
"STOP! HENTIKAN!''
Seolah tuli, dua pria itu masih melanjutkan aksi perkelahiannya. Merasa percuma, Dania nekad melerai dua pria itu.
Bugh!
"Awwww...." Dania terhuyung dengan memegangi sudut bibirnya yang terasa ngilu.
''DANIA!'' teriak kedua pria itu bersamaan.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Andrew dengan penuh kekhawatiran.
Dia meyentuh sudut yang memar itu hingga terdengar ringisan pelan dari mulut Dania.
"Singkirkan tanganmu! Jangan sentuh milikku." Devan menepis kasar tangan Andrew dengan menatap tajam pria itu.
"Dania, maafkan aku. Aku tidak sengaja," ucap Devan penuh rasa bersalah.
Dania hanya memalingkan muka, enggan menatap pria ini.
"Biar aku obati ya, setelah itu kita bertemu ibu. Ibu meminta kita menemuinya untuk mencoba busana pengantin untuk acara pernikahan."
Dania masih bergeming di tempatnya, raut wajahnya semakin suram setelah mendengar penuturan tunangan jadi-jadiannya.
Andrew sendiri berusaha keras menahan rasa panas yang menjalar di dadanya. Dia berusaha menyadarkan diri, jika Dania sebentar lagi menjadi milik orang lain.
"Ayo, naiklah ke punggungku. kita ke apotik dulu biar ku obati luka di kaki dan wajahmu itu," kata Devan yang sudah berada di posisi membelakangi tunangannya.
Dania yang terlanjur kesal tetap diam pada tempatnya, sungguh dia benar-benar lelah dengan semua ini. Devan tidak bisa di tebak, apa dia sudah memiliki perasaan kepadanya atau belum.
"Aku ingin mengakhiri ini." Ucapan itu terlontar begitu saja dari mulut Dania.
Dua pria di depannya menunjukkan reaksi berbeda. Devan dengan rahang mengeras, sedangkan Andrew dengan raut bingungnya.
"Aku ingin mengakhiri sandiwara ini. Aku tidak bisa meneruskannya, kalau bapak mau bapak bisa mencari perempuan lain yang bisa bapak mainkan."
"Aku menolak."
"Aku memaksa."
Sepasang pasangan jadi-jadian itu saling menatap tajam. Dania sudah membulatkan tekad, keputusannya tidak bisa di ganggu gugat.
"Aku tetap akan mempertahankan ini."
"Aku akan berusaha lepas dari lingkar setan ini. Aku tidak tahan lagi. Semakin hari hanya rasa sakit yang kurasakan. Harapanku tinggal harapan. Cintaku tak'kan pernah berbalas. Meskipun, aku mencintaimu, Pak Devan. Tapi aku tidak ingin terlihat bodoh di depanmu," ucap Dania dengan mata berkaca-kaca.
Hati Andrew bagai mendapat sayatan pisau tak kasat mata, perih rasanya. Dadanya sesak bagai dihimpit batu besar, kala mendengar gadis pujaan hatinya menyatakan cinta kepada pria lain, di hadapannya.
Tapi tunggu dulu, pikir Andrew.
"Apa maksud dari sandiwara? Jadi, hubungan kalian hanya sebuah rekayasa, begitu?" Andrew menuntut jawaban pada dua manusia di depannya.
Dania memberi anggukan pelan.
"Astaga-''
Andrew tidak tau lagi harus berkata apa. Sedetik kemudian, senyum cerah tersungging dari bibir manisnya.
"Jadi, aku punya kesempatan untuk memilikimu lagi, Dania?" tanya Andrew dengan binar penuh harap.
__ADS_1
"Sejak kapan Kak Andrew dan aku memiliki hubungan?" Dania balik bertanya.
''Ya, ya, gak pernah, sih," jawab Andrew kikuk.
Dia menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.
"Aku tidak akan melepaskanmu, Dania," geram Devan.
"Terserah, Bapak. Yang jelas keputusan saya sudah bulat dan tidak dapat di ganggu gugat." Dania beranjak berdiri, menepuk panta*nya pelan untuk membersihkan debu yang menempel, kemudian berjalan dengan langkah tertatih meninggalkan dua pria itu.
"Kau tidak bisa mengakhirinya begitu saja. Kita akan bertemu ibuku, pernikahan ini akan tetap terlaksana." Devan menarik paksa tangan Dania, lalu menyeretnya menuju mobil yang terparkir tak jauh dari tempatnya.
"Lepas, ssshhhh, sakit." Dania meronta berusaha melepas belitan tangan itu.
Lengkap sudah penderitaannya hari ini. Badan remuk redam, kaki terluka perih, bibir lebam dan sekarang tangannya mendapat cengkraman kuat, bisa dipastikan meninggalkan jajak kemerahan disana.
Devan tak memedulikan kesakitan yang keluar dari mulut gadis itu. Dia tetap menyeret paksa Dania, dengan tatapan dingin ke depan.
"Lepaskan dia!" Andrew melepas paksa belitan tangan itu.
Dania segera bersembunyi di balik punggung kekar Andrew, menyembunyikan dalam-dalam wajahnya disana. Sungguh, dia teramat takut dengan sorot tajam yang Devan tunjukkan siang ini.
"Kau-"
"Dia kesakitan, Bung. Apa kau tidak kasihan? Atau mungkin kau tuli?" Andrew memberikan senyum mengejek pada pria itu.
"Dia tengah terluka dan kau semakin menambah lukanya," sambung Andrew.
"Ayo, Nia. Ku antar kau pulang, keadaanmu sedang tidak memungkinkan untuk kembali bekerja. Nanti biar aku yang 'kan mengizinkanmu pada Armand."
Andrew membopong tubuh Dania. Dia melingkarkan tangan gadis itu ke lehernya, lalu membawanya pergi dengan menghunuskan tatapan tajam kearah Devan.
Devan hanya bisa mengumpat kasar melihat punggung kekar itu semakin menjauh.
Ketika hendak mengejar dua manusia itu, langkahnya terhenti karena bunyi telepon dari saku celananya.
"Hallo," jawab Devan dengan menahan kesal.
Dia harus bisa mengontrol emosinya terhadap sang ibu. Jangan sampai perempuan itu curiga hingga berakibat fatal.
"Devan, sudah sampai mana kamu?"
Devan memejamkan mata saat mendengar suara lembut dari seberang.
"Maaf, Bu. Aku ada pertemuan dadakan, tidak bisa di tunda. Ibu bawa pulang saja. Besok atau lusa, biar aku dan Dania yang akan ke rumah. Ibu pilihkan yang sekira pantas, pasti Dania akan menerimanya."
"Kalau begitu, kenapa tidak bilang dari tadi, Devan. Jadi, ibu tidak usah capek-capek nungguin kamu." Sekar menggerutu kesal pada putra semata wayangnya.
"Maaf ya, Bu."
"Ya sudah, hati-hati. Jangan lupa makan, urus juga calon istrimu. Bilang sama dia, jangan terlalu di forsir tenaganya."
"Iya, Bu...."
Devan menghela nafas, begitu sambungannya terputus. Dia harus memikirkan cara, bagaimana agar Dania membatalkan keinginannya.
...----------------...
"Ada yang ingin kau jelaskan?" tanya Andrew.
__ADS_1
Tangannya luwes mengoleskan cairan alkohol pada luka yang ada di tumit Dania. Sesekali terdengar ringisan pelan dari mulut wanita itu saat merasakan perih pada lukanya.
Dania menggeleng pelan.
"Awwssh, pelan-pelan, Kak," desisnya.
Kini, mereka berada di ruang tamu kediaman Dania. Andrew memangku kaki gadis itu, dengan telaten pula dia mengobati luka-lukanya.
"Kenapa kau melakukan itu?"
Hening....
Dania bingung harus menjawab apa. Apa dia mesti jujur.
"Jawab, Dania. Mulutmu masih berfungsi, 'kan?" Andrew mendesak gadis itu untuk menjawab pertanyaannya.
"Oke, kalau kau tetap bungkam seperti ini. Maka jangan salahkan aku, jika aku memberitahu David."
Andrew hendak beranjak dari tempat itu tapi Dania langsung mencekal lengannya.
"Jangan! Aku takut," cicit Dania.
"Kalau kau takut resikonya, kenapa melakukan ini? Apa kamu tidak membayangkan, bagaimana malunya David nanti. Saat tau, adik kesayangannya melakukan kebohongan besar seperti ini. Pikirkan itu, Dania."
Wanita itu terisak lirih mendengar cecaran pria di sampingnya. Ini baru Andrew, entah seperti apa kemarahan David saat dia jujur nanti.
"Sekarang, aku tanya sekali lagi. Tolong, kamu jawab yang jujur," pinta Andrew.
Dania mengangguk dengan lelehan air mata di pipinya.
"Apa alasanmu melakukan kebohongan besar ini?"
"Karena ... Karena-" Dania meremat jari-jarinya sendiri.
Wanita itu menghirup nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan.
"A-aku ingin Kak Andrew menjauhiku."
...****************...
Pada siapa hati Dania akan berlabuh? Nantikan kelanjutannya....
Semoga tidak bosan ya, mungkin banyak dari kalian yang bertanya-tanya, kok ceritanya melenceng dari tokoh utama, sih?
Iya, karena tokoh utama, udah mendapat kebahagiaannya. Di awal entah bab berapa aku udah bilang, 'kan? Kalau aku bakal nyempilin kisah sohibnya Renita yang lain. Biar cerita ini gak terlalu monoton gitu.
Kok cerita ini makin kesini makin gaje alias gak jelas? Ini bukan orang lain lho, ya. Ini muncul dari aku sendiri.
Aku sempat merasakan seperti itu. Tapi setelah aku pikir-pikir lagi. Nanti di akhir part, akhir banget, aku bakal sempilin kisah tokoh utama menjelang end. Soalnya, setelah kisah Devania usai. Masih ada anu buat si Armand sama Renita.
Cukup sekian curcol dari Mbak Miss yang gaje ini. hehehe....
Malam-malam, tinggal tarik selimut malah curhat.
Terima kasih buat kalian yang masih setia di lapak aku ini. Tanpa kalian, ceritaku ini hanyalah butiran debu yang hilang di terpa angin.
Udah ah, ngantuk....
Babay... lope-lope sekebon semangka....
__ADS_1