My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Rasa Bersalah Armand


__ADS_3

''Gantenge putuku, tambah pinter.''


Asih memekik girang saat melihat keaktifan cucunya.


Sore itu, Renita menghubungi orang tuanya melalui panggilan video. Dia ingin menunjukkan perkembangan Marvello pada ibunya.


''Gak mau diam, Bu. Aku sampai pusing lihatnya. Ibu lihat sendiri 'kan? Mana lincah banget lagi, aku kewalahan, Bu,'' keluh Renita dengan manjanya. Dia mengarahkan kamera belakangnya agar sang Ibu bisa melihat cucunya dengan leluasa.


''Heh, ndak boleh gitu, Ren,'' tegur Asih.


''Biarkan saja, Vello lincah begitu. Tandanya, dia sehat. Cucu Ibu ini termasuk anak yang aktif. Kamu tinggal awasi saja dia. Jangan sampai dia ke tempat-tempat yang berbahaya!'' Terselip sebuah peringatan dalam nasehat wanita paruh baya itu.


Renita hanya mengangguk saja. Dia kembali menampilkan wajahnya.


''Bu, sebenarnya, aku pengen ngunjungin Ibu di kampung,'' adu Renita dengan tatapan sendunya, '' Tapi, aku takut buat Ibu sama Bapak malu. Masa kawin belum ada setahun, sudah punya anak segede ini,'' lanjutnya lagi.


Asih tersenyum lembut pada putrinya. ''Sudah, tidak usah pikirkan Ibu sama Bapak. Kalau kamu mau kesini, ya kesini saja. Asal, Vello sudah kuat di ajak perjalanan jauh. Bagaimanapun juga, Ibu ndak mau cucu Ibu kecapekan. Apalagi sampai jatuh sakit.''


''Tapi, aku yang nggak kuat lihat Ibu sama Bapak jadi bahan omongan orang-orang disana,'' sambar Renita, ''Apalagi, itu istrinya Pak De Salim. Gosipin orang nggak mandang saudara apa bukan. Padahal anaknya juga nggak baik-baik amat. Kena karma baru tau rasa,'' sambungnya penuh kekesalan.


''Hus, ndak boleh begitu, Ren. Baik buruknya mereka kepada kita. Mereka tetap saudara kita, Pak De Salim masih kakak kandung Bapakmu. Ndak boleh nyumpahin orang sembarangan.'' Asih kembali memberi peringatan pada putrinya.


''Habisnya, aku kesel sama mereka, Bu. Ibu anak sama saja, bisanya cuma iri melihat kebahagiaan orang,'' sungut Renita.


''Sudah! Bahas yang lain saja. Nanti kalau di teruskan malah gosip jatuhnya. Lalu, apa bedanya kita sama mereka?'' Asih segera mengalihkan pembahasan agar tidak menjalar terlalu jauh.


''Iya-iya, Bu,'' jawab Renita dengan memanyunkan bibirnya.


Tanpa sengaja, Armand mendengar semua keluh kesah istrinya, di balik dinding yang tak jauh dari tempat istrinya berada. Laki-laki itu, baru saja pulang kerja. Dia ingin menghampiri putranya yang tengah aktif merangkak kesana-kemari. Seketika, rasa bersalah merasuki hatinya.


Renita tak pernah mengatakan apapun padanya. Selama ini, dia menganggap, jika istrinya baik-baik saja. Karena kelihatannya memang seperti itu. Ternyata, di balik sifat tenangnya, Renita menyimpan kesedihannya seorang diri.


Armand merutuki dirinya sendiri, Bagaimana bisa? Dia tidak peka dengan perasaan istrinya. Seharusnya dia sadar, pastilah istrinya itu merindukan keluarganya di kampung.


''Mas.''


Panggilan Renita berhasil menyentak lamunannya.


''Eh, Iya. Ada apa?'' Armand gelagapan sendiri.


''Kapan sampainya? Bukannya masuk malah bengong disini.''

__ADS_1


''Barusan. Kamu mau kemana?'' tanya Armand, melihat istrinya hendak keluar dari ruangan bermain anaknya.


''Mau ke dapur sebentar, ambil minum,'' jawab Renita.


''Marvello, sama siapa? Kalau kamu tinggal,'' ucap Armand sedikit kesal karena Renita meninggalkan anaknya sendirian.


''Elah, Mas. Aku mau ngambil minum di dapur bukan di perempatan. Paling juga beberapa menit nggak sampai sejam,'' kesal wanita itu.


Dia menganggap suaminya ini terlalu lebay.


''Nah, kebetulan kamu sudah pulang. Kamu jaga itu anak. Sekalian aku mau mandi.''


Wanita itu, nyelonong begitu saja melewati suaminya.


''Astaga, Ren. Sudah jam segini belum mandi? Daritadi ngapain saja kamu?'' tanya Armand sedikit kesal.


Laki-laki itu, melirik arloji yang berada di pergelangan tangannya. Ternyata, sudah menunjukkan pukul lima lebih lima belas menit.


Renita menghentikan langkanya lalu berbalik dengan berkacak pinggang. ''Kamu pikir, dari tadi aku leha-leha, Mas? Sedari tadi aku nahan gerah. Soalnya, Marvello nggak ada yang jaga. Bibi lagi masak buat makan malam nanti.''


Rasa lelah yang menderanya, membuat ibu satu anak itu, mudah tersulut emosi.


Dia mendekati sang istri lalu menggenggam lembut tangannya. ''Maafkan aku,'' lirih Armand.


Renita mengernyit bingung. ''Kamu baik-baik saja 'kan, Mas?''


Renita meraba kening suaminya, barangkali panas.


''Aku baik, kenapa?'' tanya Armand tak kalah bingung.


''Kamu aneh.''


''Aneh?'' Armand menaikkan sebelah alisnya.


''Kamu minta maaf, cuma buat pertengkaran kecil seperti ini? Biasanya juga begitu. Dan kamu tidak pernah meminta maaf,'' cerocosnya.


''Bukan untuk itu,'' jawab Armand dengan nada rendahnya.


''Lalu?'' Renita semakin tidak mengerti dengan sikap suaminya.


Tanpa aba-aba, Armand langsung menarik tubuh istrinya kedalam dekapannya. ''Maafkan aku, karena terlalu mengabaikanmu. Aku tidak peka dengan kesedihan yang kamu rasakan. Maafkan aku.''

__ADS_1


''Tunggu.'' Renita melerai pelukan suaminya.


''Jangan bilang, kalau mas mendengar pembicaraanku dengan ibu.'' Renita memicingkan matanya.


''Aku tidak sengaja.''


Renita terdiam.


''Aku terlalu sibuk. Sampai-sampai tidak kepikiran, jika kamu juga merindukan keluargamu di kampung,'' ujar Armand memecah keheningan di antar mereka.


''Sudahlah, Mas. Tidak usah di pikirkan. Aku juga salah, karena tidak memberitahumu.''


Sepasang suami istri itu, terlalu larut dalam suasana syahdu yang mereka ciptakan sendiri. Mengabaikan keberadaan sang buah hati yang sedang aktif-aktifnya di dalam sana.


Hingga keduanya tersentak saat mendengar jeritan keras dari tempat Marvello berada.


''Vello, kenapa?'' panik Renita.


Wanita itu, mengurungkan niatnya untuk membersihkan diri, justru kembali masuk ke ruang bermain.


Armand sendiri tak kalah paniknya. Dia segera mengikuti istrinya untuk melihat keadaan anaknya.


''Ya ampun, Vello!'' pekik Renita.


Kala melihat anaknya tersungkur di bawah meja dengan dahi yang memerah. Tampaknya bayi gembul itu, tergelincir mainannya sendiri hingga terbentur meja. Terlihat banyak bola warna-warni berserakan di sekitarnya.


''Cup-cup, Sayang. Jagoan nggak boleh nangis.'' Renita berusaha menenangkan anaknya yang tengah histeris dalam gendongannya.


Seperti biasa, Marvello selalu meronta di gendongan ibunya, jika terlanjur histeris seperti ini. Kalau sudah begini, hanya Armand yang mampu menenangkannya.


''Sini, sama Papa. Maafin Papa ya, Sayang. Asik pacaran sama Mama, kamu terlupakan sampai benjol seperti ini.'' Armand meniup lembut kening anaknya yang memerah.


''Tapi ya, nggak usah ngadu juga kali. Kalau habis pacaran,'' sindir Renita.


Menghiraukan mulut nyiyir istrinya. Laki-laki itu, memilih mengusap pelan punggung anaknya. Hingga tak lama kemudian, hanya terdengar isakan dari mulut mungil itu.


''Pinter, Marvello memang anak Papa,'' puji Armand.


''Iya, anak Papa. Kalau sudah terlanjur kesal yang bisa nenangin cuma Papa. Mama sudah nggak di butuhin lagi sama adek,'' sewot Renita. Kemudian keluar dari ruangan itu, untuk melanjutkan niatnya yang tertundah tadi, mandi.


Armand terkekeh mendengarnya. ''Mama cemburu.''

__ADS_1


__ADS_2