My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Persiapan..


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, sudah terjadi keriwehan di rumah Renita. Setelah subuh, Renita baru memberi tahu ibunya, jika orang tua Armand akan datang hari ini untuk melamarnya.


''Aduh, Ren! Mbok ya bilang dari kemarin. Ibu belum persiapan apa-apa, belum belanja ini itu. Apalagi ini acara lamaran,'' omel Asih, rasanya kesal sendiri dengan putri nya.


''Ibu juga belum memberitahu saudara-saudara juga..''


Renita tak mempedulikan keluh kesah ibunya.


Wanita itu malah asik menikmati sarapan buatan ibunya.


Asih mengeplak kesal lengan putrinya karena sedari tadi merasa diabaikan


''Kamu mestinya bilang dari semalam, Ren..''


''Lah, orangnya aja baru bilang semalam,'' sanggah Renita tak mau disalahkan.


''Ya sudahlah, Bu. Gak usah bingung minta bantuan Mbak Nanik sama Bi Siti. Cuma lamaran doang, belum nikahan. 'Kan masih ada waktu, Bu,'' usul Renita.


Asih berpikir sejenak kemudian menyetujuinya. ''Ya wes, Ibu mau minta tolong mereka dulu, habis itu langsung ke pasar..''


''Kamu di rumah saja. Jangan lupa! Bersih-bersih rumah. Orang hamil itu harus banyak gerak. Jangan males! Biar sehat ibu dan bayinya,'' pesan Asih sebelum pergi.


''Iyaa....''


Selepas kepergian ibunya, Renita segera melaksanakan mandat darinya. Rumah harus sudah bersih dan rapi sebelum ibunya kembali. Jika tidak, siap-siap saja telinganya akan mendapat ceramah panjang sepanjang jalan kenangan, alias tidak akan ada habisnya.


''Ealah, Ren, mau lamaran kok mendadak, tadi Ibumu kalang kabut.'' Mbak Nanik datang dengan bahan-bahan dapur di nampan yang dia bawa.


''Aku gak tahu, Mbak. Kalau dia mau melamar aku. Wong, dia bilangnya mau ketemu bapak sama ibu doang.''


''Oalah, Ren, Ren.. Kuwi boso alus arep nglamar awakmu, mosok gak paham tho, yo,'' kata Mbak Nanik, gemas sendiri dengan anak ini.


(Itu bahasa halus mau melamar kamu, masa tidak paham )


Renita menggeleng dengan tampang polosnya.


''Ya Allah, Cah Ayu mau dilamar. Akhirnya, ketemu jodohnya bukan perawan tua lagi.'' Bi siti datang dengan membawa tas belanjaan yang bisa di pastikan itu milik ibunya.

__ADS_1


''Lah, kok, Bi Siti yang bawa ibu mana?'' tanya Renita dengan celingak-celinguk mencari ibunya.


''Ibumu sama bapakmu mau pergi ke rumah saudara. Katanya gak pantas ada acara seperti ini tidak memberi kabar. Nanti ibu bapakmu kena omel.'' Bi Siti mulai membersihkan daging yang dibelinya tadi dan mengirisinya.


Renita hanya ber O saja. Dia juga ikut membantu memotong-motong sayuran.


''Ren, aku mau ikut Rendi melihat-lihat sawah. Aku penasaran sama tanaman kembang kol milik bapak,'' pamit Armand tiba-tiba datang ke dapur.


''Ya Allah, gantengnya calon mu, Ren.. Gak rugi bolak-balik nolak laki-laki yang mau di jodohkan sama kamu. Lah, ketemu sing guanteng ngene iki,'' pekik Bi Siti dengan lebay nya.


''Iyo, mirip artis korea,'' celetuk Mbak Nanik tak kalah antusias.


Armand hanya menanggapi dengan senyum. Dia juga baru sadar, disana ada orang lain selain calon istrinya.


''ya sudah, hati-hati di sawah panas, nanti gosong. Sudah berangkat sana! keburu si Rendi teriak-teriak."


Armand mengangguk, tak lupa dia juga tersenyum sopan pada dua tetangga renita.


''Ren, kamu gak hamil duluan, 'kan? Mendadak lamaran begini?'' tanya Mbak Nanik


Uhuk-huk....


''Eh, ng-nggak, kok, Mbak. Sebenarnya ini, sudah rencana lama, tapi baru kelaksana sekarang.'' Renita beralibi berusaha menutupi kegugupannya.


''Heh, Nik, jangan aneh-aneh kalau nanya! Amit-amit ya, Ren,'' tegur Bi siti dengan meminta persetujuan Renita.


Renita tersenyum masam dan mengangguk.


Sepertinya, setelah ini dia akan memutuskan tinggal di kota saja. Agar tidak membuat bapak dan ibunya semakin malu.


...----------------...


Siang harinya...


Rumah Renita mendadak ramai dengan kedatangan saudara-saudaranya. Mereka juga bertanya-tanya, kenapa acaranya mendadak seperti ini? Ada yang curiga, jika Renita kebobolan terlebih dulu. Walau kenyataannya seperti itu. Tapi pihak keluarga Renita maupun Armand sendiri, sama-sama sepakat untuk menutupinya.


Armand membantu Rendi mengeluarkan kursi-kursi dan meja. Agar rumah yang tak terlalu besar itu sedikit longgar. Tak lupa, dua buah kipas angin besar di persiapkan karena di sana tidak ada pendingin ruangan.

__ADS_1


Setelah selesai dengan pekerjaannya, Armand mencoba mengakrabkan diri dengan keluarga Renita yang lain.


''Nak Armand ini ketemu si Reni dimana?'' tanya Salim yakni kakak dari Mahmud.


''Saya atasannya di kantor,'' jawab Armand sopan.


''Oalah, dadi cilok iki ceritane..''


Jawaban Salim langsung disambut gelak tawa dari Rendi.


''Pakde cilok iki pentol bunder. Lha, kalau ini namanya cinlok, cinta lokasi,'' jelas Rendi masih berusaha meredam tawanya.


''Bocah gemblung, wong tuwo salah ora di benerne malah di guyu,'' ucap Salim dengan kesal.


(Bocah gemblung orang tua salah tidak di benarkan malah di ketawain ).


Tak lama setelahnya, tiga buqh mobil memasuki pekarangan rumah Renita. Dari mobil pertama, keluarlah sepasang paruh baya yakni orang tua Armand beserta adik dan adik iparnya.


Dari mobil kedua, keluarlah tiga orang gadis cantik dengan kehebohannya. Wina, Dania dan Reva. Juga tiga orang pria berjas rapi, yang mana salah satu dari mereka merupakan pawang dari trio heboh itu. David. Sedang dua lainnya duo cogan kacung kompeni, Doni dan Devan.


Mobil ketiga berisi hantaran dan seserahan, juga berbagai bingkisan berbagai macam kue. Yang di tumpangi oleh asisten setiawan dan sekretarisnya. Ada lagi seseorang yang akan memandu jalannya acara nanti.


Kebetulan acara di adakan di akhir pekan. Jadi,mereka bisa ikut menghadiri.


Armand sendiri sudah menghampiri orang tuanya. Nampak Amalia menangis haru, impiannya melihat putranya menikah akan terlaksana.


''Mah, Pah, nanti jangan menyinggung soal kehamilan Renita, ya. Kami sepakat menyembunyikan hal ini dari orang-orang sini. Takut membuat malu orang tua Renita,'' kata Armand dengan suara pelan.


Kedua orang tua Armand mengangguk menyetujui. Amalia segera menghapus air matanya dengan tisu lalu meminta semuanya untuk segera masuk.


''Ya sudah, kita segera masuk, gak enak lama-lama di luar. Nanti disangka kita gak mau masuk.''


Mereka beriringan memasuki rumah Renita dengan Armand diapit kedua orang tuanya. Jangan lupakan trio heboh yang sudah ingin berteriak memanggil salah satu personilnya, tapi urung karena mendapat pelototan dari pawangnya.


''Assalamu'alaikum....''


...----------------...

__ADS_1


Mohon dukungan nya, like, ❤ , comment, vote..


Babay..


__ADS_2