
Tok-tok-tok...
''Masuk!''
''Permisi, Pak. Ini berkas-berkas yang Anda minta, mengenai pembangunan kantor cabang kita yang baru.''
Armand menerima berkas itu dan membukanya. Keningnya berkerut saat membaca lokasi pembangunannya.
''Kenapa lokasinya berubah? Katamu kemarin lokasinya ada di kota S,'' tanya Armand pada asistennya.
''Maaf, Pak. Saya belum sempat memberitahu perubahan lokasinya kepada Bapak. Lahan di kota S, ternyata lahan sengketa. Yang masih belum jelas siapa pemiliknya, saya tidak ingin mengambil resiko. Jadi, saya putuskan untuk memilih opsi yang kedua. Karena, memang sebelumnya kita mempunyai dua pilihan lokasi,'' papar Devan dengan lugas.
''Saya telah berkoordinasi dengan Tuan Setiawan dan beliau menyetujuinya, Pak,'' sambung Devan.
Armand mengangguk saja, matanya terus meneliti berkas yang ada di tangannya.
''Jadi, kapan kita akan meninjau lapangan?'' tanya Armand.
''Satu minggu lagi, Pak,'' ucap Devan.
''Baiklah, kau boleh kembali,'' titah Armand.
Devan menunduk hormat sebelum meninggalkan ruangan itu.
Armand menekan satu tombol pada telepon yang ada di mejanya untuk memanggil sekretarisnya.
''Doni, segera keruangan saya.''
Tak berapa lama, Doni memenuhi panggilan atasannya.
''Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?''
''Tolong pesankan saya tiket pesawat ke kota M. Saya ingin mengunjungi mertua saya, sekalian meninjau proyek. Kebetulan lokasinya dekat dengan tempat tinggal mertua saya.''
''Baik, Pak.''
''Satu lagi, kamu atur ulang semua jadwal saya, dua minggu ke depan, bisa jadi lebih. Nanti saya akan konfirmasikan lagi. Alihkan semua pertemuan pada Devan. Kamu tinggal kirimkan semua hasilnya ke E-mail saya.'' si Kompeni bertitah.
''Jam pulang nanti, tiket harus sudah ada pada saya. Karena besok pagi saya akan berangkat.''
''Besok, Pak?'' tanya Doni memastikan.
''Tapi besok ada pertemuan penting dengan Perusahaan Z untuk membahas proyek kita yang sedang berjalan, Pak.'' Doni mengingatkan tentang pertemuan penting atasannya.
''Saya 'kan sudah bilang. Alihkan kepada Devan, bila perlu kamu bantu dia. Berkas-berkasnya tinggal kamu serahkan ke dia. Supaya segera di pelajari,'' perintah Armand tanpa bisa di bantah.
''Baik, Pak,'' pasrah Doni.
'Alamat numpuk lagi. Ya, nasib jadi bawahan,' batin Doni.
''Kamu boleh keluar.'' Armand menggerakkan dua jarinya, mengisyaratkan untuk segera keluar.
Baru beberapa langkah, Armand kembali memanggil sekretarisnya.
''Tunggu!''
''Ya, Pak, ada lagi?''
''Kenapa dengan mukamu itu?''
Doni meraba mukanya sendiri. ''Ada apa, Pak? Oh, mungkin terkena coretan pulpen tadi.''
''Bukan! Kusut begitu. Kamu sedang patah hati?'' tebak Armand.
''Ti-tidak, P-pak,'' jawab Doni dengan gugup.
''Kamu tidak bisa membohongi saya, Don.''
__ADS_1
Doni terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.
''Sudahlah, kau keluar. Diammu sudah menjadi jawaban. Jangan lupa, tiketnya harus ada saat jam pulang nanti.''
...----------------...
''Nih, tambahan buat loe.'' Doni menyerahkan setumpuk berkas di hadapan Devan.
Devan mengerutkan keningnya bingung. ''Apa ini?''
''Kerjaan, loe kira makanan?'' sewot Doni.
''Kenapa di kasih ke gue?'' tanya Devan yang masih belum mengerti.
''Karena itu tugas loe.''
Devan membuka dan membaca sekilas berkas yang baru itu.
''Ini 'kan berkas kerjasama besok? Ini harusnya loe kasih ke Pak Armand. Bukan ke gue, Dono,'' sahut Devan dengan kekesalannya.
''Pak Armand mau ke kota M, besok pagi. Semua pertemuan di alihkan ke elu, Van.'' Doni memberi penjelasan.
''Astaga,'' keluh Devan.
''Bukan cuma loe, kerjaan gue juga numpuk. Sudahlah loe pelajari itu. Gue mau nyari tiket dulu, perintah Pak Bos.'' Doni melenggang pergi dari ruangan itu.
Devan menghela nafas pasrah.
...----------------...
''Ren.''
Armand memeluk istrinya yang tengah membereskan mainan putranya, dari belakang.
Renita yang terkejut, reflek memcubit tangan kekar itu.
''Kebiasaan.''
''Aku punya kejutan buatmu,'' bisik Armand.
Renita langsung membalikkan tubuhnya menghadap sang suami.
''Apa?''
''TARA!'' Armand memgeluarkan dua buah tiket yang sedari tadi di sembunyikannya.
''Tiket nonton? Kamu mau ajak aku kencan, Mas?'' tanya Renita dengan mata berbinar.
''Bukan! Baca dulu,'' perintah Armand.
''Tiket pesawat? Kita mau kemana?''
''Ke rumah Bapak sama Ibu. Kita kenalkan Marvello ke lingkungan kakek dan neneknya.''
Senyum wanita itu, perlahan memudar. Raut wajahnya berubah sendu.
''Kenapa? Kok mukanya sedih, begitu. Kamu gak suka?''
''Bukan begitu, aku cuma takut buat Bapak sama Ibu malu,'' cicitnya pelan.
Armand langsung mendekap erat tubuh istrinya.
''Jangan takut! Kita hadapi sama-sama,'' kata Armand.
''Jadi?''
Armand menangkup kedua pipi istrinya dengan kedua tangannya. Renita mengangguk antusias, senyum cerah terbit dari bibir berwarna peach itu.
__ADS_1
Armand kembali mendekap erat tubuh langsing istrinya. Dia tak kalah bahagia, saat melihat orang yang di cintainya bahagia bersamanya.
''Aduh!''
Armand mengaduh kesakitan, saat perutnya terkena cubitan capit wanita yang ada di pelukannya.
''Kenapa di cubit lagi?''
''Kamu ngeselin!'' ketus Renita.
Dia melepas paksa dekapan itu, lalu segera menyiapkan koper untuk mengemas baju-baju miliknya dan sang suami.
''Aku kenapa?'' tanya Armand dengan tampang polosnya.
''Mestinya, kamu ngomong dari siang. Biar aku bisa siap-siap, di kira nyiapin baju sebentar apa? Belum printilan segala macemnya. Belum lagi punya Marvello yang tidak sedikit. Mana sudah malam,'' cerocos Ibu satu anak itu, dengan tangan cekatan menyiapkan segala keperluan untuk besok.
''Kalau ngomong dulu, namanya bukan kejutan, Renita Sayang,'' rayu Armand sembari mengekor kemanapun istrinya melangkah.
''Kejutan, prett. Biasanya juga nggak pernah ngasih aku kejutan. Biar apa coba?'' sembur wanita itu.
Armand menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. Niatnya, ingin romantis. Taunya, yang diajak romantis ngedumel tidak jelas seperti ini.
''Terus kalau besok, kamu ngajak aku ke kampung. Gimana sama kerjaan kamu, Mas?'' tanya Renita, ''Kemarin kamu sudah tidak masuk dua hari buat menghadiri acara Reva lho, Mas,'' sambungnya lagi
''Aku serahkan ke Devan sama Doni. Buat apa punya asisten sama sekretaris kalau tidak di gunakan?'' sahut Armand dengan entengnya.
Renita menghentikan kegiatannya, lalu menatap tajam suaminya.
''Kenapa kamu natap aku seperti itu?''
''Kamu itu memang super ngeselin ya, Mas. Mentang-mentang jadi bos, seenaknya sendiri. Kamu.... Uh, jadi pengen ngremet mukamu, Mas,'' ucap Renita dengan gemasnya.
Bagaimana tidak gemas? sifat Kompeninya kambuh lagi.
''Jangan di remet, dong. Di elus terus di cium gitu,'' goda Armand dengan menyodorkan pipinya.
''Ogah!'' Renita kembali melanjutkan pekerjaannya.
''Ren, kamu aneh.''
Renita tak menggubris ucapan pria yang masih setia mengekorinya.
''Mestinya, kamu senang di kasih kejutan sama suami. Tapi, kamu malah ngambek tidak jelas begini,'' lanjut Armand.
''Seneng, seneng banget malah, Mas. Tapi, kalau akhirnya, kamu memberatkan bawahan kamu. Itu tidak benar juga, Mas.''
Bagaimanapun juga, Renita juga pernah merasakan ada di posisi mereka. Jadi, dia tahu betul apa yang mereka rasakan.
''Aku menggaji mereka untuk bekerja bukan untuk leha-leha,'' jawab Armand dengan entengnya.
''Ini, nih. Semboyan Kompeninya keluar.'' Renita mengunci resleting kopernya. Berganti mempersiapkan baju-baju milik anaknya.
''Kamu sudah bilang mama apa belum, Mas?''
Armand membeku di tempatnya. ''Aku lupa.''
Renita menghela nafas. ''Kamu hadapi sendiri omelan Mama.''
''Oh, ya, satu lagi. Besok aku mau naik mobil aja.''
Armand melotot mendengar permintaan istrinya. ''Lalu, tiketnya buat apa?''
Renita mengedikkan bahunya.
''Tapi, Ren.....''
''Keputusan tidak dapat di ganggu gugat. Titik!''
__ADS_1
''Emang enak.''