
Tring....
Dania yang tengah sibuk dengan hairdryer di tangannya pun berhenti sejenak ketika mendengar suara pesan masuk dari salah satu ponsel yang ada di nakas, di mana ponselnya dan ponsel sang suami berada.
Dia hanya memandang sejenak dari cermin, lalu kembali melanjutkan kegiatannya. Namun, tak berapa lama kembali terdengar bunyi beruntun dari benda pipih itu. Sehingga membuatnya penasaran, tangannya tergerak mematikan alat pengering rambut, lalu menghampiri tempat asal suara..
Ternyata ponsel sang suami yang berbunyi. Awalnya, dia berniat mengabaikan tapi setelah mengetahui siapa si pengirim pesan. Akhirnya, dia berniat membuka pesan tersebut. Dan betapa terkejutnya dia melihat isi pesan itu.
''Devan, bagaimana kabarmu?''
"Devan, aku punya sesuatu. Kamu pasti seneng."
"Dua hari lagi, aku pulang. Kita habiskan waktu bersama lagi seperti waktu itu, ya...."
"Aku juga pengen ketemu Tante Sekar."
"Dan ini sesuatunya, taraaa....''
Pesan terakhir, wanita itu mengirim sebuah foto yang menurut Dania sangat mesra, untuk ukuran sepasang sahabat. Dia meremas kuat benda itu. Rasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya secara tiba-tiba.
''Kau sedang apa, Nia?" tanya Devan yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggangnya.
Tak memedulikan ucapan sang suami, Dania langsung membalas semua pesannya.
''Aku sudah menikah!"
Kemudian melempar kasar benda itu ke kasur begitu saja.
Devan yang melihat tingkah istrinya hanya bisa mengernyit bingung. Kenapa ponsel miliknya yang menjadi sasaran, kenapa bukan milik sendiri. Pria itu langsung memungut benda itu untuk melihat isinya. Bersamaan terdengar bunyi notifikasi jika pesan Dania telah di balas oleh si pengirim tadi.
Devan membaca sekilas, kemudian mengembalikan ponsel pada tempatnya tanpa berniat membalas.
''Balas saja, gak apa-apa," kata Dania dengan datar.
''Gak apa-apa tapi mukanya lecek begitu mirip baju gak pernah disetrika," balas Devan sambil memakai pakaian yang sudah di sediakan sebelumnya.
Tak ingin menanggapi justru wanita itu berniat pergi dari sana. Tapi nahas, gerakannya kalah cepat dengan tangan kekar yang mencekal tangannya.
''Mau kemana?''
''Cari angin," jawab Dania ketus.
''Memang disini kenapa?" tanya Devan diiringi senyum jahilnya.
''Gerah, mendadak panas." Dania masih memasang wajah cemberut.
''AC-nya, nyala lho. Ini juga masih pagi. Kok panas," goda Devan.
''Pikir aja sendiri!" Dania melepas paksa tangan kekar itu.
''Kamu cemburu?" tanya Devan dengan mendekatkan wajahnya.
__ADS_1
Dania memalingkan muka. Dia tidak ingin terpengaruh dengan godaan pria itu.
Bunyi deringan keras mengalihkan perhatian pasangan itu. Dania hanya mendengus kesal.
''Pasti wanita itu karena pesannya gak di balas."
Kekesalan Dania semakin bertambah ketika melihat Devan beranjak menghampiri benda itu.
''Angkat sana! Aku tunggu di luar. Malas lihat orang pacaran."
"Disini saja, bersamaku. Kita dengarkan bersama apa yang akan dia katakan." Devan menarik tangan sang istri, lalu mengajaknya duduk di sofa single yang ada di kamar itu.
''Terus aku duduk di mana?" tanya Dania dengan kesal karena suaminya sudah menduduki tempat itu.
Tanpa aba-aba, Devan menarik tangan sang istri hingga duduk ke pengakuannya. Lalu mengangkat telepon yang sedari tadi terus menjerit.
''Hallo."
''Ya ampun, Devan. Kamu dari mana aja, sih? Aku telpon dari tadi gak diangkat-angkat." Nada kesal seorang wanita di seberang sana menyapa indra pendengaran untuk pertama kali.
''Ada apa?'' tanya Devan dengan datar.
''Apa maksud balasanmu tadi? Katamu masih lama untuk menikahi wanita itu." Sandra bertanya dengan nada yang sama.
Dania yang mendengar hal itupun, langsung menatap tajam pria di sampingnya. Devan memberi isyarat pada Dania untuk tidak bersuara.
''Memang kenapa? Aku hanya butuh restu orang tuaku. Ibuku sudah bilang 'iya', jadi ku lanjutkan saja sesegera mungkin."
''Ya gak bisa gitu dong, Van," sahutnya tidak terima.
''Mestinya kamu bilang ke aku dulu kek, minim kasih kabar gitu," balasnya dengan berapi-api.
Dania mengerutkan kening mendengarnya. "Kenapa mirip pacar yang posesif ke pasangan?"
''Memang aku siapa mu? Mesti melapor segala. Kamu hanya sahabatku, 'kan, San?"
Tanpa menjawab si penelepon mengganti pangilan dengan panggilan video. Tanpa ragu juga, Devan mengangkatnya.
''Hai, Sandra,'' sapa Devan dengan posisi yang sama, memangku istrinya, sedangkan Dania hanya menunjukkan senyum kikuk.
Berniat beranjak tapi tangan kekar segera menekan kuat pinggangnya.
Sandra jangan ditanya, bagaimana reaksinya. Wajahnya merah padam, lalu segera memalingkan muka seperti enggan melihat pemandangan itu.
''Ada apa sampai mengubah panggilan?" tanya Devan dengan santai.
Dia malah merangkul pinggang wanita di depannya dengan mesra, menyandarkan dagunya di pundak sang istri seolah tengah menunjukkan kemesraan kepada sahabatnya itu.
Wajah Sandra terlihat semakin suram, namun dia berusaha menutupi dengan senyum manisnya.
''Kamu gak kerja, Van?''
__ADS_1
"Kerja tapi masih pagi jadi mesra-mesraan dulu. Sayang ada musuh gelut dianggurin," celetuknya ringan tanpa beban.
Dania memalingkan muka untuk menutupi wajahnya yang terasa panas. Dia tidak menyangka pria ini akan berkata seperti itu. Dia bukan anak kecil yang tidak tahu makna 'gelut' yang diucapkan Devan. Pasti menjurus mengenai hubungan....
Membayangkan saja, sudah membuat malu, bagaimana jika merasakan langsung.
''Ih, merah dia, San."
Dania memukul keras dada kekar di depannya. Dia semakin menenggelamkan wajahnya disana.
''Malu-malu kucing. Keinget semalam ya sampai pagi lho. Untung gak kesiangan." Devan semakin gencar melancarkan aksinya, sesekali matanya melirik wanita yang sedang menghubunginya.
''Devan, gak usah pamer kemesraan sama gue," pekiknya lantang.
Mungkin suaranya memenuhi ruangan yang dia tempati.
''Oh, ya katanya dua hari lagi mau pulang, ada apa?" tanya Devan dengan mengelus pelan kepala wanita yang masih bersandar di dadanya.
''Gak jadi!"
Setelah mengatakan itu, Sandra mematikan sambungan begitu saja. Dari nada bicara terakhirnya, sangat kentara jika wanita itu sedang memendam kekesalan yang teramat.
''Kamu jahil banget sih," kata Dania memukul pelan lengan suaminya.
''Jahil, bagaimana?"
''Dia kelihatan kesel banget tadi. Jangan-jangan dia punya perasaan sama kamu."
''Memang," jawab Devan dengan santainya.
Dania menatap penuh tanya kearah suaminya.
''Tatapanmu.... Senyumanmu...."
Devan menirukan suara lagu yang sedang trending di aplikasi hitam yang biasa ditonton istrinya.
Dania menganga tak percaya mendengarnya, tidak menyangka jika pria ini juga mengikuti trend anak muda saat ini.
''Gak usah seperti itu menatap aku. Aku hafal lagu itu juga karena kamu."
''Kamu kok tau, dia punya rasa sama kamu?" tanya Dania.
''Karena dia pernah mengutarakan perasannya tapi aku menolaknya. Kita hanya sahabat tidak lebih. Pelan-pelan, aku kasih pengertian ke dia, 'jangan hancurkan persahabatan ini dengan rasa cinta'. Dia anak manja, jadi harus ekstra sabar menghadapinya," tutur Devan.
Air muka Dania berubah sendu setelah mendengar penjelasan suaminya.
''Kok murung?''
''Aku takut dia merebutmu dariku." Dania menunundukkan kepalanya.
''Hei, jangan khawatir. Saat ini, kamulah wanita yang bertahta di hatiku, bukan dia," ucap Devan dengan mengangkat dagu wanita itu.
__ADS_1
Sejenak, tatapan mata mereka saling mengunci. Dania menelan ludah kelat, seakan ada batu besar yang mengganjal tenggorokannya.
''Ki-kita kesiangan, nan-nanti terlambat." Dania segera beranjak dari pangkuan sang suami, lalu mengambil asal tasnya, kemudian berlalu dari kamar dengan jantung berdetak tak karuan.