menguasai bobot tubuhnya dan tubuh wanita di depannya.
''Terimakasih, Pak Devan."
Dania melerai pelukannya, kemudian menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca.
''Aku bahagia. Akhirnya, harapanku terwujud. Terima kasih, Pak Devan."
Wanita itu kembali memeluk pria jangkung itu. Perlahan namun pasti, Devan mulai membalas pelukan Dania, mengusap lembut punggung berambut sebahu itu.
''Sepertinya pernikahan kalian harus segera di percepat.''
Suara dingin itu membuyarkan suasana romantis dua insan yang tengah berbunga-bunga. Dania segera melepas dekapannya, beralih menatap tajam sang kakak.
''Lihat orang pelukan aja langsung sensi. Mana si Wina lagi palang merah juga, 'kan?''
Devan hanya bisa meringis mendengar kalimat frontal calon istrinya. ''Kenapa dia yang bilang aku yang malu. Dasar gadis aneh,'' tanyanya dalam hati.
"Tunda acara romantis kalian. Segera tentukan tanggal yang tepat untuk acara pernikahan," titah David tanpa mau dibantah.
''Dan suatu lagi....''
Baik Dania maupun Devan saling menatap satu sama lain menunggu kelanjutan ucapan David.
''Pernikahan kalian diadakan secara sederhana di rumah ini. Tidak ada pesta atau apapun itu. Semua rencana kemarin batal. Yang penting kalian sah secara hukum dan agama.''
''Tapi, Bang....''
__ADS_1
"Tidak ada penolakan!" tegas David.
Dania langsung mengerucutkan bibirnya, mungkin jika diukur ada lima senti.
''Mulai sekarang, kau harus bisa dewasa, Dania. Sebentar lagi, kau akan menjadi seorang istri. Buang jauh-jauh sifat kekanakanmu itu. Anggap saja ini hukuman atas perbuatanmu kemarin."
Dania berdecak sebal. ''Dikit-dikit hukuman, abang gak asik. Katanya disuruh dewasa, dia sendiri cara ngukumnya masih seperti anak kecil.''
''Sudah tidak apa-apa. Benar kata Pak David, yang penting sah secara hukum dan agama. Aku juga tidak terlalu suka dengan pesta-pesta seperti itu, bahkan kalau bisa kita ijab-kabul di Kantor Catatan Sipil, beres. Tidak perlu ribet menyiapkan ini itu yang menyita banyak waktu dan kondisi tenaga."
''Ck, kalian ini sama saja."
''Masalah tanggal abang serahkan pada kalian berdua. Sisanya, biar abang yang urus.''
''Lusa," jawab Devan singkat, padat dan jelas
''Apa?!" sahut Dania yang tidak bisa menutupi rasa terkejutnya.
''Lusa." Devan mengulanginya lagi.
''Bapak jangan gila! Semua butuh persiapan yang tidak bisa sehari jadi. Kalau buat keputusan dipikir-pikir dulu lah, Pak," protes Dania.
"Saya sudah mengurus semuanya. Tinggal kita berangkat ke tempat yang bersangkutan untuk melaksanakan. Sesuai yang aku katakan tadi."
Sungguh Dania merasa gemas sendiri dengan pria ini. Bisa tidak itu muka sedikit berekspresi. Apa semahal itukah senyumnya?
''Baiklah, lebih cepat lebih baik. Sebelum sifat labilnya kambuh," ujar David.
''Terserah kalian! Menolak pun percuma."
__ADS_1